Turban dan Negosiasi Makna Kesalehan Perempuan
(Sebuah pembacaan dekonstruksi terhadap Cuitan di Akun Twitter @askrlfess mengenai Kerudung Selebritas Mikro Gita Sa)
Turban dan Negosiasi Makna Kesalehan Perempuan
(Sebuah pembacaan dekonstruksi terhadap Cuitan di Akun Twitter @askrlfess mengenai Kerudung Selebritas Mikro Gita Savitri)

Sumber: Instagram Gita Savitri (instagram.com/gitasav)
Selama tiga hari berturut-turut pada 25–28 November 2022, kata kunci Gitasav menempati topik terpopuler (trending topic) di media sosial Twitter. Konsistensi popularitas topik ini merujuk pada figur pemengaruh media sosial Gita Savitri Devi (disingkat jadi Gitasav) yang banyak diperbincangkan warganet akibat pendapatnya mengenai aturan Piala Dunia 2022 di Qatar serta balasannya terhadap komentar di foto dirinya mengenakan turban yang ia unggah di Instagram. Melalui fitur tanya-jawab di Instagram story, Gita menilai aturan Qatar dalam melarang simbol-simbol LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual, Queer) merupakan bentuk homofobia. Hingga artikel ini ditulis, akun YouTube Gita Savitri Devi memiliki 1,31juta pelanggan, Instagram @gitasav memiliki 1juta pengikut, dan Tiktok @therealgitasav memiliki 89,6ribu pengikut.
Salah satu dari sekian banyak akun Twitter yang membuat pendapat Gita jadi topik terpopuler ialah @askrlfess. Twit @askrlfess berbunyi, “Makin ke sini emang Gitasav makin liberal. Dari dulu aku melihat dia kayaknya kerudungan normal, tapi akhir-akhir ini dia kerudungan nutupin rambut doang kayak habis keramas. Esensi kerudung kalau gini jadi hilang,” dilengkapi dengan foto Gita mengenakan turban[1]. Akun @askrlfess beroperasi dengan cara mengkurasi pertanyaan dari pengikutnya yang masuk melalui pesan (direct message) dan mengunggahnya sebagai Tweet agar pengikut yang lain bisa memberi tanggapan di kolom balasan (reply) dan kutipan (quote retweet tweet). Rata-rata balasan dan kutipan dari Twit ini mengaitkan gaya berturbannya dengan pendapat-pendapat Gita yang dinilai liberal dan tidak sesuai dengan nilai islam, termasuk mengenai aturan Qatar di Piala Dunia 2022. Hingga artikel ini ditulis, Twit tentang Gitasav di akun Twitter @askrlfess telah dibalas sebanyak 3.103 kali, dikutip sebanyak 5.115 kali, dan disukai oleh 23,5ribu pengguna Twitter.
Perbincangan di kolom balasan dan kutipan dari Twit @askrlfess seputar ‘jilbab Gitasav’ ini menunjukkan adanya kontestasi makna kesalehan perempuan berdasarkan penutup kepala yang dikenakan[2]. Sebagian pengguna Twitter sepakat dengan cuitan tersebut; turban yang Gita kenakan tidak sesuai aturan agama, sebagaimana pendapat-pendapatnya yang juga tidak sesuai dengan nilai agama. Ada pula pengguna Twitter yang menjadikan posisi Gita sebagai pekerja diaspora di Jerman sebagai penyebab pemikiran dan gaya berpakaiannya yang semakin ‘Barat’. Dengan kata lain, perubahan gaya berpakaian ini menandakan kemunduran atas kesalehan Gita karena dianggap ‘menjauh’ dari agama. Meski demikian, masih ada pengguna Twitter yang menyatakan Gita berhak memilih gaya pakaiannya sendiri, dan ada pula yang menunjukkan apatisme karena menganggap Gita tidak akan mendengar pendapat orang lain.
