← Back to list

Beban Ganda adalah Eksploitasi Cinta

Setiap pagi, ada jutaan perempuan yang sudah bekerja sejak subuh tanpa absen, tanpa gaji, dan tanpa pilihan untuk cuti. Tidak ada HRD yang…

sustainHER Indonesia · 2026-07-25 04:46 · 3 claps · 4.3 min read
#beban-ganda #eksploitasi #cinta #love-scam #diskriminasi-gender
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Beban Ganda adalah Eksploitasi Cinta

Setiap pagi, ada jutaan perempuan yang sudah bekerja sejak subuh tanpa absen, tanpa gaji, dan tanpa pilihan untuk cuti. Tidak ada HRD yang mencatat jam kerja mereka, tidak ada surat peringatan kalau mereka kelelahan. Pekerjaan ini dimulai jauh sebelum matahari terbit, dan tidak sepenuhnya selesai sampai mereka memejamkan mata lagi di malam harinya.

Perempuan menyiapkan, merawat, membersihkan, semuanya dianggap kebaikan yang langsung diberikan sebagai jabatan tanpa upah. Jerih payah yang dibayar dengan janji komitmen pernikahan nyatanya menopang seluruh sistem ekonomi produktif yang kita kenal tanpa pernah ada negosiasi gaji atau deskripsi kerja yang jelas. Rosita, seorang ibu tunggal asal Jawa Barat mengaku bahwa saat dirinya masih bekerja, ia harus bangun jam 3 subuh untuk mengurus semua kebutuhan domestik sebelum berangkat kerja. Beban ganda muncul tidak serta merta saat menikah. Bahkan dari kecil, laki-laki lebih pasif dituntut untuk urusan domestik dibanding perempuan. Saat dewasa, Rosita mengalami kelelahan secara mental dalam mengurusi semua hal. Proses negosiasi berbagi peran domestik tidak tiba-tiba langsung disetujui oleh lingkungan sekitar. Lagi-lagi masyarakat menuntut perempuan untuk tetap merayakan kelelahannya sebagai bentuk cinta kasih dan tanggung jawab. Ketimpangan ini akan selalu ada jika setiap kritik selalu dianggap sebagai bentuk perang narasi antar gender, buat apa mempermasalahkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari?

Dalam beberapa kultur dan pendekatan agama, ada pemahaman yang mengartikan pengorbanan ibu sebagai cinta kasih sepanjang masa yang dianggap sebagai suatu keharusan untuk dilakukan oleh para perempuan. Pernikahan menjadi sesuatu yang indah untuk diceritakan, tapi dibaliknya ada banyak peran perempuan dalam institusi pernikahan kurang diapresiasi. Semakin perempuan terlihat rela dan ikhlas, semakin sulit baginya untuk mengaku lelah (yang mana ini adalah manusiawi), apalagi menuntut sesuatu yang setara. Romantisasi ini, tanpa disadari, menjadi tameng yang melindungi sistem dari pertanyaan mengapa perempuan selalu membuktikan loyalitas komitmen dengan kerja di bawah ketimpangan kuasa, dimana teriakan dan keluhan mereka sebagai istri jarang didengar dan dianggap serius. Anny dari Kalimantan Tengah berbagi cerita tentang bagaimana perempuan di tengah masyarakat adat mengalami beban ganda. Dua puluh empat jam yang dialami perempuan dan laki-laki sangat berbeda walau berada di bawah atap yang sama. Tak hanya di lingkungan domestik, bahkan untuk perempuan yang bekerja di pabrik, Anny mengaku bahwa perempuan selalu ditugaskan di posisi administratif dibanding posisi publik dan pengambilan keputusan. Dalam musyawarah tingkat desa, peran perempuan selalu berada di balik urusan konsumsi, belum pernah ada keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Akibat pendekatan yang tidak setara, sejumlah perempuan menghadapi rantai masalah akibat tidak bisa berdaya dan tidak punya mekanisme keluar yang aman ketika berada dalam hubungan maupun lingkungan yang toksik. Masalah bisa timbul mulai dari ketergantungan ekonomi, hilangnya rasa percaya diri, kecemasan, sampai ketidakmampuan untuk pergi dari hubungan atau lingkungan yang toksik. Pilihan untuk bertahan seringkali bukan pilihan sama sekali, melainkan satu-satunya jalan yang tersisa. Anny menceritakan kasus KDRT di sekitarnya dimana sang suami bekerja di instansi kepolisian, sehingga lagi-lagi perempuan harus menanggung bagaimana suaranya tidak pernah dianggap relevan. Walaupun perempuan tersebut berpendidikan tinggi, jika secara sistem tidak pernah merayakan secercah kedaulatan perempuan, maka ketimpangan kuasa akan selamanya berjaya di atas doa perempuan yang tertindas.

