another ending — MawinErr SeaKeen au
another ending — MawinErr SeaKeen au

Mungkin akan seperti ini jadinya kalau Mawin dan Err mendapatkan akhir cerita yang berbeda di kehidupan mereka yang lainnya.
[1 New Message from Seer TK] — Today, everything will make sense.
“Gak ikut main?” Tanya Mawin pada sosok di sebelahnya tanpa menoleh, matanya terpaku mengarah pada pemandangan teman-temannya yang saling dorong bermain air di pinggir kolam.
“Enggak. Di sini aja duduk temenin lo.” Err menjawab singkat.
Sorak riuh memenuhi area terbuka dekat kolam renang hotel sore itu. Baru saja tadi, kegiatan belajar di hari terakhir Math Camp akhirnya selesai. Hari penentuan itu akhirnya sudah sampai di pelupuk mata, siap atau tidak.
Setelah digembleng habis-habisan selama kurang lebih dua minggu, sengaja pihak penyelenggara memberikan waktu kosong kepada peserta untuk membebaskan diri sejenak dari soal-soal bertabur angka dan huruf alfabet yang rumit bukan kepalang.
Mereka sudah berganti pakaian. Beberapa tidak sabaran menceburkan diri ke kolam, bermain air yang telah menghangat terkena terik matahari seharian. Beberapa orang asyik menyantap hidangan yang disajikan. Sebagian juga ada yang memilih duduk-duduk saja menikmati semilir angin, agak jauh dari kolam, tidak mau bajunya terkena basah. Setidaknya, itulah yang Mawin sedang lakukan sekarang, bersama teman sekamarnya, Err.
Yah, meskipun tadinya Err sempat diajak Mhee bergabung main air, tapi Err lebih ingin memanfaatkan waktunya untuk beristirahat di bawah parasol seperti ini saja. Atau semata-mata hanya karena mau menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengan Mawin. Entahlah.
Tidak terlalu banyak percakapan yang terjadi, hanya sedikit pertukaran cerita mengenai pengalaman belajar selama di Math Camp, membahas beberapa soal yang belum bisa Err pecahkan, atau menceritakan kekonyolan peserta lain, terutama Mhee dan Ton. Sampai akhirnya percakapan itu mengarah pada pengakuan diri yang tiba-tiba.
“Err, kenapa lo baik banget sama gue?”
“Hm? Tiba-tiba banget?”
Err jujur saja kebingungan, namun ekspresi Mawin menunjukkan dia sedang serius, jadi Err juga berpikir sepertinya dia harus menjawabnya dengan serius juga.
“Uhm, gue cuma memperlakukan lo seperti lo memperlakukan gue aja, kok. Lagi pula, lo banyak banget bantuin gue, Win. Bantuin gue ngerjain soal lah, kasih latihan sekaligus koreksi jawaban buat gue lah, sering bikinin gue mi tengah malem juga lagi.”
Err menatap ke atas, menghindari tatapan Mawin, seolah sedang mencari sesuatu di antara awan. Di kepalanya, momen kebersamaan mereka selama dua minggu terakhir terputar seperti sebuah rekaman video. Ingatannya kemudian berhenti pada suatu sore di ruang belajar, ketika semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing.
Hari itu, Mawin memberinya latihan soal di papan tulis, soal matematika yang panjang dan berbelit-belit, namun berujung pada jawaban sederhana yang penuh makna.
Jawaban itu terasa seperti dorongan lembut di punggungnya, sesuatu yang selama ini Err butuhkan. Sesuatu yang perlahan mendorongnya untuk melihat dirinya sendiri dengan cara yang berbeda. Lebih utuh, lebih berharga. Tanpa Err sadari, Mawin telah membantunya membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hilang, bahkan hampir tidak pernah ada.
yθu can dθ it!
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya bagaikan sebuah mantra.
“Dan, kalo aja waktu itu lo gak pernah menyadarkan gue untuk lebih percaya sama diri gue sendiri, mungkin keadaan gue, apa lagi ranking gue, akan jauh lebih buruk dari sekarang, Win.” Lanjut Err. Senyuman merekah manis di wajahnya.
