03 — Laskar Pelangi #NextChapter
Tak ada satu pun hal menyenangkan yang terjadi di sekolah. Hari-harinya selalu berjalan begitu-gitu saja. Monoton. Membosankan. Setiap…
03 — Laskar Pelangi #NextChapter

Tak ada satu pun hal menyenangkan yang terjadi di sekolah. Hari-harinya selalu berjalan begitu-gitu saja. Monoton. Membosankan. Setiap hari, dia hanya menjadi penonton yang menyaksikan banyak hal seru yang dilakukan para murid, tetapi tak pernah sekali pun dia pernah menjadi pemainnya. Tak pernah dia ikut merasakan apa yang orang-orang bilang tentang betapa serunya masa SMA.
Elmira menghela napasnya ketika bel istirahat berbunyi. Setidaknya, dia bisa terbebas sejenak dari kejenuhan selama dua setengah jam terakhir ini.
Sejarah Peminatan merupakan mata pelajaran yang barusan kelasnya pelajari. Sang guru memberikan murid kelas 11 IPS 2 sebuah tugas kelompok yang beranggotakan dua orang, yakni tugas membuat peta pikiran tentang bab “Perjuangan Rakyat Indonesia Melawan Penjajah”.
Jumlah murid di 11 IPS 2 ada sebanyak 40 anak. Di kelas ini, Elmira selalu duduk sendirian di kursi paling pojok di barisan kelima sehingga di setiap ada tugas kelompok bersama teman sebangku seperti ini dia harus bangkit dari kursinya dan mencari satu anak lain yang belum mendapatkan pasangan.
Namun, hari ini bukanlah hari keberuntungannya karena satu anak tersisa adalah anak paling bandel yang sulit untuk diajak kerja sama, apalagi urusan tugas kelompok begini.
“Lu yang kerjain, ya, El. Nanti kalau butuh bantuan bilang aja,” adalah kalimat andalan seseorang yang memiliki julukan “termalas” di kelas ini. Kalimat paling omong kosong dari orang yang selalu ingin Elmira hindari.
Dengan santainya, anak itu duduk di kursi dengan menaikkan sebelah kaki, lantas kembali mengobrol dengan berisik bersama teman-temannya di pojok ruangan dan seolah mengabaikan keberadaan Elmira dan sang guru sejarah yang sedang memainkan ponsel di tempatnya.
Elmira tidak mau banyak berurusan dengan orang ini. Jadilah gadis itu segera mengiakannya dan berbalik ke tempat duduk semula untuk mulai mengerjakan tugas tersebut. Sendirian. Kalaupun nanti dia merasa kesulitan, dia akan menyerahkannya pada si Diego seperti yang lelaki itu janjikan.
Lagipula, kata Bill Gates, “Saya memilih orang yang malas untuk melakukan pekerjaan yang sulit karena orang yang malas akan menemukan cara yang mudah untuk melakukannya.” Jadi, untuk kasus ini, Elmira sependapat dengan beliau.
Kini, Elmira bergegas merapikan alat tulis warna-warni miliknya yang tadi digunakan untuk membuat peta pikiran karena sang guru Sejarah Peminatan sudah keluar kelas dan kini, ada seseorang di depan kelas yang menanti gadis itu keluar.
Senyum Elmira terbit ketika mendapati sahabatnya itu sudah kembali masuk sekolah setelah beberapa hari terakhir sakit. Hari muramnya berubah seratus delapan puluh derajat begitu si Laskar Pelangi hadir mewarnai harinya.
“Laskar!” Elmira berjalan cepat menghampiri seorang laki-laki kurus nan tinggi yang balas memberikan senyum hangatnya untuk Elmira. “Kamu udah sembuh?”
“Udah dong. Kangen, ya?” Lelaki berambut keriting itu menggoda Elmira sambil tertawa renyah.
“Ge-er banget!” Elmira ikut terkekeh.
Elmira tahu, hanya Laskar dan segala ucapannya lah yang bisa membuat Elmira juga ikut tertawa dan merasa bahagia. Karena itulah, Elmira sama sekali tidak keberatan kalau Laskar sekali-kali melempar godaan iseng seperti itu.
