Kapal Batok Kelapa
Berlayar, dan terus melaju hingga tidak bisa digapai. Kapal itu menyimpan sebagian kenangan kecilku. Kenangan di kala menceburkan diri ke…
Kapal Batok Kelapa

Menyaksikan bahagia kecil yang dibawa kapal batok kelapa. Sumber: piixabay
Berlayar, dan terus melaju hingga tidak bisa digapai. Kapal itu menyimpan sebagian kenangan kecilku. Kenangan di kala menceburkan diri ke laut adalah penyembuh paling ampuh, dan menyaksikan kapal batok kelapaku berlayar mendahului yang lain, kemudian menang adalah bahagia yang mengalahkan berjalannya waktu. Waktu bahkan memilih membeku, menyaksikan aku bahagia tempo itu.
Aku selalu menjadi pemenang. Pemenang dalam lomba melayarkan kapal batok kelapa. Hei, sungguh, aku selalu menjadi pemenangnya. Permainan tradisional ini selalu hidup abadi dalam kalbu ingatanku. Memang sesungguhnya aku adalah nahkoda yang handal. Aku melayarkan kapalku dengan berucap “Berlayarlah, aku memantau”. Setiap kapal batok kelapa yang akan kulayarkan, selalu melaju dibawa ombak dengan penuh percaya diri. Dia seakan bisa membaca diskusi aku dengan pikiranku.
Walaupun dengan layar kecil, tangan kecil, dan angin kecil yang berhembus, kapalku selalu berlayar di depan, kemudian menang. Dia menang dalam semua perlombaan. Perlombaan gengsi anak-anak pesisir. Gengsi yang kini kusadari adalah bagian belajar yang menyenangkan. Belajar menerima lebih dan kurang. Merayakan kemenangan dan kekalahan dalam satu waktu. Aku berbahagia untuk semua kapal batok kelapa yang berlayar, walaupun diiringi sadar bahwa dia akan tenggelam.
Tenang saja, berlabuh ataupun tidak, kapal batok kelapaku hidup selamanya. Tidak dalam bentuk fisik, namun dalam bentuk tumpuk kenangan yang akhirnya aku kisahkan dalam mencari jalan tepat. Kisah anak pesisir, berlomba untuk menghidupi kenangan. Kapal batok kecil ini ingin sekali kulapisi sabut kelapa. Melapisinya dengan bagian dari dirinya sendiri agar sempurna hidup. Penuh, dan kekal. Kekal dalam ingatan seorang manusia pengingat.
Kapal batok kelapa yang tersimpan rapi di sebagian ruang kalbuku, sepertinya butuh dibalut. Dibalut kenang akan cinta yang menyempurnakan, agar kelak tidak terganggu ketentramannya. Besok akan kujenguk, dan kukabarkan kepada laut tentang keberadaannya. Kapal ini aman. Aman dalam kalbuku. Aku sengaja menghadirkannya kembali, sekilas di sini untuk menguji. Menguji hati yang mulai merindu dengan kenangan.
Jikalau kisah ini menang berpihak padaku, kapal batok kelapaku akan ikut aku layarkan kembali untuk mengenang rindu. Mengenang kisah. Kisah berlayar tanpa nakhoda, kisah aku melayarkan kapal batok kelapa bersama mimpi dari tepi pantai.
메타데이터
- post_id
- d6643c68542a
- slug
- kapal-batok-kelapa-d6643c68542a
- url
- https://medium.com/@alfonsinaamelsasail/kapal-batok-kelapa-d6643c68542a
- canonical_url
- https://medium.com/@alfonsinaamelsasail/kapal-batok-kelapa-d6643c68542a
- author_url
- https://medium.com/@alfonsinaamelsasail
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 16:10:02