“Bukan mau sok tahu ya, Err. Tapi dari awal gue selalu percaya kalau lo pasti bisa, sih. Gue bisa lihat lo punya kemampuan itu.”
“Lo tuh sama kayak si akun tukang ramal itu deh, selalu bilang kalo gue pasti bisa, padahal gue aja gak terlalu yakin.”
“Peramal yang lo ceritain di laundry room kemaren itu?” Tanya Mawin, Err mengangguk. “Yang katanya, lo bisa dapetin beasiswa ini kalau berhasil bikin gue suka sama lo?”
“Iya. Emang aneh sih saran-saran dari dia. Kayak mencurigakan gak, sih, menurut lo?”
“Uhm, tapi, Err… Gimana kalau...”
Mawin menggantung kalimatnya, bibirnya ragu untuk meneruskan. Agaknya Mawin belum siap akan reaksi Err jika mengungkap kebenaran yang selama ini dia sembunyikan. Mawin takut akan kemungkinan terburuknya. Bagaimana jika Err marah? Bagaimana jika Err justru malah jadi membencinya?
Mawin tidak mau Err pergi. Tidak mau kehilangan sosok teman, sekaligus orang yang diam-diam telah mencuri hatinya. Tapi di sisi lain, Mawin juga tidak mau menyimpannya terlalu lama. Dia tidak mau membohongi Err lebih jauh lagi.
“Gimana apanya, Mawin?” Ucap Err mengaburkan lamunan Mawin.
“Gimana kalau gue bilang… Selama ini, orang di balik akun Seer TK, si tukang ramal itu, adalah gue?”
Err memicing, “Maksud lo?”
“Ya… Seperti yang lo dengar barusan, Err. Seer TK itu sebenernya adalah gue. Maaf.”
“T-tunggu, tunggu. Tunggu dulu.” Err mengangkat tangan, mencoba mencerna. “Jadi selama ini, yang nyuruh gue buat stop belajar setelah jam 8, dan makan makanan kesukaan gue sebelum ujian, itu semua lo, Mawin?”
Mawin melipat bibirnya, “Well… Iya. Termasuk yang nyuruh lo nge-dance lagunya Fourth, sama… keramas pakai sampo kucing, itu juga.”
Hening sesaat. Shit. Terlalu spesifik.
“Anjing lo, Mawin. Lo sengaja ngerjain gue, ya?!”
“Bukan gitu, Err.” Mawin cepat-cepat menggeleng, lalu menarik napas dalam, mencoba menata kata. “Dengerin gue dulu.”
Ia menatap Err, serius kali ini.
“Lo tahu kan gimana susahnya gue bersosialisasi di sekolah? Orang-orang pada ngejauhin gue, dan gue juga bukan tipe yang gampang membuka diri ke orang lain. Tapi dengan akun ini, gue bisa berkomunikasi sama orang-orang tanpa beban, Err, tanpa merasa dihakimi. Gue merasa lebih diterima kayak gini.”
Mawin menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Meskipun orang-orang nyebut gue sebagai peramal, sebetulnya gue sama sekali gak bisa ngeramal apa-apa. Gue cuma ngasih mereka saran, ya, hal-hal kecil yang kadang mereka gak sadar kalau itu penting. Termasuk lo, Err.”
“Gue?”
“Lo akhir-akhir ini sering banget cerita tentang keresahan lo tentang beasiswa ini, kan? Lo selalu takut dan ragu. Padahal gue tahu lo itu pintar. Mumpuni banget, dan pantes buat dapetin beasiswa ini. Dari awal gue yakin kalo ujian besok bukan apa-apa buat lo, dan lo pasti bisa dapetinnya.”
Suara Mawin melembut.“And I saw that you’re an overthinker too, makanya gue kasih saran-saran yang kadang agak konyol, supaya lo berhenti mikir terlalu jauh. Supaya lo fokus sama apa yang ada di depan lo, lebih rileks, dan istirahatin diri lo sejenak.”
Mawin bisa merasa hatinya sedikit lebih ringan sekarang, seperti tali tambang besar yang melilit di dadanya dari kemarin hari tiba-tiba lepas sendiri. Matanya menatap Err yang nampak kebingungan, berharap-harap cemas semoga lelaki di hadapannya ini tidak tiba-tiba bangun meninju wajahnya saat ini juga, meskipun rasanya ia cukup pantas mendapatkan itu.
