Mencekik sebuah pilu yang tak akan bertumpah.
Banyak orang bilang, memasuki usia dua puluh adalah masa yang paling dinanti.

Kim Doyoung (Treasure)
Mencekik sebuah pilu yang tak akan bertumpah.
[embed]
Banyak orang bilang, usia dua puluh adalah fase yang paling menyenangkan. Masa ketika hidup terasa penuh kemungkinan. Seseorang bisa mencoba banyak hal, mengejar mimpi, jatuh, lalu bangkit lagi tanpa takut gagal.
Katanya, di umur ini orang mulai membangun hidupnya sendiri. Mengenal banyak orang, menentukan arah, belajar tentang cinta, pekerjaan, dan pilihan-pilihan yang perlahan menjadi semakin rumit. Semua terdengar ringan. Bebas. Seolah dunia memberi ruang yang luas untuk bernapas.
Dean pernah mempercayai semua itu. Setidaknya dulu, ketika usianya masih belum genap dua puluh.
Namun, setelah ia melewati dua puluh tiga. Dean sadar tidak ada yang pernah menceritakan bagian paling melelahkannya. Tentang bagaimana semuanya datang bersamaan — pekerjaan, hubungan, keluarga, dan ekspektasi yang terus bertambah. Hidup berjalan tanpa jeda. Terus bergerak, seolah tidak memberi kesempatan bahkan untuk sekadar berhenti dan menarik napas.
Dean sendiri tak tahu sejak kapan semuanya berubah menjadi perjalanan panjang yang melelahkan. Mungkin sejak ia lulus kuliah dan langsung bekerja. Atau mungkin sejak ia memahami bahwa menjadi dewasa bukan soal kebebasan, melainkan tentang menahan — lelah, kecewa, dan diri — agar tetap terlihat baik-baik saja.
Malam itu, Jakarta Selatan masih berdenyut seperti biasa. Dean duduk sendiri di depan layar komputernya. Jam digital di sudut monitor menunjukkan pukul 22.00. Sebagian besar lampu kantor sudah dimatikan. Meja-meja kosong, kursi dirapatkan, dan monitor lain padam tanpa sisa cahaya. Hanya mejanya yang masih menyala.
File desain campaign untuk merek pakaian lokal itu belum juga selesai. Kursor di sudut layar berkedip pelan. Dean menatapnya beberapa detik sebelum kembali menggeser elemen desain di layar. Warna diganti. Layout dipindah. Font diubah berkali-kali, tetapi hasilnya tetap terasa belum tepat.
Lalu, notifikasi email masuk.
“Masih kurang fresh. Bisa dibikin lebih eye-catching?”
Dean terkekeh pelan tanpa humor. “Fresh apalagi, anjir,” gumamnya lirih.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi. Punggungnya kaku, matanya perih setelah seharian menatap layar. Namun, tangannya tetap bergerak di atas mouse, seolah tubuhnya sudah terlalu terbiasa dipaksa lanjut bekerja.
Sejak lulus kuliah, Dean bekerja di sebuah agensi periklanan. Awalnya ia pikir pekerjaan ini akan jadi tempat yang tepat untuk berkembang. Nyatanya, semakin lama ia justru lebih sering merasa seperti tempat sampah revisi.
“Dean aja yang handle, dia paling ngerti desain.”
Kalimat itu terlalu sering ia dengar. Bahkan untuk pekerjaan yang bukan bagiannya sendiri. Awalnya ia bangga dianggap bisa diandalkan. Lama-kelamaan melelahkan juga ternyata jadi orang yang selalu di cari saat semuanya kewalahan.
Dean kembali fokus ke layar. Di pojok kanan monitor, angka jam berubah menjadi 23.27. Kantor semakin sunyi. Pendingin ruangan terdengar mendengung pelan di tengah ruangan kosong. Akhirnya, setelah memastikan tidak ada elemen yang berantakan, ia mengembuskan napas panjang dan menekan tombol send.
“Revisi terbaru terlampir. Mohon dicek kembali. Terima kasih.”
Ramah. Profesional. Sangat berbanding terbalik dengan isi kepalanya yang sejak lima belas menit lalu sibuk membayangkan berbagai cara mengakhiri penderitaan desain itu, termasuk melempar komputernya ke tembok.
