← Back to list

Preliminary Hearing

Ruang sidang itu tidak pernah benar-benar sunyi, bahkan ketika tidak ada yang berbicara. Ada suara kertas yang bergeser, kursi yang ditarik…

Kemsia · 2026-04-19 17:51 · 0 claps · 5.3 min read
#mingyu #dokyeom #sidang
Open on Medium ↗

Preliminary Hearing

Pre-trial Kasus Dokyeom

Pre-trial Kasus Dokyeom

Ruang sidang itu tidak pernah benar-benar sunyi, bahkan ketika tidak ada yang berbicara. Ada suara kertas yang bergeser, kursi yang ditarik terlalu pelan untuk disebut mengganggu, dan napas orang-orang yang menahan sesuatu yaitu rasa penasaran, keyakinan, atau mungkin sekedar keinginan untuk melihat bagaimana semuanya akan berakhir.

Kim Mingyu berdiri di sisi kanan ruang, map tebal di tangannya terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena isinya, melainkan karena apa yang akan diwakilinya beberapa menit ke depan. Ia tidak langsung membuka halaman apa pun.

Matanya bergerak perlahan, mengamati setiap sudut ruangan, setiap wajah yang hadir — jaksa yang sudah siap dengan susunan argumennya, petugas yang berdiri tegak tanpa ekspresi, dan di seberang sana, Lee Dokyeom yang duduk dengan posisi yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada di tengah tuduhan pembunuhan.

Tidak ada gerakan gelisah, tidak ada usaha untuk menghindari tatapan orang lain. Ia hanya duduk, kedua tangannya terlipat di atas meja, seperti seseorang yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap sesuatu yang bahkan tidak ia pahami sepenuhnya.

Hakim Yoon Jeonghan memasuki ruangan. Ketika ia duduk dan memandang ke depan, tidak ada yang berani bergerak lebih dari yang diperlukan.

“Sidang praperadilan dimulai,” ucapnya dengan suara yang tidak tinggi, namun cukup jelas untuk mengisi seluruh ruangan.

Formalitas berjalan seperti seharusnya — penyebutan nomor perkara, identitas pihak-pihak yang terlibat — hingga akhirnya semua mengarah pada satu hal yang sama yaitu bukti. Jaksa berdiri lebih dulu, suaranya tegas, tidak terburu, seolah ia sudah mengulang kalimat yang sama berkali-kali sebelum akhirnya mengucapkannya di sini.

“Yang Mulia, kami akan menunjukkan bahwa tersangka memiliki keterkaitan langsung dengan kejadian yang diselidiki, bukan hanya melalui keberadaan fisik di sekitar lokasi, tetapi juga melalui bukti digital yang secara substansial mencerminkan detail kejadian.”

Ia memberi jeda sejenak, cukup untuk memastikan setiap kata yang diucapkannya benar-benar didengar.

“Bukti pertama, isi tulisan yang ditemukan pada perangkat tersangka mengandung deskripsi yang identik dengan kondisi tempat kejadian perkara, termasuk detail yang belum pernah dipublikasikan kepada publik.”

Beberapa kepala di antara hadirin bergerak, bukan karena terkejut, melainkan karena konfirmasi atas sesuatu yang sudah mereka duga sejak awal.

Mingyu membuka mapnya perlahan. Halaman pertama tidak ia lihat lama-lama. Ia sudah tahu isinya. Ia hanya menunggu — menunggu bagaimana jaksa akan membangun narasi yang membuat semuanya terdengar tidak terbantahkan.

“Bukti kedua,” lanjut jaksa, “timestamp dari dokumen tersebut menunjukkan bahwa tulisan dibuat sebelum kejadian berlangsung.”

Kata “sebelum” diucapkan dengan penekanan yang nyaris tidak terlihat, tetapi cukup untuk memberi bobot pada kalimat itu.

“Dan bukti ketiga, tersangka diketahui berada di area sekitar lokasi kejadian pada rentang waktu yang relevan.”

Kali ini tidak ada jeda. Tidak diperlukan. Tiga poin itu sudah cukup untuk membentuk sesuatu yang lebih dari sekadar kecurigaan.