“Mawin, jujur, gue gak tahu harus bereaksi kayak gimana sekarang.”
“I know it’s too much, Err. Gak seharusnya gue lakuin itu. Gue minta maaf kalau lo marah dan benci sama gue. Gue cuma mau jujur sama lo tentang ini. Gue cuma mau bantu lo sebisa gue. Gak pernah gue punya niat untuk ngerjain, apalagi nipu lo sedikit pun.”
Kali ini Err tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia mungkin terkejut dengan apa yang barusan Mawin katakan, tapi anehnya dia tidak sedikitpun merasa marah, ataupun tertipu. Padahal valid-valid saja kalau dia mau mengamuk saat ini. Bagaimana tidak? Selama ini Err selalu menceritakan keresahannya pada Seer TK, tanpa pernah tahu bahwa sosok yang selalu memberikannya saran, juga rasa tenang melalui pesan singkat itu, adalah orang yang selalu berada di sisinya. Orang yang setiap hari menghabiskan waktu bersamanya. Lebih parah — rivalnya sendiri.
“Just to be clear, gue gak marah sama lo, Win. Beberapa saran dari Seer TK emang cukup bikin gue agak tenang, outcome di guenya pun juga bagus. Cuma… gue bingung. Ini tuh, berarti, maksudnya… yang nyuruh gue buat bikin lo suka sama gue supaya gue dapet beasiswa ini, lo juga? Maksudnya apa sih, Win?”
“Kalo itu… Sebenernya bukan kayak gitu sih maksud gue, Err. Gue gak nyangka lo mengartikan saran gue seperti itu. Gue gak bermaksud apa-apa sama lo, sumpah. Dan gue yakin, tanpa ada hubungannya sama gue pun, lo tetap bisa dapetin beasiswa ini, Err.”
Mawin memelankan suaranya, tidak terlalu pelan agar Err bisa mendengarnya. “Dan nyatanya, tanpa lo berusaha bikin gue suka pun, gue udah lebih dulu jatuh cinta sama lo, Err, di luar kendali gue.”
“Mawin… L-lo jangan bercanda, lah.”
“Gue serius, Err. Selama ini gue cuma bisa perhatiin lo dari belakang kelas, dan gue kagum banget. Lo pintar, pekerja keras dan punya ambisi yang kuat. Dan menghabiskan waktu selama kurang lebih dua minggu di sini sebagai room mate lo, sebagai teman belajar lo, teman main lo, dan dengerin semua keresahan lo, entah kenapa gue malah merasa nyaman, Err. Lo bikin gue pengen jadi sosok yang selalu bisa lo andalkan kapanpun. Dan gue mau bisa selalu bantu dan ada di sisi lo, sebagai diri gue sendiri, bukan Seer TK.”
Ucapan Mawin sebetulnya masuk-masuk saja di akal Err. Err juga setuju. Beberapa hari di Math Camp ini sungguh membuka pandangan baru tentang sisi lain Mawin yang sebelumnya tidak pernah Err tahu. Waktu yang mereka habiskan bersama terasa… menyenangkan?
Mawin selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik. Tanpa Err sadari, dia juga telah merasakan hal yang sama.
“Err, gue beneran suka sama lo. Kalo lo sendiri, gimana?”
Seakan tidak cukup sekali, Mawin terus menyerang Err dengan pernyataan mengejutkan bertubi-tubi. Lagi dan lagi. Err sejujurnya cukup kewalahan mengawal perasaannya. Saat ini, otak Err yang terbiasa diasah soal berlevel kesulitan tinggi itu benar-benar sudah tidak dapat memproses apa pun. Seperti ada baut-baut yang lepas, atau kabel-kabel yang korslet. Terlalu banyak untuk ia tangani.
System overheating! Err bisa merasakan wajahnya memanas. Mawin menahan diri untuk cukup memuji betapa lucu dan menggemaskannya wajah Err sekarang dalam hati. Gemas. Gemas sekali.