Dean mematikan komputer, lalu berdiri sambil meregangkan bahu. Jaket hitam yang tersampir di kursi segera ia kenakan sebelum mematikan lampu ruangan. Gelap langsung memenuhi kantor. Pengapnya justru terasa lebih nyata. Ia berjalan menuju area parkir. Hanya tersisa satu motor di sana — Honda Verza 150 — miliknya sendiri, yang ia beli dari tabungan pertama setelah lulus sebagai sarjana Desain Komunikasi Visual. Dean mengenakan helm, menyalakan mesin, lalu perlahan keluar dari gedung kantor.
Jalanan Jakarta Selatan masih ramai meski malam sudah larut. Klakson bersahutan, deru mesin memenuhi jalan, sementara lampu kota memantul samar di kaca helm Dean. Namun, malam itu ia tidak langsung pulang. Tangannya tetap menggenggam setang motor, tetapi pikirannya terasa menahan untuk kembali terlalu cepat. Rumah yang dulu terasa hangat entah sejak kapan berubah menjadi tempat yang diam-diam membuatnya harus selalu terlihat baik-baik saja.
Padahal orang tuanya tidak pernah benar-benar menuntut apa pun. Ibunya masih rutin mengirim pesan-pesan sederhana.
“Udah makan belum?”
“Lembur lagi, De?”
Pesan-pesan kecil yang seharusnya menenangkan, tetapi justru sering membuat dadanya terasa sesak. Sementara ayahnya, dengan cara bicara yang selalu singkat, kadang bertanya saat mereka makan bersama.
“Kerjanya masih nyaman?”
“Mau cari tempat kerja lain?”
Dean selalu menjawab semuanya baik-baik saja. Selalu terdengar yakin. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan.
Motor Dean melambat saat memasuki Jalan Gunawarman. Lampu neon dari bar, kafe, dan restoran menyala di sepanjang jalan. Musik terdengar samar dari beberapa tempat yang masih ramai dipenuhi pengunjung. Dean sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya membelokkan motor ke depan sebuah lounge bar yang tidak terlalu ramai. Bukan tempat favoritnya, tapi cukup untuk sekadar berhenti sebentar dari hidup yang terasa terlalu berisik.
Ia mematikan mesin, lalu masuk ke dalam. Cahaya lampu kuning redup langsung menyambutnya. Musik jazz mengalun pelan, cukup untuk mengisi ruangan tanpa terasa mengganggu. Beberapa orang duduk sambil mengobrol di sofa table, sebagian lainnya memenuhi bar stool di dekat counter. Dean memilih duduk di ujung bar. Tempat yang menurutnya paling nyaman untuk seseorang yang datang sendirian.
Seorang bartender pria mendekat sambil mengusap gelas dengan kain kecil. “Seperti biasa?” tanyanya.
Dean memang tidak terlalu sering datang, tetapi cukup mudah untuk diingat. Biasanya ia selalu memesan virgin margarita — aman, ringan tanpa alkohol. Namun, malam ini Dean menggeleng pelan. “Radler aja,” ucapnya.
Bartender itu sempat mengangkat alis tipis, lalu mengangguk tanpa banyak komentar. Dean tahu dirinya bukan orang yang tahan alkohol. Namun, malam ini ia tidak sedang mencari rasa aman. Ia hanya ingin pikirannya berhenti bekerja sebentar.
Tak lama kemudian, segelas radler diletakkan di depannya. Cairan kuning keemasan itu memantulkan cahaya redup dari atas bar counter. Dean langsung meneguknya cukup banyak dalam sekali tarik. Rasa lemon dingin bercampur pahit tipis bir tertinggal di lidahnya. Segar, tetapi tetap meninggalkan rasa asing di akhir.
Dean menatap gelasnya beberapa saat sambil tersenyum hambar. Lucu juga, pikirnya. Bagi Dean, hidupnya kurang lebih seperti buah lemon; terasa terlalu asam bagi sebagian orang, meski menyegarkan bagi yang lain. Apa pun yang ia lakukan, rasanya kerap kali dianggap kurang di mata orang lain. Padahal, ia tahu betul dirinya sudah berusaha semampunya.
Ponsel Dean bergetar di atas meja bar. Nama Selena muncul di layar. Dean menatapnya beberapa detik tanpa bergerak. Dadanya langsung terasa berat hanya karena melihat nama itu.
