Merawat Kesucian Diri Setelah Ramadhan
Khutbah Jumat di Masjid An-Nur Menara Imperium pada tanggal 5 Mei 2023 masih terasa hangat dengan suasana Syawal. Waktu itu kita berada di…
Photo by Jill Heyer on Unsplash
Merawat Kesucian Diri Setelah Ramadhan
Khutbah Jumat di Masjid An-Nur Menara Imperium pada tanggal 5 Mei 2023 masih terasa hangat dengan suasana Syawal. Waktu itu kita berada di hari ke-14 bulan Syawal, dan kurang lebih tema khutbahnya adalah “Bagaimana Caranya Kita Mempertahankan Kemenangan Ibadah dan Spiritual yang Sudah Diraih Selama Ramadhan?” Apakah kita sudah kembali ke rutinitas seperti sebelum Ramadhan, atau masih berusaha menjaga kesucian hati seperti bayi yang baru lahir?
Karena sejatinya, setelah Ramadhan, kita seperti kembali ke titik nol. Bersih dan suci. Tapi ingat, tidak berhenti sampai sana. Justru perjuangan sesungguhnya dimulai setelah Ramadhan berlalu. Kita harus berusaha menjaga kondisi hati dan iman yang sudah “di-reset” selama bulan Ramadhan. Konsisten adalah kuncinya.
Bagaimana tipsnya?
Pertama, bersihkan hati dari segala bentuk syirik. Karena Allah adalah Maha Pengampun, namun dosa syirik adalah dosa yang tidak dijanjikan ampunan jika tidak bertobat darinya. Ingat, syirik bukan perkara kecil. Syirik bisa menyelinap dalam bentuk halus, seperti riya’, menggantungkan harapan berlebihan pada makhluk, atau terlalu cinta dunia. Bahkan Nabi Ibrahim pernah bertanya pada anak-anaknya:
مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى؟
“Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah: 133)
Pertanyaan ini penting banget buat direnungkan. Terutama untuk orang tua. Apa yang akan anak-anak kita sembah jika kita sudah tidak ada? Sudahkah kita mewariskan iman dan tauhid dalam hati mereka? Sudahkah kita tanamkan kebiasaan bersyukur dan kesadaran bahwa semua datang dari Allah? Dan sembah disini bukan hanya perkara ketuhanan dan keyakinan saja. Bisa jadi ada seorang anak diluar sana, karena didikan yang kurang baik dari orangtuanya, mereka jadi orang yang menyembah harta dan posisi jabatan. Berani sikut kanan dan kiri hanya untuk sekedar bisa menempati posisi bos.
Kedua, bersihkan hati dari sifat-sifat yang dilarang Nabi ﷺ. Salah satunya adalah hasad (iri dan dengki). Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah sifat hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Hasad adalah penyakit hati yang sering tidak terasa, tapi diam-diam bisa menggerogoti amal dan memutuskan tali persaudaraan. Maka jauhilah prasangka buruk kepada tetangga, saudara, teman, bahkan lingkungan sekitar. Kita nggak pernah tahu bagaimana akhir hidup kita nanti, jadi jangan sampai hidup ini diisi dengan hati yang penuh racun.
Dan yang ketiga, lanjutkan kebaikan-kebaikan yang sudah dibangun selama Ramadhan. Kalau selama Ramadhan kita sudah rutin baca Al-Qur’an setengah juz sehari, jangan berhenti. Kalau sudah terbiasa shalat berjamaah di masjid, teruskan. Kalau sudah ringan bersedekah, jangan kendurkan. Bahkan puasanya pun bisa diteruskan dengan puasa Senin-Kamis atau pola puasa Nabi Dawud.
Kuncinya adalah konsistensi. Karena Allah Swt. tidak hanya mencintai amal yang besar, tapi juga amal kecil yang dilakukan terus-menerus. Bahkan dalam bekerja pun, jangan lupa niatkan karena Allah. Bekerja juga bisa jadi ibadah kalau kita sertakan takwa di dalamnya — sholatnya tetap dijaga, lisannya tetap dijaga, dan hatinya tetap terpaut kepada Allah. Wallahu a’lam.
Jumat, 24 April 2023 — Masjid An-Nur Imperium Tower, Setiabudi, Jakarta Selatan
메타데이터
- post_id
- d68ebd3cd8ff
- slug
- merawat-kesucian-diri-setelah-ramadhan-d68ebd3cd8ff
- url
- https://medium.com/@bezghynur15/merawat-kesucian-diri-setelah-ramadhan-d68ebd3cd8ff
- canonical_url
- https://medium.com/@bezghynur15/merawat-kesucian-diri-setelah-ramadhan-d68ebd3cd8ff
- author_url
- https://medium.com/@bezghynur15
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 16:20:03