“W-well, gue juga enjoy, kok, selama beberapa waktu ini bareng lo. Dan, Mawin, gue juga suk–” “WOI, JANGAN DORONG-DORONG DONG!”
Belum juga sempat Err menyelesaikan kalimatnya, lengkingan Mhee yang jauh dari sudut sana memecah fokus mereka berdua. Keduanya sama-sama menoleh terkaget. Mereka menghela napas, hampir bersamaan.
Mawin sepertinya paham apa yang mau disampaikan Err barusan. Dan Mawin juga sepertinya sadar kalau Err tidak terlalu nyaman berada di tempat mereka berdua duduk sekarang. Terlalu ramai. Jadi dia meraih tangan Err dan membawanya ke tempat yang lebih sunyi. Di mana mereka hanya bisa mendengar suara satu sama lain. Anggap saja sedang bermain petak umpet dengan teman-teman lainnya.
Mawin berdiri di depan Err. Mengapit yang lebih kecil di antara tubuhnya dan dinding. Saling beradu tatap, tapi mata Mawin tidak bisa tahan untuk terus-terusan melirik ke arah bibir Err.
“Err, lo sadar kan apa yang kita lakukan sekarang?” Kata Mawin pelan.
Err cuma mengangguk. Tentu Err paham betul ke mana niat Mawin mengarah, terlebih dengan posisi seperti ini. Sangat jelas dan Err juga nampaknya tidak keberatan. Setidaknya, itu sudah cukup jadi jawaban.
Melihat tidak ada tanda penolakan dari Err, Mawin mendekat. Tangannya menahan sisi tubuh Err, perlahan, seolah memberi kesempatan untuk mundur, meski dalam hati ia berharap tidak. Bibir mereka menyatu, saling menyapa.
Jaket yang sedari tadi Mawin sampirkan di pundak kirinya terjatuh. Hampir jatuh, lebih tepatnya. Err, yang merasakan itu meski matanya tertutup, dengan sigap menangkap jaket abu itu sebelum benar-benar menyentuh tanah.
Kata Mama, kalau menjatuhkan barang, nanti bisa sial. Err tidak mau membiarkan kesialan menimpanya, apalagi besok adalah hari ujian.
Di ciuman pertama kali yang sungguh canggung dan ceroboh ini, gigi mereka sempat berbenturan. Agak lumayan sakit. Mawin mencoba lebih membulatkan bibirnya, Err mengikuti saja. Tidak ada pergerakan lain di antara mereka, belah bibir mereka hanya menempel sempurna untuk beberapa saat, seperti sebuah kecupan yang terlalu panjang.
Benarkah begini cara melakukannya? Mereka berdua sebenarnya tidak terlalu yakin juga. Tapi yang jelas, ciuman itu terasa seperti ada sejumlah kupu-kupu mengerubung di dalam rongga perut mereka.
Err memejamkan matanya kuat-kuat, menahan sensasi yang baru kali ini dia rasakan. Digenggamnya jaket Mawin lebih erat, yakin setelah ini pasti akan meninggalkan bekas lecak nantinya.
Err memang suka berada di dekat Mawin, tapi tidak pernah membayangkan akan bisa sampai tanpa jarak seperti ini. Kalau sudah sedekat ini, suara yang kecil pun pasti akan terdengar, kan? Err takutnya Mawin bisa mendengar debaran jantungnya yang berantakan itu. Err terlalu malu, tapi juga tidak mau merusak suasana. Bahkan dia sampai menahan napas saking tegangnya.
Bibir mereka perlahan terpisah.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Mawin pelan.
Menyadari perubahan pada cara Mawin merujuknya, Err geli sendiri dengan salah tingkahnya.
Kamu, katanya. Aneh, Err tidak terbiasa. Tapi… tidak buruk juga.
“Um!” Jawab Err dengan suara yang agak serak. Kepalanya menunduk, melihat keempat ujung-ujung sepatu mereka di bawah, terlalu malu untuk melihat wajah Mawin.
