Umur 27, Belum Menikah, dan Mulai Bertanya : Apa Aku Ketinggalan Kereta?
Aku masih ingat pertama kali pertanyaan itu muncul di kepalaku.
Umur 27, Belum Menikah, dan Mulai Bertanya : Apa Aku Ketinggalan Kereta?

Aku masih ingat pertama kali pertanyaan itu muncul di kepalaku.
Bukan dari keluarga. Bukan dari tetangga. Bukan juga dari teman yang suka bertanya, “Kapan nyusul?”
Pertanyaan itu datang dari diriku sendiri.
Malam itu biasa saja. Aku sedang rebahan di kamar sambil scrolling Instagram sebelum tidur. Satu per satu unggahan teman muncul di layar. Ada yang mengunggah foto bayi yang baru lahir. Ada yang merayakan anniversary pernikahan. Ada yang membagikan momen membeli rumah pertama bersama pasangan.
Aku menekan tombol suka, meninggalkan beberapa komentar manis, lalu melanjutkan scroll seperti biasa.
Namun entah kenapa, malam itu terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya aku berhenti cukup lama di depan layar dan bertanya dalam hati, “Kalau mereka sudah sampai sejauh itu, aku ada di mana sekarang?”
Pertanyaan sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa.
Tapi ternyata ia tinggal lebih lama dari yang seharusnya.
Di usia 27 tahun, hidupku sebenarnya tidak buruk.
Aku punya pekerjaan yang cukup stabil. Aku bisa membeli hal-hal yang kuinginkan tanpa harus meminta uang kepada orang tua. Aku punya teman-teman baik yang selalu ada saat dibutuhkan. Aku juga masih bisa menikmati hal-hal sederhana yang membuatku bahagia.
Weekend favoritku bahkan terdengar sangat membosankan bagi sebagian orang.
Aku bisa menghabiskan satu hari penuh di kamar dengan secangkir kopi, camilan, dan maraton drama Korea tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Kadang aku pergi ke toko buku sendirian.
Kadang aku duduk berjam-jam di kafe sambil membaca novel.
Kadang aku hanya mendengarkan musik sambil menatap hujan dari jendela.
Dan jujur saja, aku menyukai hidup seperti itu.
Aku tidak merasa hidupku kosong.
Aku tidak merasa kesepian setiap waktu.
Aku tidak bangun setiap pagi sambil menangisi status lajangku.
Sebagian besar hari, aku baik-baik saja.
Tapi mungkin di situlah letak kebingungannya.
Kalau aku baik-baik saja, kenapa kadang aku tetap merasa tertinggal?
Perasaan itu biasanya datang tanpa diundang.
Tidak setiap hari.
Tidak setiap minggu.
Namun cukup sering untuk membuatku berpikir.
Kadang perasaan itu muncul saat menghadiri pernikahan teman.
Aku masih ingat beberapa bulan lalu ketika datang ke acara resepsi seorang sahabat kuliah.
Kami dulu sering duduk di kantin yang sama. Sama-sama mengeluh soal tugas. Sama-sama mengeluh soal dosen. Sama-sama bercanda tentang masa depan yang terasa sangat jauh.
Saat itu umur kami baru 20 tahun.
Rasanya seperti kemarin.
Namun di hadapanku hari itu, dia berdiri mengenakan gaun pengantin putih dengan senyum yang begitu bahagia.
Aku ikut tersenyum.
Aku benar-benar bahagia untuknya.
Tapi dalam perjalanan pulang, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Bukan iri.
Bukan juga kecewa.
Lebih seperti kesadaran bahwa hidup terus berjalan, dan setiap orang tampaknya sedang bergerak menuju sesuatu.
Sementara aku masih berdiri di tempat yang sama.
Mungkin karena aku seorang introvert.
Aku tidak pernah menjadi tipe orang yang mudah berkenalan dengan orang baru.
Aku tidak suka keramaian.
Aku cepat lelah setelah terlalu lama berada di tengah banyak orang.
Sementara banyak temanku bertemu pasangan melalui komunitas, acara kantor, reuni, atau lingkaran sosial yang luas, lingkaran kehidupanku justru semakin kecil seiring bertambahnya usia.
Aku bekerja.
Aku pulang.
Aku menghabiskan waktu dengan hobiku.
Aku menonton drama Korea.
Aku membaca buku.
Lalu hari berganti.
Minggu berganti.
Bulan berganti.
Tanpa terasa, tahun pun berganti.
Terkadang aku bercanda bahwa karakter pria dalam drama Korea lebih sering muncul dalam hidupku dibanding laki-laki sungguhan.
Lucunya, candaan itu tidak sepenuhnya salah.
Aku suka drama Korea.
Sudah bertahun-tahun.
Dan meskipun aku tahu kehidupan nyata tidak seperti drama, tetap ada momen-momen ketika cerita di layar membuatku bertanya-tanya.
Bukan karena aku berharap menemukan CEO tampan yang jatuh cinta padaku di halte bus.
Bukan juga karena aku menginginkan kisah cinta sempurna.
