← Back to list

Satu Suro: Malam di Ujung Tubuh Waktu

— kita menuliskan sejarah baru

Zie · 2025-06-26 22:20 · 33 claps · 1.6 min read
#bahasa-indonesia #suro
Open on Medium ↗

Satu Suro: Malam di Ujung Tubuh Waktu

— kita menuliskan sejarah baru

Photo by Cyberdva on Tumblr

Photo by Cyberdva on Tumblr

TW // CW: sensual themes, metaphorical sexual content, mysticism/spiritual elements, mature audience (18+).

Malam ini adalah malam yang tak tahu malu. Ia menelanjangiku dari segala logika, membaringkanku di pelataran sunyi, dan membisikkan mantra yang basah di liang telinga jiwa. Satu Suro datang bukan sebagai tanggal di kalender, tapi sebagai ciuman paling kelam dari waktu itu sendiri—lirih, licin, dan liar.

Angin tak sekadar berembus. Ia menyusup lewat celah kain dan keyakinan, menyibak batas antara tubuh dan ruh. Lalu aku melihatmu—seperti api yang menyaru dalam dupa, membungkus tubuhmu dalam jubah malam dan mantra. Kau bukan manusia sepenuhnya malam ini. Kau adalah hasrat yang menjelma dalam wujud lelaki: lembut dan keras dalam waktu yang sama, seperti ayat yang diucap setengah iman.

Di hadapanmu, aku bukan perempuan yang tahu malu. Aku adalah altar yang siap dibakar pelan-pelan. Kulitku bukan lagi kulit—ia menjadi lembaran naskah, dan kau membacanya dengan lidah yang paham setiap jeda dan nyeri.

“Satu Suro,” katamu, sambil menggoreskan telapakmu ke punggungku yang basah keringat dan kehendak. “Malam ini semua batas hanyalah mitos.”

Dan aku tak menjawab, karena tubuhku sudah lebih dulu berkata iya.

Langit tak menurunkan hujan, tapi rahim malam telah melahirkan kabut dari antara gerak kita. Ranjang berderit menjadi saksi persekutuan yang tak diajarkan kitab manapun. Ini bukan dosa, bukan pula doa—ini adalah nyawa yang menyatu dalam hitungan desir, desir, dan desir.

Aku mengeja namamu seperti mengeja azimat. Perlahan, penuh gentar, dan tanpa jeda. Di antara bisikan angin yang membawa wangi kemenyan dan keringat, kita menuliskan sejarah baru di atas tubuh satu sama lain. Bukan dengan tinta, tapi dengan luka dan lenguh yang dibungkus gemetar.

Satu Suro adalah malam ketika segala yang tabu menjadi syahdu.

Ketika tubuh bukan lagi milik sendiri, melainkan jembatan menuju ruang gaib bernama “kita”. Ketika cinta bukan perkara janji, tapi tentang bagaimana kau membaca retakan di dadaku dengan jemarimu—dan memperbaikinya tanpa kata, hanya dengan diam yang menari di kulitku.

Dan ketika fajar merangkak dari balik jendela, aku tahu: kita tak akan selamat dari malam ini. Tapi barangkali, tak semua yang indah harus diselamatkan.

Sebagian cukup dinikmati, lalu dikenang—seperti Satu Suro yang hanya datang sekali dalam setahun, tapi tinggal abadi dalam nyawa yang pernah terbakar bersama.


메타데이터
post_id
d9d0a38dbb2c
slug
satu-suro-malam-di-ujung-tubuh-waktu-d9d0a38dbb2c
url
https://medium.com/@dialogizie/satu-suro-malam-di-ujung-tubuh-waktu-d9d0a38dbb2c
canonical_url
https://medium.com/@dialogizie/satu-suro-malam-di-ujung-tubuh-waktu-d9d0a38dbb2c
author_url
https://medium.com/@dialogizie
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16