Tentang Proposal untuk “Disederhanakan”
Review Novel Berburu Restu
Tentang Proposal untuk “Disederhanakan”
Review Novel Berburu Restu
Sabtu pagi di kala itu, sebelum aku berangkat menuju kondangan salah satu teman dekat, aku menyempatkan mampir ke Poins Square di Lebak Bulus di sekitar jam 8 pagi. Wait, siapa yang ke mal pagi-pagi banget ini?!?! Wkwkwk. Ngga, ngga gitu guys. Sebenarnya aku janji dengan temanku untuk berangkat bersama, kita putuskan titik kumpulnya di area Lebak Bulus. Kebetulan karena ada mal dan temanku belum tiba, aku iseng eksplorasi ke dalamnya yang kebetulan menemukan bazar buku yang sudah buka pagi-pagi sekali.
Di bazar itu, sebenarnya ada buku lain yang aku incar. Namun, karena ingin mendapatkan harga promo dengan minimal beli 3 buku (#JadiKalap), maka aku putuskan cari-cari buku lain yang sekiranya menarik dan akhirnya terambillah sebuah novel berjudul “Berburu Restu”. Novel ini menarik karena novel ini merupakan output dari Mizan Writing Bootcamp, sebuah program seleksi naskah dan pelatihan kepenulisan untuk membantu para penulis baru untuk merintis karir di bidang ini. Novel ini merupakan 10 novel terpilih dari 2.000 ide naskah yang mengikuti seleksi sehingga tentunya ada rasa apresiasi yang tersematkan untuk penulis, Dimas Abi (respect pak).

Novel Berburu Restu karya Dimas Abi dalam Mizan Writing Bootcamp. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Buku ini secara umum membawa tema yang sangat relate dengan Generasi Z (Gen-Z) saat ini, yaitu tentang pernikahan yang sederhana. Sebagaimana aspirasi kebanyakan Gen-Z (walaupun tidak berdasar data, tapi kebanyakan dengar sih gini ya), ceritanya mengisahkan sepasang kekasih yang sudah berpacaran sejak lama dan ingin menuju jenjang serius, yaitu pernikahan, tetapi pernikahannya hanya dilakukan secara sederhana. Mereka ingin melangsungkan pernikahan di KUA saja karena memang sesuai PP No. 19 Tahun 2015 Pasal 5 ayat 1 (gila sampe dicantumin PP nya dong wkwk), pernikahan di KUA itu gratis. Namun, tentunya konsep ini tidak mudah diterima oleh para orang tua yang notabene generasi “lama”. Oleh karena itu, tantangan mereka dalam memperjuangkan aspirasi ini menjadi konflik utama cerita yang akan diceritakan dalam 337 halaman.
Ulasan Cerita
Cerita bermula dari sepasang kekasih bernama Dipa dan Ajeng. Ceritanya, kedua orang ini merupakan lulusan sarjana di bidang kesehatan yang kebetulan sedang melaksanakan program pengabdian masyarakat di Puskesmas di wilayah Kabupaten Bogor. Dipa memiliki karakteristik yang humoris dan baik hati. Ajeng juga memiliki karakter yang sepadan dengan Dipa, walaupun Dipa yang lebih banyak bercanda. Setelah berpacaran selama 3 tahun, akhirnya Dipa memutuskan untuk melamar Ajeng dan menyatakan siap menikah. Namun, Dipa mengajukan permintaan yang tentunya tidak mudah diterima, yaitu ingin menikah sesederhana mungkin, yaitu di KUA saja. Walaupun sempat ragu, Ajeng mendukung keputusan Dipa untuk hal ini.
Mereka tahu jika mimpi semacam ini tidak mudah, apalagi menyangkut hajat yang bisa dibilang sekali seumur hidupnya untuk orang tua melepas anaknya. Oleh karena itu, mereka pun menyusun sebuah rencana untuk meluluhkan hati dan keputusan keluarga Ajeng. Rencananya adalah Dipa harus melakukan pendekatan yang meyakinkan dan merebut hati seluruh keluarga besar Ajeng terhadap keputusan ini sebelum akhirnya Dipa akan bertemu “Raja Terakhir”, yaitu ayah si Ajeng sendiri.
