← Back to list

Menepi dari Arah yang Ingin Ditinggalkan

Aku hanya ingin menghilang.

The Blue Poet · 2025-06-21 11:48 · 22 claps · 2.1 min read
#quarter-life-crisis #suicidal
Open on Medium ↗

Menepi dari Arah yang Ingin Ditinggalkan

menepi sejenak.

menepi sejenak.

Aku hanya ingin menghilang.

Bukan karena tak merasa dicintai. Bukan karena mengingkari darah yang mengalir di nadi menjadi pola hidup. Bukan pula karena tersengal dalam lunglai sampai tak sanggup menghapus jejak luka yang mengalir dari sudut mata.

Aku ingin menghilang tanpa dicari.

Sebelum namaku semakin terdengar seperti keluhan dari riuh lidah yang tak mengenal diam. Sebelum namaku menjadi jarum yang membuat nafas jiwa-jiwa dalam hidupku tercekat saat melafalkannya. Sebelum aku kehilangan alasan untuk berdamai dengan panggung dunia.

Terdengar ironis, mungkin? Karena huruf-huruf yang melekat dalam nama ini bernyawa hidup.

“Aisya artinya hidup.”

Dua puluh dua tahun merasakan yang namanya hidup, kalimat itu melekat selalu, seperti mantra.

Namun mengapa aku berakhir luruh mendekati tanah di jalan asing yang tak akan mengantarkan langkah menuju rumah di dunia, dengan air mata yang mengalir seolah lupa cara berhenti, merapalkan kalimat untuk meyakinkan diri tentang hidup dengan gumam yang nyaris terdengar seperti meminta maaf atas keberadaannya sendiri?

Bayangan di layar hitam ponsel itu jelas adalah pantulan ragaku, namun rasanya asing. Senyumnya layu sebelum sempat mekar.

Tak ada yang pernah bertanya bunga apa aku, jadi aku tak pernah bilang. Barangkali aku adalah hydrangea liar? Di dunia yang terlalu bersinar, menepi untuk bersembunyi dalam rengkuhan gelap. Enggan untuk ditemukan, takut akan dilucuti karena dianggap tidak berharga.

Namun setiap kelopak yang masih basah oleh duka ini terpaksa membuka mata untuk menyapa pagi, benaknya selalu bertanya-tanya, kapan ia layak untuk berbunga? Sebenarnya, siapa yang membuat barometer kelayakan?

Hal-hal yang ingin kucari jawabnya di dunia tak lagi sebanyak dulu. Pelukan yang ingin selalu kurasakan hangatnya tak lagi kunanti. Tawa yang ingin kubagi mulai sumbang. Sudut-sudut pelarian indah yang ingin kujejaki pun makin jarang berputar dalam lamunan. Bahkan mimpi di langit yang ingin kugapai mulai menguap.

Dan isi catatan yang ingin kuceritakan ini juga semakin pendek.

Di tengah riuhnya lalu lalang manusia yang berpapasan tanpa benar-benar menyapa, aku berdiri. Semua sibuk menjaga sisa-sisa kewarasan sendiri, mana sempat menilik yang hampir tumbang. Toh, di balik wajah-wajah tegar itu, setiap kepala sedang bersiap menambal atap pertahanan sendiri yang mulai bocor.

Senyum hanya kebohongan yang biasa dipelihara. Semua bisa melihat retakan di mata kawan yang ditemui di galeri seni, berpura-pura sibuk menatap lukisan saat yang kita cari sebenarnya adalah pantulan diri. Semua bisa merasakan gerakan tangan yang sedikit gemetar pada kawan yang tatapannya terlalu tenang seperti air sebelum badai. Ada jeda ganjil, tawa yang terlalu cepat, bahu yang turun perlahan, isyarat yang kita semua ingkari keberadaannya.

Senyumnya tak meraih ke mata, dan aku membiarkan kebohongan itu hidup tanpa tanya. Gerak-gerikku goyah, mungkin ia pun tahu aku nyaris runtuh.

Dalam diam, semua menyadarinya. Tak ada yang punya waktu untuk merawat luka orang lain. Semua takut jadi tontonan. Semua takut kehilangan muka.

Pada akhirnya, kini kekacauan berhenti terasa menjadi sesuatu yang mengarah pada kehancuran. Terasa biasa, bukan lagi kejutan di ritme hidup yang tak terhindarkan.

Menyedihkan, tapi barangkali begini caranya bertahan?


메타데이터
post_id
d5cf66ebcdfd
slug
menepi-dari-arah-yang-ingin-ditinggalkan-d5cf66ebcdfd
url
https://medium.com/@aldorableu/menepi-dari-arah-yang-ingin-ditinggalkan-d5cf66ebcdfd
canonical_url
https://medium.com/@aldorableu/menepi-dari-arah-yang-ingin-ditinggalkan-d5cf66ebcdfd
author_url
https://medium.com/@aldorableu
status
ok
fetched_at
2026-07-15 12:09:26