Mawin juga sebetulnya sama salah tingkahnya seperti Err. Dia tidak bisa menahan senyuman di wajahnya. Apalagi melihat Err yang wajahnya merah padam sampai ke telinga, lucu sekali. Ingin rasanya Mawin memeluk erat tubuh Err sekarang juga. Tapi sayangnya tidak sempat.
“Mawin!! Err!! Kalian di mana? Ayo, makan BBQ sini, keburu habis dimakan sama si Ton, nih!” Lagi-lagi lengkingan Mhee bersahutan dengan teman-teman lainnya dari jauh sana menginterupsi waktu mereka berdua.
“Kayaknya temen-temen pada nyariin. Mau balik sekarang?” Ajak Mawin, tangannya mengulur menunggu untuk Err gapai.
“Yuk.” Jawab Err tanpa pikir panjang, menggaet uluran tangan Mawin dalam genggamannya.
Mawin baru selesai membasuh diri ketika menemukan ruang kamarnya kosong. Jam 9 malam, biasanya Err masih duduk di meja belajarnya sambil mengorat-oret lembar kerja yang bertumpuk-tumpuk. Tumben sekali.
Menyadari jendela menuju balkon sedikit terbuka, Mawin menghampiri. Benar saja, Err membawa meja lipat ke luar balkon dan mengerjakan soal latihannya di sana. Repot sekali harus gelap-gelapan begitu.
Mawin duduk bersila, kepalanya menyandar pada daun pintu kaca besar itu, memperhatikan Err yang masih sibuk belajar sampai larut malam begini. Benar-benar serius sampai tidak sadar sedari tadi sedang diawasi Mawin.
"Udah malam, Err. Banyak nyamuk."
"Oh, iya. Rapetin aja jendelanya kalo udah mau tidur."
"Belum, kok."
Suara jangkrik dan goresan pensil Err di kertas soal mengisi kekosongan sesaat. Melihat begitu giatnya Err berlatih soal hingga jam segini, Mawin menyadari betapa Err menginginkan beasiswa ini.
“Kamu sepengen itu ya, study abroad?”
Err berpikir sebentar, “Uhm, sebetulnya gak begitu mikirin di mananya, sih. Kuliah di luar atau di dalam negeri, gue gak masalah. Eh — aku, maksudnya.”
Kekikukan Err yang mengoreksi ucapannya sendiri barusan mengundang tawa Mawin. “Gak apa-apa, aku tahu kamu belum biasa. Senyamannya aja, Err. Hm, terus, udah tau tujuan kampusnya di mana?”
“Mungkin… Boston. Belum pasti juga sih, tapi intinya sekarang gue cuma mau wujudin keinginan mama buat dapetin posisi 1 di kompetisi ini. Walaupun gue gak terlalu yakin sih, tapi karena udah sejauh ini, tentunya gue mau dapat hasil terbaik yang sebanding sama usaha gue juga.”
Mawin mengangguk mengerti, “Kalau misalnya, nih, besok aku ngumpulin kertas kosong, peluang kamu pasti lebih besar karena saingannya berkurang satu.”
“Gak lucu bercanda lo ya, Mawin. Gue gak bakal mau ngomong lagi sama lo, kalo lo berani kayak gitu. Kalau lo serius suka sama gue, buktiin dengan kita bersaing sehat besok.”
Err tentu tidak senang dengan ucapan Mawin barusan. Err tidak terima Mawin menganggap remeh beasiswa yang mati-matian diusahakan oleh dirinya dan teman-teman peserta yang lain.
“Okay, got it. Boleh suka kamu, tapi gak boleh kumpulin kertas kosong besok. I promise, my rival.”
“Good.” Err kembali mengalihkan fokusnya pada soal latihan di depannya.
“Err, ngomong-ngomong, kamu kenapa tiba-tiba belajar di luar? Malu ya karena tadi kita ciuman?”
Err menoleh cepat, agak panik. Bukan apa, tapi balkon kamar mereka posisinya saling menempel dengan kamar lain. Bisa-bisanya Mawin membahas hal itu terang-terangan. Apa jadinya kalau ada teman-teman yang dengar?
Err mendorong Mawin masuk kembali ke dalam kamar, "Lo apa sih ngomong begitu kenceng-kenceng?"
