← Back to list

Jurnal 5 : Tanah, Air, Atau Keduanya?

Sewaktu kecil, aku sering dibingungkan oleh pertanyaan: dari apa manusia diciptakan? Guru agamaku mengatakan bahwa manusia diciptakan dari…

Ikal · 2026-06-15 11:45 · 0 claps · 3.4 min read
#sains #jurnal #evolusi #refleksi #islami
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Jurnal 5 : Tanah, Air, Atau Keduanya?

Chatgpt

Chatgpt

Sewaktu kecil, aku sering dibingungkan oleh pertanyaan: dari apa manusia diciptakan? Guru agamaku mengatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Namun di kesempatan lain, aku juga mendengar bahwa manusia tercipta dari air. Saat itu aku menerimanya begitu saja. Bukan karena aku benar-benar memahaminya, melainkan karena aku tidak merasa perlu mempertanyakannya lagi. Rasanya tidak sopan mendebat apa yang diajarkan oleh guru atau orang-orang yang lebih tua. Lagi pula, untuk apa?

Namun ketika beranjak dewasa, entah mengapa pertanyaan itu kembali muncul ke permukaan. Kali ini tidak seperti saat aku masih kecil. Di usia dua puluh lima tahun, pertanyaan itu datang dengan intensitas yang berbeda. Aku tidak lagi sekadar ingin tahu jawabannya, tetapi ingin memahami bagaimana sebuah kebenaran dibentuk. Bagaimana agama menjelaskannya, bagaimana para guru mengajarkannya, dan bagaimana generasi sebelumku mempercayainya. Kupikir, aku pun perlu memiliki alasanku sendiri untuk menerima atau mempertanyakan hal itu.

Meski terkadang aku bertanya pada diriku sendiri: apa gunanya semua pencarian ini? Ia tidak membuat hidupku lebih mudah, tidak menambah penghasilanku, dan tidak pula mengubah rutinitasku. Mungkin yang kucari hanyalah kepuasan sederhana — kepuasan karena berhasil menelusuri jejak sebuah pertanyaan hingga ke akarnya.


Selama ini aku bertanya pada otoritas/pemimpin agama, tak ada yang benar-benar menjawabnya dengan baik. Maksudku, selalu ada celah untuk kecacatan argumennya. Dan ujung-ujungnya, aku hanya disuruh untuk percaya apa yang dikatakan kitab suci tanpa harus mempertanyakan ulang atau bertanya lebih jauh, “hanya tuhan yang tahu,” begitu kata mereka.

Sejujurnya, walau lidahku mengatakan iya, kepalaku mengangguk patuh, tapi jiwaku tidak sama sekali. Aku tetap menempatkan keraguan itu di dadaku, tak pergi ke mana-mana sebelum ada penjelasan yang benar-benar bisa kupahami.

Karena bertanya pada otoritas agama selalu membuatku tidak merasakan kepuasan akal dan batin, maka aku mencari alternatif lain, masih cara yang sama; menggunakan hasil dari laboratorium.

Aku tidak akan langsung menjelaskan bagaimana tanah dan air menjadi salah satu katalis penciptaan manusia, tetapi jauh sebelum itu, aku ingin menegaskan bahwa proses penciptaan tidak sesederhana dan segampang itu. Ada proses yang cukup rumit untuk sampai pada tanah dan air. Ada proses panjang di angkasa sebelum bumi terbentuk dan menjadi kehidupan.

Dalam penelitian terbaru, 16 Maret 2026, penelitian yang dipublikasikan di Nature Astronomy menemukan bahwa sampel dari asteroid Ryugu mengandung semua 5 basa nitrogen utama: Adenin (A)-Timin (T)-Guanin (G)-Sitosin ©-Urasil (U). Ini adalah komponen/bahan dasar utama dalam pembetukan DNA dan RNA kelak. Dan bahwa untuk pertama kalinya, kelima basa DNA dan RNA ditemukan lengkap dalam material luar angkasa.

