← Back to list

Sekolah: Bukan Satu-satunya Tempat Belajar

Catatan reflektif dari konferensi pendidikan APDEC, tentang bagaimana pendidikan sejatinya bukan hanya soal kurikulum dan pencapaian…

Melisa Dwi Anggraeni · 2025-07-21 10:19 · 0 claps · 4.0 min read
#pendidikan-alternatif #parenting #filsafat-pendidikan #humaniora #pendidikan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Sekolah: Bukan Satu-satunya Tempat Belajar

ilustrasi: Veteran Indonesia menceritakan tentang Pahlawan Bangsa (pinterest.com)

ilustrasi: Veteran Indonesia menceritakan tentang Pahlawan Bangsa (pinterest.com)

Pada 19–20 Juli lalu, saya berkesempatan hadir di Asia-Pacific Democratic Education Conference (APDEC). Di sinilah saya melihat pendidikan dari sudut yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih manusiawi. Bukan hanya dari perspektif kurikulum, tetapi dari pengalaman hidup — sebagai seorang ibu, dan sebagai seorang yang bekerja di bidang pendidikan.

Jujur, ini adalah kali pertama saya datang ke konferensi — apalagi konferensi pendidikan yang mempertemukan para pendidik alternatif dari berbagai penjuru Asia-Pasifik.

Saya datang bukan sebagai ahli. Saya datang sebagai orang yang sedang belajar.

Dan ternyata, banyak hal yang tak pernah saya temukan di ruang kelas, justru saya dapatkan dari ruang perjumpaan ini.

Tentang Pendidikan yang Membentuk Manusia Seutuhnya

Sesi pembuka menghadirkan tiga tokoh penting: Romo A. Setyo Wibowo, Sri Wahyaningsih (inisiator Sanggar Anak Alam), dan Savic Ali (dari Nahdlatul Ulama). Diskusi mereka berkisar tentang filsafat pendidikan — sebuah fondasi yang sering luput dibicarakan dalam hiruk-pikuk kurikulum, asesmen, atau teknologi pendidikan.

Romo Setyo membawa gagasan kalos kagathos dari Plato: manusia ideal adalah mereka yang memiliki keindahan rupa dan keindahan budi. Ia menyampaikan bahwa masa krusial dalam pendidikan terjadi di usia 0–10 tahun — fase prarasional, saat anak menyerap nilai kehidupan lewat seni, mitos, dan dongeng. Bukan logika.

Di usia ini, anak bukan butuh teori, tapi pengalaman batin yang bermakna.

Sebagai orang dewasa, tugas kita adalah membantu anak menyadari bakat yang mereka bawa sejak lahir, bukan menjejali mereka dengan teori yang justru sering kali berlawanan dengan arah tumbuh mereka. Jika hingga usia 20 tahun anak terus dijejali teori, saat dewasa otaknya bisa sudah terlalu lelah untuk berpikir jernih.

Di era digital, tantangan ini makin berat. Informasi ada di mana-mana, tapi sulit dicerna. Mas Savic Ali mengutip:

“Too much information kills information.”

Anak-anak kita bukan kekurangan akses, tetapi kekurangan ruang hening untuk mencerna. Bukan soal berapa banyak yang mereka tahu, tapi sejauh apa mereka bisa memahami.

Mas Savic menambahkan perspektif pendidikan dari pesantren, yang mengarah pada tujuan spiritual: menjadi insan kamil — manusia utuh, matang secara akal dan hati.

Belajar Itu Hak, Bukan Kompetisi

Saya terkesan pada apa yang disampaikan Bu Wahya dari Sanggar Anak Alam. Baginya, belajar bukan sekadar pencapaian kognitif. Belajar adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Belajar itu seperti bernafas. Bukan lomba siapa lebih dulu bisa.”

Pendidikan seharusnya membahagiakan, bukan menakutkan. Membebaskan, bukan menekan. Terlalu sering, sekolah justru menjadi tempat anak kehilangan dirinya sendiri demi memenuhi ekspektasi orang dewasa.

