missed you
CONTENT NOTICE: This story features mature and explicit elements, including detailed sensual interactions, romantic and sexual themes. It…
missed you

18+ ‘ MacaronS
CONTENT NOTICE: This story features mature and explicit elements, including detailed sensual interactions, romantic and sexual themes. It is written exclusively for adult readers.
If you are under the age of 18, this story is not intended for you. Please read responsibly.
Baginya, rasa sakit pada tenggorokan yang kini ia rasakan seolah hanyalah ilusi semata. Rindu kepada sang kekasih justru terasa jauh lebih menyiksa. Lima atau enam hari tanpa pertemuan sudah cukup membuat dadanya sesak oleh kerinduan yang tertahan.
Dan bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu. Pemuda yang menetap di kota Bandung itu pun diam-diam memikul perasaan yang sama — menunggu, menahan rindu, dan menghitung hari hingga akhirnya mereka dapat saling bertemu kembali.
Bandung.
Kota yang dalam beberapa hari terakhir terasa begitu jauh, hanya karena satu orang yang tidak bisa ia temui.
Di tengah siaran langsung yang sedang berlangsung, ketika ribuan penonton sibuk berinteraksi dengan avatar virtual yang tersenyum cerah di layar, Arion justru memutar setir mobilnya keluar dari halaman rumah. Tanpa banyak pertimbangan. Tanpa izin. Hanya bermodal rindu yang sudah terlalu lama ia tahan.
Perjalanan itu tidak sepenuhnya nyaman. Tubuhnya masih terasa lemah, tenggorokannya kering, dan sesekali batuk kecil memaksa dadanya bergetar. Namun setiap kali rasa tidak enak itu datang, bayangan wajah Harris selalu muncul lebih dulu mampu membuatnya tetap menekan pedal gas, tetap melanjutkan perjalanan, seolah jarak bukan lagi penghalang.
Dan akhirnya, setelah berjam-jam yang terasa seperti sekejap sekaligus selamanya, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang sangat ia kenal. Ia keluar dari mobil, menutup pintu dengan hati-hati, lalu melangkah menuju teras. Begitu bel ditekan, pintu terbuka tak lama kemudian, menampilkan sosok wanita yang langsung tersenyum hangat saat melihatnya.
“Loh, Arion?” sapanya, nada suaranya penuh keheranan sekaligus keakraban. “Kok tiba-tiba banget? Sudah ngabarin Harris kah?”
Arion tertawa kecil, tangannya refleks mengusap tengkuk, kebiasaan lama setiap kali ia merasa sedikit bersalah. “Hehe… belum, Tante,” jawabnya pelan. Suaranya terdengar serak, tapi tetap ringan. “Sengaja.”
Wanita itu hanya menggeleng pelan, lalu tertawa kecil, seolah tidak lagi terkejut dengan kelakuan nekat pemuda di depannya. “Dasar anak ini,” gumamnya lembut. “Masuk dulu, Harris masih di atas. Kayaknya lagi ngerjain sesuatu.”
Arion mengangguk sopan sebelum melangkah masuk. Ia sempat duduk beberapa menit di ruang tamu, berbasa-basi ringan, menanyakan kabar, dan menjawab pertanyaan sederhana. Namun pikirannya jelas tidak benar-benar berada di sana. Perhatiannya terus tertarik ke arah tangga, seperti ada sesuatu yang memanggilnya naik lebih cepat.
Hingga akhirnya, setelah berpamitan singkat, ia berdiri dan mulai menaiki anak tangga satu per satu. Koridor lantai atas terasa sunyi. Hanya terdengar suara samar dari dalam sebuah kamar dengan suara kursi yang digeser, dan hembusan nafas lega seseorang yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Arion berhenti tepat di depan pintu itu.
Pintu kamar itu terbuka perlahan, nyaris tanpa suara.
