← Back to list

What We Learned in 2025?

Tahun 2025 adalah tahun yang panjang, sibuk dan banyak hal terjadi di dalamnya. Kebahagiaan? Ya, namun lebih banyak hal tragis yang terjadi…

canvas of roro · 2026-01-02 06:22 · 0 claps · 3.6 min read
#ekonomi #education #goverment #indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval EDU · Education & Learning

What We Learned in 2025?

Tahun 2025 adalah tahun yang panjang, sibuk dan banyak hal terjadi di dalamnya. Kebahagiaan? Ya, namun lebih banyak hal tragis yang terjadi di antara kita. Tanpa perasaan kebencian dari pihak manapun, mari kita breakdown apa saja yang terjadi di tahun lalu.

Sebelumnya, mari kita tarik mundur waktu hingga 2024 akhir. Setelah huru hara pemilu terjadi di tahun 2024 akhir, semua pihak berseteru, masyarakat terbelah-belah kubu. Hingga akhir tahun 2024, masyarakat masih belum kembali. Menuju 2025 awal, kita mendapatkan pemimpin baru yang menyongsong tema “Keberlanjutan”, dimana ini berarti, seluruh program dari pemimpin sebelumnya adalah lanjutan bagi pemimpin kita yang baru untuk terus dikembangkan, tanpa terkecuali.

Masuk bulan awal di tahun 2025, Indonesia sudah gempar dengan adanya efisiensi dan PHK masal di banyak instansi imbas dari adanya efisiensi anggaran tersebut. Banyak yang harus dirumahkan dan juga kehilangan sumber penghasilan mereka untuk menafkahi keluarga. Desas-desus pengurangan jumlah beasiswa pendidkan perguruan tinggi akibat realisasi Makan Siang Bergizi Gratis.

Ya, itu adalah gagasan yang sangat baik sekali, sangat bagus. Namun, apakah bijak? mari kita breakdown.

Makan bergizi gratis ini diadakan — yang kita kenal sebagai MBG— tentu saja di setiap sekolah di Indonesia, namun apakah realitasnya demikian? tidak. Masih banyak hingga kini sekolah yang belum turun MBG ini. Jika dilihat dengan jangkauan yang lebih luas lagi, apakah ini dapat membantu masyarakat? Jawabannya, bisa. Namun, apakah secara luas? jawabannya adalah tidak.

Kenapa demikian?

Pertama, Indonesia adalah negara berkembang, banyak masyarakat Indonesia yang bahkan untuk lanjut mengenyam pendidikan masih sulit sekali, kemiskinan struktural di Indonesia masih sangat banyak, sangat-sangat banyak. Dari pendidikan yang tidak terpenuhi ini, tentu saja mendapatkan pekerjaan yang layak sangat sulit, bahkan untuk lulusan perguruan tinggi saja, masih sangat sulit mendapatkan pekerjaan.

Demikian ini, yang harus kita sadari bersama bahwa, kemiskinan struktural ini adalah hal yang harusnya kita benahi bersama terlebih dahulu? kenapa? karena jika kemiskinan masih banyak di Indonesia, bagaimana mereka akan menyekolahkan anak-anak mereka? bagaimana mereka akan melanjutkan hidup mereka? Bahkan, untuk mendapat sesuap nasi dalam satu hari itu, uang mereka habis, tidak bersisa. Lalu bagaimana mereka mau menabung untuk pendidikan anak mereka, jika untuk makan sehari itu saja mereka harus mengais sampah. Mereka tidak memiliki tempat tinggal layak, tidak juga baju bersih, air bersih, dan sebagainya. Semuanya masih sangat menyiksa untuk mereka.

“Kan masih ada biaya pendidikan gratis untuk yang kurang mampu.” Ini adalah persoalan kita selanjutnya.

Kita beralih kepada masyarakat menengah, di mana mereka bisa membiayai kehidupan mereka sehari-hari, bahkan memiliki tempat tinggal sendiri, setidaknya mereka tidak kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga harian mereka. Namun, apakah ini cukup bagi mereka untuk menempuh pendidikan jenjang perguruan tinggi? Apakah ada beasiswa yang mau menerima masyarakat yang masih bisa berkecukupan sehari-hari namun untuk yang lebih besar dari kebutuhan sehari-hari mereka tidak mampu? Ya, ada yang bisa lanjut ke Perguruan tinggi, namun apakah semua? Jawabannya tidak.

