Mabuk Perjalanan: Antara Tali Pisang, “Masuk Angin”, dan Otak yang Kebingungan
Di Flores, tempat saya tinggal, banyak orang bukan takut jarak, tapi takut perjalanan. Bukan takut gunung dan lembah, tapi takut mual dan…
Mabuk Perjalanan: Antara Tali Pisang, “Masuk Angin”, dan Otak yang Kebingungan
Photo by Matt Foxx on Unsplash
Di Flores, tempat saya tinggal, banyak orang bukan takut jarak, tapi takut perjalanan. Bukan takut gunung dan lembah, tapi takut mual dan muntah di dalam mobil. Sebelum berangkat, yang dibayangkan bukan keindahan tujuan, melainkan siksaan mabuk perjalanan yang sudah pernah dialami: kepala pening, perut melilit, keringat dingin, dan rasa malu karena muntah di depan orang lain.
Karena ketakutan itu, lahirlah begitu banyak cara untuk “mengalahkan” mabuk perjalanan. Sebagian berdasarkan ilmu kedokteran, sebagian lagi lahir dari tradisi, keyakinan, dan kreativitas masyarakat.
Di klinik, saya sering mendengar cerita-cerita yang, terus terang, antara membuat tersenyum dan mengajak merenung. Ada pasien yang berbagi trik: sebelum naik bus, ia melilit perutnya dengan tali pisang; pelepah pisang yang sudah dikupas. Katanya, ini bisa “menahan” isi perut agar tidak naik.
Yang lain mengoleskan kapur sirih di sekitar umbilikus; udel, sambil berdoa semoga perjalanan lancar. Ada yang memasukkan beberapa kerikil ke kantong celananya dan butir-butir jagung ke kantong baju. “Supaya berat di bawah, Dok, jadi tidak pusing di atas,” begitu kira-kira penjelasan filosofisnya.
Ada juga yang selalu membawa kulit jeruk untuk dicium sepanjang perjalanan; bila mual datang, kulit jeruk diremas-remas, dihirup dalam-dalam. Kalau bukan kulit jeruk, ya minyak angin dari berbagai merek. Bau mint, kayu putih, dan rempah bercampur di udara. Di kendaraan umum, mobil travel misalnya, sering kali satu orang yang mabuk perjalanan menyemprotkan atau mengoleskan minyak angin begitu banyak, sehingga satu bus ikut “mabuk” oleh bau menyengat yang menempel di baju hingga sampai tujuan.
Di balik semua itu, ada satu keyakinan yang sangat kuat: mabuk perjalanan = masuk angin atau penyakit lambung kronis. Maka yang dicari adalah cara “mengeluarkan angin” atau menenangkan lambung: kerokan, jamu, obat maag, minyak angin, dan berbagai ritual lainnya.
Padahal, secara medis, cerita mabuk perjalanan justru dimulai bukan dari lambung, tetapi dari otak dan telinga dalam.
Secara sederhana, mabuk perjalanan (motion sickness) terjadi ketika otak menerima informasi yang saling bertentangan dari tiga sistem utama:
- Telinga dalam (sistem vestibular) yang mengatur keseimbangan dan merasakan gerakan.
- Mata yang melihat apakah lingkungan di sekitar kita bergerak atau diam.
- Proprioseptif: reseptor di otot dan sendi yang memberi tahu posisi tubuh.
Bayangkan naik mobil travel di Flores. Jalanan berliku-liku, naik-turun gunung dan lembah. Telinga dalam kita memberi laporan, “Kita bergerak cepat, berbelok, naik, turun.” Tetapi mata kita, terutama kalau kita duduk di kursi tengah atau belakang, pandangan kedepan terhalang kursi penumpang atau bahkan fokus pada HP atau buku, justru berkata, “Di depan saya hanya ada benda diam. Dinding mobil juga terasa diam.”
Informasi yang saling bertentangan ini membuat otak kebingungan. Secara evolusi, tubuh kita merespons kebingungan semacam ini seolah-olah sedang mengalami keracunan. Akhirnya, pusat muntah di batang otak diaktifkan. Mual, keringat dingin, pusing, dan muntah pun muncul. Bukan karena lambung “sakit kronis”, melainkan karena otak menerima sinyal yang tidak sinkron.
