← Back to list

Winter di Tasmania

Yolanisa · 2026-07-12 08:55 · 0 claps · 5.0 min read
#human-nature #winter #work-and-holiday #refleksi-diri
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🏔️ · Outdoor & Adventure

Winter di Tasmania

Ada hening yang membuat kepala terasa berat dan dada sesak. Semua orang pergi, rasanya tidak sama lagi. Tapi hidup harus terus berjalan, dan udara di sini semakin dingin. Bukan hanya kaca-kaca mobil di Victory Ave yang membeku, hati saya juga ikut membeku.

Jane kembali ke Melbourne, Anisa pindah ke Sydney, Hanshen kerja ke Perth, Nigel pulang ke Cina, dan Harper liburan ke Bali… Well, technically tidak semua pergi, tapi tatanan dunia yang sudah saya jalani enam bulan terakhir bersama orang-orang dekat ini di sini mulai berubah. Padahal Warren dan partnernya masih di sini. Neida, kucing Warren juga masih berlarian ke sana-ke mari. Ada Milo, Jessica, Melly dan Wilkinson… bahkan Lulu dan Jiarou masih di sini, tapi anehnya banyak perasaan takut, perasaan ragu tidak terelakkan dan sunyi menambah suasana terasa mencekam.

Kebiasan makan bersama di akhir pekan, berangkat kerja di mobil Jane, groceries di hari gajian, sekedar jajan kwetiaw di Noodle Box, Taiwanese boneless chicken di Valley Road Takeaway, dan berburu mini donut di The Candy Van tiap Jumat tentu tidak akan sama lagi.

Sebelum mereka semua pergi, saya sempat meminta tolong Jane dan Hanshen mengantar saya menyewa mobil di Launceston. Tujuannya sederhana: membiasakan diri menjadi lebih mandiri di Australia. Setidaknya saya ingin bisa menyetir sendiri ke tempat kerja, ke supermarket, dan ke pom bensin. Tidak lebih dari itu. Sesungguhnya saya tidak pernah benar-benar menikmati menyetir di Australia. Di Indonesia saya bahkan belum pernah memiliki mobil sendiri. Saya hanya belajar di tempat kursus hingga mendapatkan SIM A, sementara keseharian saya selalu menggunakan sepeda motor.

Saya tahu aturan lalu lintas di Australia jauh lebih tertib dan, dalam banyak hal, lebih aman dibandingkan Indonesia. Semua orang mematuhi aturan sehingga risiko kecelakaan jauh lebih kecil. Namun mengetahui hal itu ternyata tidak otomatis membuat saya percaya diri. Ketakutan tetap ada. Itulah mengapa selama ini saya lebih memilih berbagi kendaraan dengan teman menuju tempat kerja. Apakah lebih hemat? Relatif. Hal yang jelas saya rasakan adalah saya tidak perlu repot memikirkan biaya rego, asuransi, bensin, atau kemungkinan terkena denda karena melanggar aturan lalu lintas. Saya juga tidak perlu memikirkan bagaimana menjual mobil itu kembali ketika nanti harus berpindah kota.

Namun kenyataannya, waktu yang sempit dan suasana hati yang dipenuhi kegelisahan membuat saya mulai kehilangan ketenangan. Tidur tidak lagi nyenyak. Kepala saya dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Saya terlalu sibuk memainkan berbagai skenario di dalam pikiran sendiri.

Hari-hari itu saya lalui dengan rasa terpaksa dan penuh ketakutan. Hampir setiap malam saya menangis. Saya bilang ini pada Mama dan Nadhira… dan Anisa, dan Jane, dan mungkin semua orang. Saya takut melanggar aturan lalu lintas. Saya takut membahayakan pengendara lain. Saya takut melewati batas kecepatan tanpa sadar lalu terekam kamera. Saya takut menghadapi bundaran. Saya takut menerima surat denda karena melakukan sesuatu yang bahkan tidak saya ketahui.

Saya takut. Saya takut sekali.

Sampai ada bagian di mana saya seperti lupa saya punya Allah, Tuhan yang Maha Agung dan Maha Berkuasa atas Segala Sesuatu. Sungguh saat itu yang saya bisa lakukan hanya memohon ampun, sadar akan keterbatasan diri, penyesalan atas khilaf, dan ikhtiar untuk kembali mendekat kepada Allah dan meminta petunjuk-Nya.

Setelah season carrot berakhir, saya mencoba pekerjaan lain di company yang sama. Ada tawaran menjadi cleaning team untuk membersihkan mesin secara total sebelum dimatikan hingga 6 bulan ke depan, dan ada potensi tawaran untuk pindah ke departemen lain di sana yaitu onion. Apa namanya jika bukan rejeki dari Allah Tuhan ku Yang Maha Pengasih dan Penyayang?

Namun semua terjadi begitu cepat hingga akhirnya dua minggu semuanya selesai lagi, dan ternyata departemen itu penuh. Tidak ada kebutuhan tambahan pegawai di sana, barangkali memang musim dingin memang sepanas ini… persaingannya. Sungguh ironi. Ini kali kedua saya mengalami musim dingin di bagian paling selatan Australia. Tahun lalu saya mengalaminya di Victoria, meskipun hanya sebentar sebelum akhirnya pindah ke Queensland yang jelas lebih hangat. Kali ini saya mengalaminya di Tasmania.

