Dilema Disrupsi Digital: Apakah Manusia Adalah Pengendali Teknologi atau Justru Budak Algoritma…
Zaman dulu, penjajahan dilakukan dengan merebut tanah dan mematok batas peta (teritorial), kini dominasi itu bergeser dari sebuah barang…
Dilema Disrupsi Digital: Apakah Manusia Adalah Pengendali Teknologi atau Justru Budak Algoritma Dunia
Photo by Juliana Kozoski on Unsplash
Zaman dulu, penjajahan dilakukan dengan merebut tanah dan mematok batas peta (teritorial), kini dominasi itu bergeser dari sebuah barang yang selalu kita bawa kemana saja. Mengutip dari Zuboff (2019), kita berada di era surveillance capitalism, dimana arus digital tidak lagi merebut wilayah fisik melainkan menjajah hal yang lebih berharga, yaitu perilaku dan perhatian kita dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Disrupsi digital, bukan lagi tentang aplikasi yang mempermudah hidup, ini menunjukkan bahwa aturan main di dunia saat ini tak lagi ditentukan oleh jarak geografis, melainkan perlahan dikontrol oleh algoritma yang disetir oleh elit global.
Faktor yang Menjadi Latar Belakang Disrupsi Digital
Faktor terjadinya disrupsi digital didorong oleh kontradiksi yang mendalam antara kebutuhan generasi modern untuk menentukan nasibnya sendiri dengan realitas ekonomi yang membatasi ruang gerak mereka.
Di satu sisi, modernitas kedua melahirkan individu individu mandiri yang menginginkan kebebasan memilih dan mencari pemenuhan kebutuhan psikologis secara personal melalui ruang siber. Di sisi lain, dominasi paradigma ekonomi neoliberal selama beberapa dekade terakhir telah mengikis perlindungan sosial, meningkatkan ketimpangan, serta membatasi peluang nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui kebijakan deregulasi dan privatisasi.
Kesenjangan yang menyakitkan antara ekspektasi untuk memegang kendali atas hidup sendiri dan ketidakmampuan mengontrol tatanan sosial inilah yang memaksa banyak orang berpaling ke ranah digital demi mencari koneksi dan solusi. Celah kebutuhan yang sangat besar ini kemudian dimanfaatkan oleh para surveillance capitalist. Melalui kecepatan inovasi tanpa izin, mereka menjadikan teknologi internet dan perangkat digital sebagai umpan untuk mengklaim pengalaman hidup manusia dan mengubahnya menjadi komoditas data perilaku demi keuntungan komersial.
Apa yang Dapat Kita Lakukan?
Dengan itu, generasi muda sebagai peer-educator di masa modernisasi memegang tanggung jawab untuk mencegah sekaligus melindungi umat dari dampak negatif disrupsi digital. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengimplementasikan dua metode PROTEKTIF (Program Teknologi Preventif & Mitigatif). Metode ini memuat: (1) Aksi Preventif, yakni kiat-kiat yang dilakukan sebelum disrupsi digital muncul; dan (2) Aksi Mitigasi, yakni aksi yang dapat kita lakukan untuk mengatasi disrupsi digital yang telah terjadi.
Sejatinya umat manusia adalah pencipta sekaligus pengendali, bukannya korban dari teknologi. Dengan itu, kita dapat mencegah disrupsi digital dengan aksi preventif berupa: (1) Saring Sebelum Sharing (3S); (2) mempelajari hal baru untuk upgrade skill daripada upgrade seri gadget; (3) melindungi data pribadi dengan mengaktifkan verifikasi dua langkah; dan (4) membeli dan mendukung aplikasi, karya, serta produk buatan lokal demi kemandirian ekonomi.
Adapun meski disrupsi ini sudah mendarah daging dan sulit dihindari, kita tetap perlu mengatasi dan beradaptasi dengannya. Hal tersebut kita lakukan dengan aksi mitigasi berupa: (1) detoks digital secara berkala; (2) cari komunitas untuk sharing ilmu baru; (3) jangan hanya menjauhi teknologi, tapi gunakan dia untuk membantu pekerjaan sehari-harimu (seperti mempelajari materi ujian, dan sebagainya).
Pada akhirnya, disrupsi digital bukan hanya persoalan teknologi, melainkan juga persoalan relasi kuasa antara manusia, data, dan sistem ekonomi yang bekerja di balik layar. Teknologi memang lahir dari kreativitas manusia, data, dan sistem ekonomi yang bekerja di balik layar. Tetapi ketika algoritma mula menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, konsumsi, bahkan rasakan, maka pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi itu maju, melainkan siapa sebenarnya yang memegang kendali.
Maka dari itu, manusia tidak boleh pasrah menjadi objek dari arus digital. Generasi muda perlu mengambil peran sebagai pengguna yang sadar, kritis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, masa depan teknologi digital seharusnya tidak menjadikan manusia sebagai budak algoritma. Manusia harus tetap menjadi subjek yang mampu mengendalikan teknologi demi kebebasan dan kemandirian manusia itu sendiri.
Penulis: Aira Hanifah Anandaresta, Ahmad Faiz Rayyan Purnomo, Aida Aleea Hamidah, dan Akhtar Nizam Rozano. Editor: Abdul Karim Raduonsa Nasution, Aeshnina Azzahra Aqilani, Achmad Fadhl Muhammad, Adkhilni Mudkhola Sidqi.
메타데이터
- post_id
- d53d58a6edd5
- slug
- dilema-disrupsi-digital-apakah-manusia-adalah-pengendali-teknologi-atau-justru-budak-algoritma-d53d58a6edd5
- url
- https://medium.com/@aidaaleea/dilema-disrupsi-digital-apakah-manusia-adalah-pengendali-teknologi-atau-justru-budak-algoritma-d53d58a6edd5
- canonical_url
- https://medium.com/@aidaaleea/dilema-disrupsi-digital-apakah-manusia-adalah-pengendali-teknologi-atau-justru-budak-algoritma-d53d58a6edd5
- author_url
- https://medium.com/@aidaaleea
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 06:49:47