Pendidikan yang Mengenyangkan
Dimasa lalu kurikulum pendidikan menuntut seorang guru untuk menjadi seorang koki, yang memasak bahan mentah seperti beras, jagung, ubi…
Pendidikan yang Mengenyangkan

Dimasa lalu kurikulum pendidikan menuntut seorang guru untuk menjadi seorang koki, yang memasak bahan mentah seperti beras, jagung, ubi, dan lainnya. Untuk kemudian disajikan kepada para siswa sebagai hidangan yang enak dan mengenyangkan. Namun sayangnya tidak semua guru punya cukup keahlian untuk menjadi seorang koki.
Beberapa diantaranya hanya mampu mendistribusikan bahan mentah kepada para siswa untuk kemudian meminta mereka mengonsumsinya.
Dan kita semua tahu, memberi beras kepada para siswa, untuk dikonsumsi langsung oleh mereka adalah tindakan yang tidak manusiawi.
Beberapa lainnya mampu memasak sebuah beras dengan baik, menanaknya hingga menjadi butir butir nasi yang pulen dan enak ketika di konsumsi. Siswa dengan senang hati menyantapnya untuk meredakan rasa laparnya, beberapa dari siswa memakannya karena menghargai yang telah disajikan untuknya, dan beberapa lainnya memakannya karena tuntutan sosial memaksanya.
Dimasa lalu para siswa belum mengetahui cita rasa nasi yang enak dan pulen, mereka memakan nasi seadanya, sekalipun nasi yang dimasak para guru tidak matang secara mereka itu masih layak dikonsumsi. Karena mereka lapar, karena mereka tahu rasanya kelaparan, dan mereka tidak ingin siksaan karena rasa lapar hadir hanya karena mereka menolak mengunyah semangkuk nasi yang jauh dari kesempurnaan.
Dimasa masa masa kemudian, makanan lebih mudah diperoleh, rasa kenyang bisa dicapai tanpa harus mengunyah nasi yang hambar, tanpa perlu kesulitan mencerna sebuah hidangan seperti nasi yang kurang lapar. Ada banyak makanan instan yang lebih nyaman dilidah dan tak perlu repot repot untuk mendapatkannya, karena mereka bisa mendapatkannya dimana-mana.
“Keinstanan membuat kita cepat kenyang, tapi mudah lupa rasa. Proses membuat kita lapar, tapi mencegah kita kehilangan makna.”
Pemerintah tentunya bukan sesuatu yang konstan, mereka bergerak dengan dinamis, tak terkecuali pergerakan tangan pendidikannya. Kurikulum menjadi dinamis. Jika dahulu guru dituntut untuk memberi hidangan yang mengenyangkan, suatu ketika para guru juga dituntut melatih para siswa untuk belajar memasak nasinya sendiri.
Apakah hal ini benar benar buruk, tentunya tidak bisa kita tak bisa menilainya dengan sudut pandang yang biner. Pemerintah berharap para siswa menjadi makhluk yang kuat, yang bisa bertahan hidup, memasak nasinya sendiri, karena kelak ketika mereka keluar dari rumah keduanya itu, dunia tidak akan lagi menyajikan nasi di piring makannya. Mereka harus memasaknya sendiri untuk memperoleh rasa kenyang.
Ide itu terdengar brillian, namun terlalu idealis untuk dapat diwujudkan secara merata. Di beberapa daerah, jangankan sebuah alat ajaib seperti rice cooker, kompor dan dandang pun belum tentu mereka miliki. Dan apakah salah mereka jika mereka tidak cukup mampu mengajari para siswa menanak nasi dengan baik, sedang para guru sendiri kesulitan menanak nasi menggunakan tungku dan kuali yang telah lama usang.
