← Back to list

Definitely “tough ride”

refleksi adab ; dalam berilmu

Sabrina Nur Dzikrillah · 2026-04-16 12:16 · 1 claps · 3.5 min read
#adab #refleksi #islamic-worldview
Open on Medium ↗
Wiki topics: CRY · Crypto & Web3 🕊️ · Religion

Definitely “tough ride”

refleksi adab ; dalam berilmu

Teringat 2 tahun lalu, saat berdiskusi dengan Ka Habibah sebelum berangkat ke Harvard,

“kita harus memakai kacamata-nya terlebih dahulu untuk kita bisa melihat bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dilihat dari segi empiris nya saja.”

walau sudah 2 tahun lalu tapi kalimat tersebut paling aku ingat hingga saat ini, tapi sekarang, rasanya jadi jauuuuh lebih berat hehe. Mungkin selama ini aku ‘melihat’ dan ‘mengenali’ banyak hal tanpa benar-benar memakai “kacamata” yang tepat. Aku melihat, tapi belum tentu memahami. Atau aku tau, tapi belum tentu mengenali.

Sekarang jadi semakin merasa ditampar dengan pemikiran-pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas. Beliau pernah menulis bahwa ilmu itu tidak pernah benar-benar netral. Bahwa setiap peradaban memiliki pemahamannya sendiri tentang ilmu, dan antara Islam dan Barat terdapat perbedaan yang begitu mendalam, “seakan-akan jurang yang tiada dapat dipertemukan.”

Kalimat itu mengubah cara aku dalam melihat banyak hal. Karena berarti ilmu bukan sekadar kumpulan fakta. Ia tidak berdiri di ruang hampa. Ia selalu dibawa oleh manusia, dan manusia membawa cara pandang tentang realitas, tentang tujuan hidup, tentang kepada siapa ia bertanggung jawab. Maka ilmu bisa dibawa ke arah yang sangat berbeda, tergantung siapa yang memegangnya dan “kacamata” apa yang sedang ia pakai.

Al-Attas juga mengingatkan bahwa hakikat ilmu hari ini telah menjadi bermasalah, bukan karena kurangnya informasi, tapi karena hilangnya tujuan. Ilmu yang seharusnya melahirkan keadilan dan ketertiban justru bisa membawa pada kekacauan. Kita hidup di zaman di mana ilmu pengetahuan melimpah, tapi arah sering kali hilang. Kita mungkin mengetahui banyak hal, atau beragam macam informasi melimpah tapi tidak selalu mengerti untuk apa kita mengetahuinya.

Salah satu akar masalahnya, menurut al-Attas, adalah cara kita memandang alam. Alam tidak lagi dilihat sebagai ayat atau tanda-tanda yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih tinggi, melainkan hanya sebagai objek yang bisa dipelajari, dimanfaatkan, atau bahkan dieksploitasi. Sains modern membaca alam sebagai thing as thing, bukan sebagai tanda yang membutuhkan tafsir yang terhubung dengan wahyu. Ketika ayat-ayat kauniyah dipisahkan dari ayat-ayat qauliyah, ilmu kehilangan kompasnya. Ia tetap berjalan, bahkan berkembang pesat, tapi tanpa arah yang jelas.

Krisis ini semakin dalam ketika hirarki ilmu tidak lagi dijaga. Dalam Islam, ada ilmu yang bersifat fardhu ‘ain, yang menjadi fondasi bagi cara kita memahami diri dan Tuhan. Dan ada pula ilmu fardhu kifayah yang bersifat instrumental. Ketika yang instrumental justru ditempatkan di atas yang fundamental, maka disorientasi tidak terhindarkan. Ilmu menjadi alat yang sangat kuat, tapi tanpa arah yang benar. Dan dalam kondisi seperti itu, kemajuan tidak selalu berarti kebaikan. Apapun itu macam ‘kemajuannya’.

Adab dalam Berilmu

Di sinilah konsep adab menjadi inti. Bagi Syed Muhammad Naquib al-Attas, adab bukan sekadar etika sosial atau sopan santun. Adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap tempat yang tepat bagi segala sesuatu. Ia adalah disiplin bagi jiwa yang membuat seseorang tau di mana harus menempatkan ilmu, dirinya, dan hubungannya dengan Tuhan. Dan mungkin yang paling menyadarkan ; ilmu itu bukan milik kita. Ia adalah amanah. Dan amanah akan dipertanggungjawabkan.

Dari sini aku mulai memahami bahwa yang perlu ditelaah kembali bukan sekadar objek ilmu atau teknologinya. Al-Attas menegaskan bahwa yang harus diubah adalah manusia yang membawanya. Paradigmanya, worldview-nya, cara ia melihat realitas. Karena teknologi pada dirinya sendiri tidak memiliki nilai. Ia tidak baik, juga tidak buruk. Ia tidak bisa menentukan arah. Justru manusialah yang menentukan nilai dari teknologi itu dan bagaimana ia digunakan, untuk tujuan apa dikembangkan. Dan di titik itu, pertanyaan tentang ilmu berubah menjadi pertanyaan tentang diri.

Aku jadi merefleksikan kembali tentang mimpi, tentang ambisi, tentang keinginan ‘untuk sampai’ atau tentang pencapaian, tentang semua hal yang sering kita sebut sebagai “tujuan besar.” Karena ternyata yang berat bukan sekadar mencapainya. Yang berat adalah menjaga arah selama perjalanan.

Di jalan menuju mimpi besar, ada momen-momen di mana kita mulai lupa kenapa kita mau ke sana. Kita terlalu sibuk dengan bagaimana-nya, sampai untuk apa-nya perlahan pergi. Kita mulai mengukur diri dengan standar yang bukan milik kita. Kita mulai mengejar sesuatu tanpa benar-benar kita tau apakah itu masih sejalan dengan apa yang seharusnya kita jaga.

Padahal al-Attas sudah mengingatkan dengan sangat jelas “seorang Muslim tidak sepatutnya mengembangkan ilmu untuk tujuan yang kosong dari nilai transendental”. Ilmu harus diarahkan pada yang shalih, pada yang membawa maslahat, pada sesuatu yang mendekatkan, bukan menjauhkan. Tanpa itu, ilmu bisa tetap benar tapi menjadi sangat berbahaya.

Mungkin di sinilah semua ini kembali ke awal, ke satu kalimat sederhana tentang “kacamata.” Bahwa memahami sesuatu tidak cukup dengan melihat apa yang tampak. Bahwa mengenali sesuatu butuh cara pandang yang benar. Bahwa ilmu tanpa adab hanya akan mempercepat kita menuju arah yang salah.

dan mengutip dari salah satu karya tulis kerennya ka Habibah ;

to be a ‘good Muslim’ means more than just to be able to use it wisely in accordance with Islamic ethical principles. It also means to be able to produce a science that is ‘true’ in accordance with Islamic metaphysical, cosmological, and epistemological principles.

Definitely “tough ride”

Tapi mungkin memang dari awal perjalanan ini tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi mudah. Karena sebelum melangkah lebih jauh, ada satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari, bukan untuk dijawab di depan orang banyak, tapi dengan hati dan pikiran yang lebih jujur,

kamu berangkat membawa apa?


메타데이터
post_id
d8f0fcbb42ad
slug
definitely-tough-ride-d8f0fcbb42ad
url
https://medium.com/@sabrinanurdz/definitely-tough-ride-d8f0fcbb42ad
canonical_url
https://medium.com/@sabrinanurdz/definitely-tough-ride-d8f0fcbb42ad
author_url
https://medium.com/@sabrinanurdz
status
ok
fetched_at
2026-06-22 12:55:45