Di Flores, cerita ini diperburuk oleh topografi. Jalan-jalan antarkabupaten dibangun memeluk kontur gunung. Konon, menurut cerita orang tua, dulu jalan-jalan ini sengaja dibuat berkelok-kelok agar penjajah Belanda sulit menjangkau kampung-kampung di pegunungan. Entah seberapa tepat kisah sejarahnya, yang jelas sampai hari ini, tikungan-tikungan itu membuat mobil naik-turun dan meliuk terus-menerus.
Tak heran, hampir semua bus travel menyelipkan plastik kresek di setiap kursi penumpang. Ada yang diselipkan di depan, kanan kiri sandaran, di belakang kursi, bahkan langsung diberikan ke penumpang begitu mereka naik. Plastik-plastik itu seperti pengakuan diam-diam: “Di rute ini, mabuk perjalanan adalah hal yang biasa.”
Anak-anak Lebih Rentan
Dari pengalaman praktik di klinik, saya perhatikan satu hal menarik: anak-anak jauh lebih sering mabuk dibanding orang dewasa. Sering kali orang tua datang sambil mengeluh, “Dok, setiap naik mobil, anak saya pasti muntah. Mungkin sakit maag ya, Dok?”
Padahal, pada anak, ada beberapa hal yang perlu diingat:
- Sistem keseimbangan mereka lebih sensitif.
- Mereka belum bisa menjelaskan rasa tidak nyaman sejak dini; yang tampak hanya rewel, menguap, pucat, lalu mendadak muntah.
- Pada sebagian anak, saya menemukan riwayat otitis media berulang : infeksi telinga tengah yang sering kambuh. Infeksi berulang ini lama-lama bisa mengganggu fungsi telinga dalam (termasuk sistem vestibular), sehingga anak lebih rentan mabuk perjalanan.
Jadi, ketika ada anak yang setiap perjalanan darat selalu muntah, sebaiknya jangan buru-buru menyimpulkan “maag kronis” atau “memang dari kecil lambung lemah.” Kadang, masalahnya justru di telinga, bukan di lambung.
Selain faktor fisik, ada satu hal lagi yang tidak kalah penting: psikologis.
Banyak orang datang ke klinik dan bercerita bahwa mereka takut bepergian. Bukan karena takut kecelakaan, tapi takut mengulang pengalaman mabuk berat di dalam mobil: muntah berkali-kali, lemas, dipandangi penumpang lain, atau bahkan diejek. Pengalaman buruk itu menempel di ingatan.
Kali berikutnya, bahkan sebelum naik kendaraan, tubuh sudah bereaksi: jantung berdebar, telapak tangan dingin, perut melilit. Mual sudah muncul bahkan sebelum mobil travel datang. Kecemasan memperkuat gejala fisik, lalu gejala fisik menguatkan kecemasan. Lingkaran setan pun terbentuk.
Di titik ini, yang dibutuhkan bukan hanya obat, tetapi empati. Komentar seperti, “Ah, jangan manja,” atau “Masa orang dewasa saja mabuk?” hanya membuat orang semakin malu dan cemas. Padahal, mabuk perjalanan adalah kondisi yang nyata, punya dasar biologis yang jelas, dan tidak ada hubungannya dengan kuat-lemahnya mental seseorang.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan secara praktis?
Beberapa langkah sederhana, yang kadang justru lebih efektif daripada ritual rumit:
- Pilih posisi duduk yang lebih stabil
- Di mobil atau bus, usahakan duduk di depan atau dekat jendela, menghadap arah gerak kendaraan.
- Hindari duduk membelakangi arah jalan.
- Arahkan pandangan ke luar
- Lihat jauh ke depan, ke jalan dan horizon, bukan terus menunduk ke HP atau buku.
- Kalau mulai mual, hentikan aktivitas membaca atau bermain gawai.
- Atur pola makan sebelum berangkat
- Jangan berangkat dengan perut kosong, tapi juga jangan terlalu kenyang.
