Litani Sunyi di Bawah Langit Tak Mengamini.
Bahwa hakikatnya Tuhan Maha Mulia, namun mengapa beberapa aksara yang dirapalkan makhluknya hanya berujung sebagai gema?
Litani Sunyi di Bawah Langit Tak Mengamini.
Bahwa hakikatnya Tuhan Maha Mulia, namun mengapa beberapa aksara yang dirapalkan makhluknya hanya berujung sebagai gema?

Cr: Pinterest
Legam gulana mempersiuh suasana raga saat restu berkelahi dengan rasa. Makhluk Tuhan kadang hanya bisa berencana, namun semesta selama tak seirama, pastinya akan menemukan titik gelapnya.
“Apakah Tuhan Maha Mengetahui semata?”
Debu-debu halus dan buliran salju melebur menjadi satu, menandakan bahwa doa-doa dan ijabah dari Sang Maha Kuasa telah turun merasuki jiwa-jiwa yang menangis tengah malam. Entah tentang beratnya menjadi manusia, entah gahra asmara yang berakhir derana, entah karir yang berujung petaka, ataukah masalah-masalah keluarga yang hidupnya nestapa.
Aku ingin dipeluk kalbu suci dan merebahkan raga ini dipelukan Sang Ilahi. Aku hanya raga yang akan mati karena sepi sendiri mengarungi hari-hari yang tak pasti. Jika sesosok sepi datang menanti, biarkan aku sembunyi dari berkabungnya relung hati.
Bumantara terlalu riuh bagi jiwa yang rapuh. Makhluk-makhluk Tuhan yang berakal berlomba-lomba mengenakan topeng sukacita, namun di sudut-sudut bayangan pengap masih banyak tubuh rebah memeluk lututnya sendiri, menahan mutiara jatuh dari pelupuk hati. Malam benar-benar menjadi saksi bagaimana batin-batin yang retak mencoba menjahit lukanya sendiri dengan doa-doa yang nyaris kehilangan aksara.
Beberapa kali aku ingin menepi untuk memaki. Beberapa kali juga tenagaku hanya tersisa untuk memungut kembali puing-puing harapan yang telah mati.
Kadang aku berpikir, mungkinkah semesta sengaja menciptakan luka dan derita agar manusia belajar berdoa? Agar dada yang terlalu pongah perlahan luruh bersimpuh menjadi abu di hadapan takdir? Sebab tak ada yang lebih getir dibandingkan tangan yang patah karena terlalu lama menengadah tanpa jaminan sebuah kehidupan yang ramah.
Manusia memang kerap menggantungkan bahagianya pada sesuatu yang fana, lalu terkejut ketika semuanya perlahan menghilang tanpa aba-aba.
Barangkali hidup memang sekadar perjalanan semu menuju rasa sendu. “Mungkin belum giliranku,” batinku. Mungkin juga inilah cara Sang Maha Bijaksana mengajarkan arti dewasa, dimana hambanya dibiarkan meredup bersama renjana hingga akhirnya ia berhenti bertanya mengapa hidup tak pernah berjalan seperti yang ia pinta.
Tuhan apakah kau melihatku dari atas sana? Apakah kuasamu tak bisa luluh bersama rasa ibamu?
Dan jika semesta memang tak pernah berniat mengamini seluruh doa yang kupeluk sampai dini hari, kumohon Tuhan beri aku satu pasang kaki lagi untuk tetap melanjutkan hidup tanpa mimpi dan ekspetasi karena kini dadaku tak pernah benar-benar utuh kembali.
메타데이터
- post_id
- d4ff83f4fff1
- slug
- litani-sunyi-di-bawah-langit-tak-mengamini-d4ff83f4fff1
- url
- https://medium.com/@starlightnophile/litani-sunyi-di-bawah-langit-tak-mengamini-d4ff83f4fff1
- canonical_url
- https://medium.com/@starlightnophile/litani-sunyi-di-bawah-langit-tak-mengamini-d4ff83f4fff1
- author_url
- https://medium.com/@starlightnophile
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 18:57:25