Kenapa tidak? Apa karena mereka tidak mau? Tidak. Jawabannya adalah karena mereka tidak memiliki cukup tabungan untuk itu. Mereka bisa memenuhi kebutuhan harian mereka, namun mereka tidak memiliki cukup uang untuk menyimpan uang tersebut. Uang tidak ada, pemerintah tidak memberikan beasiswa untuk masyarakat menengah, habis. Tidak ada harapan, kemudian akhirnya mereka memilih untuk kerja saja, dibandingkan bersekolah, kemudian masa depan mereka bergulir sama dengan orangtua mereka, begitu seterusnya.

Lalu apa hubungannya pendidikan dengan makan siang gratis? Jawabannya adalah karena MBG disediakan untuk anak sekolahan saja, lalu bagaimana dengan yang tidak bersekolah? “Kan bisa masuk ke bantuan MBG ibu hamil dan anak balita.” Apakah semua orang miskin hamil? Tidak.

“Kan ada bantuan sosial dari pemerintah buat mereka makan.” Bantuan ini sangat membantu, tentu saja, ini adalah hal yang sangat benar, namun apakah itu cukup? Tidak. Kenapa? Karena jika terus demikian, uang anggarakan Negara akan tetap habis tidak membuahkan apapun. Seperti berinvestasi pada perusahaan bodong.

Coba jika kita tarik dengan arah berbeda untuk anggaran ini, apakah hasilnya bisa berbeda? Bisa saja, sangat bisa. Jika kita putar uang anggaran Negara untuk pendidikan, saya rasa banyak anak yang ingin bersekolah akan bisa mengenyam bangku pendidikan, tanpa orangtua mereka kesulitan makan setiap hari, tanpa harus berhutang ke sana-sini untuk mencarikan dana pendidikan. Kemudian, jika mereka sudah lulus dan mendapatkan pendidikan yang baik, maka masyarakat akan berwawasan luas, berpikiran terbuka dan akan bisa membuka lapangan-lapangan pekerjaan lainnya, membuat inovasi bagi Bangsa dan menjadikan ekonomi, pendidikan dan pemerintahan menguat. Tidak banyak kemiskina struktural lagi, mereka sudah bisa mengangkat derajat keluarga mereka. Rata-rata masyarakat Indonesia yang awalnya banyak yang berada di garis kemiskinan, naik menjadi masyarakat menengah.

Ekonomi menguat, pendidikan terpenuhi, masyarakat terpelajar, Indonesia bisa dengan bangga menuju Negara maju.

Lalu kita kembali ke MBG, jika Indonesia sudah menjadi negara terdidik, semua orang bisa bersekolah, maka kita bisa masuk ke sektor MBG. Makanan yang berkualitas dan bergizi sangat baik untuk perkembangan anak-anak sekolah. Tentu saja sektor ini juga akan mengembangkan lapangan pekerjaan. Win-win solution untuk kita semua. Masyarakat makmur dan terdidik, serta ekonomi terbangun.

Jadi Saya rasa, MBG bukan tidak bagus, namun belum tepat.

Setelahnya kita bisa berfokus pada masalah lain, seperti korupsi, pungli, fasilitas umum yang tidak merata dan buruk, pembangunan yang tidak merata, anggaran yang terlalu dihamburkan, dan bobroknya sistem pemerintahan, serta masih banyak lainnya hal buruk yang harus dibenahi.

Namun, hal demikian tidak akan ada, jika pemerintahnya tahu bagaimana memilih individu yang masuk ke pemerintahan, dan tentu saja, manusia yang berdaya berasal dari manusia yang memiliki pola pikir terdidik dan terpelajar.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari tahun 2025 adalah renungkan kembali apa saja hal yang bisa kita rubah untuk Indonesia. Jangan takut mengkritik pemerintah, karena dengan itu, berarti kita masih memiliki jiwa Nasionalisme di dalam diri kita.

Masih banyak hal yang perlu dibenahi dan dibahas depanjang tahun 2025, namun satu hal ini adalah hal yang paling perlu kita pelajari untuk masa depan Indonesia.


메타데이터
post_id
d76c91b4b746
slug
what-we-learned-in-2025-d76c91b4b746
url
https://medium.com/@r.canvas/what-we-learned-in-2025-d76c91b4b746
canonical_url
https://medium.com/@r.canvas/what-we-learned-in-2025-d76c91b4b746
author_url
https://medium.com/@r.canvas
status
ok
fetched_at
2026-07-13 18:14:32