← Back to list

Melacur pada Kepastian

dalam kepastian tidak banyak yang bisa kita capai, itu pikirku.

Mr. Cyborg · 2026-06-30 02:11 · 0 claps · 3.5 min read
#society #indonesia #fatalism #fear-of-the-unknown
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔒 · Cybersecurity 🌐 · Society · General

Melacur pada Kepastian

Foto oleh Mike Hindle di Unsplash

Foto oleh Mike Hindle di Unsplash

Dalam kepastian tidak banyak yang bisa kita capai, itu pikirku.

Aku pernah sebelumnya bercerita tentang Ketidakpastian — tentang struktur yang kita ciptakan untuk menanggulangi ketakutan akan-Nya.

Kecenderungan-kecenderungan kita untuk mencari kenyamanan akan sesuatu yang pasti. Keniscayaan dalam keniscayaan, sulit untuk menolaknya. Karena rasanya, dorongan terhadap pencarian itu sudah ada sebelum kita.

Tanpa menyamaratakan umat manusia dalam kecenderungan itu, jika kita melihat sedikit lebih sempit di Indonesia — sebagaimana bahasa yang dipilih untuk tulisan ini — sebagai sebuah negara, kita punya pola yang khas untuk itu.

Fatalisme. Satu cara pandang yang masih tidak cukup sering disebutkan namanya dalam percakapan kita. Padahal, kecenderungan cara pandang ini sudah mengakar cukup kuat. Bukan karena itu tidak pernah diajarkan, hanya saja kita sudah mengenalnya dengan nama-nama lain yang lebih berkonotasi nyaman diujarkan — religius dan konservatif. Artinya padahal bisa cukup berbeda, hanya saja nilai-nilai yang diadopsinya punya irisan yang cukup besar.

Irisan dari wacana besar ini tidak berhenti menggema di mimbar atau di ruang-ruang publik. Ia merembes ke ruang paling privat, mewujud dalam cara merasionalkan nasib dan menelan obat puyer kita sehari-hari.

Lebih nyaman bukan berkata kamu akan menuai apa yang kamu tanam? Sambil meyakini itu adalah kausalitas pasti, tidak ada logika cacat di sana. Karma akan menggantikanmu untuk menuntut balas atas sejumlah orang yang menyakitimu. Di tingkat personal ini yang masih sering kita ucapkan, kita coba amini, dan mengelus kepala sendiri, sambil memasang raut tabah seolah masih cukup kuat dan akan terus bertahan karena itu jalan satu-satunya.

Tentang pertemuan yang dijanjikan, sosok yang berbeda dari lainnya, sosok yang akan menyelamatkanmu, sebuah galah yang membawamu melenting menuju kebahagiaan. Yang datang setelah kesabaranmu atas orang-orang yang ‘salah’, atas usahamu dalam memantaskan diri, atau murni kemalasan dari sosok menjijikkan yang berpikir semua orang akan dapat jatahnya.

Kemalasan eksistensial ini pada akhirnya beranak pinak menjadi kemalasan intelektual. Terlalu kuat akar itu, sayangnya tidak menarik kita menjadi lebih dalam dan justru mengapungkan kita menjadi dangkal.

Karena sudah cukup puas dengan pembacaan akan kepastian dari label yang kita sematkan, melangkah lebih jauh adalah kesia-siaan.

Orang Jawa pasti begini, orang Minang pasti begini, orang Papua pasti begini, orang Sunda pasti begini.

Perempuan pasti A dan Laki-laki pasti C.

Konyol.

Kecenderungan-kecenderungan fatalis ini membuat pandangan kita kabur, sulit untuk kita melihat dengan jelas mana yang konstruksi sosial mana yang fakta empiris. Terlebih lagi melihat kecenderungan itu sendiri sebagai konstruksi sosial.

