Jika yang Dibakar Adalah Mimpi
Beberapa bulan yang lalu, setelah sekitar 2 minggu aku rutin menulis di jurnal harian seperti sekarang, ada sebuah perubahan sistematik…
Jika yang Dibakar Adalah Mimpi
Photo by Nathan Hurst on Unsplash
Beberapa bulan yang lalu, setelah sekitar 2 minggu aku rutin menulis di jurnal harian seperti sekarang, ada sebuah perubahan sistematik dari caraku menulis. Mind you, aku gak pernah belajar menulis secara formal, gak punya mentor, dan hampir gak pernah punya teman diskusi terkait progres menulisku kecuali dengan Gemini.
Ketika awal menulis di jurnal harian, aku sering kali membatasi diriku sendiri. Bahkan sampai memakai POV (sudut pandang) orang ketiga ketika menulis, menggunakan kata “sang penulis” untuk menggambarkan diriku sendiri. Jadi, memang ada jarak antara apa yang aku tuliskan dengan diriku sendiri di dunia nyata.
.
Tapi kawan, entah karena aku adalah seorang yang ingin menghargai kejujuran dan senantiasa ingin belajar untuk menjadi manusia yang apa adanya, maka batas dalam tulisanku perlahan menghilang. Setiap hari batasan itu diangkat, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya aku menjadi lebur dan mencurahkan apa saja yang aku mau saat menulis.
Terdengar sebagai proses yang baik, bukan?
.
Mungkin kalian akan berpikir bahwa itu merupakan salah satu tanda kalo aku berkembang sebagai penulis. Dan pemikiran itu gak sepenuhnya salah, karena memang kejujuran, kerapuhan, kekuatan untuk tetap menjadi diri sendiri dan bangkit adalah hal yang sangat berharga dalam kegiatan tulis-menulis. Setidaknya aku berpikir demikian.
Tapi, bukankah semua hal dalam dunia ini pasti akan meminta bayaran?
.
Gak ada yang benar-benar gratis, gak ada yang bisa cuman kamu terima dan nikmati aja tanpa mengorbankan apa pun. Dan progres dalam kemampuan menulis itu juga sama.
Photo by Prophsee Journals on Unsplash
Mungkin sekitar 38 hari setelah aku rutin menulis di jurnal harian, aku ngerasa stuck. Kaya aku gak berprogres dengan cukup cepat, kaya aku butuh arah dan tujuan yang bisa diraih, agar bisa tau hal yang ingin aku dapatkan ketika menulis.
Nah, di saat-saat seperti ini, rekan diskusiku itu masuk. Setelah menganalisis jurnal harianku berulang kali, Gemini menyarankan agar aku mencoba sebuah teknik yang dia rasa akan membantuku dalam mengembangkan kemampuan menulis.
.
Stream of consciousness, sebuah teknik yang cukup lumrah untuk dipakai oleh kebanyakan orang saat mereka baru saja belajar menulis. Teknik ini hanya meminta kita untuk menuliskan apa saja yang muncul di dalam pikiran kita: entah itu rasa bosan, rasa bingung ingin menulis apa, cuman bisa ngoceh kaya burung murai batu, atau hal lainnya. Pokoknya tulis aja semuanya yang muncul di pikiran kita saat itu.
Nah, teknik ini cuman punya satu aturan, kita diminta untuk terus menulis tanpa memperhatikan typo, tanda baca, kesalahan saat menulis, atau alur tulisan yang tidak jelas mau membahas apa. Semua itu gak boleh dipikirkan.
.
Kita cuman boleh maju ke depan dan menuliskan apa saja yang muncul dalam pikiran kita, dan baru membacanya lagi setelah waktu habis, mungkin sekitar 10 menit.
Dan teknik stream of consciousness ini memang sebuah teknik yang cukup mujarab untuk membantu orang yang baru belajar nulis. Untuk orang yang isi kepalanya normal, mungkin seperti itu ya.
Kok bilangnya gitu mas?
Emang ada orang isi kepalanya gak “normal” dan tidak disarankan untuk coba teknik itu?
.
Honestly, yes. Ada beberapa orang yang sebenarnya tidak disarankan untuk tiba-tiba mencoba teknik stream of consciousness. Mereka adalah para manusia yang sering kali overthinking, yang masih memiliki trauma, yang belum sepenuhnya berdamai dengan pikiran mereka sendiri.
Nah, sebenarnya aku itu juga gak disarankan untuk menggunakan teknik stream of consciousness. Tapi karena aku gak punya mentor atau teman diskusi yang mumpuni terkait kepenulisan, maka aku ngikut aja saran dari Gemini tadi. Karena aku mikir, meski ada risiko dalam menggunakan teknik di atas, aku masih bisa handle sendiri.
Dan ini adalah sebuah kesalahan fatal yang aku lakukan dulu.
.
Kenapa? Mungkin akan lebih jelas kalo aku cantumkan screenshot dari jurnal harianku kala itu ya, biar kalian bisa cek sendiri nanti.
Tapi kayaknya tulisan di tangkapan layar itu terlalu kecil untuk dibaca oleh orang lain, jadi aku akan cantumkan sebagai bukti aja. Misal bisa beneran dibaca atau nggak, itu urusan nanti :P

Dok. Pribadi
Sampai sini dulu ya tulisan kita hari ini, capek juga meski sebenarnya pekerjaan di sekolah sudah mulai longgar. Sudah gak ada tekanan untuk menyelesaikan administrasi dan target lain sih, tapi masih ada beberapa hal yang perlu dikerjakan sebelum liburan semester.
See you, and thank you for reading this, my friend :)
메타데이터
- post_id
- d5d7fffa4243
- slug
- jika-yang-dibakar-adalah-mimpi-d5d7fffa4243
- url
- https://medium.com/lentera-literasi/jika-yang-dibakar-adalah-mimpi-d5d7fffa4243
- canonical_url
- https://medium.com/lentera-literasi/jika-yang-dibakar-adalah-mimpi-d5d7fffa4243
- author_url
- https://medium.com/@atmadevawiranata
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01