Antara Turats dan Trend — Komodifikasi “Gus-Gus’an”,“habib muda” dan “ustadz millenial” dalam…
figur tokoh agama yang erat dengan kesederhanaan dan kebijaksanaan intelektual-spiritual kini berhadapan dengan wajah baru: influencer…
Antara Turats dan Tren: Komodifikasi “Gus-Gus’an”, “Habib Muda” dan “Ustadz Milenial” Dalam Otoritas Agama

Di tengah masifnya digitalisasi, figur tokoh agama yang erat dengan kesederhanaan dan kebijaksanaan intelektual-spiritual kini berhadapan dengan wajah baru: influencer agama. Fenomena ini semakin menonjol ketika muncul generasi muda berlabel “Gus” putra kiai, “Habib” keturunan Rasululloh Saw maupun seseorang yang aktif berdakwah membangun citra religius di media sosial. Sebagian dari mereka sering disebut “Gus-Gus’an”, “habib-habiban” dan “ustadz muda” sebuah istilah yang kadang bernada sarkas, mengacu pada figur yang tampil religius dengan gaya visual modern tetapi belum sepenuhnya matang secara keilmuan dan spiritualitas.
Dalam tradisi ulama turats, otoritas keilmuan dan moral bukanlah sesuatu yang dibentuk melalui popularitas atau banyaknya jemaah, melainkan hasil riyadhah ilmiah dan akhlaqiah yang panjang. Dalam Bidāyah al-Hidāyahnya Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa seorang ahli ilmu sejati harus terlebih dahulu memperbaiki niat, memurnikan hati, serta menjaga adab sebelum mensyiarkan ilmu kepada khalayak. Pasalnya, media sosial dengan segala algoritma viralitas bisa menjadi ujian besar: apakah niat dakwah atas dasar tanggung jawab umat, atau justru terkontaminasi oleh haus validasi dan pengaruh pribadi?
Di samping itu Kitab Minhāj al-Thālibīn karya Imam Nawawi — yang menjadi rujukan utama dalam fiqih Syafi’i — menempatkan adab guru dan murid sebagai fondasi epistemologi keilmuan. Seorang guru, tidaklah sekadar pengajar, melainkan juga pembimbing spiritual (murabbi). Namun ketika seorang figur keagamaan lebih menonjolkan “diri” ketimbang “ilmu”, maka proses transmisi keilmuan menjadi dangkal. Tradisi inilah yang sering kali tidak tampak dalam gaya dakwah influencer yang serba cepat dan instan, di mana “branding” dan “follower count” kerap lebih menonjol daripada “kepakaran” dan “sanad ilmu”.
al-Naḥl ayat 125 menyajikan prinsip mendasar tentang penyampaian ilmu dan tanggung jawab sosial seorang alim: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik”. Memang, ayat tersebut berisi anjuran untuk berdakwah, namun juga menegaskan bahwa asas dakwah harus berdasarkan hikmah. Maksud dakwah dengan hikmah ialah dakwah dengan ilmu dan kebijaksanaan. Prinsip keseimbangan ini seolah menjadi cermin bagi fenomena influencer agama yang kerap menghadirkan dakwah dalam format ringan dan menghibur audiens, tetapi mengaburkan substansi keilmuan bahkan melanggar batasan syariat.
Di sisi lain, tidak adil jika kita menggeneralisir semua influencer agama demikian. Sebab, sebagian dari mereka justru berusaha mentransformasikan nilai-nilai turats ke ruang digital. Mereka menggunakan platform modern untuk menjembatani jarak antara religiusitas dan muslim urban. Seperti dikatakan dalam adagium klasik, “al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah” (menjaga tradisi lama yang baik sambil mengambil hal baru yang lebih baik), keberadaan influencer agama dapat dilihat sebagai upaya kontekstualisasi dakwah di era modern.
Namun, problem utama muncul saat gelar “Gus”, “Habib” dan “Ustadz” dijadikan komoditas sosial. Ketika nama besar keluarga pesantren atau nasab keturunan Rasululloh SAW digunakan sebagai “Branding otoritas keagamaan”, bukan sebagai amanah keilmuan. Maka yang terjadi pergeseran dari ubudiyyah (penghambaan) menjadi ego-spiritualitas.
Fenomena komodifikasi otoritas keagamaan ini berpotensi menumbuhkan pergeseran spiritual umat: dari otoritas berbasis ilmu dan sanad menjadi otoritas berbasis visibilitas dan *engagement* mengikuti figur populer. sehingga terjadi gejala kultus tanpa ilmu, yang pernah diingatkan Imam Al-Ghazali sebagai “penyakit ulama dunia” untuk mereka yang memakai agama sebagai tangga menuju ketenaran.
Pada akhirnya, fenomena dakwah masa kini menuntut refleksi mendalam bagi pendakwah dan pengikutnya. Bagaimana beragama di era kontemporer tanpa kehilangan ruh keilmuan klasiknya? Bagaimana nilai adab, akhlak dan sanad tetap dijaga di tengah budaya viralitas?
Dakwah bukanlah soal siapa yang paling tampak, tetapi siapa yang paling mampu menuntun. karena Turats tak menolak modernisasi gaya dakwah, ia hanya menolak kedangkalan dan penyimpangan yang lahir darinya. Wallāhu a‘lam.
⸻
메타데이터
- post_id
- d8a79b8d4721
- slug
- antara-turats-dan-trend-komodifikasi-gus-gusan-habib-muda-dan-ustadz-millenial-dalam-d8a79b8d4721
- url
- https://medium.com/@abdul.chalim.chudori/antara-turats-dan-trend-komodifikasi-gus-gusan-habib-muda-dan-ustadz-millenial-dalam-d8a79b8d4721
- canonical_url
- https://medium.com/@abdul.chalim.chudori/antara-turats-dan-trend-komodifikasi-gus-gusan-habib-muda-dan-ustadz-millenial-dalam-d8a79b8d4721
- author_url
- https://medium.com/@abdul.chalim.chudori
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 12:24:47