← Back to list

Jeda

Kita sebagai entitas being perlu membiasakan menjeda dari aktivitas (doing). Penat, stuck, overthinking, overwhelmed dan perasaan berat…

Denny Kodrat in Ruang Kontemplasi · 2026-05-31 01:08 · 155 claps · 1.8 min read
#mindfulness #hening #ruang-kontemplasi #refleksi #renungan
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment PSY · Mental Health & Psychiatry 🧘 · Spirituality

Jeda

Photo by Alessio Zaccaria on Unsplash

Photo by Alessio Zaccaria on Unsplash

Kita sebagai entitas being perlu membiasakan menjeda dari aktivitas (doing). Penat, stuck, overthinking, overwhelmed dan perasaan berat lainnya dapat diselesaikan dengan jeda. Berdiam diri beberapa menit tanpa melakukan aktivitas apapun. Biarkan pikiran kita berkelana, sebagaimana sifat fitrah (nature) pikiran. Sementara kita cukup bertindak sebagai pengamat, observer. Tidak perlu melakukan penilaian, meski pikiran kita terus menggoda kita untuk memberi judgment.

Dengan jeda yang dilakukan apakah kita merasa bosan? tentu! Kita pasti merasa bosan. 5 (lima) menit jeda, do nothing, tanpa scroll sosial media, hening sejenak, memaksimalkan kekuatan panca indera pada durasi itu, terasa lama. Sangat lama. Lima menit yang sangat lama. Ya, karena kita bosan. Otak kita menagih asupan dopamin, serotonin yang muncul karena gawai, atau aktivitas (doing) yang tiba-tiba terhenti sejenak. Padahal bosan itu yang sedang kita cari. Jeda merupakan aktivitas mencintai rasa bosan sebagai bagian untuk menyeimbangkan being dalam diri kita.

Jika lima menit jeda saja kita sudah kepayahan dengan rasa bosan, bagaimana dengan 10 menit, atau 15 menit atau bahkan 30 menit? Bagaimana jika kita melakukan hening selama berjam-jam? Nampaknya ini yang perlu kita biasakan, di tengah paparan bising dan aktivitas padat yang tidak mengenal waktu.

Setelah jeda selesai kita lakukan, rasa tenang, relaks, pasti datang. Ibarat gawai yang kembali segar setelah di restart. Keseimbangan antara doing dan being ini yang sebaiknya di jaga untuk kesehatan fisik dan mental. Tenang menghadapi masalah hidup merupakan sikap yang dilatih, dibentuk. Bukan datang tiba-tiba sebagai bawaan bayi. Ketenangan ini yang menghasilkan cara menyelesaikan masalah dengan baik dan benar. Bukankah kita tidak boleh membuat keputusan disaat sedih atau kala terlalu senang? Keputusan yang diambil dalam kondisi tersebut umumnya tidak logis, datang dengan perasaan sesaat yang berujung penyesalan.

Jeda dapat berarti menghilang sesaat, menikmati kesendirian (aloness). Membuka ruang luas untuk berbicara (deep talk) kepada diri, mengasah kepekaan bahwa kita telah begitu menyiksa diri, sekaligus meminta maaf atas perbuatan semena-mena yang dilakukan terhadap diri. Bukankah rasa bosan selama jeda beberapa menit menjadi bukti kita tidak begitu nyaman dengan diri sendiri? Karenanya kita ingin cepat-cepat mengakhiri rasa bosan itu? Padahal yang senantiasa ada mendampingi kita dalam kondisi apapun adalah diri (being).

Sering kita lupa bahwa tanda kita hidup adalah bernapas. Sayangnya, kita jarang menyadari napas kita. Mensyukuri dengan tenang sensasi napas masuk (inhale) dan napas keluar (exhale). Jeda berarti kita memberi waktu untuk sadar (mindful) dalam bernapas. Menyadari pernapasan menjadi tanda kita hadir secara penuh saat ini di sini saat ini (here and now).

Jangan lupa untuk menjeda di tengah kesibukan kita beraktivitas agar kita sadar bahwa kita hidup, mensyukuri hidup dan menghabiskan waktu hidup secara bermakna dan berkesadaran.


메타데이터
post_id
d73c16a8d4d9
slug
jeda-d73c16a8d4d9
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/jeda-d73c16a8d4d9
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/jeda-d73c16a8d4d9
author_url
https://medium.com/@dennykodrat
status
ok
fetched_at
2026-07-10 08:43:10