Di dalam, Harris masih duduk di kursinya, punggungnya sedikit membungkuk ke depan meja, menatap layar komputer yang baru saja menampilkan akhir siaran. Headset masih menggantung di lehernya, sementara jemarinya bergerak pelan menutup beberapa jendela aplikasi, rutinitas kecil yang selalu ia lakukan setelah live selesai.
Ia menghela nafas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, membiarkan lelah merambat pelan di bahunya.
Namun baru saja ia hendak meregangkan lehernya, sebuah gerakan kecil di ambang pintu membuatnya menoleh. Dan saat matanya menangkap sosok tinggi yang berdiri di sana — diam, dengan tatapan yang begitu ia kenal membuat seluruh tubuhnya seketika menegang.
“…Arion?”
Namanya keluar begitu saja, pelan, nyaris seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Arion tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, bahunya sedikit turun karena lelah, wajahnya terlihat pucat, namun sorot matanya hangat — penuh sesuatu yang sulit dijelaskan selain rindu yang terlalu lama dipendam.
Harris berdiri dari kursinya hampir refleks. Langkahnya cepat, mendekat dengan ekspresi yang campur aduk antara terkejut, kesal, dan khawatir yang tidak sempat ia sembunyikan.
“Kenapa sih?” omelnya begitu sudah berada di depan Arion, tangannya langsung mencubit lengan pria itu tanpa ragu. “Kan lagi sakit, disuruh istirahat malah nyetir jauh-jauh ke Bandung sendirian. Kamu tuh kalau dibilangin kebiasaan banget, males aku.”
Nada suaranya tidak benar-benar marah melainkan terdengar rewel, seperti seseorang yang panik tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Cubitannya datang lagi, kali ini di sisi lengan yang lain, membuat Arion sedikit meringis, meski sudut bibirnya justru terangkat tipis, seolah diam-diam menikmati perhatian itu.
“Kalau di jalan kenapa-kenapa gimana, kocak?” lanjut Harris, masih mengomel sambil menatap wajah pucat di depannya. “Suaranya juga masih serak gitu. Kamu tuh — ”
Kalimatnya menggantung di udara.
Bukan karena ia kehabisan kata, melainkan karena Arion tiba-tiba melangkah lebih dekat. Tanpa banyak bicara, tanpa memberi penjelasan apa pun, kedua tangan pria tinggi itu perlahan terangkat, lalu melingkar di tubuh Harris yang jauh lebih rendah darinya dengan gerakan mantap namun penuh kehati-hatian, seolah ia sedang memeluk sesuatu yang sangat berharga.
Harris sempat terdiam, tubuhnya kaku sejenak saat pelukan itu berhasil mengurungnya.
Wajah Arion jatuh pelan di bahunya, nafas hangatnya menyentuh kulit leher, dan tanpa sadar ia menggesekkan pipinya perlahan. Gerakan kecil yang sederhana, namun terasa begitu sarat rindu, seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat pulang setelah perjalanan panjang.
“Kamu panas…” gumam Harris pelan, suaranya berubah lirih ketika ia merasakan suhu tubuh Arion yang sedikit tinggi.
Namun Arion tak merespons ucapan itu. Ia hanya memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeratkan pelukannya sedikit pada pinggang ramping kekasihnya, seakan takut jika ia melepaskan, jarak itu akan kembali muncul di antara mereka.
“Bentar aja,” bisiknya serak, nyaris tenggelam di bahu Harris.
“Biarin aku begini dulu.”
Kalimat itu tidak terdengar memaksa. Justru lembut, hampir seperti permintaan kecil yang penuh kerinduan. Dan entah kenapa, Harris yang sejak tadi ingin terus mengomel akhirnya hanya terdiam. Tangannya yang semula siap mencubit lagi perlahan berhenti di udara, lalu naik perlahan ke punggung Arion.
Ia menghela nafas panjang, membiarkan rasa kesal itu luruh sedikit demi sedikit, tergantikan oleh sesuatu yang jauh lebih hangat — perasaan yang selalu datang setiap kali pria keras kepala itu berdiri di depannya dengan wajah lelah dan rindu yang tidak pernah bisa ia sembunyikan.
