← Back to list

78

Aku tidak menyesal pernah menyukainya, karena yang kupilih malam itu adalah kejujuran, bukan kemenangan, bukan akhir yang memihak pada…

SKHIFTRQU · 2025-07-19 13:06 · 0 claps · 1.1 min read
#26
Open on Medium ↗

78

Aku tidak menyesal pernah menyukainya, karena yang kupilih malam itu adalah kejujuran, bukan kemenangan, bukan akhir yang memihak pada hatiku.

Malam itu, aku membuka hatiku seperti jendela yang diam-diam mengharap pagi menyusupkan hangatnya. Tapi yang datang hanya angin sepi, tak ada pelukan yang mendekap, tak ada jawaban yang menenangkan. Hanya sunyi yang duduk lama di ambang, dan aku menyapanya dengan tenang.

Ia tak membalas seperti yang kuharapkan, tapi caranya menjawab — ahh, tetap ada keindahan di sana. Maka kututup percakapan itu dengan jari yang ringan, bukan karena aku lega, tapi karena akhirnya tak ada lagi yang perlu kugenggam. Segala harapan telah kubiarkan mengalir dalam kata-kata yang dulu bahkan tak sempat kupikirkan, karena takut, karena tahu, mungkin tak akan utuh.

Kini aku paham, harapan tak selalu tumbuh di tanah yang sama. Kadang ia hanya singgah, bukan untuk tinggal, tapi untuk mengingatkanku bahwa hatiku masih berdetak, masih bisa mencinta, meski tak dibalas.

Aku tidak marah, tidak pula kecewa. Yang tersisa hanya ruang hening di dada, kosong yang tak gaduh, dan rindu yang tak tahu arah pulang.

Dan bila akhirnya aku ikhlas, itu bukan karena lukanya tak perih, tapi karena aku tak lagi ingin menambatkan harap pada hati yang tak punya tempat untukku.

Ikhlas bukan akhir dari rasa, tapi titik tenang setelah badai, tempat di mana aku bisa berkata: aku baik-baik saja — meski tanpamu. Semoga.


메타데이터
post_id
d62eec039adc
slug
78-d62eec039adc
url
https://medium.com/@ariefriefan14/78-d62eec039adc
canonical_url
https://medium.com/@ariefriefan14/78-d62eec039adc
author_url
https://medium.com/@ariefriefan14
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56