Hijab dan Pemaknaan Kesalehan Perempuan yang Logosentris
Cuitan di akun @askrlfess mengenai ‘jilbab Gita Savitri’ tersebut merupakan salah satu faktor terbesar dalam menjadikan kata kunci ‘Gitasav’ trending topic di Twitter. Cuitan ini menunjukkan adanya pemaknaan tunggal mengenai kesalehan perempuan berdasarkan pakaian yang dikenakan. Salah satu pemikir poststrukturalis, Jacques Derrida, menyebut hal ini sebagai bentuk logosentrisme; bagian dari modernisme yang mendewakan pemusatan kebenaran atau universalitas (Siregar, 2019: 69). Dalam logosentrisme, kebenaran universal selalu melatarbelakangi segala hal yang terlihat di permukaan, atau segala hal yang terjadi di dalam realita (Ariwidodo dalam Sudipa, 2021: 149). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa intensi logosentrisme dalam cuitan di akun @askrlfess ditunjukkan melalui kalimat terakhir, yakni adanya ‘esensi kerudung’ yang hilang karena pemakaian turban.
Logosentrisme menghasilkan pola pikir bineritas atau dikotomistik yang bersifat hierarkis (Sudipa, 2021: 147–148) seperti berbicara/menulis dan hadir/absen yang dicontohkan oleh Derrida. Cara berpikir seperti ini menunjukkan bahwa salah satu dari oposisi biner tersebut merupakan representasi dari yang lain sehingga nilainya menjadi inferior, sebagaimana menulis merupakan representasi dari berbicara sehingga posisinya menjadi inferior karena tidak menghadirkan subjek seperti saat berbicara langsung (Edkins, 2009: 140–141). Dalam cuitan di akun @askrlfess tersebut, oposisi biner yang dikontestasikan adalah ‘kerudung normal’ dan ‘kerudung tidak normal’. Kerudung normal — sebagaimana disebut di dalam cuitan — adalah kerudung yang menutupi leher, sementara kerudung tidak normal adalah turban — dan gaya kerudung apa pun — yang tidak menutup leher. Normal dan tidak normal di sini merujuk pada pemahaman beragama yang universal mengenai cara berpakaian perempuan.
Jika dikaitkan dengan perbincangan warganet seputar gaya berturban Gita, oposisi biner kerudung normal/tidak normal dinilai berkorelasi dengan keislaman dan kesalehan seorang perempuan. Hal ini terlihat dalam cuitan di akun @askrlfess yang mengaitkan turban Gita dengan ‘pemikiran liberal’nya. Begitu pula beberapa balasan di cuitan tersebut yang menunjukkan nada serupa, di antaranya: “Bro, listen. Menutup aurat itu wajib, dah gitu aja, debate me if I’m wrong. But I’m not,” dari akun @ummcloudless, “Dia mah bukan makin liberal, tapi makin sesat. Serius deh orang kalau cuma liberal harusnya cara berpikirnya itu nggak berubah jadi nyeleneh dan blunder kayak gitu,” dari akun @yona212121, dan “Ntar lagi dibuka tu hijab, keinget dulu salmafina begini juga, dari syar’i ke jilbab biasa, abis itu jadi jilbab yang dililit ke leher, abis itu kayak di atas, abis itu buka,” dari akun @Bananaoat_. Percakapan di cuitan tersebut menunjukkan adanya hierarki kesalehan dalam cara perempuan (muslim) mengenakan jilbab yang berkelindan dengan cara mereka mengemukakan pendapat dan substansi dari pendapatnya itu. Dengan kata lain, perempuan berkerudung tertutup, tidak marah dengan komentar negatif dari orang lain, dan menolak eksistensi LGBTQ menempati hierarki kesalehan yang superior daripada perempuan seperti Gita yang merupakan oposisinya.
Tren Turban sebagai Upaya Dekonstruksi Kesalehan Perempuan
Sebetulnya, Gita bukan figur publik Indonesia pertama yang memopulerkan penggunaan turban. Jauh sebelum warganet mengemukakan kekecewaan terhadap gaya berjilbab Gita, selebriti Ayudia Bing Slamet dan musisi Sivia Azizah sudah terlebih dahulu tampil dengan gaya fesyen berturban. Di samping itu, platform Tiktok turut mewarnai tren turban dengan munculnya konten-konten dengan kata kunci seperti ‘turban tutorial’ dan ‘turban hijab style’. Beberapa kreator Tiktok Indonesia yang mengenakan turban sebagai bagian dari gaya hidup dan konten mereka ialah Ashilla Sikado (@ashilla.sikado) yang memiliki 1,1juta pengikut dan disukai 28,2juta pengguna; Qamara Asr (@qamaraasr) yang memiliki 340ribu pengikut dan disukai 9.2juta pengguna; serta Dacey (@dahsey) yang memiliki 25,2ribu pengikut dan disukai 927ribu pengguna[3]. Dengan demikian, popularitas turban sebagai salah satu penutup kepala perempuan — terlepas dari konteks historis di negara asalnya — mestinya menjadi langkah awal untuk menegosiasi pemaknaan logosentris mengenai kesalehan perempuan.
