Making Love ๐
Jendral Langit Aditama & Ayazkara Putra Pradipta (@peacheygum tiktok)
Making Love ๐

Jendral Langit Aditama & Ayazkara Putra Pradipta (@peacheygum tiktok)
"Tolong beri saya waktu lagi. Saya janji akan secepatnya melunasi hutang-hutang saya." seorang pria yang sudah berumur tengah berlutut sambil memegang kaki seorang pria yang lebih muda.
Pria yang lebih muda itu sedang duduk di sebuah kursi dengan gaya angkuhnya, menatap datar pria tua itu. Jendral Langit Aditama, putra seorang pengusaha bisnis yang terkenal sangat kaya raya. Ada banyak perintis usaha yang meminjam modalnya dari orang tua Langit. Salah satunya, yang tengah bersimpuh memohon di bawah kaki Langit, Dean Pradipta.
Di samping Dean, istri dan anak semata wayangnya ikut berlutut. Di belakang mereka, ada banyak anak buah Langit yang berdiri tegak mengepung tiga anggota keluarga itu.
Dean meminjam uang dari orang tua Langit untuk membuka sebuah bisnis yang untungnya berkembang pesat dan menghasilkan banyak uang dalam 4 tahun belakangan ini. Namun uang-uang tersebut masih belum cukup untuk membayar hutang dan bunga yang tinggi dari keluarga Langit.
"Kau sudah mengatakan hal yang sama satu tahun yang lalu, tuan. Orang tuaku sudah memberimu keringanan dengan menambah waktu untuk dirimu mencari sisa uang yang dibutuhkan. Sekarang, mereka sudah tidak punya kesabaran lagi. Kau harus melunasi semua hutang dan bungamu hari ini juga. Totalnya 71 Milyar lengkap dengan bunganya."
"Aku mohon, aku sedang berusaha mencari sisa uang yang harus dibayarkan. Beri aku waktu 1 tahun lagi."
Langit berdecak kesal dan menatap tajam 3 orang yang sedang berlutut di hadapannya itu. Tatapannya berfokus pada seorang pria yang lebih muda, yang sedang berlutut dengan tubuh bergetar. Air matanya tak berhenti mengalir. Langit tersenyum miring.
"Baik, aku beri kau waktu tambahan. Tapi dengan satu syarat."
Dean langsung mengangkat kepalanya, "katakan, aku akan mengabulkan syarat itu. Asal kau memberikan aku waktu tambahan."
Tatapan Langit kembali ke arah pria itu, "aku beri kau waktu 2 tahun lagi, tapi berikan anakmu kepadaku sebagai jaminannya."
Tiga orang itu melotot, terutama pria muda yang dimaksud oleh Langit, Ayazkara Pradipta, putra satu-satunya Dean. Dia menggeleng saat ayahnya berbalik untuk menatap dirinya.
"Engga, engga. Papa ga bakal turutin kemauan dia kan? Aku gamau! Pa, jangan..." kini giliran Ayaz yang memohon pada ayahnya. Air matanya mengalir semakin deras, penuh dengan rasa takut.
"Sayang, papa janji, papa bakal segera cari uangnya untuk tebus kamu kembali. Papa mohon bantu papa sekali ini saja ya?" Dean menangkup wajah Ayaz, berusaha untuk meyakinkan anaknya untuk melakukan hal tersebut.
Ayaz terduduk lemas, tak percaya bahwa ayahnya benar-benar menjual dirinya untuk memperpanjang waktu pelunasan hutang. Hatinya terasa remuk melihat tatapan memohon ayahnya itu.
"Pa, aku gamau! Tolong cari cara lain, aku mohon... Aku gamau paaaaa!"
"Hanya itu cara yang bisa kalian lakukan. Pilihannya cuma dua, lunasi hutangmu sekarang atau serahkan anakmu sebagai jaminan untuk mendapatkan perpanjangan waktu. Aku beri kau waktu 10 menit untuk memilih. Atau kau sudah punya jawabannya sekarang?"
Tatapannya terlihat menakutkan. Senyum itu terlihat seperti seorang psikopat yang sedang kelaparan, bersiap untuk menyantap santapannya saat ini juga. Langit tak berhenti menatap Ayaz dengan senyuman menyeramkan itu.
"Aku akan segera mencari uang untuk menebus anakku nanti. Tapi tolong jangan pernah sakiti dia, hanya dia anakku. Urusanmu hanya denganku, jangan jadikan permasalahan ini untuk menyakitinya."