Silvia Federici dari bukunya Caliban and the Witch mengatakan bahwa kapitalisme secara sadar memisahkan kerja reproduktif dari pasar agar ada tenaga kerja dengan biaya rendah, dan yang menanggung beban tanpa upah tersebut adalah perempuan. Ini bukan hanya masalah individu saja, bahkan ketidakhadiran negara memperparah keadaan ini. Rosita mengaku laki-laki yang mendapat cuti melahirkan saat istri hamil hanya mendapat jatah beberapa hari, sehingga ketika perempuan dalam kondisi rentan dan butuh pendamping, laki-laki harus kembali bekerja karena peran domestik dan kehadiran dalam keluarga masih dikesampingkan. Bahkan, dari perspektif perempuan adat, Anny yang bekerja di bidang ini melihat sendiri bahwa perempuan terdampak atas kebijakan pemerintah yang tidak melibatkan perempuan dan masyarakat adat. Tanah adat ditadahkan aksesnya, kedaulatan pangan yang dicita-citakan menjadi harapan kosong, laki-laki harus merantau lebih jauh, dan ujung-ujungnya perempuan menjadi terdedah terhadap beban ganda akibat ketahanan keluarga yang semakin rentan setelah masyarakat adat kehilangan otoritasnya dalam memanfaatkan alam sekitar untuk kebutuhan sehari-hari.

UN Women dan Pardee Center for International Futures (2023) mencatat perempuan di Asia Timur dan Asia Tenggara menghabiskan rata-rata 4,3 jam per hari untuk kerja domestik tak berbayar, dua kali lipat lebih banyak dari laki-laki yang mencapai 1,6 jam perhari. Bahkan, untuk kelompok negara dari Lower Middle Income Countries (klasifikasi Indonesia menurut World Bank) perempuan bisa menghabiskan 4,8 jam perhari sedangkan laki-laki hanya 1,4 jam. Ini bukan jarak angka yang sepele. Ini adalah angka yang menunjukan bahwa ketimpangan akan selalu membayangi perempuan dan dibungkus atas nama cinta. Bahkan, angka partisipasi domestik ini tidak berubah signifikan meski partisipasi perempuan di pasar kerja terus naik. Perempuan tidak menukar satu peran dengan peran lain. Sistem justru melanggengkan perempuan untuk menambah beban kerja di pundaknya, baik itu kerja mencari nafkah maupun urusan domestik. Ditambah lagi negara tidak hadir secara utuh dalam memenuhi hak anak, sehingga beban pengasuhan juga banyak ditanggung oleh perempuan.

Jika tidak diantisipasi dengan baik, akan banyak perempuan beranggapan bahwa menikah adalah jebakan dan negara akan mengalami krisis besar terkait generasi penerus. Maka dari itu, apakah negara sudah memiliki sistem yang baik dalam meringankan tanggung jawab perempuan dalam tumbuh kembang anak? Apakah masyarakat sudah ramah dan adil terhadap perempuan dalam perannya di bawah institusi pernikahan? Apakah kita masih jadi bagian yang menghakimi perempuan atas perannya di dalam suatu rumah tangga dengan segala keterbatasan dan ketidak hadiran negara? Sampai pertanyaan-pertanyaan ini punya jawaban yang nyata, cinta dan ikhlas akan terus menjadi kata yang paling sering dipakai untuk membungkus eksploitasi yang paling lama kita biarkan untuk perempuan di dalam institusi pernikahan.

*artikel ini adalah kontribusi dari relawan sustainHER yang bernama Jeinan A. Salsabila

Referensi:

  1. Federici, S. (2004). Caliban and the Witch: Women, the Body and Primitive Accumulation. Autonomedia.
  2. Hanna, T., Meisel, C., Moyer, J., Azcona, G., Bhatt, A., & Duerto Valero, S. (2023). Forecasting time spent in unpaid care and domestic work (Technical Brief). Frederick S. Pardee Center for International Futures & UN Women.

메타데이터
post_id
d7a385a07d37
slug
beban-ganda-adalah-eksploitasi-cinta-d7a385a07d37
url
https://medium.com/@sustainher.id/beban-ganda-adalah-eksploitasi-cinta-d7a385a07d37
canonical_url
https://medium.com/@sustainher.id/beban-ganda-adalah-eksploitasi-cinta-d7a385a07d37
author_url
https://medium.com/@sustainher.id
status
ok
fetched_at
2026-08-06 09:44:49