Artinya, temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian bahan dasar penyusun kehidupan tidak eksklusif berasal dari Bumi. Setidaknya, molekul-molekul yang kelak menjadi komponen DNA dan RNA juga ditemukan di luar angkasa. Ini membuka kemungkinan bahwa sebagian bahan baku kehidupan telah tersedia sebelum Bumi menjadi planet yang layak huni.

Namun sebelum bahan baku itu sampai di bumi, kuawali dari kondisi bumi sebagai tempat, kala itu begitu sangat ekstrem−ilmuan mengonfirmasi ini berdasarkan temuan-temuan dalam geologi, meteorit, dan simulasi eksperimen laboratorium (Miller-Urey).

Gambaran awal pembentukan bumi, akan terlihat seperti ini: gunung vulkanik ada di mana-mana, permukaan bumi masih berupa magma cair, petir menggelegar, menjilat-jilat langit, terus bergemuruh tanpa henti, dan radiasi ultraviolet tak ada penyaringnya. Satu hal yang pasti, tak mungkin ada satu pun kehidupan yang secara terang-terangan bisa bertahan di bawah sana, tentu saja.

Tapi, aku mulai bertanya-tanya, apa artinya kondisi seekstrem itu? Entah bagaimana ceritanya, tapi aku cukup yakin bahwa terjadinya sesuatu itu memiliki makna atau maksud tertentu.

Setelah kupelajari lebih lanjut, kudapat jika kondisi itu−kondisi bumi yang ekstrim itu, dibutuhkan oleh kehidupan sebab di periode tersebut, bumi menciptakan satu lingkungan yang kaya akan energi dari hasil aktivitas mengerikan dan ekstrim. Ini menjadi salah satu kondisi di mana katalis/tempat dasar penyusun kehidupan di bumi siap dibentuk; dari kondisi ekstrim yang membuat lingkungan kaya akan energi, memungkinkan adanya proses evolusi kimia terjadi, dan hasil dari evolusi panjang proses kimia itu, membuat satu lompatan besar di bumi; yakni terciptanya molekul organik.

Begini, struktur kimia, atau molekul-molekul yang muncul di luar angkasa sebelum bumi terbentuk, pernah terlempar karena supernova, kemudian berinteraksi dengan energi di bumi, petir, panas vulkanik, radiasi UV, dan reaksi hidrotermal di bawah laut, lalu menghasilkan molekul organik, sebuah struktur biologis baru.

Dari struktur kimia di langit, lalu berinteraksi dengan energi di bumi, kemudian menghasilkan molekul organik. Dari evolusi kimia, menjadi awal kelahiran entitas biologis pertama, yang kelak akan membuka ruang bagi lahirnya kehidupan.

Tetapi, molekul organik, walaupun merupakan struktur biologis awal, tapi sebenarnya bukanlah kehidupan itu sendiri. Molekul organik adalah jembatan antara kosmos dan kehidupan, dalam pandanganku. Sebuah tahap peralihan antara dunia kimia dan dunia biologiIa lahir dari bintang, beredar di ruang angkasa, lalu berpindah ke planet muda, dan bereaksi terhadap air, hingga akhirnya memungkinkan munculnya sistem genetik pertama. Tentu dengan bantuan unsur-unsur “tanah kering” dan “lumpur hitam” sebagai katalis yang melindungi genetik pertama, sebagai salah satu media paling stabil saat itu. Dan dari sana lah kelak huruf-huruf ajaib dalam genetik muncul; 4 basa, A-T-G-C, yang kemudian kita kenal dengan nama DNA, serta campuran materi dari luar angkasa yang membuat utuh DNA dan RNA (5 basa).


메타데이터
post_id
d546c0a979a0
slug
jurnal-5-tanah-air-atau-keduanya-d546c0a979a0
url
https://medium.com/@iftikarikhdza/jurnal-5-tanah-air-atau-keduanya-d546c0a979a0
canonical_url
https://medium.com/@iftikarikhdza/jurnal-5-tanah-air-atau-keduanya-d546c0a979a0
author_url
https://medium.com/@iftikarikhdza
status
ok
fetched_at
2026-07-10 09:52:19