Langit bangkit dari duduknya. Kemudian dia berjongkok di hadapan Dean.
"Tenang saja, tuan. Anakmu akan aman bersamaku, kau tidak perlu khawatir." Langit memegang tangan Dean untuk ikut berdiri bersama dengannya.
"Bawa dia ke mobil sekarang." dua bawahannya yang berbadan kekar langsung melaksanakan perintah itu. Mereka menyeret paksa tubuh Ayaz yang sedang melakukan pemberontakan saat ini.
"Gak, lepasin aku! BAJINGAN SIALAN, LEPASKAN AKU!" Ayaz memberontak sambil berteriak terus menerus, memaki Langit dengan harapan akan dilepaskan oleh pria keji itu.
"Buat dia diam, telingaku sakit."
Seorang bawahan Langit yang lainnya mendekat ke arah Ayaz yang sedang dipegang oleh dua orang sekaligus. Dia membekap Ayaz dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberika obat bius. Tubuh Ayaz perlahan melemah, pandangannya memburam setelah menghirup banyak obat bius. Hal terakhir yang dia ingat sebelum pandangannya menggelap, Langit tengah menatapnya sambil menyunggingkan senyum kemenangannya. Setelah itu, kesadarannya langsung menghilang total.
"Kalian tenang saja, aku tidak akan menyakitinya sedikitpun. Aku jatuh cinta pada anakmu, akan aku jaga dia dengan sepenuh hatiku."
^^
Ayaz terbangun dari tidur lamanya. Dia duduk di atas kursi kayu, tangannya terikat di belakang tubuhnya. Ruangan itu sangat remang, bahkan hampir tak ada cahaya. Di hadapannya, Langit duduk sambil tersenyum menatap dirinya, senyum mengerikan itu lagi.
"Bagaimana tidurmu, cantik? Mimpi indah?"
"Dasar orang gila! Lepaskan aku sekarang juga!!" Ayaz bergerak kasar, berharap dapat melepaskan ikatan di tangannya.
"Tidak sampai ayahmu melunasi semua hutangnya, sayang. Selama itu pula, kau akan melayaniku dan melakukan semua perintahku. Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Sebaliknya, akan aku manjakan dirimu dengan semua uang yang ku punya. Kau hanya perlu terus berada di sisiku, Ayaz."
"Aku benci dirimu, Langit. Sampai kapanpun aku tidak akan sudi berdekatan dengan manusia psikopat seperti dirimu. Matilah kau sana!"
Langit tertawa kencang. Dia berdiri dan berjalan mendekat ke arah Ayaz. Dicengkeramnya kuat rahang Ayaz agar menatap matanya.
"Aku juga mencintamu, Ayaz. Kita akan menjadi pasangan serasi untuk selamanya."
Langit langsung mencium bibir Ayaz dengan brutal. Lumatan itu terasa menuntut, bibirnya melahap habis bibir Ayaz tanpa ampun, tanpa persetujuan. Ayaz memberontak, namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain menikmati ciuman itu.
"Hmph--" Ayaz menggigit kuat bibir Langit untuk menghentikan ciuman itu. Oksigennya hampir habis, napasnya terengah-engah.
"Bibirmu enak, aku suka."
"Manusia gilaaaaa-hmphh!" Langit kembali melahap bibir Ayaz.
Ciuman itu semakin panas. Langit menggigit bibir bawah Ayaz agar memberikan akses untuk lidahnya mengabsen seluruh deretan gigi rapi dari Ayaz. Saliva keduanya bertukaran hingga netes keluar bersamaan dengan lenguhan Ayaz yang terdengar merdu di telinga Langit. Oh ya ampun, Langit sangat menyukai Ayaz.
Bibir Langit beralih mencium leher Ayaz, menyedotnya, dan menggigitnya hingga meninggalkan bekas ungu kehitaman di sana. Dia sedang memberikan banyak tanda kepemilikan di leher Ayaz.
"Mmhhhh, ssshhhh. Langit, stophhh-" Ayaz mendesah pelan, permainan Langit benar-benar mengacaukan dirinya.
"Nikmati permainanku sayang, kita bahkan belum sampai ke intinya." tanpa aba-aba, Langit langsung menggendong tubuh Ayaz tanpa melepaskan ikatan tangan itu. Senyuman miringnya terlihat bersamaan dengan langkahnya yang berjalan menuju kamar pribadinya.