Oh iya, sebagai konteks, alasan Dipa ingin menikah sederhana di KUA karena ia trauma ketika sebelumnya bapak Dipa sendiri kehabisan uang untuk membiayai semester perkuliahan di tengah-tengah kuliah Dipa karena uangnya habis digunakan untuk mengadakan pesta pernikahan kakaknya Dipa, Raras. Ditambah lagi, uang yang digunakan itu pun juga ada hasil utang ke beberapa kenalan sehingga membuat Dipa marah dan kecewa terhadap keputusan bapaknya. “Mengapa sih harus buang-buang uang hanya untuk pesta semalam/seharian? Toh uangnya akan jauh lebih bermanfaat untuk kehidupan setelah menikah nanti”, setidaknya begitu isi hati Dipa.
Pendekatan Dipa terhadap keluarga besar Ajeng dimulai dengan mendekati tiga adik dari ayah Ajeng. Pendekatan pertama dilakukan kepada Tante tertua Ajeng, bernama Tante Citra. Orangnya nyentrik dan membuka usaha angkringan di Jakarta. Singkat cerita, Dipa berusaha merebut hati Tante Citra dengan membantunya merencanakan ekspansi bisnis angkringan tersebut dengan sangat niat, hingga survey harga ke lokasi aslinya. Walaupun ujung-ujungnya Tante Citra bilang tidak butuh karena hanya ingin ngeprank Dipa, akhirnya Tante Citra dapat percaya jika pria ini adalah orang yang sungguh-sungguh dan akhirnya pun menyetujui rencana nikah di KUA mereka.
Pendekatan kedua dilakukan kepada Om Genta, paman Ajeng yang sangat rutin berolahraga, baik lari, gym, maupun bersepeda. Dipa melakukan pendekatan dengan berkedok ingin belajar hidup sehat dan meminta Om Genta untuk melatihnya secara virtual. Om Genta merasa terkesan dengan semangat anak muda yang mau hidup sehat dan mulai sering mengajak Dipa berolahraga bersama. Namun, tidak lama kenal, Om Genta tiba-tiba mengetahui niat tersembunyi Dipa dari Tante Citra yang ternyata hanya untuk mendapatkan restunya. Oleh karena itu, Om Genta membuatkan rencana workout dan rencana asupan harian selama 30 hari untuk menguji keseriusan Dipa. Walaupun berat dan kadang semangat turun, singkat cerita Dipa akhirnya berhasil melalui semua workout plan dengan gizi teratur selama 30 hari tersebut yang akhirnya membuat Om Genta luluh dan memberikan persetujuannya terhadap rencana nikah mereka.
Pendekatan ketiga dilakukan kepada Bulik Ratih, tante Ajeng terakhir yang hartanya tajir melintir. Kebetulan, anak beliau ini akan melangsungkan pernikahan dan membutuhkan bantuan untuk menyiapkan segala teknis, mulai dari konsep, survey lokasi, hingga persiapan teknis lainnya. Walaupun Dipa agak “anti” dengan pernikahan mewah, dengan bujukan Ajeng akhirnya Dipa mau menawarkan diri untuk membantu segala tetek bengek persiapan acaranya hingga hari H selesai. Singkat cerita, Bulik Ratih sangat puas dan senang dengan eksekusi acara dari Dipa yang kemudian membuat bulik menyetujui rencana Dipa untuk menikah di KUA.
Setelah mengumpulkan semua persetujuan keluarga besar, akhirnya Dipa maju ke “raja terakhir”, yaitu Pak Guntur, ayah Ajeng. Perlu diketahui juga, beliau adalah pejabat tinggi di Kementrian Pertahanan sehingga terkenal punya uang, jaringan kolega eksklusif, dan tentu pribadinya memiliki sikap tegas bukan main. Ini menjadi momen yang mendebarkan bagi Dipa tentunya sebagai ujian terakhir apakah aspirasinya bisa direstui atau tidak. Namun, singkat cerita, sayang Pak Guntur menolak rencana tersebut karena dianggap merendahkan martabat beliau sebagai orang dengan kolega yang tidak main-main dan mengusir Dipa yang akhirnya membuat kondisinya cukup down. Klimaks akhir inilah yang membuat suasana sangat mendebarkan karena tokoh utama diterpa badai kepercayaan oleh Ajeng tentunya. Sebab, Ajeng merasa Dipa sudah menyerah dengan hubungannya dan merasa sia-sia setelah apa yang diperjuangkan. Namun, di sisi lain Pak Guntur sebagai sosok ayah juga gelisah jika melihat Ajeng yang kecewa berat dan tidak bahagia. Singkatnya, setelah datang momen para adik Pak Guntur yang memberikan pandangan dukungan untuk Dipa, akhirnya Pak Guntur dan Dipa menemukan kesepakatan.