“Mau ke kantin gak, Ra? Mukamu kusut banget tuh kalau belum makan basreng Mak Icih!”
Elmira tergelak. “Tahu aja lagi! Eh, tapi kamu gak boleh ikut makan, ya, Kar, nanti malah sakit lagi deh. Aku jadi sendirian terus kalau di sekolah.” Elmira pura-pura memasang wajah sebal, berjalan lebih dahulu meninggalkan Laskar.
Lagi-lagi, Laskar tertawa dan mempercepat langkahnya menyusul sahabat sejak SD-nya itu.
“Iya, iya. Maaf, ya, Ra.” Laskar menggaruk kepalanya salah tingkah. “Janji, deh, besok-besok bakal sehat lagi. Sebagai permintaan maaf, aku mau traktir kamu basreng mak icih!”
“Oke, permintaan maaf diterima!”
?
“Bang, aqua dingin satu berapaan?” tanya si gadis cantik dengan rambut panjang yang dikucir dengan pita biru, Atzu.
“Lima ribu, neng.”
Buset, mahal banget! Seingat Atzu, waktu terakhir kali dia membeli air mineral di kantin, harganya masih dua ribu lima ratus atau paling mahal tiga ribu. Sekarang, malah menjadi dua kali lipat gara-gara pandemi.
Atzu merogoh saku seragamnya dan menyerahkan selembar berwarna cokelat kepada abang kantin, lantas menyingkir dari sana begitu mengucap terima kasih.
Dia baru saja menyelesaikan pelajaran PJOK, materi bola basket, dan sekarang dia begitu berkeringat. Meski begitu, dari ujung kaki hingga ujung kepala, hanya pita biru di rambutnya saja yang masih terpasang rapi, sedangkan rambutnya sendiri sudah cukup acak-acakan.
Atzu menepi, memilih satu bangku panjang yang masih kosong di kantin dan duduk di sana untuk meneguk sebotol air dingin yang membasahi kerongkongannya dengan nikmat.
“Ah, segarnya.” Dia bergumam pelan sambil mengusap peluhnya.
Magda, Namiya, Odett, dan Juwita lebih memilih untuk mengganti pakaian mereka lebih dahulu dan menghabiskan waktunya memakan bekal di kelas alih-alih pergi ke kantin untuk memuaskan dahaganya bersama Atzu. Jadilah, Atzu duduk di kantin sendirian, menatap murid lain yang berlalu lalang di sekitarnya sampai matanya menemukan sosok yang dia kenal melambai ke arahnya.
“Elmira!” Atzu balas melambai dan si gadis berhijab itu menghampirinya.
“Hai, Atzu.” Elmira tersenyum lebar, sangat menawan. “Kamu sendirian aja, nih. Boleh gabung?”
“Boleh dong,” tutur Atzu. “Kamu juga sendirian?”
Elmira menggeleng, lalu tatapannya beralih ke arah seseorang yang berada di belakang Atzu. “Laskar, di sini!”
Rasa penasarannya akan sosok bernama Laskar itu membuat Atzu ikut menoleh.
Seorang laki-laki tinggi berkulit cokelat keemasan berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah nampan berisi roti bakar dan soto mie. Lelaki itu memberikan senyuman manis menyapa pada Atzu ketika dia sampai di meja.
“Laskar, kenalin ini Atzu, anak MIPA 2. Atzu, ini Laskar, anak IPS 1.” Elmira memperkenalkan dua orang yang kini berhadap-hadapan.
Laskar lebih dahulu mengulurkan tangan, yang buru-buru disambut Atzu. “Laskar Mahendra.”
“Arnata Azura. Panggil aja Arnatazu atau Atzu.”
Laskar mengangguk bersamaan dengan jabatan tangannya yang tegas. “Salam kenal, Atzu.”
“Salam kenal juga, Laskar. Duduk-duduk.” Atzu mempersilakan.
Elmira mengangkat piring-piring dari nampan dan meletakkannya di atas meja. Gadis itu menatap Atzu kebingungan. “Lho, kamu gak makan, Tzu?”
