Kembali
Kembali
Mei tahun lalu aku berjuang untuk mencari kemungkinan takdir lain, belakangan kusadari, walau setengah mati kuimpikan hidup dan berpengalaman menjadi pendidik di pedalaman, nyatanya bukan di sana takdirku. Satu tahun berjalan lambat, entah karena hidupku yang tahun lalu cukup penuh dengan perayaan, atau karena gaji dibayarkan di akhir semester. Setahun kujalani dengan beragam pengalaman; Mei mendaftarkan diri menjadi relawan, Juli menolaknya karena ibuku ketahuan sakit Jantung. Awal Oktober mendapatkan pengalaman bekerja bersama ‘ras terkuat di bumi’, akhir Oktober aku melaksanakan wisuda. Lalu menutup akhir tahun, lamaran dengan kekasihku di akhir bulan Desember.
Januari akhir aku dikabari tanggal pernikahan oleh keluarga suamiku. Sebagai manusia modern yang menjunjung tinggi adat, aku ikut arahan keluarganya. Dapatlah tanggal pernikahan kami, akhir bulan Maret 2026 atau 10 Syawal 1447 Hijriyah. Pernikahan berlangsung lancar, dengan segala persiapan dan pikiran yang terlampau banyak khawatir. Walau tak kutulis dengan detail, semua perasaan saat itu cenderung sering menampakkan diri ke gejala fisik, seperti ambekan nyasar yang sesekali datang tanpa pernah kuprediksi. Aku juga mengalami (dalam bahasa seorang ahli saraf tradisional — bukan jalur pendidikan) kontraksi otot.
Sempat masuk IGD saat Ramadan, di pertengahan solat magrib tepatnya di rakaat terakhir, setelah rukuk, rasanya pinggang sampai ke atas, sampai ke tangan, kaku dan seperti tertarik. Aku menyelesaikan solat magrib dengan kepanikan dan tak bisa sujud. Setelah solat selesai kutelepon kakakku dan memintanya ke rumah. Kami ke UGD dan diagnosis dokter, aku mengalami Hernia Nukleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit. Ibadahku jadi gak sempurna, rukuk-ku sulit, sujud tidak bisa. Akhirnya sebelum memutuskan pergi ke faskes rujukan, aku teringat seorang ahli saraf kenalan kakakku, namanya pak Samijan. Setelah dari sana, sakitku tidak seketika hilang, tapi sangat membaik dan aku bisa melakukan solat dengan posisi sempurna lagi, rukuk bisa lurus, sujud bisa nyaman. Alhamdulillah.. Barangkali sebelum Idulfitri dan pelaksanaan hari pernikahan aku dan suami, peristiwa masuk IGD di malam Ramadan ini cukup terkenang.
Setelah riuh acara pernikahan, aku dan suamiku menjalani kehidupan normal; pulang ke rumah dan kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Akhirnya kami pulang ke rumah yang sama. Tapi ada yang janggal rasanya di kepala. Sampai akhirnya kutahu, pertengahan bulan April, aku dan 9 rekan kerjaku ‘dirumahkan’. Aku gak begitu banyak protes awalnya, karena rasanya ada sesuatu yang lega di dada. Kusadari, cepat atau lambat, ini akan terjadi. Status kerjaku yang sebagai pegawai kontrak tentu saja membuatku berada dalam posisi riskan di kantor. Walau begitu, belakangan kuketahui agak kurang etis pemberhentian seperti ini. Namun ya apa yang aku harapkan di antara kebaikan lain yang sudah pernah aku terima.
Rasanya mengungkapkan perasaan malah seperti ‘orang kurang bersyukur’, sudah diberikan pengalaman mahal, keliling Indonesia, ikut mengelola beasiswa, dan menjadi call centre ribuan pesantren di penjuru tanah air. Barangkali tanggungjawab dan beban kerja yang kami laksanakan dahulu bikin satu dua orang terasa kosong. Karena aku dan teman-teman menjalani tugas apapun yang diberikan sesuai arahan pimpinan.
Seminggu berlalu, kutahu dari pimpinan yang lebih tinggi, maksudnya merumahkan bukanlah merumahkan, melainkan menyampaikan bahwa pekerjaanku hilang bersama hilangnya alokasi anggaran di satuan kerja. Baiklah.
Tidak ada perbedaan, hanya cara menyampaikannya saja. Aku toh, dalam hati kecilku, sudah merasa lega karena akhirnya angkat kaki tanpa perlu mengajukan surat pengunduran diri. Namun, rasanya kenapa ada yang lain dan aneh, betapapun sudah disampaikan dan diberikan pengertian yang lebih luas oleh suamiku? hehe. Kupikir-pikir, benar juga rasanya, tak ada yang bisa diharapkan kecuali rahmat dan kasih sayang Allah yang aku terima di dunia ini. Karena manusia, berapapun umurnya, tidak menjadikannya bisa bersikap luas seperti Allah, yang walau hambaNya (merasa) jauh, tapi dia tetap ada dan tidak ke mana-mana.
Seminggu belakangan akhirnya kujumpai lagi nikmat paling besar kurasakan dalam hidup, bisa bangun di sepertiga malam (walau di akhir waktu sepertiga). Ibadahku menjadi lebih tertata. Sejak lulus pesantren dan merasakan banyak nikmat, akhirnya kurasakan kembali hubunganku yang intim denganNya. Tiga tahun terhitung saat bekerja di kantor, aku merindukan bangun subuh (karena lebih sering kesiangan). Kulaksanakan qodho kesekian yang penuh keyakinan “Allah menerima ibadah hambaNya bagaimanapun keadannya.” Keyakinan yang diam-diam kutanamkan namun membuat hatiku pilu, karena kehilangan waktu bermunajat di hening sebelum subuh.
Akhirnya aku merasakan lagi nyala di hidupku. Bukan karena mengutuk takdir, tapi karena penerimaan yang Allah anugerahkan. Barangkali takdir terbaik buatku adalah menjadi orang yang hidup dengan pilihannya. Walau kelihatannya tak selalu, tapi aku tahu, saat Allah pilihkan takdir untuk hidupku, dengan rasa tenang dan perasaan lega aku menerima dan menjalani peranku sampai waktunya Dia memanggilku kembali kepadaNya.
Semoga dan selalu dalam tuntunanNya.

메타데이터
- post_id
- d5b74e043b0d
- slug
- kembali-d5b74e043b0d
- url
- https://medium.com/@oktalaras67/kembali-d5b74e043b0d
- canonical_url
- https://medium.com/@oktalaras67/kembali-d5b74e043b0d
- author_url
- https://medium.com/@oktalaras67
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 13:32:35