Sebenarnya ini juga berdiri di atas paradoks yang aneh, Indonesia adalah negara hukum (satu bentuk mitos yang dalam agenda-agenda kewarganegaraan masih sering digaungkan), idealnya atau seharusnya (karena menuntut keidealan adalah mimpi siang bolong) hukum menjadi struktur paling tinggi yang berdiri di atas segalanya di negeri ini. Sayangnya, meski dengan banyaknya usaha edukasi untuk ilusi ini tetap terjaga, tetapi juga sudah jadi rahasia umum bahwa hal ini tak lebih dari isapan jempol belaka. Hukum yang seharusnya memberi kepastian — menjadi jaring pengaman bagi subjek negara, ternyata juga tidak lebih pasti dari kemungkinan-kemungkinan aneh yang dapat terjadi.

Uang-lah struktur paling atasnya, hal yang bisa dilihat lebih pasti dari apapun di negara ini (mungkin di mana pun yang mengenal konsep uang).

Dan di sana ilusi kepastian pada uang ini pun juga dijaga. Bahwa nilai seseorang entah lewat jalur apapun itu tidak akan cukup relevan jika ia kekurangan — tidak memiliki cukup uang. Bahwa setiap orang yang berakal sehat, hanya dapat bermoral jika belum diberi jalur untuk merasakan kenikmatan bertakhta mengangkangi hukum.

Seseorang mungkin akan menyela dan menaruh anomali ini di atas meja:

Jika kecenderungan sakau akan fatalis ini mendorong langkah kita untuk mewajarkan melacurkan diri pada apapun yang bernada kepastian, lantas bagaimana judi online yang punya nada ‘keberuntungan’ justru marak di Indonesia?

Kenyataannya, fenomena ini bukanlah antitesis dari fatalisme kita, melainkan mutasi paling tragisnya. Mereka tidak sedang memeluk Ketidakpastian. Mereka justru sedang berlomba mencari kepastian di dalam mesin yang didesain untuk merampok mereka.

Pencarian atas pola gacor, keyakinan pada kali sekian akan dikasih menang, hingga kepercayaan mutlak pada jam-jam hoki adalah manifestasi dari kemalasan kognitif yang sama — sebuah usaha arogan mencari kausalitas pasti di dalam sistem yang murni diatur oleh kepastian hanya pada bandarnya.

Ketika negara gagal memberikan kepastian mobilitas sosial, dan ketika bekerja jujur hanya menjanjikan satu kepastian yang sangat mengerikan — bahwa mereka pasti akan tetap miskin — algoritma mesin-mesin itu secara cepat menggantikan sosok Karma dan entitas ilahiah. Ia mewujud menjadi sosok penyelamat modern, sebuah ilusi kepastian instan untuk meretas batas menuju uang.

Di titik inilah lingkaran fatalisme menutup dirinya secara paripurna.

Karena kita tahu hukum adalah ilusi dan kepastian absolut (uang) dimonopoli oleh mereka yang punya kuasa, kita secara sadar memilih menyerah. Kita masih menjaga ilusi itu. Yang menyanggah akan dicibir dan diberi tatapan sinis — seakan melihat orang yang tidak waras.

Sebab di negeri ini, memeluk Ketidakpastian — menolak takdir, menolak dogma, dan menolak tunduk pada ilusi uang — adalah sebuah bentuk kegilaan. Dan untuk tetap terlihat waras, kita lebih memilih melacurkan diri pada kepastian, sambil merutuki mimpi yang tidak kesampaian.

Menolak kepastian mentah-mentah tentu juga sebuah kebodohan.

Tapi menjaga ilusi terus-menerus seakan hanya itu jawabannya hanyalah proses bunuh diri perlahan.

Kenyamanan dan kenyataan yang kita aminkan, dua hal yang menjadi pertimbangan dalam proses melanjutkan kehidupan.

Sayangnya, bukan hanya itu jawabannya.


메타데이터
post_id
d7572c0179bd
slug
melacur-pada-kepastian-d7572c0179bd
url
https://medium.com/@mrcyborg/melacur-pada-kepastian-d7572c0179bd
canonical_url
https://medium.com/@mrcyborg/melacur-pada-kepastian-d7572c0179bd
author_url
https://medium.com/@mrcyborg
status
ok
fetched_at
2026-07-09 13:13:48