← Back to list

Sudah Saatnya Gerakan Pramuka Mulai Muhasabah!

Ditulis untuk memperingati hari Pramuka, 14 Agustus 2024.

Afiqul Adib in Komunitas Blogger M · 2024-08-15 06:25 · 19 claps · 2.7 min read
#pramuka #komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia #kepanduan
Open on Medium ↗

Sudah Saatnya Gerakan Pramuka Mulai Muhasabah!

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Disclaimer, harus saya tegaskan bahwa saya bukan orang yang menbenci pramuka. Dulu ketika sekolah, saya bahkan termasuk aktif ikut pramuka.

Saya pernah menjadi ketua Dewan Ambalan di sekolah. Pernah menjadi anggota Dewan Pramuka Ranting (Kecamatan) dan Dewan Saka Bhayangkara (wadah kepramukaan dalam naungan kepolisian), serta pernah mengikuti beberapa perlombaan, yang salah satunya di tingkat nasional. Dan kebetulan beberapa di antaranya juara.

Hal ini harus saya ungkapkan dulu di awal, sebab tulisan ini bukan semacam kritik kebencian yang datang dari orang yang tidak suka pramuka. Melainkan datang dari orang yang dulunya memang aktif berkegiatan di sana.

Jujur, sampai hari ini, saya selalu merasa kalau Gerakan Pramuka sangat punya potensi untuk mengembangkan anak didiknya. Hanya saja, potensi itu seakan disia-siakan. Ya, gimana, organisasi kepanduan ini seakan tidak punya kebaruan sama sekali.

Coba direnungkan, kegiatan pramuka ini nggak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Iya, sekadar baris berbaris, penjelajahan malam, menyalakan api unggun, melakukan renungan malam, dan dibentak kakak Pembina tentu saja.

Saya tidak mengatakan rangkaian kegiatan tersebut sepenuhnya salah. Tentu saja tidak. Tapi semestinya bisa di-upgrade agar kegiatan yang dilakukan tidak begitu-begitu saja.

Perlu diakui bahwa di Gerakan Pramuka memang cukup susah mencari Pembina yang berkualitas. Ya, gimana, Pembina ini gajinya cukup sedikit, kadang malah nggak dibayar. Karena itu peminatnya juga sangat jarang.

Padahal mempunyai Pembina yang berkualitas itu cukup krusial. Dulu, saya pernah punya Pembina demikian. Alhasil, kegiatan mingguan selalu penuh dengan kejutan. Kami selalu belajar hal-hal baru. Misalnya, ada materi membuat kerajinan. Kemudian di saat itu juga diharuskan menjualnya, entah bagaimana caranya.

Di akhir dijelaskan panjang lebar yang intinya memulai usaha itu diawali dengan keberanian. Dan itu menarik sekali. Setidaknya bagi saya. Namun blio tidak lama menjadi Pembina. Ada beberapa masalah yang tidak bisa saya tuliskan di sini.

Namun, setelah blio pamit, ia blio digantikan dengan Pembina alumni sekolah, yang dibayar seadanya atau bahkan dibayar terima kasih. Hasilnya apa? Latihan menjadi monoton. Nggak terkonsep dengan jelas. Dan terkesan sekadar mengisi waktu luang saja.

Selain itu, masalah dalam Gerakan Pramuka juga masih sama. Masih saja ada senioritas, bullying, dan pengajaran kakak Pembina yang asal bikin melarat saja, yang cara memberi hukuman sangat tidak masuk akal.

Saya masih ingat, dulu pernah dihukum untuk jalan menggunakan bokong. Dalam suatu kegiatan pramuka lain, saya pernah disuruh makan sembari memegang kotoran sapi. Serius. Tangan kanan pegang nasi, tangan kiri pegang kotoran sapi. Lantas apa manfaatnya?

Romantisme berlebihan terhadap pramuka juga menjadi semacam persoalan internal. Hal ini membuat pramuka diagung-agungkan oleh generasi sebelumnya. Iya, hanya karena dulunya mereka pernah ikut pramuka, akhirnya gerakan ini dianggap spesial dan tak boleh digantikan.

Puncaknya, beberapa bulan lalu, seperti yang sudah diketahui, pramuka akhirnya dihapuskan dari ekskul wajib di sekolah. Artinya, tiap anak boleh memilih ikut pramuka atau tidak.

Seharusnya ini kebijakan bagus. Namun, malah menimbulkan banyak perdebatan. Banyak orang-orang yang ngotot pengin pramuka wajib diikuti semua siswa, karena merasa kegiatan ini punya dampak positif untuk mengubah karakter dan memajukan kehidupan bangsa. Halah, Mbel!

Memangnya berapa banyak orang yang karakternya baik-baik saja tapi dulunya ia nggak ikut pramuka? Atau coba dibalik, memang berapa banyak orang yang ikut pramuka tapi karakternya tetap bermasalah?

Bagi saya, “pemaksaan” seperti itu justru membuat yang sukarela mengikuti pramuka menjadi terganggu karena suasana menjadi tidak menyenangkan. Pada akhirnya sesuatu yang dipaksakan memang tidak pernah baik.

Sebelum diwajibkan, saya merasa kegiatan pramuka lebih seru, karena hanya orang-orang yang berniat saja yang hadir. Jadi mereka semua datang dengan gembira, bukan dengan wajah yang malas dan ogah-ogahan.

Yah, zaman sudah berubah. Harusnya sebuah kegiatan juga harus relevan dengan kebutuhan zaman. Masalahnya, saya tidak menemukan hal semacam itu pada Gerakan Pramuka.

Karena itu, sudah sewajarnya pramuka mulai muhasabah, agar tidak sekadar menjadi gerakan yang fokusnya hanya mengisi waktu luang saja tanpa perubahan apa-apa.

Btw, selamat hari pramuka ke-63. Salam dari saya, anak muda yang dulu ikut pramuka karena di sekolahnya jarang ada yang ikut.


메타데이터
post_id
d834ec4b569d
slug
sudah-saatnya-gerakan-pramuka-mulai-muhasabah-d834ec4b569d
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/sudah-saatnya-gerakan-pramuka-mulai-muhasabah-d834ec4b569d
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/sudah-saatnya-gerakan-pramuka-mulai-muhasabah-d834ec4b569d
author_url
https://medium.com/@afiquladib
status
ok
fetched_at
2026-07-11 02:34:49