"LEPASKAN AKU!!"
Langit menggendong Ayaz bagaikan koala. Begitu sampai di kamarnya, pria kekar itu duduk di tepi kasur, otomatis membuat Ayaz duduk di pangkuannya.
Langit melepas ikatan yang membelenggu si cantik. Tanpa menunggu lawannya untuk bergerak, Langit dengan paksa merobek kemeja putih yang digunakan oleh Ayaz. Dalam hitungan detik, desahan Ayaz kembali terdengar saat Langit mencumbu dadanya dengan penuh gairah.
"Mmhhhh, hentikan Langithhhh..." Ayaz menutup matanya saat merasakan kenikmatan penuh. Tangannya bergerak untuk meremas rambut Langit.
Langit tak peduli, dia terus mengisap nikmat puting itu bagaikan seorang bayi yang sedang haus. Langit menggigit pelan puting itu.
"Ssshhh jangan digigit, sakit." Ayaz menghentikan sejenak kegiatan Langit. Kedua putingnya terasa perih.
"Ayo kita bermain lebih dalam lagi." Langit langsung membanting tubuh Ayaz ke kasur. Setelah melepaskan kaosnya sendiri, Langit mencium dan melahap habis bibir yang sudah menjadi favoritenya saat ini.
Langit menggigit bibir bawah Ayaz, memaksa pria yang lebih kecil itu untuk membuka mulutnya. Lidah liar itu masuk dan mengabsen seluruh benda yang ada dalam mulut Ayaz. Keduanya saling bertukar saliva hingga membasahi wajah satu sama lain. Ayaz meremas kuat bahu Langit saat pria itu tak memberikannya waktu untuk bernapas.

Ciuman Langit turun ke arah leher mulus Ayaz yang sudah terdapat beberapa tanda darinya, menciptakan kembali tanda-tanda baru untuk meramaikan leher tersebut.
"Langit, tolong berhenti. Aku mohon..." air mata mengalir dari mata sayu itu. Ayaz menggigit bibirnya sendiri yang sudah terluka untuk menahan desahannya. Permainan Langit benar-benar membuatnya gila, menahan kenikmatan sekaligus memperbesar rasa bencinya pada pria kekar itu.
Namun Langit tak menggubrisnya. Hal gila lain yang kini dilakukan olehnya adalah melucuti celana Ayaz dengan paksa, membuat pria kecil itu sudah telanjang sepenuhnya saat ini. Langit menyeringai sambil juga membuka celananya, memperlihatkan penisnya yang sudah menegak, siap untuk memasuki Ayaz kapan saja.
"Teriakan terus namaku, sayang. Keluarkan desahanmu, terdengar merdu di telingaku. I love you, Ayaz."
Langit kembali mencium bibir Ayaz. Satu tangannya bergerak ke bawah, memijat penis Ayaz yang perlahan mulai menegang seiring dengan tempo yang dipercepat oleh Langit.
"Mmmhhhh, ahhhhhhh ngghhhhh shit..." Ayaz memejamkan matanya, menikmati tangan nakal Langit yang mengocok kencang penisnya. Tangan Ayaz menarik tengkuk Langit agar memperdalam ciuman mereka. Saliva sudah mengalir ke luar entah kemana-mana. Kamar itu terlihat kacau.
Langit menyeringai saat merasa penis di tangannya mulai menegang dan penuh. Ayaz akan segera mencapai pelepasannya. Sebuah ide jahil muncul di otaknya. Begitu merasa Ayaz akan mengeluarkan cairan putih tersebut, Langit mulai memelankan temponya.
Ayaz membuka matanya, menatap Langit dengan tatapan tak percaya.
"Lebih cepat, kenapa kau memperlambatnya?" wajahnya frustasi, dia mengerang dan bergerak tak nyaman di bawah Langit.
"Bukankah kau menyuruhku untuk berhenti? Kenapa sekarang menyuruhku untuk melanjutkannya?" Langit melepaskan tangannya dari penis Ayaz, menghentikan total kocokannya yang mana membuat Ayaz semakin menderita di bawahnya. "Ngghhhh Langit, apa yang kau lakukan? Kau sengaja? Mmmhhh ssshhhh fuck!! Langit, lanjutkan!!" Ayaz meracau tak jelas. Dirinya tersiksa. Puncak pelepasannya akan segera tiba, namun Langit mengacaukan segalanya.
