Tantangan Internal Kastrat dalam Membuat Kajian
#13 Seri 4: Tantangan. Beberapa tantangan mahasiswa dan ormawa dalam membuat kajian
Beyond Kastrat
Tantangan Internal Kastrat dalam Membuat Kajian
#13 Seri 4: Tantangan. Beberapa tantangan mahasiswa dan ormawa dalam membuat kajian
Photo by Zachary Olson on Unsplash
Mahasiswa sebagai aktor utama di dalam Departemen Kastrat dan dalam membuat sebuah kajian memiliki berbagai tantangan. Hal ini perlu untuk disadari dan diketahui oleh pembaca dan penulis kajian. Seri ini ditujukan untuk mengurai tantangan yang ada, baik itu tantangan internal maupun eksternal.
Adapun tulisan ini akan berfokus pada mengurai tantangan internal yang dihadapi. Sebenarnya tantangan individu mahasiswa ini sangat bervariasi dan subjektif. Namun, dalam tulisan ini akan dibatasi pada dua aspek saja, yakni kematangan intelektual dan manajemen waktu. Selain itu, pada aspek internal organisasinya.
Belum jadi member? Sila akses secara gratis di sini, fren!
Tantangan Individu: Kemampuan Intelektual yang Belum Matang
Menyoal tantangan individu, hal paling mendasar tentu adalah kapasitas dirinya atau kemampuan dirinya. Salah satu yang paling utama adalah kematangan intelektual.
Sepanjang pengalaman saya, mahasiswa semester 2 sudah bisa mengikuti organisasi mahasiswa, minimal pada tingkatan Hima Jurusan. Adapun angkatan tertua saya kurang tahu tapi kebanyakan yang saya temui adalah semester 7 atau 8 (biasanya ketua BEM). Sehingga mahasiswa yang berada di Kastrat rentangnya antara semester 2 hingga semester 7.
Menurut saya, selama berada pada strata satu atau S-1 atau setara, mahasiswa masih belum matang secara intelektual (dengan asumsi mereka berada pada rentang umur 18–23). Sebab pada tahap itu mahasiswa masih pada tahap belajar dan idealnya setelah lulus dapat dikategorikan sebagai seseorang yang memiliki kematangan intelektual.
Oleh karena itu, ketika mereka berada di Kastrat dan membuat kajian, maka kajian yang dihasilkan belum terlalu optimal. Hal ini lah yang perlu dipahami bersama, baik oleh pembaca kajian maupun pembuat kajian.
Lalu seperti yang sudah sempat saya *mention*, bahwa Kastrat hadir bukan sebagai penampung bagi mereka yang telah matang, tetapi menjadi ruang belajar menuju kematangan.
Adapun apa yang dimaksud dengan kematangan intelektual yang relevan dengan pembuatan kajian atau ketika berada di Kastrat? Jawabannya ada pada tulisan saya sebelumnya.
Nah, pada artikel tersebut saya sudah menjabarkan skill atau karakter seperti apa saja yang perlu hadir di Kastrat secara komprehensif. Jadi, beberapa hal yang perlu hadir tersebut umumnya belum mencapai kematangan ketika berada di Kastrat.
Kematangan di sini sebenarnya bisa diinterpretasikan secara subjektif. Batas minimum dikategorikan sudah matang atau belum pun tidak ada batasan yang jelas. Namun, dalam pengertian saya, kematangan di sini menunjukkan bahwa mahasiswa belum memiliki kualitas seorang peneliti atau pengkaji yang profesional.
Meskipun sangat mungkin sudah banyak mahasiswa yang bisa menerbitkan jurnal ilmiah, tetapi tetap saja bahwa kematangan itu terletak ketika mereka lulus dengan skripsi yang dibawakan.
Selain itu, utamanya sebenarnya saya memposisikan mahasiswa belum matang itu untuk dapat memahaminya ketika akan melayangkan berbagai masukan dan kritikan. Sehingga saya tidak terlalu menetapkan standar yang tinggi, sebab saya telah memposisikan mereka memang belum saatnya dalam mencapai kematangan.
Meskipun begitu, bukan berarti kajian yang dihasilkan pasti tidak berkualitas. Sangat banyak kajian yang berkualitas. Namun, saya kira masih banyak juga yang belum optimal.
Akselerasi Kematangan Intelektual di Kastrat
Nah, pada akhirnya, mahasiswa dihadapkan pada tantangan ketika melakukan kajian: bagaimana mereka dapat membuat kajian yang optimal meskipun kemampuan intelektualnya belum sepenuhnya matang?
Dalam konteks ini, jawaban saya adalah Kastrat harus dijadikan ruang untuk akselerasi kematangan intelektual dengan saling belajar dan berani untuk bereksperimen.
Eksperimen di sini bisa dalam banyak aspek. Misalnya mencoba menggunakan suatu metode dengan isu tertentu. Atau menganalisis sebuah isu dengan menggunakan kacamata analisis yang jarang digunakan.
Contohnya dulu saya pernah membuat kajian dengan metode analisis framing kuantitatif pada isu pemberitaan media terhadap kasus penganiayaan warga sipil Papua. Selain itu, menganalisis fenomena union busting dengan kacamata kapitalisme digital yang digagas oleh Fuchs.
