Malam Jumat TBM
#030 Rutinitas Kamis Malam di TBM Griya Al Azda
Malam Jumat TBM
#030 Rutinitas Kamis Malam di TBM Griya Al Azda
Hujan masih turun saat Masjid kompleks memuntahkan jamaahnya. Di antara mereka yang keluar itu, ada belasan pasang kaki mungil yang sedang tumbuh dalam proses belajar tiada henti.
Photo by Inna Safa on Unsplash
Satu persatu, kaki-kaki mungil itu lantas masuk ke taman bacaan masyarakat (TBM). Dengan cerita masing-masing mereka mulai akur memulai percakapan. Ada yang langsung duduk ada juga yang langsung membuka mushaf.
Seperti Kamis di pekan yang lain, kami biasanya mengagendakan tawasul dan pembacaan surat Yasin setelah membaca doa mau mengaji. Banyak di antara mereka yang terbata-bata awalnya, tapi kemudian lancar. Ada juga sih yang sampai sekarang masih terbata-bata.
Setelah membaca Yasin, lanjut membaca doa dan menyantap camilan atau makanan ringan. Camilan atau makanan harian ini sebetulnya tidak kami sediakan, biasanya ada saja yang datang membawa sebungkus Nabati Siip, Goririo, Chocolatos dan bungkusan lain yang terjangkau.
Beberapa kali memang ada yang membawa goreng pisang, cireng isi, kue bolu, roti, dan masakan olahan buatan orang tua mereka.
Dari makanan yang dibawa salah oleh salah seorang anak itu, lahir tawa dan canda renyah dari anak-anak yang lain. Tanpa sengaja, konsep bahagia karena sedekah terbentuk.
Awalnya, kami yang menyediakan makanan, lalu kami mulai mengumumkan bahwa siapa saja boleh membawa makanan asal tidak memberatkan. Makanan yang dibawa nanti sifatnya akan menjadi sedekah, traktir, atau manfaat lain yang bisa berpotensi pahala.
Dari rutinitas membaca surat Yasin, saya belajar dari mereka bahwa amalan yang dibiasakan akan menjadi kebiasaan yang mau tidak mau melekat. Tanpa perlu menghafal, tanpa perlu latihan serius. Kuncinya konsistensi.
Pernah satu ketika saya meminta salah satu santri untuk membaca surat Yasin tanpa melihat mushaf, Alhamdulillah walaupun tidak satu surat penuh, rata-rata sudah hafal di ayat-ayat awal.
Dari pengalaman ini, kami lantas mencoba mengamalkan surat yang lain di hari dan momen yang lain. Misalnya mengamalkan surat Al-Mulk di setiap hari pengajian sebakda isya, surat-surat pendek di setiap hari selain kamis malam sebakda membaca doa awal mengaji.
Dengan kebiasaan ini, jelas harapannya anak-anak bisa hafal surat di dalam Al Qur’an, minimal surat pendek di juz 30.
Sebelum kebiasaan seperti ini, mereka biasanya menghafal ayat dengan metode melek-merem. Tahu kan maksudnya? Membaca beberapa surat dengan mata terbuka, lalu membacanya lagi dengan mata tertutup.
Konsep makan-makan di malam Jumat di masjid yang cukup spesial ini awalnya terinspirasi dari jamaah Masjid. Bapak-bapak kompleks akan botram menyantap gorengan yang dibawa oleh salah satu jamaah setelah membaca Yasin dan tawasul.
Sambil menunggu waktu Isya masuk, jamaah bapak-bapak ada yang menyeduh kopi sachet, sebat, dan bertukar cerita.
Momentum berkumpul seperti bapak-bapak di Masjid dan anak-anak di TBM teh mudah-mudahan mah bisa terus berlanjut sampai ada regenerasinya.
Dari perkumpulan itu, tidak jarang obrolan-obrolan intim, obrolan kabar terbaru berubah menjadi ajang saling berkabar dan saling mengerti satu sama lain. Mirip seperti sepakbola atau olahraga yang menyatukan bangsa, botram dan berdiskusi sebakda mengaji juga bisa melakukannya.
Malam Jumat TBM adalah semangat berkumpul yang akan terus kami jaga agar anak-anak bisa mengaji dengan cara yang baik dan menyenangkan. Sejauh ini, makanan selalu berhasil mengundang diskusi dan pengertian.
Jadi, jika hidupmu terasa sulit dimengerti orang lain? cobalah undang orang lain untuk makan bersama. Hehehe
메타데이터
- post_id
- d744bf84501e
- slug
- malam-jumat-tbm-d744bf84501e
- url
- https://medium.com/@ibrahimdutinov/malam-jumat-tbm-d744bf84501e
- canonical_url
- https://medium.com/@ibrahimdutinov/malam-jumat-tbm-d744bf84501e
- author_url
- https://medium.com/@ibrahimdutinov
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 06:15:53