"Mohon padaku, Ayaz. Sebut namaku, mohon padaku." Langit beralih ke dada Ayaz, kembali mengisap puting bersih itu dengan penuh napsu.
"Langit mmmhhh, tolong, aku mohon... Lanjutkan, aku tersiksa ahhhhhh."
"Satu kali lagi, sayang. Desahanmu terdengar indah."
"Langithhhh, mmmhhhh shit. Please, lanjutkan. Langit, aku mohon. I beg you, Langit. Do it again. Ahhhh nghhhh..." sial, isapan pada putingnya terasa nikmat. Langit benar-benar pemain handal.
"Of course, darling." Langit kembali membelai lembut penis itu. Dikocoknya cepat hingga membuat Ayaz tersentak dengan kenikmatan penuh.
"Mmhhhh ahhhh, shit mmmhhh fasterr. Lebih cepat Langit! Mmmhhhh nnnngghhh..." Ayaz menarik tengkuk Langit dan mengarahkan bibirnya untuk mencium bibir Langit. Ah kenikmatan berlimpah.
"Lagi, lebih cepat, AHHHH!!" Ayaz langsung melemas saat cairan putih itu keluar, membasahi perut kotak Langit dan dirinya. Dia terkulai lemas.
"Hey, jangan tidur dulu, sayang. Aku masih belum bermain."
Langit mencolek sisa cairan sperma Ayaz dengan dua jarinya. Lalu dia mengarahkan jari itu tepat di lubang anal milik Ayaz, dimasukkannya dua jari itu hingga membuat Ayaz kembali terlonjak nikmat.
"Langit, noooo please..."
Langit tak peduli. Dia memasukkan semakin dalam dua jarinya, tidak, sekarang tiga jarinya. Dia memainkan tiga jari itu di dalam lubang Ayaz, membuat pria di bawahnya kembali mendesah.
โShit, Ayaz! Jangan jepit jariku!โ
"AHHH!" Ayaz mencapai pelepasan keduanya. Kali ini, dia tak terkulai lemas seperti pelepasan pertamanya tadi.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Ayaz menarik tubuh Langit, membuat pria yang lebih besar itu berbaring. Lalu Ayaz duduk di atas perut pria itu.
"Giliranku."
"Sure, baby..." Langit menyeringai saat melihat betapa tajamnya tatapan Ayaz saat ini, penuh dengan dendam.

Ayaz tersenyum. Dia mundur, mensejajarkan mulutnya dengan penis besar Langit yang sudah mulai menegang. Dikecupnya sekali penis itu, membuat Langit mencengkeram kuat sprei yang sudah berantakan.
Ayaz mulai mengulum penis yang semakin membesar. Menggerakkan ke arah asal, dikeluarkan, dimasukkan kembali, membuat Langit menggeram rendah.
"Mmhh, good job Ayaz. Do it faster please..."
"AHH!" Langit mendapatkan pelepasan pertamanya saat Ayaz memperlaju temponya. Ditelan habis sperma Langit yang menyembur penuh dalam mulutnya.
Ayaz kembali naik ke atas tubuh Langit, dia duduk di atas perutnya.
"Kau tahu, Langit? Aku bisa saja membunuhmu saat ini. Aku sedang berada di atasmu, aku bisa langsung menikam jantungmu saat ini juga." Ayaz berbaring di atas tubuh Langit, menyilangkan kedua lengannya untuk dijadikan tumpuan dagunya. Jari telunjuknya bergerak untuk bermain dengan puting Langit.
"Silakan, kau bisa membunuhku saat ini juga jika kau mau. Tapi percaya padaku, 30 menit setelah itu, kedua orang tuamu akan diseret oleh bawahanku menuju ruang eksekusi. Dan tanpa sepengetahuan dan persetujuanmu, mereka akan dibunuh dengan cara yang paling kejam. Mereka akan digantung, lalu dikuliti. Kemudian jasadnya akan dibakar hingga menjadi abu. Atau mungkin diberikan pada anjing untuk dijadikan santapan mereka?"
Ayaz langsung menghentikan kegiatannya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Langit dengan takut.
"Jangan lakukan itu, biarkan mereka hidup."
Langit tersenyum sambil mengelus pipi Ayaz dengan lembut, "kau hanya perlu patuh padaku, Ayaz. Orang tuamu akan aman, kau juga akan aman selama berada di sampingku."
