Album Memorandum Karya Perunggu Adalah Catatan Kontemplasi Sarat Emosional Bagi Pendengarnya
Tulisan ini bermula ketika Spotify secara acak memutar playlist lagu yang sedang saya dengar, pertama kali saya mendengarkan sebuah lagu…
Album Memorandum Karya Perunggu Adalah Catatan Kontemplasi Sarat Emosional Bagi Pendengarnya

Cover album Memorandum karya Perunggu
Tulisan ini bermula ketika Spotify secara acak memutar playlist lagu yang sedang saya dengar, pertama kali saya mendengarkan sebuah lagu berjudul: 33x — karya Perunggu. Respon pertama yang terlontar dalam benak saya adalah “Lagu apa ini? Ko bisa gini ya…”
Bagaimana tidak, jika kita baca dan amati liriknya setidaknya muncul pemahaman sepertinya ini lagu religi. Tidak percaya jika lagu ini punya konsep religi, silahkan baca penggalan liriknya:
Sebutlah namaNya Tetap di jalanNya Kelak kau mengingat Kau akan teringat
Judul lagu “33x” karya Perunggu memiliki makna yang terkait dengan dzikir, mengingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Angka “33” dalam konteks agama Islam sering digunakan sebagai bilangan dalam melakukan dzikir.
Lagu ini tentu sukses menghantarkan saya mengenal album berjudul “Memorandum” karya Perunggu. Ternyata ini album bukan sembarang album. Melainkan adalah bentuk kontemplasi yang sarat emosional yang dituangkan dengan lirik-lirik ciamik. Setidaknya, begitu menurut pemahaman saya.
Diawali dengan sebuah lagu yang menghentak dan keras, lengkap dengan judul yang “proaktif” yaitu Tarung Bebas. Sama seperti judulnya, lirik musik dan iramanya juga sangat “Free Fight” banget. Selain lagu lain yang berjudul Canggih, Tarung Bebas adalah favorit ke-2 saya dalam album ini.
Jika kita mau mengulik lebih dalam, sebetulnya “Memorandum” sendiri diambil dari kepanjangan memo yang berarti pengingat. Hal ini sangat berkaitan erat seperti apa yang ingin disampaikan oleh Perunggu dalam album ini, di mana secara garis besar berbicara mengenai perjalanan hidup mereka dengan segala problem yang dialami. Album ini berisikan sebelas lagu didalamnya, yaitu “Tarung Bebas”, “Canggih!”, “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”, “Membelah Belantara”, “Haru Paling Biru”, “Ini Abadi”, “Biang Lara”, “Per Hari Ini”, “Kalibata 2012”, “Prematur”, dan “33x”.
Memorandum bagi saya adalah contoh mencolok dari karya yang tidak hanya mengusung musik, namun juga menciptakan ruang bagi pendengar untuk merenung, introspeksi dan merasakan beragam emosi yang terkadang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tidak semua karya musik mampu menghadirkan perasaan mendalam yang bisa bertahan lama dalam ingatan pendengarnya.
Dalam album ini, Perunggu tidak hanya menghidangkan musik, tetapi juga membentuk sebuah catatan kontemplasi yang sarat dengan nuansa emosional yang mengundang perenungan.
Ini adalah album terbaik yang saya dengar tahun ini, saya kira kalian juga harus ikut mendengarkan!
메타데이터
- post_id
- d760e3bc60bc
- slug
- album-memorandum-karya-perunggu-adalah-catatan-kontemplasi-sarat-emosional-bagi-pendengarnya-d760e3bc60bc
- url
- https://medium.com/@anggian1850/album-memorandum-karya-perunggu-adalah-catatan-kontemplasi-sarat-emosional-bagi-pendengarnya-d760e3bc60bc
- canonical_url
- https://medium.com/@anggian1850/album-memorandum-karya-perunggu-adalah-catatan-kontemplasi-sarat-emosional-bagi-pendengarnya-d760e3bc60bc
- author_url
- https://medium.com/@anggian1850
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01