Puzzle Kolabora(k)si
Dari dalam, dari luar, dan untuk kebermanfaatan
Puzzle Kolabora(k)si
Dari dalam, dari luar, dan untuk kebermanfaatan

Puzzle Kehidupan
Pernahkan kalian bermain puzzle? Puzzle merupakan permainan papan yang cukup menyenangkan bagi sebagian orang. Namun, sebetulnya puzzle hanya memberikan masalah. Kita yang diminta untuk menyatukannya kembali sesuai bagian demi bagiannya.
Puzzle akan lebih mudah dikerjakan dengan bekerja sama. Setiap orang akan mengambil bagiannya untuk menyesuaikan potongan puzzle sesuai ukuran kotak bingkai yang tersedia. Bayangkan, puzzle ini adalah HMIF (Himpunan Mahasiswa Informatika) dalam suatu bingkai yang terdiri dari berbagai macam unsur penyusunnya.
HMIF terdiri dari berbagai macam hal. Baik dari tiga lembaga berbeda, dua jurusan berbeda, beberapa divisi dan departemen, maupun komposisi orangnya yang sangat heterogen dengan berbagai perbedaan kondisi sosial dan budaya. Hal ini membuat HMIF tidak bisa dikelola oleh segelintir orang saja. Apalagi untuk mencapai sebuah harapan mulia dari berbagai macam insan di dalamnya, rasanya HMIF perlu untuk bergerak bersama dan bekerja sama untuk menggerakkan roda himpunan ini.
Sayangnya, kini kerja sama saja tidak mampu membuat HMIF bisa berjalan sesuai harapan. Pasalnya, kini dunia sendiri telah tersusun dari sangat beragam warna yang tidak bisa kita kuasai semuanya. Kita semakin mengakui keterbatasan manusia. Kita butuh orang lain untuk terlibat membangun HMIF bersama. Oleh karena itu, hadirlah gagasan untuk membangun HMIF dengan kolaborasi untuk membawa HMIF lebih jauh lagi.
Kolaborasi lebih dari sekedar kerja sama. Jika kembali pada analogi puzzle tadi, kerja sama dimaknai sebagai potongan puzzle yang dibagi dan dikerjakan sesuai dengan pembagian yang ditetapkan sehingga penyatuan hasil dari setiap orang adalah bingkai puzzle tadi sendiri. Namun, kolaborasi lebih dari itu. Kolaborasi menekankan pada pembagian peran, bukan pembagian kepingan. Setiap bagian dari puzzle memang dibagi kepada setiap orang berbeda. Bedanya, ini bukan sebagai tugas tetapi sebagai peran. Untuk memenuhi puzzle itu kembali, setiap orang tidak diharuskan untuk memenuhi hanya sesuai dengan ukuran pembagian awalnya, tetapi bisa lebih dari itu. Sekali lagi, kolaborasi menekankan pada pembagian peran dan hasilnya bisa lebih besar dari bingkai puzzle awal.
Kolaborasi berarti tidak selalu sesuai dengan bagian/potongan, tetapi tentang berbagi dan mengambil peran.
Namun, kemudian ada satu pertanyaan besar yang muncul.
Kolaborasi seperti apa yang ingin diwujudkan?
Pertama, kolaborasi dari sisi internal. Tahukah kalian berita tentang penerimaan SNBT tahun 2023? Dilansir dari Ruangguru, rata-rata UTBK terbaik di Indonesia ada di Institut Teknologi Bandung dengan skor 694,4. Namun, lebih spesifik lagi adalah dalam 20 peraih nilai UTBK tertinggi, tiga diantaranya adalah mahasiswa STEI-K yang artinya akan menjadi bakal calon warga HMIF ke depannya. Tepatnya di peringkat 4, 7, dan 14. Hasil ini adalah yang paling banyak diantara prodi lain di kampus lain yang berada pada list 20 teratas ini.
Angka ini merepresentasikan bahwa sejatinya, ITB, khususnya STEI-K ini adalah tempat bertemunya orang-orang terbaik secara akademik se-ITB, bahkan se-Indonesia. Potensi akademik luar biasa ini harus dikelola untuk menghasilkan suatu kesejahteraan akademis yang baik antar sesama mahasiswa dan juga karya yang luar biasa. Walaupun, tidak munafik akan ada saja mahasiswa yang kesulitan secara akademik, tetapi harusnya masalah ini bisa lebih mudah terkatalisasi akibat potensi akademik yang menjanjikan ini.