“Kebiasaan,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan.
“Nekat cuma karena kangen.”
Arion hanya menanggapi gumaman itu dengan sebuah kekehan pelan. Suara tawanya serak, rendah, terdengar lelah namun juga hangat, seolah semua omelan barusan justru terasa menenangkan baginya.
Perlahan, ia melepaskan pelukan itu.
Namun jarak di antara mereka tidak benar-benar tercipta. Tangan kekarnya masih bertahan di pinggang ramping Harris, menahan tubuh pria itu tetap dekat, seakan enggan membiarkannya menjauh terlalu jauh setelah akhirnya bertemu.
Arion menundukkan kepala sedikit, menatap wajah di depannya dengan sorot mata yang lembut dan penuh rasa sayang. Dari jarak sedekat itu, ia dapat melihat jelas garis-garis halus di wajah Harris — kulit yang bersih, nafas yang masih sedikit tersengal, dan ekspresi kesal yang belum sepenuhnya hilang, meski kini sudah bercampur dengan kekhawatiran yang nyata.
Tangannya yang berada di bawah sana perlahan bergerak, jemarinya merayap pelan menyusuri sisi tubuh itu dengan gerakan hati-hati, hampir seperti sentuhan refleks — lembut, penuh rasa memiliki. Ujung jarinya sempat menyentuh tepian baju yang dikenakan Harris, membuat kain tipis itu sedikit terangkat tanpa sengaja.
Harris menahan nafas sejenak.
Arion mendekatkan wajahnya perlahan. Hidung tajamnya menyentuh sisi leher Harris, menghirup aroma yang begitu ia kenal; aroma yang selalu berhasil menenangkan pikirannya, bahkan di saat tubuhnya terasa tidak enak sekalipun.
Sebuah hembusan nafas hangat jatuh di kulit itu.
Kemudian, tanpa tergesa, ia mengecupnya dengan lembut. Bukan ciuman yang penuh gairah, melainkan sentuhan singkat yang sarat kerinduan. Tangannya masih bergerak pelan di punggung Harris, meraba dengan penuh keakraban, seolah sedang memastikan bahwa tubuh yang ia sentuh benar-benar ada di sana. Gerakannya tidak kasar, tidak tergesa hanya hangat, akrab, dan penuh rasa memiliki yang sudah terbentuk sejak lama.
Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibir Arion.
Tangannya berhenti sejenak, lalu menangkup dengan mantap bongkahan lembut di dalam sana, penuh rasa memiliki yang begitu alami. Gerakannya sederhana, namun terasa begitu akrab — sentuhan yang tidak asing, bahkan nyaris menjadi kebiasaan di antara mereka berdua.
Ia mendekatkan wajahnya lagi, menggesekkan hidungnya pelan di sisi leher Harris, menghirup aroma yang selalu berhasil menenangkan pikirannya. Sebuah desahan ringan lolos dari bibirnya, hangat dan dalam.
“Masih sama,” gumamnya lirih, suaranya serak namun terdengar puas. Senyumnya melebar sedikit, licik sekaligus penuh rasa sayang.
“Favoritku.”
Pada akhirnya, Arion tidak lagi peduli pada tenggorokannya yang masih terasa perih, atau tubuhnya yang belum benar-benar pulih. Yang ia tahu hanya satu;** **ia sudah terlalu lama menahan rindu.
Malam itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat,
rasa lelah dan rindu saling bertukar tempat,
hingga yang tersisa hanyalah nafas yang tersengal dan Harris yang menyadari, esok pagi mungkin akan datang lebih cepat dari yang ia harapkan.
메타데이터
- post_id
- d79e04a7f347
- slug
- missed-you-d79e04a7f347
- url
- https://medium.com/@drecode/missed-you-d79e04a7f347
- canonical_url
- https://medium.com/@drecode/missed-you-d79e04a7f347
- author_url
- https://medium.com/@drecode
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13