Kala itu, Pernah Terjadi Dalam Hidupku
Lei
Kala itu, Pernah Terjadi Dalam Hidupku
- Lei

“Kamu pernah jatuh hati pada seseorang?”
Lama sekali bagiku untuk bisa menjawab pertanyaan itu, bagaimana rasanya ketika kita jatuh hati? familiar namun tidak dapat kutemukan bersemayam pada ingatanku sebelumnya. Tanganku masih terus menyortir barang-barang ke dalam kardus siap buang, lalu berhenti pada sebuah buku. Berdebu, kusam, tapi saat aku buka halamannya, isinya penuh tulisan tangan.
“Mungkin, pernah.”
Bisa kurasakan gerakannya terhenti di udara, raut wajahnya keheranan menatapku sepenuhnya. “Sungguh?”
“Iya, dulu. Sudah lama sekali.”
Kakiku bergerak menuju kursi terdekat, isian buku ini lebih menarik perhatianku dari membereskan sisa barang. Gampang, aku masih punya waktu lebih untuk membuang perhatianku pada harta karun memori ini. Pencahayaan dari jendela yang terbuka cukup membantu tanpa perlu susah-susah menyalakan lampu agar aku dapat membaca isinya. Aku kenal akrab dengantulisan tangan ini, tidak selalu rapi pada setiap tanggal yang ditandai. Banyak yang berantakan sekali, pasti tangannya gemetaran karena emosi. Lebih banyak lagi yang ditulis rapi, perasaan yang ditorehkan pasti telah tertata lebih baik.
“Siapa?” ia bertanya lagi setelah hanya ada suara barang-barang ditumpuk dan dipindahkan, atau aku merasa begitu sejak membaca halaman pertama buku ini. Seolah tahu aku pasti akan bertanya, ia melanjutkan. “Sosok yang berhasil menarik perhatianmu itu, siapa?”
“Siapa ya,” suaraku merendah, tidak ada siapapun yang terlintas dikepalaku.
Bagaimana jatuh hati terasa? apakah benar seperti ada jutaan kupu-kupu di perut? menggelikan, atau berlebihan? benarkah aku pernah merasakannya, atau aku salah mengartikan saja. Mungkin, belum pernah aku jatuh hati sebelumnya selain pada penanya yang berada di sini, bersamaku sekarang.
Suara kekehan terdengar darinya, aku mengalihkan pandangan dari buku. Raut wajahku menyiratkan kebingungan, bertanya “apa?” tanpa suara.
“Kamu lucu sekali memikirkan pertanyaanku sebegitu seriusnya,” ia menepuk-nepukkan tangannya, menghalau debu dari barang-barang yang ia pilah. “padahal mudah loh, tinggal jawab saja kalau kamu jatuh hati kepadaku. Aku jadi sedikit sakit hati.”
Ia berlagak terluka, menyentuh dada sebelah kiri.
Gelagapan, tenggorokanku tersumbat.
“Aku bercanda,” katanya, ia melirik buku di tanganku. “Sudah ketemu?”
Aku menggeleng.
Ia menghampiriku, menepuk pakaiannya, memastikan diri lebih bersih dan layak sebelum duduk di sebelahku. Tangannya meraih buku di tanganku, kuhadiahi dengan anggukan kepala saat gelagatnya meminta izin untuk membuka. Tidak butuh lebih dari satu menit sampai ia berhenti pada sebuah halaman, panjang sekali tulisan yang tergores di sana. Ia memperlihatkan halaman itu padaku.
Pakaiannya selalu menjadi yang paling rapi dan bersih, lengkap dengan atribut tambahan lain. Kacu di kerah baju, tali, enamel yang lebih ramai dari milik siapapun, topi baret coklat tua. Kataku di dalam buku hari itu ia dilantik menjadi pratama pramuka. Seolah tahu aku akan lupa, dijelaskan di sana apa itu pratama dan segala tetek bengek istilah organisasi lainnya.
“Teman-temanku bilang, beginilah rasanya jatuh hati.”
Aku menatap ke arahnya, setelah cerita yang panjang tentang apa saja yang terjadi saat itu. Ia berhenti membaca.
“Habis,” katanya seolah mengerti.
“Apanya yang habis?”
“Tulisanmu,” ia membalik buku, memperlihatkan halaman yang hanya separuh terisi itu kepadaku. “habis sampai di sini, kamu tidak menuliskan apapun lagi tentangnya setelah itu.”
Aku memandangi halaman kosong setelahnya cukup lama. Lucu juga. Rasanya seperti menonton sebuah film yang mendadak berhenti sebelum adegan terakhir, lalu tidak pernah dibuatkan lanjutannya. Aku ingin tahu apa yang terjadi setelah hari itu. Apakah aku masih diam-diam mencarinya di setiap keramaian? Apakah aku berakhir menyapanya? Atau justru perasaanku selesai begitu saja tanpa sempat kusadari?
Buku ini tidak memberiku jawaban.
Usianya mungkin sekitar lima tahun, waktu yang ternyata cukup lama untuk membuatku lupa bahwa pernah ada tentangnya dalam hidupku. Bukan sebagai seseorang yang singgah cukup lama, apalagi menjadi bagian dari hidupku. Sosoknya hanya lewat sebentar. Namun rupanya, perasaanku saat itu memilih tinggal lebih lama daripada yang kusadari. Ia bersembunyi rapi di antara halaman-halaman yang kutinggalkan, menunggu sampai suatu hari aku menemukannya kembali.
Lalu aku mulai berharap dapat menemukanmu kembali dalam ingatanku, dalam cerita yang kucurahkan pada buku harian kala itu. Sekalipun namamu tidak pernah secara eksplisit aku tuliskan, aku tetap tahu kepada siapa tulisan itu seharusnya ditujukan.
Sekalipun tidak pernah ada perbincangan di antara kita, aku tetap menyukaimu, kala itu.
“Kamu pernah jatuh hati juga dulu?” tanyaku begitu saja, lalu aku mengerjap. “Maaf, aku tidak — “
“Hmm.” Ia berpikir sejenak, menatap langit-langit. Gelagatnya membuat degup jantungku kian cepat, semakin lama menggantung di udara semakin takut aku mendengar jawabannya.
“Pernah.”
Hatiku mencelos.
“Pada siapa?”
“Padamu.”
메타데이터
- post_id
- d65e943fab99
- slug
- kala-itu-pernah-terjadi-dalam-hidupku-d65e943fab99
- url
- https://medium.com/@cavcoordinate/kala-itu-pernah-terjadi-dalam-hidupku-d65e943fab99
- canonical_url
- https://medium.com/@cavcoordinate/kala-itu-pernah-terjadi-dalam-hidupku-d65e943fab99
- author_url
- https://medium.com/@cavcoordinate
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 15:36:45