Badut yang Manis
Kapan manusia boleh memiliki hak atas dirinya sendiri?
Badut yang Manis

Senyumnya manis, menahan pahit
Kapan manusia boleh memiliki hak atas dirinya sendiri? Ketika sekadar hadir di dunia saja harus sesuai pandangan orang lain. Wajahnya tidak simetris, hidungnya pesek, bibirnya tipis, kulitnya belang. Lantas, apakah kamu ialah Tuhan? Ciptalah yang sempurna jika bisa. Tapi sungguh, sekadar mencipta tanah pun kehilangan kuasa.
Di depan cermin, bibirku memuji ayu rupanya. Sedangkan hatiku menahan luka dari pandanganku sendiri. Kupoles wajahku, kupermak gaunku. Tapi ternyata tak ada kata “cukup”. Bibirnya terlalu pucat, bibirnya terlalu merah. Bedaknya abu-abu, tak pantas berlenggok. Kuturuti seolah mereka mau membelikan yang pantas untukku.
Kupikir aku akan menjadi putri. Ternyata, akulah badut penghibur sang putri. Tertawa saat aku ingin tenggelam dalam cemoohan. Maka jadilah, badut yang berlagak manis. Yang dipuji karena bedaknya terlalu putih. Yang diinginkan karena bibirnya terlalu merah. Yang ditangisi karena tak berhidung tomat. Yang disayang karena bajunya warna-warni.
Biarlah aku terpuji sebagai badut kecil yang berisik. Yang suaranya memanen tawa. Walau sang badut juga tetap tak punya haknya — karena tak pantas memakai mahkota.
Jika manusia bilang, “Jadilah diri sendiri,” yang kumaksud bukan hanya kata boleh. Karena itu hanya dusta yang besar.
메타데이터
- post_id
- d4dfdce3fb7b
- slug
- badut-yang-manis-d4dfdce3fb7b
- url
- https://medium.com/@azmyzakia/badut-yang-manis-d4dfdce3fb7b
- canonical_url
- https://medium.com/@azmyzakia/badut-yang-manis-d4dfdce3fb7b
- author_url
- https://medium.com/@azmyzakia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-04 07:21:57