“Aku ada bekal di kelas.” Atzu rasa, dia harus berbohong di depan Elmira karena dia tidak perlu jujur-jujur amat kalau dia sebenarnya lupa membawa uang jajan. Dia hanya mengantongi lima ribu dan dia juga tidak membawa jajanan apapun. Sehabis ini, Atzu bertekad untuk meminum obat maag agar dia bisa menahan laparnya sampai pulang sekolah.
Elmira menyodorkan piring roti bakarnya kepada gadis itu. “Nih, cobain deh, kata Laskar, tukang roti bakarnya baru buka hari ini, makanya tadi ramai banget sampai banyak yang gak kebagian. Untung kita ngantre duluan tadi.”
Yang disebut-sebut asyik mengangguk-angguk. “Ambil aja, Tzu. Suka rasa stroberi gak?”
Atzu tersenyum malu-malu dan mengambil sepotong roti bakar tersebut. “Suka. Makasih, ya.”
“Oh, iya, kamu udah dapat info tentang acara SMANEJ*ONE?” Elmira kembali membuka percakapan.
Belakangan ini, topik mengenai SMANEJONE masih hangat diperbincangkan semua orang. Kalau ini Twitter, Atzu yakin, SMANEJONE sudah jadi trending topic nomor satu selama seminggu berturut-turut.
“Udah. Kalian berdua ikut kepanitiannya?” tanya Atzu.
“Nah, itu dia, Tzu. Kita udah daftar kepanitiaan dari bulan Juli dan sekarang kita lagi cari-cari orang buat ikutan daftar juga gara-gara masih banyak divisi yang anggotanya kurang,” jawab Laskar. “Omong-omong, manggilnya aku-kamu atau lo-gue, Tzu?”
Atzu terkekeh sebentar. “Bebas. Lo-gue juga gak apa-apa, Kar. Senyamannya aja. Biasanya gue ngomong aku-kamu ke Elmira doang nih.” Atzu pura-pura mengedip ke arah gadis berkerudung putih di hadapannya yang dibalas tawa oleh Laskar.
“Oke-oke. Eh, jadi gimana, lo tertarik buat ikutan gak?” Laskar melanjutkan ucapannya.
“Kalian berdua ikut divisi apa?”
“Divisi acara!”
Atzu menimang-nimang lagi pikirannya. “Kata orang-orang, divisi acara yang paling capek dan ngeluarin dana cukup gede buat pensi ini.”
“Tapi divisi acara itu seru tahu, Tzu, karena kita bisa nentuin siapa guest star yang kita mau.”
“Serius, Kar? Gue jadi pengin deh.”
“Eh, tapi setahu aku, divisi acara udah penuh kemarin deh, gara-gara ada anak kelas 10 yang baru ikutan juga,” ujar Elmira sambil menepuk dahinya.
Atzu mendadak kecewa. “Yah, gak jadi deh.”
Elmira dan Laskar bersitatap sejenak, seolah bisa berkomunikasi lewat tatapan mata.
“Masih ada divisi lain juga, kok! Yang seru selain divisi acara itu, menurut aku, divisi publikasi, divisi dana, sama divisi properti. Tapi, yang menurut aku recommended itu divisi publikasi, Tzu, karena ada kesempatan buat ketemu langsung sama artisnya juga sebelum hari-H acara.” Kelihatannya, Elmira sangat bersemangat menjadi promotor divisi SMANEJ*ONE.
Mendengar ucapan persuasif Elmira barusan, Atzu agaknya tertarik untuk bergabung dengan divisi publikasi tersebut. Namun, “Tapi, aku juga pengin ikutan request guest star-nya deh. Boleh gak sih?” pinta Atzu dengan memelas.
“Boleh, boleh. Sini, kita tampung dulu, nanti kalau udah mulai rapat, kita ajuin usul lo. Lo pengen bintang tamunya siapa, Tzu?”
Atzu berpikir sesaat sebelum menjawab Laskar. “Pas SMP, gue suka ngebayangin kalau sekolah gue ngundang artis kayak Tulus atau gak Hivi! gitu deh. Kayaknya bakal seru deh kalau satu angkatan bisa nyanyi lagu mereka ramai-ramai.”
“Tunggu, lo suka Tulus sama Hivi! juga?”
“Iya …, lo juga, Kar?”
“Mereka penyanyi favorit gue! Gue juga suka dengerin lagu mereka,” sahut lelaki itu antusias.