Aku hanya kadang merindukan perasaan memiliki seseorang yang bisa diajak pulang setelah hari yang panjang.
Seseorang yang tahu bagaimana hariku berjalan.
Seseorang yang mengingat hal-hal kecil tentang diriku.
Seseorang yang hadir.
Karena semakin dewasa, aku menyadari bahwa yang paling kurindukan bukan pernikahan itu sendiri.
Melainkan koneksi.
Yang membuat semuanya semakin rumit adalah tekanan sosial yang datang perlahan.
Saat usia 22 atau 23 tahun, orang-orang masih santai.
Saat usia 25 tahun, pertanyaan mulai muncul sesekali.
Namun mendekati usia 30, pertanyaan itu seolah menjadi bagian wajib setiap pertemuan keluarga.
“Kapan nikah?”
“Sudah ada calon belum?”
“Kok masih sendiri?”
“Apa terlalu pilih-pilih?”
Awalnya aku menjawab dengan santai.
Lama-kelamaan aku mulai menghafal jawaban.
Karena pertanyaannya selalu sama.
Yang berubah hanya siapa yang menanyakannya.
Kadang aku ingin menjawab dengan jujur.
Bahwa aku juga tidak tahu.
Bahwa aku juga sedang mencari tahu.
Bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Namun kebanyakan waktu aku hanya tersenyum dan tertawa kecil agar percakapan cepat berakhir.
Ada satu hal yang baru kusadari beberapa tahun terakhir.
Sering kali yang membuatku merasa tertinggal bukanlah hidupku sendiri.
Melainkan kebiasaanku membandingkan hidupku dengan hidup orang lain.
Karena ketika aku sedang sendirian membaca buku favoritku, aku bahagia.
Ketika aku menghabiskan malam menonton drama yang kusukai, aku bahagia.
Ketika aku berhasil mencapai target pekerjaan, aku bangga.
Namun begitu aku melihat pencapaian orang lain, tiba-tiba semua yang kumiliki terasa lebih kecil.
Padahal sebenarnya tidak ada yang berubah.
Yang berubah hanyalah sudut pandangku.
Aku pikir banyak perempuan seusiaku memahami perasaan ini.
Perasaan berada di antara dua dunia.
Di satu sisi, kita bersyukur atas hidup yang kita miliki.
Di sisi lain, kita tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kenyataan bahwa banyak orang di sekitar kita sedang memasuki fase kehidupan yang berbeda.
Mereka menikah.
Punya anak.
Membeli rumah.
Membangun keluarga.
Sementara kita masih berusaha memahami jalan kita sendiri.
Dan terkadang itu terasa sepi.
Bukan karena tidak ada orang di sekitar.
Tapi karena tidak banyak yang membicarakan perasaan ini dengan jujur.
Belakangan ini aku mulai mencoba melihat semuanya dengan cara yang berbeda.
Aku tidak lagi bertanya, “Kenapa aku belum sampai di sana?”
Aku mulai bertanya, “Apa yang sedang kubangun saat ini?”
Karena mungkin hidup bukan perlombaan.
Mungkin tidak ada kereta yang harus dikejar.
Mungkin tidak ada garis finish yang sama untuk semua orang.
Mungkin kita hanya terlalu sering melihat perjalanan orang lain sampai lupa memperhatikan perjalanan kita sendiri.
Dan mungkin, hanya mungkin, aku tidak sedang tertinggal sama sekali.
Aku hanya sedang berjalan di jalur yang berbeda.
Hari ini aku masih berusia 27 tahun.
Aku masih belum menikah.
Aku masih menghabiskan banyak malam dengan drama Korea dan secangkir kopi.
Aku masih terkadang merasa khawatir tentang masa depan.
Aku masih sesekali bertanya-tanya kapan giliranku akan tiba.
Namun aku juga sedang belajar sesuatu yang penting.
Bahwa hidup tidak kehilangan nilainya hanya karena belum sesuai dengan timeline yang dibuat orang lain.
Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk cincin, pesta pernikahan, atau foto keluarga yang sempurna.
Dan bahwa terkadang, perjalanan yang terlihat lambat dari luar justru sedang membentuk kita dengan cara yang tidak pernah kita sadari.
Jadi jika kamu juga berada di usia akhir 20-an, masih sendiri, dan diam-diam bertanya apakah kamu ketinggalan kereta, mungkin kita memiliki pertanyaan yang sama.
Dan mungkin jawabannya juga sama.
Kita tidak tertinggal.
Kita hanya belum sampai pada bab berikutnya.
메타데이터
- post_id
- d7952c7c8ec3
- slug
- umur-27-belum-menikah-dan-mulai-bertanya-apa-aku-ketinggalan-kereta-d7952c7c8ec3
- url
- https://medium.com/@haerenoona/umur-27-belum-menikah-dan-mulai-bertanya-apa-aku-ketinggalan-kereta-d7952c7c8ec3
- canonical_url
- https://medium.com/@haerenoona/umur-27-belum-menikah-dan-mulai-bertanya-apa-aku-ketinggalan-kereta-d7952c7c8ec3
- author_url
- https://medium.com/@haerenoona
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13