Dua tahun lalu, ia pernah mengira Selena adalah hal baik yang datang di hidupnya. Orang-orang bilang, cinta di usia dua puluh akan terasa menyenangkan. Menemukan seseorang untuk tumbuh bersama, saling mengerti, lalu bertahan menghadapi dunia yang mulai melelahkan. Dean sempat percaya itu. Namun, beberapa bulan terakhir, hubungan mereka terasa seperti lingkaran yang tidak pernah selesai.
Panggilan itu berhenti sendiri. Belum sempat satu menit, notifikasi pesan kembali muncul bertubi-tubi.
“Kamu di mana?”
“Kenapa nggak angkat telepon aku?”
“Susah banget ya buat bales chat?”
“Temen aku bener ternyata. Kamu tuh emang nggak pernah cukup buat ngerti aku.”
Dean menatap layar itu lama sebelum akhirnya membalikkan ponselnya. Ia mengusap wajah kasar, lalu menyandarkan kepala ke kursi. Capek, batinnya. Bukan karena marah. Justru karena terlalu sering menahan semuanya sendiri.
Dean selalu berusaha menjadi orang yang sabar untuk Selena. Saat kekasihnya itu menangis karena keluarga, ia yang setia mendengarkan. Ketika kemarahan Selena meluap tanpa arah, ia pula yang menenangkan. Namun, lambat laun ia mulai menyadari satu hal. Dalam hubungan ini, dirinya lebih sering dijadikan tempat pelampiasan dibanding tempat pulang.
“Kenapa sih kamu nggak pernah ngerti aku?”
Kalimat itu terlalu sering ia dengar. Padahal, Dean sudah mencoba memahami hampir semua hal tentang Selena. Suasana hatinya, kebiasaannya, bahkan detail terkecil yang bisa memicu pertengkaran. Sampai akhirnya ia sendiri lupa, kapan terakhir kali dirinya didengarkan balik.
Dean meneguk minumannya lagi. Rasa pahit tipis tertinggal di lidah. Ia teringat salah satu pertengkaran mereka beberapa minggu lalu.
“Aku cuma nggak nyaman kalau kamu pergi berdua terus sama dia,” ucap Dean, hati-hati. “Aku nggak ngelarang, Sel. Aku cuma — ”
“Cuma apa?” potong Selena cepat. “Teman-teman aku aja bilang cowok yang suka ngatur kayak gini tuh red flag.”
Dean langsung bungkam. Selalu begitu akhirnya. Apa pun yang ia rasakan akan berubah menjadi kesalahannya sendiri. Selena gemar membawa nama teman-temannya di setiap argumen — membandingkan, menyudutkan — seolah hubungan mereka adalah bahan diskusi yang bisa dinilai ramai-ramai.
“Temen cowok aku nggak pernah masalahin beginian.”
“Masa hal kecil aja kamu insecure?”
“Makanya jadi cowok tuh jangan lemah.”
Awalnya Dean melawan. Lama-lama ia memilih mengalah karena lelah menjelaskan dirinya sendiri. Yang paling membuatnya sesak bukan konflik itu sendiri, melainkan bagaimana Selena menceritakan hubungan mereka pada orang lain. Potongan-potongan cerita sepihak yang membuat Dean terlihat cacat. Seolah ia pacar posesif, egois, dan tidak pernah bisa membahagiakannya.
Dean pernah tidak sengaja membaca salah satu chat Selena dengan temannya.
“Aku tuh kadang malu punya cowok kayak Dean.”
“Cowok kok lembek banget. Nggak ada sifat manly-nya sama sekali.”
“Kalau berantem bukannya tegas malah diem terus.”
“Kamu aja heran kan? Kenapa aku masih tahan sama dia.”
Dean masih ingat jelas bagaimana tangannya mendadak sedingin es saat membaca untaian kalimat itu. Ia tidak mengamuk saat itu, tidak juga meminta penjelasan. Ia hanya mematung sambil menatap layar. Aneh rasanya mengetahui bahwa seseorang yang paling dekat, ternyata melihat dirinya serendah itu.