"Loh, tapi kan bener tadi kita emang ciuman." Mawin tersenyum polos, tapi terlihat menjengkelkan bagi Err. "Kenapa? Kamu nih lagi stres karena kebanyakan belajar, jadi hormon kortisolnya tinggi deh pasti. Aku bisa bantu dengan naikin oksitosin kamu. Kamu mau ciuman lagi ga– "
Bugh!!
Err memukul lengan Mawin cukup kencang, "Jangan macem-macem deh, Mawin. Besok ujian. Aku gak bisa tenang kalo gak belajar. Gak semua orang born genius kayak kamu, ya!"
Mawin tak membalas, hanya tertawa kecil, senang dirinya berhasil menggoda Err.
Err kembali ke luar sebentar, mengambil kertas-kertas latihan soal dan seperangkat kotak pensilnya yang dia bawa ke balkon tadi, lalu menatanya rapi di atas meja. Sempat dia mengotak-atik iPad-nya sebentar sebelum dia menaruhnya di stand holder. Tapi Err tidak langsung lanjut mengerjakan soal tadi, dia malah menghampiri Mawin dengan ekspresi yang tidak bisa Mawin artikan.
“Uhum…” Err berdeham. “ Tapi sebentar aja, ya.”
Mawin menatap Err sedikit bingung. Diliriknya ke arah meja. Terpampang tampilan hitungan mundur selama 5 menit pada aplikasi timer Pomodoro di iPad Err. Break time. Mawin langsung tergelak begitu menyadari maksud Err barusan.
"Kamu sadar gak sih, kamu itu lucu banget, Err? Sini, duduk." Kata Mawin sambil menepuk spot kosong di kasur, tepat di sampingnya.
Err mulai mendekat. Kali ini Mawin mencoba melakukannya lebih tenang dibandingkan dengan tadi sore. Dia menyambut bibir Err dengan lembut sekali, mengecupnya panjang seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini Mawin mencoba menggerakkan bibirnya, memberi sesapan kecil dengan pelan dan hati-hati. Memperagakan video tutorial yang sempat dia tonton sembari menunggu Err mandi tadi. Preparation just in case, katanya.
Err yang menyadari ada pergerakan tidak biasa pada bibirnya membuka mata, "Uhm? Kok kayak gitu?"
"Aku udah cari tahu caranya. Gini, coba buka mulut kamu sedikit," kata Mawin pelan. Err cuma menurut.
Sebentar saja, sesuai janji.
Hanya sampai alarm tadi berbunyi sebelum keduanya kembali fokus belajar untuk persiapan ujian besok.
Hari ujian yang sudah lama dipersiapkan itu pun akhirnya terlewati. Err menyelesaikan ujian dalam waktu yang cukup cepat dibandingkan teman-teman yang lain, pun daripada Mawin. Bahkan masih cukup untuk memeriksa kembali lembar jawabannya sebelum waktu habis. Semua soal dijawabnya dengan runtut, lengkap dan sempurna. Begitu pun juga Mawin. Sekarang usaha terakhir yang bisa mereka lakukan adalah berharap supaya namanya keluar di pengumuman nanti.
Kehidupan sekolah Mawin setelah Math Camp sedikit banyak mengalami perubahan. Kini dia lebih banyak berinteraksi dengan teman di kelasnya, sekadar menjadi tutor sebaya yang mengajarkan cara mengerjakan soal matematika yang rumit, soal fisika yang rumit, atau soal kimia yang rumit. Pokoknya apapun yang rumit-rumit. Semua berkat Err yang banyak membantu Mawin untuk memperbaiki skill bersosialisasinya. Tidak jarang Err juga mengajak Mawin untuk bergabung dalam grup belajar di kelas dengan teman-teman yang lain.
Kalau akhir pekan, Err cukup sering mengundang Mawin main ke rumahnya untuk main game kalau tidak belajar, atau hangout di board game cafe bersama Mhee dan Benz. Err dan Mawin sudah memberi tahu keduanya perihal hubungan mereka, namun tidak perlu mengumumkannya di sekolah. Hubungan mereka memang tidak publik, tapi bukan rahasia juga.
