← Back to list

Kenapa Kebanyakan Orang Indonesia Tidak Cocok Minum Susu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pernahkah kamu merasa kembung, mual, atau sakit perut setelah minum segelas susu? Kamu tidak sendirian. Ini bukan kelemahan, melainkan…

JeremyParulianSihombing · 2026-03-29 16:53 · 0 claps · 5.8 min read
#lactose-intolerant #nutrition #asia #biology #human-evolution
Open on Medium ↗
Wiki topics: BIO · Biology · General 💪 · Fitness & Wellness

Kenapa Kebanyakan Orang Indonesia Tidak Cocok Minum Susu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pernahkah kamu merasa kembung, mual, atau sakit perut setelah minum segelas susu? Kamu tidak sendirian. Ini bukan kelemahan, melainkan warisan biologis leluhur kita.

Bayangkan skenario ini: kamu baru saja minum segelas susu segar. Dua puluh menit kemudian, perutmu mulai berbicara. Kembung. Mulas. Bahkan mungkin diare. Kamu menyalahkan dirimu sendiri: “mungkin aku alergi” atau “perutku memang sensitif.”

Tapi tunggu dulu. Apa yang kamu alami sangat mungkin bukan alergi, bukan juga semata-mata masalah “perut sensitif.” Ini adalah fenomena biologis yang dialami oleh lebih dari separuh penduduk Indonesia, dan ada penjelasan ilmiah yang sangat menarik di baliknya.

Apa Itu Lactose Intolerance? (Dan Apa Bedanya dengan Alergi Susu?)

Sebelum masuk ke data, kita perlu meluruskan satu kesalahpahaman besar.

Lactose intolerance (intoleransi laktosa) berbeda dengan alergi susu.

  • Alergi susu adalah respons sistem imun terhadap protein susu (kasein atau whey). Ini melibatkan antibodi IgE dan bisa menyebabkan reaksi serius seperti gatal-gatal, sesak napas, bahkan syok anafilaksis.
  • Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan sistem pencernaan untuk mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu dan produk olahannya, akibat kekurangan enzim laktase di usus halus.

Ketika laktosa tidak dicerna dengan baik di usus halus, ia akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri. Proses inilah yang menghasilkan gas, kembung, dan diare. Tidak berbahaya secara akut, tapi jelas tidak nyaman.

Angkanya Mengejutkan: Seberapa Banyak Orang Indonesia yang Terdampak?

Data dari riset ilmiah menunjukkan angka yang cukup tinggi.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition dan dikutip luas oleh Universitas Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi malabsorpsi laktosa pada anak-anak Indonesia meningkat seiring usia: sekitar 21,3% pada anak usia 3–5 tahun, melonjak menjadi 57,8% pada usia 6–11 tahun, dan mencapai 73% pada usia 12–14 tahun (Hegar & Widodo, 2015, Asia Pac J Clin Nutr).

Bahkan pada orang dewasa dan lansia, angkanya tidak kalah tinggi. Sebuah studi cross-sectional yang dilakukan di Poliklinik Geriatri RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada 2019 menemukan bahwa 66% lansia Indonesia mengalami intoleransi laktosa berdasarkan hasil hydrogen breath test (Dewiasty et al., 2021, Clinical Nutrition ESPEN).

Ini bukan anomali. Secara regional, Asia Tenggara memang memiliki tingkat intoleransi laktosa yang sangat tinggi. Beberapa laporan memperkirakan angkanya bisa mencapai 95–98% pada beberapa populasi Asia Timur (Dewiasty et al., 2021).

Mengapa Angkanya Setinggi Itu? Jawabannya Ada di Evolusi dan Gen

Inilah bagian yang paling menarik.

Semua Bayi Bisa Mencerna Susu, tapi Tidak Semua Manusia Dewasa

Hampir semua mamalia di dunia, termasuk manusia, terlahir dengan kemampuan memproduksi enzim laktase. Ini logis secara evolusi: bayi membutuhkan ASI (atau susu induk) sebagai sumber nutrisi utama.

Namun, seiring proses penyapihan, produksi laktase secara alami menurun. Ini adalah kondisi default pada hampir semua mamalia, termasuk manusia purba. Dari perspektif evolusi, tidak ada alasan untuk terus memproduksi enzim laktosa setelah masa menyusui berakhir, karena setelah disapih, tidak ada lagi akses ke susu.