Sejak hari itu, Dean mulai sulit menatap dirinya sendiri dengan cara yang sama. Ia jadi mempertanyakan banyak hal. Apa ia memang seburuk itu? Apa selama ini usahanya memang tidak pernah cukup? Apa karena ia memilih diam, dirinya lantas dianggap lemah dan tak lagi pantas disebut laki-laki? Lucunya, semua kalimat Selena terus tertinggal di kepala Dean, bahkan saat hubungan mereka tenang.
Perlahan, dinamika itu membuat Dean kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri. Namun, ia tetap bertahan. Bukan karena semuanya masih baik-baik saja. Ia hanya terlalu lelah untuk memulai pertengkaran baru dan terlalu bingung untuk melangkah pergi. Bahkan menyuarakan isi hatinya sendiri saja rasanya sulit, apalagi mengakhiri hubungan yang sudah berjalan selama dua tahun.
Dean mengembuskan napas panjang lalu mengangkat gelas kosongnya sedikit ke arah bartender. “Mau tambah lagi?” tanya pria itu singkat. Dean mengangguk kecil.
Tak lama kemudian, gelas kedua datang. Kali ini Dean meminumnya lebih pelan. Ia membiarkan rasa dingin itu turun sedikit demi sedikit, berharap pikirannya ikut tenang. Sayangnya, tidak ada yang berubah. Pikirannya tetap penuh, dadanya tetap sesak, dan saat gelas itu kembali kosong, ia masih belum ingin pulang.
Ia mendorong gelasnya pelan ke depan. “Tambah satu lagi,” ucapnya lirih.
Gelas ketiga kembali diletakkan di depan Dean — dingin, utuh — dengan embun tipis mengalir di permukaannya. Ia menatapnya cukup lama sebelum menyentuh pinggiran kaca tersebut.
“Biasanya kalau udah gelas ketiga, itu bukan soal haus lagi.”
Suara perempuan tiba-tiba terdengar dari samping. Dean menoleh sedikit. Sosok asing itu duduk jeda satu kursi di sebelah kanannya. Rambutnya diikat asal, cardigan berwarna navy melingkupi bahu. Gelas di genggamannya hampir kosong, sementara jemarinya memutar pinggiran wadah itu pelan-pelan. Tatapannya tidak menghakimi. Justru terlalu tenang.
Dean kembali menatap minumannya tanpa menjawab. Perempuan itu benar. Ini memang bukan soal haus.
“Lo sering ke sini ya?” tanyanya lagi, santai.
Dean menggeleng tipis. “Kadang.”
Perempuan itu mengangguk kecil, seolah mengerti sesuatu. “Biasanya orang datang ‘kadang’ kalau lagi capek.”
Dean mengembuskan napas pendek. Tidak menyangkal.
Musik jazz masih mengalun pelan di seluruh ruangan. Dari beberapa meja terdengar tawa kecil dan suara percakapan yang samar sebelum tenggelam lagi oleh musik.
Lawan bicaranya itu menghabiskan sisa minuman, lalu mengangkat tangan kecil ke arah bartender. Tanpa sadar, Dean memperhatikannya sekilas. Dari samping, garis hidungnya terlihat tegas. Lesung pipi tipis muncul saat ia mengucapkan terima kasih pada bartender yang meletakkan wadah kaca baru di depannya.
Ia memutar gelasnya perlahan— lebih seperti sebuah kebiasaan — seolah mencoba mengaduk sesuatu yang tak kasatmata. Ia menoleh ke arah Dean, mengangkat gelasnya sedikit. Sebuah ajakan diam-diam untuk bersulang.
Dean sempat ragu, tetapi akhirnya ikut mengangkat gelas sendiri. Bunyi denting kecil terdengar saat keduanya beradu singkat. Mereka kembali menghadap ke depan, sama-sama meneguk isi wadah di tangan tanpa bicara.
“Lo kelihatan kayak lagi banyak pikiran,” ujar perempuan itu setelah beberapa saat. Dean tersenyum tipis. “Lo juga.”
Ia terkekeh kecil. “Kelihatan ya?”
Dean melirik sekilas. Wajah sosok di sampingnya tampak santai, bahkan cenderung ceria. Namun, sorot matanya tidak bisa berbohong, ada kelelahan yang nyata di sana. “Emang gue separah itu kelihatannya?” tanya Dean balik.
Perempuan itu mengamatinya beberapa detik dari ujung kepala sampai wajah, sebelum mengangkat bahu ringan. “Kelihatan dari cara lo diem.” Tatapannya turun ke tangan Dean yang masih memegang gelas. “Sama dari cara lo megang gelas.”
