← Back to list

Menulis Ketika Lapar

Kebiasaan atau Sugesti belaka?

Ridho Ismail · 2025-09-11 03:38 · 100 claps · 2.3 min read
#menulis #bahasa-indonesia #kebiasaan #sugesti #lapar
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

RITUAL MENULIS

Menulis Ketika Lapar

Kebiasaan atau Sugesti belaka?

Photo by Sid Balachandran on Unsplash

Photo by Sid Balachandran on Unsplash

Semasa sekolah, sarapan adalah sebuah hal yang wajib dilakukan. Sekalipun dalam posisi hampir terlambat, setidaknya sesuap nasi atau sepotong roti harus masuk di mulut. Hal tersebut juga berlaku bagi saya selama bertahun-tahun.

Namun, ketika masa kuliah tiba, sarapan sering kali hanya menjadi opsi. Kalaupun ada waktu untuk sarapan, sering kali jamnya gabung dengan makan siang. Selain untuk irit, saya juga tidak biasa untuk sarapan. Air putih sudah cukup mengisi kekosongan perut dan setelahnya, saya sudah siap untuk menjalani hari.

Namun, baru-baru ini saya sadar akan hal yang hampir selalu saya lakukan. Sering kali, saya menulis ketika perut dalam keadaan kosong. Bukan berarti saya selalu menulis dalam keadaan lapar, tapi dalam banyak kejadian, seringnya memang saya menulis dalam keadaan lapar.

Ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula, pikiran saya seakan-akan melompat jauh menjangkau ide-ide yang akan saya tuliskan. Menulis ketika lapar seperti semacam kegiatan rekreasi sejenak. Secara otomatis, imajinasi dan jari-jari seperti melakukan kerja kolaboratif. Keduanya seperti hidup tanpa ada perintah dan secara langsung terkoneksi.

Ritual tersebut sangat manjur utamanya ketika pikiran sedang buntu. Bermodalkan secangkir kopi dan perut kosong, penjelajahan kata dan rentetan pikiran seperti tumpah di keyboard, yang kemudian mengisi ruang putih di layar Medium.

Hal ini berbeda ketika saya menulis setelah makan dan kenyang. Setiap saya menulis setelah makan, sepertinya porsi nguap jauh lebih banyak dibandingkan paragraf yang dihasilkan. Dan selalu ada godaan untuk scrolling media sosial. Otak dan tubuh seperti sepakat bahwa bermalas-malasan setelah makan adalah hal yang wajar.

Setelah makan, pikiran seakan-akan ditutup oleh suatu hal yang mengakibatkan susahnya untuk memunculkan sebuah kalimat. Namun, sifat tersebut hanya temporal. Dan saya berasumsi bahwa itu hanya sugesti di pikiran saja. Karena sejatinya, menulis tak perlu menunggu. Jika waktunya ada, maka tulislah.

Kebiasaan ini sudah berjalan setidaknya hampir satu tahun terakhir ini. Hampir setiap bangun tidur, secangkir kopi dan sebuah laptop menjadi teman sejati. Imajinasi dan kesunyian di pagi hari seakan-akan adalah alarm untuk memanasi kerja otak, sebelum melakukan kerja fisik.

Menurut saya, kombinasi dari banyaknya kejadian tersebut adalah suatu aset yang mahal yang saya miliki. Hal ini juga berimplikasi pada cara sederhana dalam mensyukuri nikmat yang diberikan tuhan. Tidak semua orang mempunyai waktu akan hal tersebut.

Orang-orang mungkin menganggap bahwa lapar bukanlah kondisi ideal untuk melakukan kerja-kerja fokus. Bagi saya, lapar adalah bensin dan kopi adalah api. Keduanya adalah kombinasi yang sangat ideal. Sayangnya, saya baru menyadarinya pada masa dewasa ini.

Pada dasarnya, entah ada studi komprehensif atau tidak terkait dengan hal ini. Atau hal ini memang hanya sugesti belaka. Namun terlepas dari itu semua, memang ada dampak dari kebiasaan menulis sewaktu lapar yang saya jalani ini.

Menulis ketika lapar adalah hal yang tidak untuk ditiru semua orang. Ada juga orang-orang yang tidak memiliki lambung yang kuat, kemudian berakibat dengan naiknya asam lambung. Tulisan ini hanya bagian dari berbagi pengalaman ketika saya mulai menulis. Yang mana, bisa jadi di masa depan kebiasaan ini akan terus ada atau bisa saja berubah. Entahlah.

Jadi, apa kebiasaan yang kamu lakukan ketika menulis?

Terima kasih sudah apresiasi dan membaca sampai akhir. Jika ada kritik, saran, atau ingin berdiskusi silahkan tulis di kolom komentar. Jika suka dengan tulisan saya di Medium, kalian bisa dukung saya di sini.

Sekian dan sampai jumpa!


메타데이터
post_id
d5f5d7bb4cbc
slug
menulis-ketika-lapar-d5f5d7bb4cbc
url
https://medium.com/@ridhoismail/menulis-ketika-lapar-d5f5d7bb4cbc
canonical_url
https://medium.com/@ridhoismail/menulis-ketika-lapar-d5f5d7bb4cbc
author_url
https://medium.com/@ridhoismail
status
ok
fetched_at
2026-07-17 15:03:03