Kesamaan, Tanpa Keanehan.
Banyak sekali keanehan, namun mengapa semua orang nampak biasa saja?
Kesamaan, Tanpa Keanehan.
Disinilah ia berada. Tanpa bekal, tanpa apa-apa, bahkan mungkin tanpa akal. Beranjaklah ia dari tempat lamunanya, sembari mengamati sekitar, pun juga dengan awan yang kian menutupi matahari — pertanda rintik air kan segera datang. Dilihatnya satu kios tanpa corak, tanpa tulisan, tanpa apapun, hanya berdiri tegak dengan atapnya yang tak terlihat rapuh sedikitpun.
Tik…
Tik…
Tik…
Hujan turun. Bergegaslah ia menuju kios yang mencuri perhatiannya. Tak enak berdiri di luar, ia pun masuk dan mencuri pandang pada apapun yang pertama kali dilihatnya. Etalase tanpa tulisan dengan berbagai macam roti di dalamnya, seorang penjaga kios di balik etalase yang terlihat seperti manusia biasa — tidak seperti penjaga kios, secangkir minuman panas yang asapnya masih mengepulkan diri ke arah sebuah buku yang tengah dibaca oleh pria didekatnya, pun sekelompok orang — nampaknya anak SMA — yang saling bercengkerama dengan asik dan serunya.
Photo by daan evers on Unsplash
1 menit.
2 menit.
Tersadarlah ia akan suatu hal.
“Siapa namanya? Aku harus panggil apa?”
Bahkan penjaga kios yang sedari awal berdiri di balik etalase pun tak mengenakan tanda pengenal apapun untuk bisa dipanggilnya. Tak ingin berdiam di depan pintu, ia pun menghampiri sang penjaga kios dan kembali berdiam. Ia tak tahu harus berucap apa. Uang tak ada, bekal tak ada, bahkan akal pun sepertinya mulai menghilang sedikit demi sedikit.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Mendengar suara keluar dari seberang, kesadarannya mulai kembali, meski akalnya tidak — sepertinya.
“Oh… ya… maaf… saya ingin berteduh… di luar hujan… hehe”
“Ah begitu rupanya, silahkan duduk Tuan, tak apa, Tuan bebas memilih tempat duduk yang nyaman. Jika butuh apapun, Tuan boleh memanggil saya, maka akan saya bantu semampu saya”
“Maaf… dengan siapa?”
Hening.
“Dengan siapa saja, pokoknya panggil saja, Tuan.”
Tak ingin ambil pusing, ia mulai menyusuri sudut demi sudut di kios tersebut dengan indera penglihatannya, mencoba mencari titik ternyaman untuk memikirkan apa yang sedang terjadi
Itu dia. Dilihatnya satu sudut dengan satu meja kecil dan satu kursi yang memang didesain untuk satu orang saja. Di dekatnya, menempellah sebuah rak buku yang penuh dengan buku incaran semua orang, tak terkecuali dirinya. Tapi apa boleh buat, rasa penasarannya masih menyelimuti sehingga ia tak punya waktu untuk membaca buku-buku itu.
“Kok gini ya?”
Pikirannya mulai berkelana mencari semua kemungkinan yang mungkin mengenai apa yang baru didengarnya. Apa mungkin si penjaga kios sedang ingin bermain dengannya? Atau penjaga kios sedang mengantuk jadi bingung sendiri? Atau akalnya saja yang sedang hilang? Ia tengokkan kepala ke kanan dan ke kiri, berharap ada seseorang yang bisa ia tanyai.
Tepat. Seorang pemuda duduk di sampingnya. Bergumam sendiri, seolah ingin bercakap tapi tak ada yang diajak bercakap. Bertanyalah ia pada pemuda tersebut.
“Halo, benarkah kamu warga lokal?”
“Ah, iya, benar, saya warga lokal, ada yang bisa saya bantu?”
Dijelaskannya semua keanehan yang ia temui sedari tadi. Panjang lebar cerita pun ia tuturkan tanpa lelah pada pemuda tersebut. Hingga akhirnya, si pemuda menjawab.
“Oh, disini memang seperti itu, Tuan. Semua sama. Tidak ada yang membedakan. Entah bagaimana setiap harinya kulalui disini tanpa identitas untuk dipanggil, tapi memang itu realita kehidupan kami. Semua sama. Mungkin terdengar aneh bagi mereka yang baru mengerti, tapi kami terbiasa dengan ini. Toh, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Saya pun dulu sering mempertanyakan hal ini. Tapi seiring berjalannya waktu, saya terbiasa. Tak ada lagi pertanyaan yang riuh di pikiran saya. Ah, mungkin memang sudah jalannya.”
Tak henti otaknya berputar. Setiap kalimat yang dituturkan si pemuda membuat otaknya berputar semakin kencang. Bingung. Tak tau harus berbuat apa. Tak tau harus bereaksi bagaimana. Tak tau harus bertutur apa. Terima kasih pun diucapkannya. Sembari melangkahkan kakinya keluar dari bangunan tersebut, ia banyak berpamitan pada si pemuda, juga penjaga toko yang semula ditemuinya.
Keluarlah ia dari kios tersebut, tanpa jawaban, tanpa kepastian. Namun satu hal yang ia tangkap, kesamaan dijunjung tinggi di wilayah tersebut. Dan tanpa keanehan, semua orang bertindak seperti biasanya, seperti manusia biasa, tanpa sedikitpun keraguan. Hanya ia yang memutar otak, memutar pikir, tanpa pasti. Dan begitulah, ia pun pergi.
메타데이터
- post_id
- d94a36efff67
- slug
- kesamaan-tanpa-keanehan-d94a36efff67
- url
- https://medium.com/@aeiaden/kesamaan-tanpa-keanehan-d94a36efff67
- canonical_url
- https://medium.com/@aeiaden/kesamaan-tanpa-keanehan-d94a36efff67
- author_url
- https://medium.com/@aeiaden
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 23:03:27