Dean ikut melihat tangannya sendiri — baru menyadari — jemarinya mencengkram terlalu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Perlahan ia mengendurkan genggamannya.
“Gue juga gitu tadi,” lanjut perempuan itu sambil tersenyum kecil. “Sebelum lo dateng.”
Dean menoleh lagi. Kali ini, rasa penasarannya muncul begitu saja. “Kenapa?” tanyanya.
Sosok itu tertawa pelan, tetapi lebih terdengar seperti embusan napas lelah. “Banyak.” Ia mengangkat bahu kecil. “Kerjaan, orang lain, diri sendiri. Paket lengkap.” Ia mengangkat gelasnya sedikit sambil memicingkan mata ke arah cairan di dalamnya.
“Ini minuman kedelapan gue … atau kesembilan ya?” Ia berhenti sebentar, lalu menggeleng pelan sambil tertawa tipis. “Udah nggak bisa ngitung lagi.”
Dean mengangguk kecil. Entah kenapa, untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang terasa sama lelahnya dengan dirinya.
Ponsel Dean kembali bergetar di atas meja. Ia hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk mengambil. Bahkan untuk membalikkan layar pun rasanya malas.
“Pacar lo?” tanya perempuan itu tiba-tiba.
Dean diam sejenak sebelum mengangguk samar. “Mungkin.”
Lawan bicaranya tersenyum tipis sambil menatap minumannya sendiri. “Kalau masih ‘mungkin’, biasanya antara udah jenuh … atau emang udah nggak mau lagi.”
“Nggak gitu,” balas Dean cepat. Terlalu cepat sampai terdengar seperti refleks.
“Berantem?”
“Nggak.”
Perempuan itu mengangguk kecil. “Berarti capek buat berantem.”
Dean menoleh pelan. Namun, sosok di sampingnya tidak melihat ke arahnya lagi. Tatapannya lurus ke depan, seolah pertanyaannya tadi memang tidak butuh jawaban.
Beberapa detik berlalu sebelum Dean akhirnya bicaranya pelan. “Dia cerita ke orang lain.” Kalimat itu keluar begitu saja. Perempuan itu tidak langsung menanggapi. Ia hanya mengusap bibir gelasnya pelan dengan ibu jari.
“Bukan cuma cerita,” lanjut Dean lirih. “Ngebandingin juga.”
Sosok itu menarik napas pendek. “Yang lebih ngerti?” tanyanya pelan.
Dean tersenyum hambar. “Iya.”
“Yang lebih ada,” lanjutnya. Kali ini Dean tidak menjawab. Rahangnya menegang kecil.
Perempuan itu melirik sekilas ke arahnya. “Capek, ya.” Bukan pertanyaan. Lebih seperti sebuah pernyataan dari seseorang yang sudah memahaminya sejak awal.
Dean mengangguk pelan. Capek. Terlalu capek sampai ia sendiri tidak pernah benar-benar bisa mengucapkannya dengan jujur.
“Gue pernah di posisi itu,” ujar perempuan itu lagi. Dean menoleh. Sosok itu masih menatap lurus ke depan, memainkan gelasnya perlahan.
“Bukan karena dia orang jahat,” lanjutnya tenang. “Tapi karena dia nggak pernah ngerasa cukup sama satu orang.”
Dean terdiam. Ada sesuatu yang terasa mengendap di dadanya. Lega karena dimengerti, tetapi sekaligus perih karena semua kalimat itu terasa terlalu dekat dengan kehidupannya sendiri.
“Dia butuh banyak tempat buat cerita,” sambung perempuan itu. “Dan lo cuma jadi salah satunya.”
Dean menunduk sebentar, menatap minumannya. Salah satunya. Bukan tempat utama. Bukan seseorang yang dipilih untuk dipercaya sepenuhnya. Hanya salah satu tempat singgah saat Selena sedang butuh didengar.
“Iya … mungkin.”
Lawan bicaranya tersenyum kecil. “Mungkin,” ulangnya pelan.
Dean kembali meneguk minumannya. Cairan dingin itu turun perlahan, tetapi kepalanya justru semakin penuh. Semakin lama ia diam, semakin banyak hal yang muncul dan berputar di pikirannya. Tanpa sadar, ia kembali memberi isyarat ke bartender.