Mingyu menutup mapnya kembali, bukan karena tidak ingin membaca, melainkan karena ia tahu bahwa apa yang tertulis di sana tidak akan berubah hanya karena ia melihatnya lebih lama. Yang berubah adalah bagaimana ia akan menyusunnya kembali — bagaimana ia akan mengambil sesuatu yang tampak terlalu rapi dan menunjukkan bahwa justru karena itulah ia patut dipertanyakan.

Ketika gilirannya tiba, Mingyu berdiri tanpa tergesa. Ia tidak langsung berbicara.

Tangannya bergerak pelan membuka map, bukan untuk mencari sesuatu, melainkan untuk memberi dirinya waktu beberapa detik tambahan — cukup untuk memastikan bahwa setiap kata yang keluar nanti tidak terdengar seperti pembelaan kosong.

“Yang Mulia,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang, tidak tinggi, namun cukup jelas untuk menarik perhatian tanpa harus memintanya.

“Pihak penuntut benar dalam satu hal — ada kesamaan antara isi tulisan dan kondisi di tempat kejadian.”

Ia tidak menyangkal. Tidak di awal. Itu bukan caranya bekerja. Ia membiarkan fakta itu berdiri, utuh, tanpa dilawan.

“Namun kesamaan bukanlah bukti keterlibatan.”

Kalimat itu tidak ia tekan. Ia biarkan jatuh dengan tenang, seolah itu sesuatu yang sudah seharusnya dipahami tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.

Ia membalik satu halaman.

“Tulisan yang disebutkan adalah sebuah karya naratif,” lanjutnya.

“Sebuah rekonstruksi imajinatif yang, ya, kebetulan memiliki detail yang mirip.”

Ia berhenti sebentar, matanya terangkat, bertemu dengan pandangan hakim.

“Tapi kemiripan tidak serta-merta mengubahnya menjadi pengakuan.”

Di sisi lain ruangan, jaksa sedikit bergerak, seolah bersiap memotong, namun tidak ada interupsi yang datang. Mingyu melanjutkan, kali ini sedikit lebih maju, jarak antara dirinya dan meja persidangan berkurang beberapa langkah.

“Jika kita menerima bahwa setiap detail dalam tulisan tersebut adalah bukti, maka kita juga harus menerima bahwa seseorang yang menulis tentang kejahatan secara detail otomatis adalah pelakunya.”

Ia tidak tersenyum. Tidak ada nada sarkas. Hanya logika yang disusun pelan, rapi, seperti ia menyusun ulang sesuatu yang sudah terlalu cepat disimpulkan.

Namun ia tahu itu tidak cukup. Tidak untuk kasus seperti ini. Ia tahu apa yang ada di pikir semua orang di ruangan itu — detail yang belum dipublikasikan.

Hal-hal kecil yang seharusnya tidak diketahui. Ia menarik satu lembar dari mapnya, menahannya sejenak sebelum meletakkannya di meja.

“Pihak penuntut menyatakan bahwa terdapat detail yang belum dirilis ke publik,” katanya. “Dan itu benar.”

Kali ini ia tidak menghindar.

“Tapi pertanyaannya bukan hanya bagaimana klien saya mengetahuinya.”

Ia mengangkat sedikit kertas itu, cukup untuk menegaskan keberadaannya.

“Pertanyaannya adalah — apakah itu satu-satunya cara detail tersebut bisa muncul?”

Ruangan tetap diam. Tidak ada yang menjawab, tentu saja, karena itu bukan pertanyaan yang ditujukan untuk dijawab saat ini. Itu adalah celah. Kecil, tapi cukup untuk dimasukkan ke dalam keraguan.

Di kursinya, Dokyeom tidak bergerak. Pandangannya tidak berpindah dari satu titik di depan, seolah semua yang terjadi di sekitarnya hanyalah suara latar yang tidak benar-benar ia proses.

Mingyu sempat melirik ke arahnya, hanya sepersekian detik, cukup untuk memastikan bahwa orang yang ia bela masih berada di tempat yang sama — tenang, diam, dan entah kenapa tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mempertahankan dirinya sendiri.