Mereka akhirnya bersepakat untuk tetap melaksanakan akad di KUA, tetapi kemudian akan diadakan pesta intimate terbatas di villa keluarga untuk keluarga dan orang terdekat saja. Sebuah good ending, yeay ~~.
Kesan dan Value
Value paling menarik yang digambarkan oleh penulis dalam novel ini adalah tentang bagaimana sebuah kemustahilan bisa diperjuangkan lewat jalan panjang, asal ada rencana. Tentunya upaya PDKT dari Dipa ke keluarga besar Ajeng menambah gambaran jika perjuangan atas sebuah rencana itu butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Selain itu, sebenarnya di arc akhir, terselip sebuah pesan tentang pentingnya memahami aspirasi rekan perjuangan kita dalam perjuangan bersama. Konteksnya, di arc akhir dijelaskan jika ternyata keinginan menikah sederhana di KUA adalah semata memang sebagian besar ambisi pribadi Dipa yang hanya disetujui oleh Ajeng karena Ajeng menghargai perjuangan Dipa, bukan karena memang Ajeng sedari awal memiliki pemikiran yang sama. Di sisi lain, hal yang membuat pernikahan mereka direstui karena sadarnya Pak Guntur sebagai seorang ayah bahwa hal terbaik yang bisa diberikan seorang ayah adalah kebahagiaan anaknya, apalagi pilihan anaknya lebih banyak muncul sisi positifnya.
Rekomendasi
Sejujurnya, mengulas sebuah novel sepertinya sebuah genre buku yang jarang aku ulas di Medium, wkwk. Namun, mengulas sebuah buku yang mengandung cerita panjang seperti ini mengingatkanku selalu pada pelajaran Bahasa Indonesia SMP-SMA, tentang teks ulasan atau teks resensi. Walaupun pada akhirnya, ulasan yang aku tulis tidak memperhatikan kaidah teks tersebut, wkwkwk.
Buku ini tentunya cukup direkomendasikan karena ceritanya yang menyenangkan dan positif. Ditambah lagi, buku ini merupakan hasil seleksi sebuah bootcamp kepenulisan yang membuat hasilnya terasa tidak hanya sebagai sebuah cerita fiksi, tetapi cerita implisit tentang perjuangan perintis para insan yang berkarir di dunia sastra. Sejujurnya aku juga ingin membaca 9 seri buku lainnya, semoga ada rezeki ya.
Tapi, bagaimana menurut kalian cerita buku ini? Atau ada yang sama-sama pernah baca juga? 🤔
Tentang Katapudin 👋
Halo, perkenalkan namaku Pudin, alumni Sistem dan Teknologi Informasi di Institut Teknologi Bandung. Aku sangat suka menulis tentang hidup, teknologi, buku, serta hal-hal random lainnya dan mulai menulis di Medium sejak 2022.
Bagiku, menulis sangat membantuku berpikir lebih baik sekaligus menyebarkan pemikiranku kepada banyak orang. Aku suka berdiskusi dan juga punya mimpi besar untuk membuat Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Hubungi aku lebih jauh di Instagram. Mari kita berkoneksi, berdiskusi, dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik!
메타데이터
- post_id
- da0f00ddd282
- slug
- tentang-proposal-untuk-disederhanakan-da0f00ddd282
- url
- https://medium.com/@katapudin/tentang-proposal-untuk-disederhanakan-da0f00ddd282
- canonical_url
- https://medium.com/@katapudin/tentang-proposal-untuk-disederhanakan-da0f00ddd282
- author_url
- https://medium.com/@katapudin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30