Perempuan di sampingnya melirik sekilas, lalu terkekeh kecil. Bukan mengejek, lebih seperti melihat versi lama dirinya sendiri.
“Gue juga dulu gitu,” katanya.
Dean menoleh. Gelas baru di tangannya masih setengah terangkat.
“Ngerasa kalau gue cukup sabar, semuanya bakal balik.”
“Balik nggak?” tanya Dean.
Perempuan itu menggeleng. “Nggak.” Senyumnya muncul lagi. Tipis dan hangat, tetapi menyimpan sesuatu yang rapuh di baliknya. “Yang ada, gue malah makin hilang.”
Dean tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat itu terlalu dekat, seperti mendengar isi kepalanya sendiri keluar dari mulut orang lain.
“Bukan berarti lo harus pergi sekarang,” lanjut perempuan itu. “Hidup juga nggak segampang itu.”
Ia memutar gelasnya perlahan sebelum menoleh ke arah Dean untuk pertama kalinya sejak tadi. “Cuma, jangan sampai lo lupa rasanya jadi diri lo sendiri.”
Musik di dalam bar berganti menjadi slow blues. Temponya lebih lambat, lebih sendu. Waktu berjalan tanpa terasa. Satu per satu pengunjung mulai pulang, meninggalkan ruangan yang semakin lengang.
“Lo kira cuma lo doang yang lagi kayak gini?” tanya perempuan itu tiba-tiba. Kali ini ia menatap Dean langsung. Tatapannya tidak tajam, justru terasa lelah. “Semua orang lagi berusaha bertahan,” lanjutnya pelan. “Cuma bentuknya beda-beda.”
Dean tersenyum tipis. “Hidup emang gitu ya,” gumam sosok di sampingnya itu sambil tertawa kecil. “Nggak usah dibagus-bagusin.”
Beberapa detik mereka saling diam. Namun, anehnya tidak terasa canggung.
“Bullshit?” lanjutnya lagi sambil mengangkat alis kecil. Lalu ia mengangguk pelan, menjawab pertanyaannya sendiri. “Iya. Tapi tetep dijalanin.”
Dean menunduk sebentar menatap minumannya. Entah kenapa, setiap kalimat perempuan itu terasa seperti — cermin — memantulkan sesuatu yang selama ini ia hindari.
“Lo tau yang paling capek apa?” tanyanya lagi. Dean tidak langsung menjawab. “Bukan kerjaan, bukan keluarga.” Ia menoleh. “Nahan semuanya sendirian.”
Kalimat itu membuat Dean tertawa kecil, hambar. “Gue nggak tau harus cerita ke siapa.”
“Iya, nggak usah mulai dari semua orang,” jawabnya lembut. “Mulai dari satu aja.”
Dean menggeleng pelan. “Nggak ada.”
Lawan bicaranya memandang sedikit lebih lama kali ini. Tidak mencoba mengasihani, hanya seperti memahami sesuatu yang tidak perlu dijelaskan lagi. Kesepian yang terlalu lama dipendam biasanya memang mudah terlihat dari mata seseorang.
“Malam ini ada gue,” ucapnya.
Dean terdiam. Tenggorokannya terasa kering saat menelan ludah pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa sedikit lebih longgar. Tidak sepenuhnya lega, tetapi cukup untuk bernapas lebih dalam dari sebelumnya.
Ia tidak menjawab dan sosok itu juga tidak meminta jawaban apa pun. Mereka hanya duduk berdampingan dalam keheningan yang perlahan terasa nyaman. Bartender beberapa kali datang mengisi wadah kaca mereka, lalu pergi lagi tanpa banyak bicara. Sesekali gelas mereka beradu ringan sebelum kembali hening.
Dean tetap tidak banyak bercerita, meski kesempatan terbuka lebar. Sementara perempuan itu hanya duduk di sana memutar minumannya pelan, menemani tanpa berusaha mengorek semuanya. Mungkin memang itu yang mereka butuhkan malam ini. Bukan solusi. Bukan nasihat panjang. Hanya jeda kecil dari hidup yang terlalu ramai.
Ia melirik Dean sekilas sambil tersenyum tipis. Bahkan setelah diberi ruang, laki-laki itu tetap memilih diam. Namun, ia mengerti, tidak semua hal bisa dikeluarkan begitu saja, terlebih jika sejak awal apa yang dirasakan tak pernah didengar oleh siapa pun.