"Mari kita bermain ke intinya sekarang. Aku mau menanam banyak benih dalam dirimu." Langit langsung membanting tubuh Ayaz untuk berbaring. Dilahapnya kembali bibir Ayaz dengan rakus, tak ingin melewatkan sedikitpun bibir favoritenya itu.
Suasana kamar yang sempat mereda sebentar, kembali memanas dalam sekejap. Suara desahan Ayaz memenuhi seluruh sudut kamar Langit. Pria yang lebih kecil itu merasa jika sudut bibirnya sudah perih, sepertinya lecet sebab dilahap dengan nikmat oleh Langit.
"Akh!!" Ayaz berteriak saat merasakan sesuatu besar menerobos masuk dalam lubang analnya. Air matanya mengalir saat merasa perih yang teramat sangat melukai lubangnya itu. Napasnya terengah-engah.
"Maaf, aku akan berhenti sejenak supaya kau bisa beradaptasi dengan situasi ini."
Untuk sejenak, suasan di kamar itu kembali tenang. Hanya ada suara napas Ayaz yang masih memburu, namun dengan perlahan mulai mereda.
"Bisa aku mulai sekarang?" Ayaz hanya mampu mengangguk. Rasa ini terasa aneh.
Langit menurunkan badannya untuk mencium bibir Ayaz, berusaha membantunya untuk mengalihkan rasa sakit di bawah sana. Dengan pelan, Langit mulai menggoyangkan pinggulnya. Desahan Ayaz mulai terdengar.
"Ahhhh mmmhhhh faster... Lebih cepat, Langit."
"Say my name, darling. Lebih kencang." Langit mulai mempercepat tempo saat melihat Ayaz mulai menikmati permainannya. Tangannya tak diam, dia ikut mengocok penis Ayaz bersamaan dengan pinggulnya yang semakin dipercepat.
"Ah ah ahhhh, mmhhhh Langit! Lebih cepat, nggghhhh ah ah ahhhhh!" dia hampir lepas, pelepasannya lebih cepat daripada Langit.
Melihat itu, Langit langsung menutup lubang penis Ayaz, menghalangi pria muda itu untuk mencapai pelepasannya. Ayaz kembali tersiksa sebab pelepasannya dihentikan oleh Langit.
"Lepaskan!! Aku sudah ingin keluar. Langit! NNGGGHHH LEPASKAN!!"
"Bersamaan denganku, sayang." Langit menunduk saat merasa akan mencapai puncaknya juga. Dia menggeram rendah, shit lubang Ayaz begitu nikmat. Pas dengan ukuran penisnya.
"Mmhhhh shit Ayaz, kau begitu nikmat. Ahhhhh..." Langit memejamkan matanya sembari menikmati sensasi menggelitik itu. Dia semakin mempercepat goyangannya saat merasa penis Ayaz semakin penuh. Pria muda itu sudah meracau tak jelas sebab tak bisa mencapai pelepasannya.
"Ah ah ahhh! Langit, cepat! Aku sudah tidak kuat lagi! Mmmhhhhhh..."
Langit semakin mempercepat temponya. Baik dia dan Ayaz, keduanya saling beradu desahan. Kamar itu menjadi ribut. Pendingin ruangan pun tak mampu mendinginkan tubuh keduanya yang sudah basah oleh keringat dan saliva masing-masing.
"AHHHH!!" Keduanya mencapai pelepasannya bersama-sama. Cairan putih kental itu menyembur keluar dan mengotori tubuh mereka berdua. Langit langsung jatuh lemas di samping Ayaz. Suara napas keduanya terdengar kencang, ada kelegaan di dalamnya.
Langit lalu membawa tubuh Ayaz dalam pelukan. Dikecupnya kening itu dengan lembut.
"Terima kasih, Ayaz."
Ayaz hanya mampu mengangguk pelan. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Dia sudah mencapai pelepasannya tiga kali dalam permainan perdana mereka hari ini. Matanya tertutup sebab kantuk yang luar biasa. Dan malam itu, Langit dan Ayaz berisitirahat di kasur itu sambil berpelukan setelah menyelesaikan permainan panas mereka.
๋ฉํ๋ฐ์ดํฐ
- post_id
- d91551551bb2
- slug
- making-love-d91551551bb2
- url
- https://medium.com/@peacheygum/making-love-d91551551bb2
- canonical_url
- https://medium.com/@peacheygum/making-love-d91551551bb2
- author_url
- https://medium.com/@peacheygum
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-26 15:29:17