“Wah, bakal seru banget nih kalau mereka beneran jadi guest star di SMANEJ*ONE! Tulus dan Hivi! itu artis kedua sama ketiga yang paling sering gue dengerin di Spotify setelah artis korea favorit gue.”
Elmira yang semula menjadi penonton, menatap mereka bergantian. “Selama ini, gue cuma tahu beberapa lagu Tulus, kayak ‘Monokrom’ sama ‘Sepatu’, sementara Hivi! yang gue tahu cuma ‘Mata Ke Hati’ sama ‘Orang ke-3’. Lagu-lagu mereka apa lagi, ya, yang terkenal?”
“Ih, kalau Tulus mah banyak banget, El!” ucap Atzu gemas. “Coba dengar yang album Monokrom, menurut aku itu enak-enak semua lagunya.”
“Setuju! Gue paling suka lagu Langit Abu-Abu. Kalau lo, Tzu?”
“Gue suka ‘Ruang Sendiri’ sama ‘Cahaya’ sih! Ih, kapan ya Tulus ngeluarin album baru lagi?”
“Gue ramal sih tahun depan. Hivi! juga belum ngeluarin album baru lagi, kan? Tahun depan kayaknya sih.”
“Bisa aja lo nebak-nebaknya, Kar!” Atzu tertawa renyah, lalu dia mengalihkan tatapannya pada Elmira. “El, coba dengerin album Kereta Kencan deh! Itu album favorit aku dari Hivi!.”
“Oke, tenang aja, aku bakal tampung semua saran kalian,” ujar Elmira. “Oh iya, Kar, kapan-kapan, coba dong putar lagu-lagu tadi di radio sekolah. Gue udah bosan dengar lagu barat yang itu-itu mulu.”
“Eh, Laskar anak ekskul Egaliteradio?” Atzu membulatkan matanya. “Gue suka iseng dengerin podcast ala-ala anak ekskul radio gara-gara teman-teman gue sering ngomongin itu, ternyata lo salah satu anggotanya?”
Laskar menggaruk kepalanya salah tingkah, membenarkan ucapan Atzu.
“Keren banget gila!”
“Kalau lo mau request lagu, lo bisa bilang ke gue, Tzu. Nanti gue masukin ke playlist.”
“Oh, ya? Enak juga berarti punya teman kayak lo, ya, haha!”
“Jelas. Testinya boleh tanya Elmira, nih. Mira request lagu-lagunya Taylor Swift, sampai sebulan lebih, gue putar terus lagu-lagunya sampai dia sendiri bosan. Ya, gak, Ra?” Laskar mengedip ke arah Elmira sambil menaik-naikan alisnya.
“Iya, Kar, sampai aku capek dengerin lagu Wildest Dream-nya Taylor gara-gara kamu.” Elmira pura-pura memutar bola matanya dengan malas, tetapi dia kemudian terkekeh.
Atzu mencondongkan tubuhnya ke arah mereka. “Kalau gitu, gue mau request lagu-lagunya Tulus 24/7, Kar, buat diputar di radio sekolah. Coba lagu Monokrom deh, biar Elmira juga bisa ikut nyanyi.”
“Aduh, jangan 24/7 deh. Kalau begini mah, bukan hanya Elmira yang bakal bosan, tapi gue juga!”
Atzu dan Laskar tertawa kompak begitu mendengarnya, sedangkan Elmira tertawa kecil mendengar ujaran sahabatnya yang satu itu.
Dalam sekejap, Atzu dan Laskar bisa menjadi akrab begitu saja hanya karena topik sesederhana selera musik yang sama … dan Elmira yang sejak tadi menyaksikan perbincangan seru kedua insan itu diam-diam iri pada mereka yang bisa berteman baik dengan begitu mudahnya. []
메타데이터
- post_id
- d8b034b5f4ac
- slug
- 03-laskar-pelangi-nextchapter-d8b034b5f4ac
- url
- https://medium.com/@laveanderz/03-laskar-pelangi-nextchapter-d8b034b5f4ac
- canonical_url
- https://medium.com/@laveanderz/03-laskar-pelangi-nextchapter-d8b034b5f4ac
- author_url
- https://medium.com/@laveanderz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08