Kita Lupa, Janji Kemerdekaan Kita Adalah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Bu Alissa Wahid menyampaikan sesuatu yang sangat menggugah: bahwa janji kemerdekaan Indonesia bukan soal menyekolahkan anak sebanyak-banyaknya, tapi mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Dan mencerdaskan itu tak bisa dicapai dengan sistem yang hanya menuntut anak mengikuti, tanpa pernah benar-benar didengarkan.”

Saya terhening.

Ini bukan cuma soal kebijakan pendidikan, tapi soal tanggung jawab kita sebagai orang dewasa terhadap masa depan anak-anak bangsa.

Anak-Anak Kita Butuh Didorong Jadi Orang Baik

Masih dari Bu Alissa, saya diingatkan tentang pentingnya interdependensi — tahap tertinggi dalam perkembangan mental manusia setelah dependen dan independen (teori Stephen R. Covey). Sayangnya, banyak orang dewasa belum sampai ke tahap ini. Kita masih sering terjebak dalam mentalitas serba tergantung atau ego yang merasa bisa sendiri.

“Anak-anak harus dibantu untuk merasa bangga menjadi orang baik.”

Contoh sederhananya: anak membeli dua gorengan di kantin, lalu membayar sesuai jumlah meski tak diawasi. Di situ pendidikan bekerja. Bukan di nilai rapor, tapi di cara anak jujur meski tak dilihat.

Keadilan Tidak Akan Tercapai Jika Perempuan Masih Dianggap Nomor Dua

Sementara itu, Bu Nur Rofiah mengangkat isu yang sering diabaikan: ketidakadilan terhadap perempuan dalam sistem pendidikan.

Ia mengingatkan bahwa ketimpangan gender adalah warisan sistemik yang kerap dianggap wajar hanya karena sudah biasa. Padahal, pendidikan semestinya menjadi ruang aman — bukan ruang yang memperkuat stereotip.

Misalnya, cara berpikir rasional dianggap maskulin, sementara perempuan distempel emosional — dan ini dijadikan dasar untuk membatasi ruang gerak mereka.

“Normal bukan berarti adil. Bisa jadi, kita hanya terbiasa membiarkan yang tidak adil terjadi.”

Pendidikan harus mengoreksi, bukan mengafirmasi bias.

Pulang dengan Keyakinan Baru: Sekolah Bukan Segalanya

Dari konferensi ini saya belajar, sekolah bukan satu-satunya tempat belajar. Belajar bisa terjadi di pangkuan orang tua, di percakapan jujur, di cerita yang membuat anak merasa aman, dicintai, dan dihargai.

Saya tidak sedang anti sekolah. Tapi saya percaya, sekolah bukan tujuan, melainkan salah satu alat. Dan alat yang paling berdaya justru bukan bangunan fisik, tetapi sikap orang dewasa yang mendampingi anak-anak tumbuh menjadi dirinya yang utuh.

Penutup: Ini Janji Kita Semua

Dalam benak saya terbayang bahwa sejatinya pendidikan bukan milik guru. Bukan milik sekolah. Bukan sekadar jargon dari pemerintah.

Pendidikan adalah janji kolektif kita sebagai bangsa.

Janji bahwa kita tidak akan menyerah menciptakan ruang belajar yang membebaskan, mencerdaskan, dan memanusiakan.

“Janji kemerdekaan kita bukan mengirimkan sebanyak mungkin anak ke sekolah — tetapi mencerdaskan kehidupan bangsa.”

— Alissa Wahid

Dan ini adalah janji kita semua kepada anak-anak Indonesia.

Ditulis dengan hati penuh, sebagai catatan untuk diri dan siapa pun yang masih percaya bahwa pendidikan adalah jalan pulang menjadi manusia.


메타데이터
post_id
d85cdc651d09
slug
sekolah-bukan-satu-satunya-tempat-belajar-d85cdc651d09
url
https://medium.com/@melysanggraeni098/sekolah-bukan-satu-satunya-tempat-belajar-d85cdc651d09
canonical_url
https://medium.com/@melysanggraeni098/sekolah-bukan-satu-satunya-tempat-belajar-d85cdc651d09
author_url
https://medium.com/@melysanggraeni098
status
ok
fetched_at
2026-08-17 10:47:30