Salah satu yang saya sangat harapkan adalah hadirnya suatu kajian dengan analisis kelas Marx pada suatu kasus/fenomena. Meskipun banyak kita temui mahasiswa yang membaca buku “kiri”, tapi sebenarnya dalam kajian tidak ada yang mencoba untuk benar-benar mempraktekannya. Padahal saya sangat menunggunya, terutama dari kalangan mahasiswa ekonomi-bisnis.
Jadi dampak dari ketidakmatangan intelektual ini terlihat dari berbagai kajian yang belum optimal dan cenderung mandeg. Hal ini akan dielaborasi pada Seri Analisis Kajian.
Sehingga ke depan mahasiswa perlu melakukan loncatan-loncatan besar dan berani mengambil resiko atau bereksperimen untuk melahirkan kajian yang lebih bervariasi.
Tantangan Individu: Manajemen Waktu
Tantangan kedua adalah perihal manajemen waktu. Agak klise tapi itulah kenyataannya. Di tengah banyaknya kesibukan mahasiswa maka kemampuan ini sangat dibutuhkan.
Namun, tidak sedikit yang masih belum optimal dalam mengatur waktu mereka sehingga akhirnya menghambat pada proses pengkajian. Selain itu, nantinya juga akan berpengaruh pada kondisi fisik dan psikologis, seperti demotivasi dan burnout.
Contoh kasusnya adalah ada kemungkinan di mana tenggat membuat kajian dan tenggat tugas kuliah berdekatan atau berbarengan. Jika tidak memiliki manajemen waktu yang optimal, seringkali ada yang tidak optimal pengerjaannya, entah itu kajiannya atau tugasnya.
Selain itu, bisa juga bertabrakan dengan agenda kegiatan lain, seperti kegiatan UKM ataupun kegiatan ormawa.
Akhirnya kemampuan manajemen waktu yang tidak optimal berdampak pada kualitas kajian. Misalnya, jika ingin eksplorasi ide atau metode atau isu yang jarang dibahas. Lalu kajian itu membutuhkan waktu yang lama dan riset yang banyak. Namun terhambat karena waktu yang dialokasikan tidak diatur dengan baik, sehingga risetnya tidak optimal atau kajiannya tidak terbit sesuai rencana.
Hal ini perlu dipahami dan ditingkatkan karena manajemen waktu individu yang tidak optimal berdampak pada kajian secara keseluruhan. Sehingga mereka yang sudah optimal pun ikut terdampak.
Tantangan Organisasi: Manajemen hingga Kurangnya Sumber Daya
Selain tantangan individu, internal ormawa pun memiliki beberapa tantangan yang bisa berdampak pada kajian.
Pertama, kepemimpinan Ketua Departemen dan Wakil Ketua Departemen (Kawakadept). Hal ini tentu sangat mempengaruhi arah Kastrat secara keseluruhan, termasuk pada kajian. Sudut pandang yang dipakai, prioritas isu, dan banyak hal lagi seringkali tergantung pada Kawakadept-nya. Selain itu, manajemen keorganisasian pun berdampak pada proses pengkajian.
Kedua, pimpinan ormawa. Ini termasuk Ketua BEM, Wakil Ketua, dan turunannya. Selain ada beberapa kajian yang memang didorong oleh mereka, ada kemungkinan juga terdapat konflik kepentingan di sini, bahkan hingga tahap penyalahgunaan kajian. Misalnya yang terjadi di UI tahun kemarin.
Ketiga, minimnya sumber daya. Sumber daya yang dimaksud utamanya adalah dana. Umumnya ormawa bertumpu pada bantuan dari universitas dan bisnis mandiri yang dikelola Departemen Kewirausahaan. Contoh konkritnya, akibat kurangnya dana, metode kajian seperti survey dan wawancara pun jarang hadir dalam sebuah kajian. Hal ini mengingat biaya yang mungkin dibutuhkan pada saat menghimpun data.
Penutup: Menuju Lebih Baik dari Hari Kemarin
Secara keseluruhan berbagai tantangan internal yang dihadapi bukanlah hal yang tidak bisa diatasi. Dengan kesadaran kolektif dan manajemen yang lebih baik, Kastrat dapat berkembang menjadi ruang yang lebih produktif.
Peningkatan kapasitas diri pun perlu dilatih. Hal ini bisa dilakukan salah satunya lewat diadakannya acara upgrading internal yang rutin. Selain itu, bisa juga dengan studi banding atau mengundang pemateri yang profesional, seperti peneliti dalam bidang tertentu.
Pun secara keorganisasian perlu adanya aturan-aturan yang ketat tentang kajian agar tidak terjadi konflik kepentingan. Selain itu, kemampuan manajemen organisasi yang baik pun perlu ditingkatkan.
Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi mahasiswa saat memproduksi kajian, sehingga ke depan ada evaluasi yang berdampak menuju lebih baik.
Penulis: Yoga Firman
메타데이터
- post_id
- d7e77fb49652
- slug
- tantangan-internal-kastrat-dalam-membuat-kajian-d7e77fb49652
- url
- https://medium.com/dunia-kampus/tantangan-internal-kastrat-dalam-membuat-kajian-d7e77fb49652
- canonical_url
- https://medium.com/dunia-kampus/tantangan-internal-kastrat-dalam-membuat-kajian-d7e77fb49652
- author_url
- https://medium.com/@mabestalk
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 05:27:41