Mhee dan Benz tidak terlalu terkejut sebenarnya ketika menerima berita bahwa Mawin dan Err sudah resmi jadi sepasang kekasih. Mau bagaimanapun, ada sedikit campur tangan Benz sejak awal. Justru mereka lebih kaget atas fakta bahwa Mawin adalah orang di balik akun Seer TK. Fakta ini, sayangnya, tersebar di penjuru sekolah dan mengundang banyak opini, terutama dari para mantan ‘pelanggan’ si tukang ramal.
Untungnya, Mawin tidak terlalu memusingkan hal itu. Err tidak marah padanya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengabaikan berbagai celotehan miring. Seiring berjalannya waktu, kabar tersebut pun perlahan tenggelam dengan sendirinya. Tidak ada yang merasa dirugikan, dan teman-temannya, setidaknya di kelas, menganggap itu sebagai angin lalu. Mawin berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang buruk.
Lagipula, kini ia memiliki Err. Ia tidak lagi perlu bersembunyi di balik akun tersebut dan memilih untuk menutupnya secara permanen. Hubungannya dengan teman-teman di sekolah pun kian membaik.
Setidaknya, Mawin akhirnya berhasil mencapai keinginannya sejak lama untuk memiliki teman. Mawin tidak lagi sendiri hingga hari kelulusannya.
Penerima beasiswa akhirnya akan diumumkan pada sore ini. Err yang sudah antusias sejak kemarin langsung kehilangan seluruh energinya begitu tangannya menekan tombol Enter di laptopnya. Senyumnya langsung turun. Berjalan dengan lemas dia turun dari kamar, menuju ruang keluarga, menghampiri Mama dan kakaknya yang sedang duduk di sana.
“Ma. A’hia.”
“Kenapa, Err?” Suara Err yang agak bergetar sontak membuat Mama dan kakaknya khawatir.
“Hasilnya udah keluar, Ma.”
“Beasiswa? Gimana, nak?”
Err tidak mau menjawab, hanya menggeleng lemah, sambil menaruh laptopnya di atas meja. Terpampang laman pemberitahuan penerima beasiswa yang dimaksud. Sengaja dia zoom besar-besar tulisan bercetak tebal nama itu.
Mawin Suthiraksa
Mama yang menyadari mata Err yang memerah dan bibir tertekuk ke bawah langsung merengkuh sang anak dalam dekapannya.
“Maaf ya, Ma. Err gagal.”
“Hush, jangan bilang gitu. Masih ada jalan lain. Kita coba di kesempatan yang lain, okay? Gak apa-apa, kamu sudah berusaha sampai ke titik ini pun, Mama udah bangga.”
Sebetulnya tidak mengejutkan. Err sudah menebak Mawinlah yang akan menjadi peraih beasiswa itu. Err senang Mawin mendapatkannya. Tapi di dalam hatinya, Err tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Mungkin dia tidak teliti waktu mengerjakan soal. Mungkin usahanya belum maksimal. Mungkin ada cara belajarnya yang salah. Atau mungkin, Err memang tidak ditakdirkan untuk mendapatkannya. Dan banyak mungkin-mungkin lainnya yang bergumul di kepala Err.
Tapi dia tetap bangga. Dia senang karena pada akhirnya dia bisa bersaing secara sehat dengan rivalnya, Mawin.
Si kakak yang sedari tadi sedang asyik menyantap sayap ayam itu mendekat ke Err yang masih dipeluk dan ditenangi oleh Mama, sambil menenteng laptop yang dibawa Err barusan.
“Err, coba kamu liat dulu deh, ini kamu belum scroll–”
TOK TOK TOK!
Belum kelar si kakak berbicara, suara ketukan keras di pagar rumah mereka keburu menyela.
“PERMISI! ERR? ERR!”
“Siapa itu, Dek?” Tanya Mama. “Mau kamu samperin sendiri atau mama aja?”
“Err aja, Ma.”
Err berjalan ke depan rumah, menerima si tamu yang tiba-tiba datang dengan tidak sabaran. Mama dan kakak mengekor dari belakang.
