Thrift Shop Makin Hits di Indonesia, Gaya Hidup Sadar Lingkungan atau Sekadar Ikut-ikutan?
— Deretan pakaian bekas bergelantungan rapi, harga tanda yang tergantung di setiap lembarnya jauh lebih ramah di kantong dibanding toko…
Thrift Shop Makin Hits di Indonesia, Gaya Hidup Sadar Lingkungan atau Sekadar Ikut-ikutan?

— Deretan pakaian bekas bergelantungan rapi, harga tanda yang tergantung di setiap lembarnya jauh lebih ramah di kantong dibanding toko biasa. Itulah gambaran thrift shop, yang kini bukan lagi sekadar toko barang bekas kumuh — melainkan destinasi belanja yang tengah digandrungi jutaan anak muda Indonesia.3**
Dari mal hingga pasar tradisional, dari platform online seperti Shopee dan Tokopedia hingga aplikasi Carousell, thrifting kini hadir di mana-mana. Fenomena ini semakin diperkuat oleh arus konten di media sosial — Instagram, TikTok, dan YouTube — yang memperlihatkan bagaimana seseorang bisa tampil stylish dengan budget minim dari hasil berburu pakaian bekas.
“Tren thrifting bukan sekadar soal harga murah. Ini tentang bagaimana generasi muda memaknai ulang konsumsi dan identitas mereka.”
Namun di balik gemerlapnya tren ini, sebuah pertanyaan mendasar terus mengemuka: apakah anak muda yang berbondong-bondong ke thrift shop benar-benar didorong oleh kesadaran lingkungan, ataukah sekadar mengikuti arus tren yang sedang viral?
Dari Stigma ke Tren
Tidak lama berselang, membeli barang bekas masih dianggap tabu di Indonesia. Stigma “tidak mampu beli baru” melekat kuat pada aktivitas ini. Namun sejak generasi milenial dan Gen Z mulai meredefinisi ulang makna gaya hidup yang bertanggung jawab, budaya thrifting perlahan naik kelas.
Industri fashion sendiri dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Berbagai lembaga internasional memperkirakan sektor ini bertanggung jawab atas sekitar 10 persen emisi karbon global dan 20 persen polusi air bersih dari proses pewarnaan tekstil. Di sinilah thrift shop menawarkan dirinya sebagai solusi: memperpanjang usia pakai pakaian, mengurangi limbah, dan menekan permintaan terhadap produksi baru.
Motivasi yang Beragam
Sejumlah penelitian di Indonesia mengungkap bahwa alasan anak muda thrifting ternyata beragam. Ada yang murni didorong oleh kepedulian ekologis, ada pula yang lebih termotivasi oleh faktor ekonomi dan pencarian identitas sosial. Penelitian di Kota Bandung, misalnya, menemukan bahwa remaja menggunakan pilihan fashion thrift sebagai cara membentuk konsep diri — pakaian bekas bukan sekadar soal harga, tapi soal nilai yang ingin diproyeksikan ke lingkungan sosial.
Kajian serupa terhadap komunitas milenial di Bogor menunjukkan bahwa motivasi utama thrifting masih didominasi penghematan dan pencarian identitas, bukan semata kesadaran ekologis. Artinya, banyak yang thrifting bukan karena benar-benar memahami dampak fast fashion terhadap lingkungan, melainkan karena tren itu sendiri yang sedang naik daun.
Paradoks di Balik Tren
Ada sisi gelap dari meroketnya popularitas thrift shop yang jarang dibicarakan: gentrification. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, masuknya kelas menengah ke atas ke dunia thrifting turut mendongkrak harga pakaian bekas. Akibatnya, kelompok masyarakat yang memang membutuhkan barang bekas karena alasan ekonomi justru semakin tersingkir.
Paradoks ini mengingatkan kita bahwa thrifting tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial-ekonomi yang lebih luas. Tren yang dikemas sebagai gerakan berkelanjutan pun bisa berbalik menjadi eksklusif jika tidak disikapi secara kritis.
Gaya Hidup atau Sekadar Ikut-ikutan?
Perbedaan antara thrifting sebagai gaya hidup sejati dan sekadar ikut-ikutan terletak pada konsistensi. Seorang thrifter sejati tidak hanya sesekali membeli pakaian bekas saat tren sedang merebak, tetapi secara konsisten menerapkan prinsip konsumsi bertanggung jawab — merawat pakaian yang dimiliki, mendonasikan yang sudah tidak terpakai, dan menghindari pembelian impulsif meski harganya murah.
Komunitas thrifters yang solid di berbagai kota terbukti mampu menjadi ruang edukasi yang efektif. Acara clothing swap, forum diskusi, dan pameran thrift bukan hanya ajang belanja, tapi juga tempat belajar dan bertukar pengetahuan tentang gaya hidup berkelanjutan.
Pada akhirnya, thrifting membawa potensi besar sebagai gerakan sosial yang nyata — asalkan tidak berhenti di permukaan estetika dan harga murah semata. Anak muda Indonesia punya kesempatan untuk menjadi pelopor konsumsi yang lebih bertanggung jawab, bukan sekadar pengekor tren yang datang dan pergi.
메타데이터
- post_id
- da0246b87d5c
- slug
- thrift-shop-makin-hits-di-indonesia-gaya-hidup-sadar-lingkungan-atau-sekadar-ikut-ikutan-da0246b87d5c
- url
- https://medium.com/@tishasetia39/thrift-shop-makin-hits-di-indonesia-gaya-hidup-sadar-lingkungan-atau-sekadar-ikut-ikutan-da0246b87d5c
- canonical_url
- https://medium.com/@tishasetia39/thrift-shop-makin-hits-di-indonesia-gaya-hidup-sadar-lingkungan-atau-sekadar-ikut-ikutan-da0246b87d5c
- author_url
- https://medium.com/@tishasetia39
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 19:25:17