Ruang yang tersisa
Selalu ada satu nama yang diam-diam kita sisakan ruang di kepala, yang meski tak lagi saling sapa, diam-diam, kita masih berharap ada…
Ruang yang tersisa
Selalu ada satu nama yang diam-diam kita sisakan ruang di kepala, yang meski tak lagi saling sapa, diam-diam, kita masih berharap ada pertemuan yang tak disangka.

Kita semua memiliki satu nama yang sudah lama berhenti kita panggil, namun suaranya masih bergema di sudut pikiran yang paling sunyi. Nama itu telah menjadi penghuni tetap di sebuah ruang kecil bernama kenangan — ruang yang pintunya sengaja kita biarkan tidak terkunci, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ia memutuskan untuk mengetuk kembali.
Meski hari ini kita adalah dua orang asing yang dipisahkan oleh keheningan, ada bagian dari diri kita yang tetap keras kepala. Bagian yang diam-diam masih menoleh di tengah keramaian, mencari sosok yang familiar, dan menyimpan sebuah doa sederhana: “Semoga semesta mempertemukan kita sekali lagi, di waktu dan tempat yang tak pernah kita rencanakan.”
Pertemuan yang tak disangka sering kali terasa lebih indah daripada yang dijadwalkan. Karena di sana, tidak ada beban untuk memulai percakapan, tidak ada tuntutan untuk kembali seperti dulu. Hanya ada satu momen singkat untuk menyadari bahwa meski jarak telah sejauh ini, rasa syukur karena pernah mengenalmu tetap tidak pernah hilang.
Kita tidak benar-benar ingin memiliki lagi, kita hanya ingin tahu bahwa di belahan bumi yang lain, seseorang yang pernah menjadi “dunia” bagi kita, sedang baik-baik saja.
메타데이터
- post_id
- d7ac2fb8a9f9
- slug
- ruang-yang-tersisa-d7ac2fb8a9f9
- url
- https://medium.com/@dariazhr/ruang-yang-tersisa-d7ac2fb8a9f9
- canonical_url
- https://medium.com/@dariazhr/ruang-yang-tersisa-d7ac2fb8a9f9
- author_url
- https://medium.com/@dariazhr
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29