Kedua, kolaborasi untuk saling membantu menciptakan peluang berkembang sebanyak-banyaknya. Tidak dipungkiri saat ini dunia berkembang secara cepat dalam framework yang bukan lagi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity), tetapi BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, and Incomprehensible) yang ditemukan oleh antropolog Amerika bernama Jamais Cascio. Maksudnya begini :
Brittle : Kita rapuh terhadap bencana apapun karena yang kita miliki dapat hancur dalam sekejap. Tidak ada yang begitu tahan lama.
Anxious : Kecemasan sangat memengaruhi pengambilan keputusan kita. Bagaimana tidak, banyak sekali pengambilan keputusan yang terdorong akibat dari rasa cemas ini.
Nonlinear : Dunia ini sudah tidak lagi bersikap linier terhadap suatu hal. Jika kita membangun sebuah organisasi dalam bidang tertentu, tidak selamanya ia akan bergelut di sana selama jangka panjang ke depan karena banyak alternatif akhir cerita untuk dunia saat ini yang bisa diakses.
Incomprehensible : Seringkali sesuatu terjadi dan kita tidak memahami hal itu. Kita sadar jika kita tidak memiliki kendali atas segalanya.
Oleh karena itu, kolaborasi menjadi salah satu kunci menangani semua faktor ini. Kolaborasi menyediakan lebih banyak “kaki” bagi organisasi untuk terus bertahan dan menemukan relevansinya. Kita memahami keterbatasan dan kita memahami kebutuhan. Dalam konteks himpunan, himpunan memiliki kendali untuk menyediakan seluas-luasnya wadah berproses untuk anggotanya.
Kolaborasi memperluas wadah ini perlu dilakukan melalui :
- Peningkatan akses informasi terkait perlombaan, beasiswa, bootcamp, dan event menarik lainnya.
- Kolaborasi dengan komunitas IT yang berfokus pada pelatihan dan pengembangan diri mahasiswa.
- Penyerapan potensi pendanaan dari pihak tertentu, seperti Ditmawa, Rumah Amal Salman, dan ALIF.
- Peningkatan kesejahteraan mahasiswa, salah satunya pada aspek psikologi dengan menggandeng Pendamping Sebaya ITB.
- Serta berbagai aksi kolaborasi lain yang melibatkan entitas luar, baik intrakampus, maupun ekstrakampus.
Ketiga, kolaborasi tentang keilmuan. Berkaitan dengan poin kolaborasi yang pertama, kolaborasi dalam hal keilmuan ini sangat penting karena justru inilah dasar utama adanya himpunan dibentuk. Bukankah setiap himpunan dibentuk untuk mewadahi keilmuan dan profesionalitas setiap rumpun program studi yang ada di kampus? Tentunya, setiap himpunan pasti memiliki ciri khas nya masing-masing. Misalnya seperti HMFT dengan keilmuan Teknik Fisikanya dan MTI dengan keilmuan Industrialisasinya.
Saat ini, HMIF memang belum terlihat menjadi rujukan orang-orang untuk mencari tahu tentang perkembangan teknologi, terutama dalam hal non-infrastruktur, misalnya seperti AI, Data Science, dan UI/UX. Seringkali HMIF saat ini bergerak untuk menyerap keilmuan untuk proyek. Padahal, masyarakat, minimal massa kampus, juga perlu dicerdaskan tentang kemajuan teknologi dan perkembangannya. HMIF harus bisa menunjukkan trust terkait itu selain mengadakan wadah spesifiknya, seperti Open Class Bidang Lomba.
Menyangkut dengan kolaborasi poin pertama, potensi keilmuan HMIF perlu dimanfaatkan juga untuk membentuk ekosistem lingkungan yang melek teknologi. Dipadukan dengan kolaborasi terkait branding, HMIF bisa menjadi himpunan paling relevan dan wadah yang cocok untuk perkembangan anggotanya.
Oleh karena itu, inilah konsep HMIF yang ingin kubawakan ke depannya. Tentu tidak memungkiri ada juga aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan, seperti aspek empati. Tanpa mengesampingkan itu, empati juga akan terus diusung untuk mengkatalis proses kolaborasi lebih baik HMIF nantinya.
Jadi, pertanyaannya, apakah kamu sudah siap berkolaborasi bersama?
메타데이터
- post_id
- d4d1a4cfdf2a
- slug
- puzzle-kolaborasi-nyata-d4d1a4cfdf2a
- url
- https://medium.com/@katapudin/puzzle-kolaborasi-nyata-d4d1a4cfdf2a
- canonical_url
- https://medium.com/@katapudin/puzzle-kolaborasi-nyata-d4d1a4cfdf2a
- author_url
- https://medium.com/@katapudin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 10:50:06