Di usia seperti ini, Dean sadar satu hal. Semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Semesta tidak hanya berputar pada satu orang, pun tidak sedang bersekongkol untuk menjatuhkan satu kehidupan saja. Dunia terlalu luas — terlalu rumit — untuk disederhanakan menjadi soal siapa yang paling malang.
Akhirnya, perempuan itu menghabiskan minumannya. Ia meraih tas kecil di samping kursi, lalu meletakkan beberapa lembar uang di atas meja bar.
Dean menoleh pelan. Ada perasaan samar yang membuatnya sadar bahwa pertemuan ini akan segera berakhir.
“Jangan terlalu keras sama diri lo sendiri,” ucap perempuan itu sambil berdiri. “Udah banyak orang yang ngelakuin itu ke lo.”
Dean mendongak. Sosok itu melangkah mendekat, berdiri tepat di sampingnya. “Lo masih punya diri lo sendiri yang harus di sayang,” lanjutnya pelan.
Tangannya menepuk bahu Dean ringan. Singkat, tetapi cukup untuk meninggalkan sesuatu yang hangat. “Terus jangan pulang naik motor. Pakai taksi atau ojol aja.” Kali ini senyumnya terlihat lebih tulus. Lesung pipi kecil itu kembali muncul sebelum perlahan hilang saat ia berbalik pergi.
Begitu saja. Dean tetap duduk diam sambil memperhatikan punggung perempuan itu menjauh menuju pintu keluar. Ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dadanya, asing tetapi nyata. Perasaan yang membuatnya ingin memanggil, tetapi tidak tahu harus berkata apa.
Hingga akhirnya pintu itu tertutup pelan. Perempuan itu benar-benar pergi. Dean menunduk sebentar sebelum tersadar sesuatu. “Eh … nama?” gumamnya pelan. Ia mendongak lagi ke arah pintu.
Terlambat. Dean bahkan tidak tahu siapa perempuan itu. Tidak tahu pekerjaannya, usianya, atau bagaimana hidupnya di luar malam ini. Namun, anehnya ia merasa mereka pernah berada di jalan yang sama.
Dean tersenyum tipis. Pertemuan singkat itu memang tidak mengubah hidupnya secara ajaib. Besok pekerjaannya masih akan melelahkan. Selena mungkin masih menghubunginya. Sesaknya pun belum tentu hilang. Namun, malam ini untuk pertama kalinya, Dean merasa sedikit dimengerti tanpa harus menjelaskan semuanya.
Mungkin, usia dua puluh memang seperti itu. Penuh kemungkinan, tetapi juga penuh sesak yang jarang diceritakan orang-orang.
Dean tidak menangis. Tidak juga tiba-tiba menjadi lebih kuat. Ia tetap diam, seperti biasa. Bedanya, kali ini diam itu tidak lagi terasa sepenuhnya mencekik. Hidup akan tetap berjalan. Tanpa jeda. Tanpa benar-benar menunggu siapa pun siap. Setelah dua puluh akan ada tiga puluh, empat puluh, lalu fase-fase lain yang mungkin sama melelahkannya.
Dean menarik napas panjang. Sesaknya masih ada, belum benar-benar hilang. Di depannya, sisa minuman terakhir masih hampir penuh. Ia menatap gelas itu beberapa saat sebelum perlahan mendorongnya menjauh. Ia tidak meminumnya lagi. Bukan karena semuanya tiba-tiba membaik, bukan juga karena ia sudah menemukan jawaban. Hanya saja, untuk pertama kalinya, Dean memilih sesuatu yang sedikit berbeda . Meskipun ia tahu, besok hidup belum tentu terasa lebih ringan.
메타데이터
- post_id
- da68271ff44c
- slug
- mencekik-sebuah-pilu-yang-tak-akan-bertumpah-da68271ff44c
- url
- https://medium.com/@biwaarchives/mencekik-sebuah-pilu-yang-tak-akan-bertumpah-da68271ff44c
- canonical_url
- https://medium.com/@biwaarchives/mencekik-sebuah-pilu-yang-tak-akan-bertumpah-da68271ff44c
- author_url
- https://medium.com/@biwaarchives
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 01:06:15