Mengemas Rapi dan Menata Sepatu di Rak Depan Sebelum Mengucap Pulang
Sedari kecil aku hafal betul semua yang membuatmu mendapati gerutu ayah ibumu. Tentang hal-hal kecil yang harus dibereskan, piring selepas…
Mengemas Rapi dan Menata Sepatu di Rak Depan Sebelum Mengucap Pulang
Foto oleh Tolga Ahmetler di Unsplash
Sedari kecil aku hafal betul semua yang membuatmu mendapati gerutu ayah ibumu. Tentang hal-hal kecil yang harus dibereskan, piring selepas makan ditaruh tempat kotor, handuk di jemuran belakang setelah digunakan, air di bak mandi yang harus penuh kembali selepas dipakai. Biar jadi anak yang peka, katanya.
Sering kali terasa menyebalkan juga melihat apa-apa dibesar-besarkan, tapi anak seusia mu punya apa selain menggerutu ulang dalam hati.
Melihat orang-orang hidup dengan cara yang lebih berbeda—bahkan seringnya lebih semrawut dari yang kita bisa pikirkan, membuatmu menyeletuk pertanyaan yang di suatu sore sembari menunggu bel pulang.
"Lagipula kenapa apa-apa harus gini harus gitu, sekali-kali harusnya gapapa 'kan lupa? Kan kita juga manusia. Tapi buatku mereka berdua terlalu berlebihan. Aku baru saja ditelfon ibu, lupa bawa sepatu ganti." ujarmu mengetuk-ngetuk sepatu putihmu bekas pensi pagi tadi, sebelum diguyur hujan seperempat jam kemudian.
Jadilah kita pulang sembari mengotori sepatu untuk kamu cuci esok harinya, yang ternyata noda kotor hujan itu tak sepenuhnya hilang di sepatumu.
Ada satu masa ketika usia tujuh belas terasa cukup untuk membuatmu yakin bahwa kau sudah dewasa. Kamu bilang mulai sering membohongi ibu untuk jam malam lebih lama, atau meminta uang saku lebih banyak dari hari biasa.
Kamu bilang sekali dua kali membantah ibu yang terlalu banyak mengatur, terlalu banyak ikut campur tentang tugas-tugasmu yang menumpuk dihadang deadline, terlalu protektif karena membuatku minum pil suplemen tiap hari, terlalu menyebalkan karena tak pernah absen menanyaimu apa yang terjadi di sekolah hari itu.
Lucunya, kemudian aku melihatmu tumbuh persis seperti itu hari ini. Persis ketika kamu berdiam setengah larut agar pulang dengan keadaan yang tak lebih menyedihkan dari yang kelihatan.
Persis ketika aku—mendapati gagang pintu yang diam-diam kamu urung tarik sebelum merapikan kusutnya dirimu dihantam sesuatu dari luar—tak lupa menata sepatumu di rak depan seperti yang ibumu selalu ulang-ulang.
Perlahan — kemudian — membentukmu untuk turut membereskan segala di wajahmu, dadamu, dan pikiranmu—atau paling tidak menyembunyikannya sebelum pada akhirnya menginjak kaki-kaki pintu. Dan rumah tak pernah tahu apa saja yang kita tinggalkan di depan pintunya.
Tulisan ini termasuk bagian dari Writing Challenge Meja Sajak. Tema untuk Juli adalah Topeng. Ayo ramaikan tantangannya dengan menuliskan interpretasi terbaikmu mengenai tema Topeng dalam kehidupan sehari-hari atau dari ruang imaji. Tulisan dapat berupa karya fiksi mulai dari: cerpen, cermin (cerita mini/flash fiction), puisi hingga prosa.
[embed]July Writing Challenge Meja Sajak Agenda bulanan baru kamimedium.com
메타데이터
- post_id
- d64890622ffa
- slug
- mengemas-rapi-dan-menata-sepatu-di-rak-depan-sebelum-mengucap-pulang-d64890622ffa
- url
- https://medium.com/meja-sajak/mengemas-rapi-dan-menata-sepatu-di-rak-depan-sebelum-mengucap-pulang-d64890622ffa
- canonical_url
- https://medium.com/meja-sajak/mengemas-rapi-dan-menata-sepatu-di-rak-depan-sebelum-mengucap-pulang-d64890622ffa
- author_url
- https://medium.com/@archiveofc
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 00:06:11