- Pilih makanan ringan dan mudah dicerna.
- Jaga udara di dalam kendaraan
- Jika memungkinkan, buka jendela sebentar untuk sirkulasi udara.
- Hindari bau menyengat: parfum kuat, asap rokok, minyak angin berlebihan.
- Istirahat bila perjalanan panjang
- Berhenti sejenak, turun sebentar, tarik napas dalam, lakukan peregangan ringan.
- Kadang lima menit berdiri di tanah yang tidak bergerak jauh lebih efektif daripada segala macam jampi.
Bagaimana dengan obat?
Obat antimabuk perjalanan memang ada dan bisa sangat membantu, terutama untuk orang yang sudah tahu dirinya sangat mudah mabuk. Namun, perlu diingat:
- Obat ini paling baik diminum sebelum perjalanan dimulai, bukan setelah muntah berkali-kali.
- Sebagian besar obat antimabuk bisa menyebabkan kantuk. Artinya, tidak boleh diminum oleh sopir atau orang yang harus tetap waspada.
- Pada anak-anak, ibu hamil, atau orang dengan penyakit tertentu, pemakaian obat harus sangat hati-hati dan sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan dokter, bukan sekadar “coba-coba obat warung”.
Ada juga momen ketika kita perlu berhenti menganggap mabuk perjalanan sebagai hal sepele dan mulai curiga ada masalah lain. Misalnya:
- Muntah sangat hebat sampai tanda-tanda dehidrasi muncul: lemas, jarang buang air kecil, mulut kering.
- Disertai gejala lain: sakit kepala hebat, leher kaku, demam tinggi, nyeri perut kuat, sesak.
- Setelah perjalanan selesai, pusing atau gangguan keseimbangan tidak kunjung hilang.
- Riwayat telinga sering sakit, keluar cairan, atau pendengaran berkurang.
Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya jangan menganggap semua sebagai “mabuk biasa”. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lain yang lebih serius.
Di Flores, mabuk perjalanan adalah bagian dari cerita sehari-hari: dari jalur Ruteng–Labuan Bajo, dari tikungan menuju daerah pantai, dari mobil-mobil travel dengan plastik kresek yang siap pakai. Kita bisa memilih dua sikap: menganggapnya sekadar bahan lelucon dan takhayul, atau menjadikannya pintu masuk untuk mengerti tubuh kita lebih dalam.
Saya tidak ingin merendahkan tali pisang, kerikil di saku, atau kulit jeruk di tangan. Di balik semua itu ada usaha manusia untuk bertahan, mengatasi rasa takut dengan cara yang ia pahami. Namun, sebagai dokter dan bagian dari masyarakat, saya punya tanggung jawab menambahkan lapisan baru: pengetahuan yang benar.
Bahwa mabuk perjalanan bukan tanda “lemah”, bukan sekadar “masuk angin”, dan bukan melulu salah lambung. Ini adalah cerita tentang otak, telinga, mata, kecemasan, dan tentu saja, jalanan berkelok yang diwariskan sejarah.
Dengan memahami itu, semoga perjalanan-perjalanan kita; dari kampung ke kota, dari gunung ke laut, bisa menjadi sedikit lebih ringan. Bukan karena tali pisang semata, tetapi karena kita menggabungkan kearifan lokal dengan ilmu yang pelan-pelan kita pahami bersama. Semoga…
Ruteng, 1 Desember 2025.
메타데이터
- post_id
- da3326ea168c
- slug
- mabuk-perjalanan-antara-tali-pisang-masuk-angin-dan-otak-yang-kebingungan-da3326ea168c
- url
- https://medium.com/@ronald.susilo950/mabuk-perjalanan-antara-tali-pisang-masuk-angin-dan-otak-yang-kebingungan-da3326ea168c
- canonical_url
- https://medium.com/@ronald.susilo950/mabuk-perjalanan-antara-tali-pisang-masuk-angin-dan-otak-yang-kebingungan-da3326ea168c
- author_url
- https://medium.com/@ronald.susilo950
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 01:25:31