Sungguh bukan hal yang mudah sama sekali, mencari pekerjaan di musim ini–di sini. Namun tidak ada yang menyangka, pertolongan Allah itu sangat dekat. Bahkan sebelum masa cleaning team berakhir, Warren, landlord saya saat ini menawarkan pekerjaan di sebuah potato packing shed untuk dua orang. Perusahaan itu dipimpin Troy, suami dari Amanda, landlord saya sebelumnya. Qadarullah.

Di titik itu saya semakin yakin bahwa Allah telah mengatur semuanya dengan sangat rapi. Mungkin memang sejak awal tidak ada alasan untuk terlalu takut.

Jadi saya hanya perlu menjalani setiap proses sebaik mungkin hingga tiba waktunya pulang ke Indonesia nanti, insyaAllah. Meski demikian, perjalanan ini tetap tidak selalu mudah. Sebagai manusia, saya masih sering mengeluh. Jam kerja terasa kurang panjang. Lingkungan kerja kadang terasa kurang nyaman. Masih muncul keinginan mencari kesempatan lain. Saya takut penghasilan saya tidak cukup. Takut tidak cukup untuk pulang. Takut tidak cukup membayar kelebihan pajak.

Takut.

Takut.

Takut.

Astaghfirullahaldzim… Laa hawla wa laa quwwattta illa billah. Ampuni kami Ya Allah.

Betapa sempitnya pikiran ini, yang terus saya hitung hanya uang-uang-uang yang masuk, padahal nikmat dan karunia Allah lebih luas. Atas izin Allah… saya tidak ada hutang, saya sekarang masuk kerja pukul 07.30am, saya masih sempat gym, saya masih bisa makan dan tidur dengan layak, saya punya waktu luang untuk mendengarkan dzikir pagi petang, musik bahkan podcast The Catch Up Club yang saya gandrungi belakangan, semuanya nikmat dan karunia Allah yang luar biasa dan saya lupa. Take it for granted. Allahu Akbar. Maafkanlah kami Ya Allah.

Dari sanalah saya kembali belajar mengubah cara memandang kehidupan.

Takeways dan reminder untuk diri pribadi atas cerita ini, izin saya elaborasi dengan konten Unspoken Session, Ustadz Nuzul Dzikri dengan Mas Ori dan Kiral yang tiba-tiba muncul di timeline saya terkait mengapa banyak orang takut tidak mencapai keberhasilan dunia, padahal sudah bersungguh-sungguh dan bekerja sekeras mungkin… seperti tidak pernah merasa cukup?

Jawabannya membawa saya kembali kepada QS. Al-Mulk:2.

Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan setiap manusia akan kembali kepada-Nya. Hidup adalah ujian, bukan tempat yang dijanjikan selalu nyaman. Ujian bukan hanya berupa kesulitan, kehilangan, atau sakit, tetapi juga kesehatan, rezeki, jabatan, waktu luang, bahkan kebahagiaan. Semua itu adalah cara Allah melihat bagaimana kita merespons nikmat maupun musibah. Tidak jadi orang kaya padahal sudah bersusah payah berusaha dan menabung, tidak mendapat pekerjaan di perusahaan yang diinginkan,dan hal lain yang sudah kita kejar tapi tidak kita dapat.

Ternyata semua itu bukan kemenangan sejati. Bukan pula sumber kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki. Pencapaian yang kita anggap pencapaian ternyata hanya ujian.

Lalu bagaimana Islam mendefinisikan kesuksesan?

Kesuksesan maupun kegagalan sama-sama merupakan ujian. Ketika Allah memberikan keberhasilan, itu adalah ujian untuk bersyukur. Ketika Allah mentakdirkan kegagalan, itu adalah ujian untuk bersabar. Keduanya sudah ditakar mana yang paling cocok untuk kita.

Jadi, yang dinilai Allah bukan sebanyak apa pencapaian kita di dunia, melainkan bagaimana kita merespons setiap ujian-ujian itu dengan amal baik yang jadi bekal untuk kehidupan yang kekal.

Mungkin inilah yang selama ini luput dari perhatian saya.

Saya terlalu sibuk mengejar hasil, padahal Allah sedang melihat cara saya menjalaninya.

Ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang saling melengkapi: Al-Aziz (Maha Perkasa) Allah memiliki kekuasaan penuh untuk memberi balasan dan keadilan dan Al-Ghafur (Maha Pengampun) Allah membuka pintu ampunan bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya. Ini memberi keseimbangan antara rasa takut kepada Allah dan harapan akan rahmat-Nya. Di situlah hati saya mulai perlahan mencair dan yakin kembali bahwa takdir terbaik adalah yang dijalani saat ini.

Terima kasih ya Allah atas segala kenikmatan yang tiada hentinya. Allahumma baarik.


메타데이터
post_id
d8a6555b1c77
slug
winter-di-tasmania-d8a6555b1c77
url
https://medium.com/@iyolanisa/winter-di-tasmania-d8a6555b1c77
canonical_url
https://medium.com/@iyolanisa/winter-di-tasmania-d8a6555b1c77
author_url
https://medium.com/@iyolanisa
status
ok
fetched_at
2026-07-15 18:46:35