Di beberapa daerah yang lain ada kecanggihan seperti rice cooker, berbanding terbalik dari daerah sebelumnya, disini mereka hidup dengan penuh kemudahan. Beberapa diantaranya mampu mencetak para penanak nasi yang handal, beberapa siswa laninnya masih kesulitan mengoperasikan rice cooker. Entah karena para koki tidak menunjukkan tutorial dengan baik, atau karena dirinya yang terlalu terbiasa memesan makanan online.
Di daerah daerah lainnya, kebanyakan diantaranya hanya memiliki sebuah rice cooker, sebuah kompor dan sebuah dandang pada sekolah. Dan sekali lagi pemerintah meminta mereka mengajarkan siswa agar menjadi penanak nasi yang baik. Aktivitas itu berjalan lancar, perlahan tapi pasti, para siswa bisa memperkaya dirinya dengan pengetahuan untuk menanak nasi dengan baik. Namun….
“Disaat kita berharap hujan mereda, terkadang badai pun tiba.”
Sekali lagi kesulitan tiba, para siswa tak cukup untuk belajar menanak nasi dengan baik, mereka juga harus lulus dalam keadaan yang kenyang. Dan nahasnya pula para siswa bukan hanya harus belajar menanak nasi dengan baik, mereka juga harus bisa menyeduh kopi, memasak sayur, menggoreng lauk, sekaligus menyantap segalanya disaat yang bersamaan karena agar mereka segera kenyang.
Kelas menjadi semakin panas karena kompor yang telus menyala, kepualan asap menyebar, hingga ke ubun ubun para siswa. Dan aku pun bertanya tanya, neraka inikah yang kita cari selama ini, apakah siswa bisa tetap hidup dengan baik, setelah mengkonsumsi nasi, sayur, kopi yang belum tentu termasak dengan baik. Jika kami para guru saja kesulitan saat dituntut menguasai sebuah keterampilan seperti menanak nasi dengan baik. Bagaimana para siswa yang harus menguasai 10 keahlian lainnya.
“Pendidikan yang baik bukan hanya mengisi kepala, tapi juga mengenyangkan hati.”
Dan dititik ini, semuanya terasa sia sia. Bukan salah siswa jika mereka terkadang lelah belajar memasak, bukan salah guru pula jika mereka tidak bisa membelah diri untuk mengajar 36 siswa di kelas dengan baik. Bukan salah sekolah pula bila mereka belum mampu memiliki prasarana yang cukup memadai untuk membuat dapur yang berkualitas. Dan pemerintah, bagaimana cara mereka membuat kesetaraan di tengah keberagaman.
Pada akhirnya segalanya tak akan pernah sama. Ketidaksetaraan, ketakseragaman, dan keanekaragaman adalah bumbu manusiawi dalam kehidupan manusia. Disaat kita tak pernah bisa mencapai setara, satu satunya cara masuk akal dan paling mudah adalah menerima bahwa batasan akan selalu ada. Sekalipun orang lain akan memandang ketidaksempurnaan yang tercipta sebagai sebuah kegagalan belaka, kesempurnaan dan utopia dunia pendidikan adalah hal yang fana.
Dan disaat semuanya berujung disana, langkah apa yang bisa kita berikan jika idealisme yang kita nanti nantikan ternyata tidak akan pernah ada. Untungnya kita bukanlah pemerintah yang harus memikirkan jutaan kepala, sebagai manusia kelas biasa yang tak sempurna. Berusahalah semampunya, karena pada akhirnya tujuan kita yang utama sebagai manusia bukanlah penuh rasa kenyang tapi terhindar dari kelaparan.
메타데이터
- post_id
- d5f13c14449f
- slug
- pendidikan-yang-mengenyangkan-d5f13c14449f
- url
- https://medium.com/@royanspiral/pendidikan-yang-mengenyangkan-d5f13c14449f
- canonical_url
- https://medium.com/@royanspiral/pendidikan-yang-mengenyangkan-d5f13c14449f
- author_url
- https://medium.com/@royanspiral
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 08:40:21