“Klien saya tidak menyangkal bahwa ia menulis,” lanjut Mingyu, kembali mengarahkan suaranya ke depan.

“Ia tidak mencoba menyembunyikan itu. Namun ia juga tidak mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan.”

Kalimat itu sederhana, tapi ia tahu bobotnya tidak akan terasa tanpa sesuatu yang bisa menahannya tetap berdiri.

Jaksa akhirnya bergerak.

“Yang Mulia, pembelaan mencoba mengaburkan fakta bahwa tersangka memiliki akses langsung ke informasi yang seharusnya tidak diketahui publik.”

Nada suaranya tetap terkontrol, tapi ada ketegasan yang tidak disembunyikan.

“Kami tidak berbicara tentang kesamaan umum. Kami berbicara tentang detail spesifik yang hanya bisa diketahui oleh pelaku atau pihak yang berada di lokasi.”

Mingyu tidak langsung menanggapi. Ia membiarkan kalimat itu menggantung, memberi ruang bagi hakim untuk mempertimbangkannya sebelum ia masuk lagi. Ketika ia berbicara, suaranya tetap sama — tidak berubah, tidak naik.

“Atau oleh seseorang yang memahami pola,” katanya.

Tidak panjang. Tidak berusaha menjelaskan terlalu jauh. Hanya satu kemungkinan lain yang ia lemparkan ke meja.

Hakim Jeonghan menatap keduanya bergantian, jari-jarinya terlipat di atas meja, tidak menunjukkan kecenderungan pada salah satu sisi. Waktu terasa berjalan sedikit lebih lambat saat ia membuka berkas di depannya, membalik beberapa halaman dengan gerakan yang tidak tergesa. Tidak ada yang berbicara.

Semua menunggu. Keputusan pada tahap ini tidak menentukan bersalah atau tidak, tapi cukup untuk menentukan apakah semua ini akan berlanjut — apakah cerita ini akan berhenti di sini, atau justru baru benar-benar dimulai.

Mingyu menahan napasnya tanpa sadar, bukan karena ia berharap sesuatu yang pasti, melainkan karena ia tahu apa pun yang diputuskan tidak akan membuat segalanya menjadi lebih mudah.

“Berdasarkan bukti yang diajukan,” akhirnya hakim berkata, suaranya datar, tidak menunjukkan emosi, “terdapat cukup dasar untuk melanjutkan perkara ini ke persidangan penuh.”

Tidak ada ketukan palu yang keras. Tidak ada dramatisasi. Hanya keputusan yang jatuh dengan sederhana, namun beratnya terasa di seluruh ruangan.

“Sidang praperadilan ditutup.”

Suara kursi kembali terdengar, kali ini lebih jelas, lebih hidup, seolah ruangan itu baru saja dilepaskan dari sesuatu yang menahannya beberapa saat sebelumnya.

Mingyu tidak langsung bergerak. Tangannya masih berada di atas map yang terbuka, matanya tertuju pada halaman yang tidak benar-benar ia lihat.

Ia sudah tahu ini akan terjadi. Bukti yang ada terlalu kuat untuk dihentikan di tahap awal. Tapi mengetahui dan merasakannya adalah dua hal yang berbeda.

Di seberangnya, Dokyeom akhirnya sedikit mengangkat kepalanya, pandangannya beralih ke arah Mingyu, tidak meminta penjelasan, tidak pula menunjukkan kepanikan.

Hanya satu hal yang sama seperti sebelumnya — ketenangan yang tidak bisa dijelaskan. Mingyu menutup map itu perlahan, mengangkatnya, lalu berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa saat melewati meja terdakwa, tidak juga berhenti.


메타데이터
post_id
d943fe8a7bc2
slug
preliminary-hearing-d943fe8a7bc2
url
https://medium.com/@kemsiaboba/preliminary-hearing-d943fe8a7bc2
canonical_url
https://medium.com/@kemsiaboba/preliminary-hearing-d943fe8a7bc2
author_url
https://medium.com/@kemsiaboba
status
ok
fetched_at
2026-07-14 03:32:34