Mutasi Genetik yang Mengubah Segalanya

Yang membuat situasi ini menarik adalah bahwa sekitar 10.000 tahun yang lalu, sebuah mutasi genetik langka muncul pada populasi manusia tertentu. Mutasi ini terjadi bukan pada gen LCT (gen yang mengkode enzim laktase) itu sendiri, melainkan pada wilayah pengatur (enhancer region) di gen MCM6 yang berada di dekatnya.

Mutasi paling umum di Eropa dikenal sebagai varian −13,910 C>T (rs4988235). Mutasi ini “mematikan saklar off” untuk produksi laktase, sehingga orang yang membawa varian ini tetap bisa memproduksi laktase hingga dewasa. Kondisi ini disebut lactase persistence (persistensi laktase) (Enattah et al., 2002, dikutip dalam Gerbault et al., 2011, Phil. Trans. R. Soc. B).

Menurut riset yang dipublikasikan di PLOS Computational Biology, mutasi ini pertama kali muncul dan menyebar luas di populasi Eropa Utara, di mana frekuensi lactase persistence bisa mencapai 89–96% di Kepulauan Britania dan Skandinavia (Itan et al., 2009). Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia? Mutasi ini hampir tidak ada.

Mengapa Mutasi Ini Populer di Eropa, Tapi Tidak di Asia?

Jawabannya: seleksi alam yang dipicu oleh budaya beternak sapi perah.

Sekitar 8.000–10.000 tahun yang lalu, nenek moyang orang Eropa mulai mendomestikasi sapi dan mengonsumsi susu segar secara rutin. Dalam konteks ini, individu yang memiliki mutasi lactase persistence memiliki keunggulan bertahan hidup yang signifikan: mereka bisa mendapatkan kalori dan kalsium ekstra dari susu segar, terutama di musim dingin atau saat panen gagal.

Tekanan seleksi ini sangat kuat, hingga dalam waktu beberapa ribu tahun saja, frekuensi gen tersebut melonjak drastis di populasi Eropa Utara. Ini adalah salah satu contoh terbaik dari ko-evolusi gen dan budaya yang pernah didokumentasikan dalam sejarah manusia (Tishkoff et al., 2007, Nature Genetics).

Sebaliknya, nenek moyang orang Indonesia sebagian besar merupakan masyarakat agraris (bercocok tanam padi, ubi, jagung) dan nelayan yang tidak memiliki tradisi beternak sapi perah secara intensif. Susu sapi bukan bagian dari diet tradisional Nusantara. Karena tidak ada “tekanan seleksi” untuk mempertahankan kemampuan mencerna susu di usia dewasa, mutasi lactase persistence tidak berkembang secara luas di populasi ini.

Dengan kata lain: tubuh orang Indonesia tidak “salah”. Ia hanya tidak berevolusi untuk mencerna susu sapi di usia dewasa, karena memang tidak perlu.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi produk berbasis susu. Berdasarkan studi pada anak SMP di Indonesia (Hegar & Widodo, 2015), gejala yang paling sering dilaporkan adalah:

  • Sakit perut/kram (64,1%)
  • Perut kembung/begah (22,6%)
  • Mual (15,1%)
  • Kentut berlebihan (5,7%)
  • Diare (1,9%)

Gejala umumnya ringan hingga sedang dan mereda dalam 7–15 jam.

Mitos yang Harus Diluruskan

Mitos 1: “Intoleransi laktosa berarti kamu tidak sehat”

Salah. Dari perspektif evolusi, lactase non-persistence adalah kondisi normal dan alami pada mayoritas manusia dewasa di dunia. Yang “tidak biasa” justru adalah orang-orang Eropa Utara yang tetap bisa mencerna susu hingga tua — karena mereka membawa mutasi genetik langka.

Mitos 2: “Kalau intoleransi laktosa, harus benar-benar menghindari semua produk susu”

Tidak selalu. Banyak orang dengan intoleransi laktosa masih bisa mentoleransi sejumlah kecil laktosa tanpa gejala yang berarti. Ambang batas ini bersifat individual.

Mitos 3: “Susu adalah satu-satunya sumber kalsium yang baik”

Tidak benar. Kalsium bisa diperoleh dari banyak sumber lain: tahu, tempe, sayuran hijau seperti brokoli dan bayam, ikan teri, hingga kacang-kacangan. Semua bahan ini sudah lama ada dalam kuliner Indonesia.

Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

Jika kamu mengalami gejala intoleransi laktosa, berikut beberapa strategi yang bisa membantu:

1. Pilih produk susu yang lebih rendah laktosa Keju keras (cheddar, parmesan) dan yogurt mengandung jauh lebih sedikit laktosa dibanding susu segar biasa, karena sebagian laktosanya sudah dipecah selama proses fermentasi atau penuaan.

2. Coba susu lactose-free Susu lactose-free mengandung laktase yang sudah ditambahkan sehingga laktosa sudah dipecah sebelum kamu meminumnya. Rasanya sedikit lebih manis, tapi jauh lebih mudah dicerna.

3. Eksplorasi susu nabati Susu kedelai, susu oat, susu almond, susu beras, dan susu kelapa adalah alternatif yang semakin mudah ditemukan. Beberapa di antaranya bahkan sudah difortifikasi dengan kalsium.

4. Konsumsi dalam porsi kecil, bersamaan dengan makanan lain Mengonsumsi susu bersama makanan padat bisa memperlambat proses pencernaan dan mengurangi gejala.

5. Konsultasikan dengan dokter Jika gejalamu berat atau mengganggu, dokter bisa membantu mendiagnosis secara lebih akurat (termasuk dengan hydrogen breath test) dan memberikan panduan nutrisi yang tepat.

Kesimpulan: Ini Bukan Kelemahan, Ini Warisan Evolusi

Tingginya angka intoleransi laktosa di Indonesia bukan cerminan dari tubuh yang “rusak” atau gaya hidup yang salah. Ini adalah hasil dari perjalanan panjang evolusi manusia, di mana nenek moyang kita tidak memerlukan kemampuan mencerna susu sapi di usia dewasa, karena makanan pokok mereka sudah sangat beragam dan bergizi tanpa susu.

Alih-alih memaksakan diri mengonsumsi susu karena “katanya sehat,” lebih baik kenali tubuhmu sendiri, temukan alternatif yang cocok, dan nikmati kekayaan sumber nutrisi lokal yang sudah terbukti menopang kesehatan leluhur kita selama ribuan tahun.

Karena pada akhirnya, makanan terbaik adalah makanan yang cocok dengan tubuhmu, bukan dengan tubuh orang lain di belahan dunia yang berbeda.

Referensi & Sumber Ilmiah

  1. Hegar, B., & Widodo, A. (2015). Lactose intolerance in Indonesian children. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition, 24(Suppl 1), S31–S40. PubMed
  2. Dewiasty, E., Setiati, S., Agustina, R., & de Groot, L.C.P.G.M. (2021). Prevalence of lactose intolerance and nutrients intake in an older population regarded as lactase non-persistent. Clinical Nutrition ESPEN, 43, 282–288. ScienceDirect
  3. Tan, M.L.N., et al. (2018). An electronic questionnaire survey evaluating the perceived prevalence and practices of lactose intolerance in 1 to 5 year old children in South East Asia. Pediatric Gastroenterology, Hepatology & Nutrition, 21(3), 170–175. PubMed
  4. Tishkoff, S.A., et al. (2007). Convergent adaptation of human lactase persistence in Africa and Europe. Nature Genetics, 39(1), 31–40. PMC
  5. Gerbault, P., et al. (2011). Evolution of lactase persistence: an example of human niche construction. Philosophical Transactions of the Royal Society B, 366(1566), 863–877. PMC
  6. Itan, Y., et al. (2009). The origins of lactase persistence in Europe. PLOS Computational Biology, 5(8), e1000491. PLOS
  7. Bersaglieri, T., et al. (2004). Genetic signatures of strong recent positive selection at the lactase gene. American Journal of Human Genetics, 74(6), 1111–1120.

Artikel ini ditulis berdasarkan sumber-sumber ilmiah yang telah melalui proses peer-review. Informasi di sini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran medis dari tenaga kesehatan profesional.


메타데이터
post_id
da2a9dfc6cbb
slug
kenapa-kebanyakan-orang-indonesia-tidak-cocok-minum-susu-ini-penjelasan-ilmiahnya-da2a9dfc6cbb
url
https://medium.com/@jeremysihombing01/kenapa-kebanyakan-orang-indonesia-tidak-cocok-minum-susu-ini-penjelasan-ilmiahnya-da2a9dfc6cbb
canonical_url
https://medium.com/@jeremysihombing01/kenapa-kebanyakan-orang-indonesia-tidak-cocok-minum-susu-ini-penjelasan-ilmiahnya-da2a9dfc6cbb
author_url
https://medium.com/@jeremysihombing01
status
ok
fetched_at
2026-07-13 07:42:24