Agar tidak terjebak dalam logosentrisme, kita perlu melakukan dekonstruksi terhadap cara berpikir dikotomistik melalui praktik inversi (inversion) atau membalikkan hierarki biner (Derrida dalam Edkins, 2009: 141). Dalam perbincangan seputar jilbab, inversi dilakukan dengan memposisikan perempuan berkerudung ‘tidak normal’ lebih superior daripada perempuan berkerudung ‘normal’. Artinya, perempuan berturban dengan leher terbuka seperti Gita bisa jadi lebih baik daripada perempuan berkerudung tertutup. Namun, melakukan inversi saja tidak cukup karena hanya mereproduksi pola pikir biner-hierarkis dengan perubahan posisi. Melakukan dekonstruksi harus diikuti dengan langkah keduanya, displacement, dengan tidak menempatkan dua hal yang beroposisi sebagai entitas terpisah. Dalam contoh Derrida terkait menulis dan berbicara, ia berpendapat bahwa keduanya sama-sama sistem untuk merekam dan memproduksi makna yang tidak dapat dipisahkan (Derrida dalam Edkins, 2009: 141). Sementara itu, dalam konteks perbincangan seputar jilbab, baik kerudung ‘normal’ yang tertutup maupun kerudung ‘tidak normal’ seperti turban sama-sama merupakan ragam cara perempuan muslim menutup kepala, dan ragam tersebut tidak menentukan kesalehan mereka.
Mendekonstruksi pemaknaan jilbab yang esensialis dan kaitannya dengan kesalehan penting untuk dilakukan guna melawan penghakiman dan diskriminasi terhadap cara berpakaian perempuan. Sebagaimana Derrida menawarkan konsep differance, sudah saatnya kita menerima beragam cara perempuan mengenakan dan memaknai penutup kepala — bahkan perempuan yang memilih tidak mengenakannya. Dalam differance, kebenaran dan makna dalam teks bukanlah tujuan utama, melainkan bersifat plural (tidak tunggal) dan selalu berproses. Konsep differance ini mengkritisi kemapanan asumsi-asumsi dan memandangnya sebagai suatu kemungkinan baru yang lebih mengarah pada pandangan radikal, paradoks, dan mengacu pada absurditas (Ariwidodo, 2013: 340). Itu artinya, melalui kacamata differrance, semua perempuan berhak memaknai penutup kepala yang mereka kenakan, apa pun modelnya. Baik itu jilbab panjang, turban, ataupun model hijab lainnya; penutup kepala bisa dimaknai sebagai bentuk ketakwaan, pilihan kenyamanan, maupun ekspresi diri melalui gaya berpakaian. Semua makna ini bukanlah oposisi yang hierarkis, melainkan perbedaan yang wajar-wajar saja.
DAFTAR PUSTAKA
Ariwidodo, E. 2013. Logosentrisme Jacques Derrida dalam Filsafat Bahasa dimuat dalam KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 21(2).
Edkins, Jenny dan Nick Vaughan-Williams. 2009. Critical Theorists and International Relations. London & New York: Routledge, Taylor & Francis Group.
Siregar, Mangihut. 2019. Kritik terhadap Teori Dekonstruksi Derrida dalam Journal of Urban Sociology Volume 2 №1, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Sudipa, I Nengah, dkk. 2021. Mutiara Kebijaksanaan Para Filsuf Zaman Yunani sampai Post Modern. Denpasar: Swasta Nulis.
메타데이터
- post_id
- d8fa1d0a10ef
- slug
- turban-dan-negosiasi-makna-kesalehan-perempuan-d8fa1d0a10ef
- url
- https://medium.com/@asminurais/turban-dan-negosiasi-makna-kesalehan-perempuan-d8fa1d0a10ef
- canonical_url
- https://medium.com/@asminurais/turban-dan-negosiasi-makna-kesalehan-perempuan-d8fa1d0a10ef
- author_url
- https://medium.com/@asminurais
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 03:35:51