Err terkejut mendapati Mawin yang terengah-engah dan berpeluh-peluh. Rambutnya berantakan habis dihantam angin dan keringat. Sandal yang dipakai juga kanan-kiri berbeda warnanya. Tidak jauh darinya tergeletak sepeda dengan posisi yang kelihatannya baru saja dilempar asal, bahkan rodanya masih berputar-putar. Anak ini pasti langsung mengebut sampai ke rumah Err begitu pengumuman keluar.
“Oh, Mawin? Selamat ya ka–” “Err! We did it!”
Mawin tidak membiarkan Err menyelesaikan kalimatnya. Dia langsung memeluk Err begitu pintu gerbang dibuka. Mungkin euforia pemenang beasiswa, jadi suka sekali menyerobot ucapan orang sedari tadi. Err mencoba memaklumi. Dibalasnya pelukan Mawin yang sangat erat itu. Terlalu erat sampai Err bisa merasakan jantung Mawin yang berdegup sangat cepat tidak keruan.
“Iya, you did it, Mawin. Selamat ya, kamu dapat beasiswanya. You deserve it, Mawin. I’m so proud of you.” Kata Err sambil menekankan kata 'you' untuk mengoreksi.
“Hm? Enggak, Err. **Kita!** Kita berhasil. Kamu udah baca sampai habis, kan, pengumumannya?”
ANNOUNCEMENT 32nd National Mathematics Academic Scholarship
We are pleased to announce the recipient of the fully funded study abroad scholarship.
Mawin Suthiraksa Attained perfect score in the written examination The Most Valuable Participant in the Math Camp
As it turns out, two candidates achieved a perfect score this year. Accordingly, the committee has decided to award the scholarship to both recipients:
Anantachai Kraikaew Attained perfect score in the written examination
Congratulations to the recipients and thank you to all participants.
“A-aku, dapet juga?”
“Iya, Err! Kamu juga! Kita… bisa ke Boston bareng!” Kata Mawin dengan begitu antusiasnya.
Mawin menarik kembali Err dalam pelukan eratnya begitu Err selesai membaca kembali si pengumuman tadi. Seolah-olah itu yang paling penting dari semuanya. Dibanding senang karena dapat beasiswa, sepertinya Mawin lebih senang karena dia bisa menjalankan studi ke luar negeri bersama Err. Entah sejak kapan kepalanya mulai memeta rencana kehidupannya bersama Err di Amerika selama empat tahun ke depan. Tiap pagi membuatkan Err sarapan roti lalu menyeduhkan kopi, lalu naik subway bersama sampai kampus.
Err sendiri belum bisa berkata-kata. Dia masih lumayan syok. Agak malu juga karena tadi tidak teliti sampai-sampai tidak membaca pengumuman itu sampai bawah. Kepalang sedih dirinya barusan.
“Selamat ya, Err. Usaha kamu akhirnya terbayar. Aku selalu yakin kamu pasti bisa dapetin beasiswa ini dari awal. Dan itu semua terbukti sekarang. Aku bangga banget sama kamu.”
“Iya, Mawin. Selamat juga untuk kamu.”
“Err, aku seneng banget. Aku sayang banget sama kamu. Kamu keren banget. Pacarku paling keren sedunia.”
“M-Mawin?”
“Hmm?”
“Aku paham kamu seneng, tapi bisa lepas dulu pelukannya gak? M-malu itu diliatin Mama sama A’hia dari tadi. Mereka belum tahu soal kita...”
“Gak mau! Gak mau lepas, aku belum puas peluk kamu. Gak apa-apa, biar nanti aku yang bilang ke Mama kalo kita pacaran dan aku cinta banget sama kamu. Terus nanti aku bilang ke Mama kalau aku cucu konglomerat, jadi Mama gak bisa nyogok aku pakai duit untuk ngejauhin kamu.” Ucap Mawin begitu bawelnya.
“…Sama sekalian minta izin buat bawa kamu tinggal bareng sama aku di Boston nanti, supaya aku bisa lihat pacar aku terus dari bangun sampai tidur lagi.”
“Iih, Mawin!”
Err menghadiahkan Mawin sebuah cubitan kecil di pinggangnya, tapi memang saking senangnya, Mawin menolak untuk melepasnya. Malah sengaja dia semakin mengeratkan pelukannya. Agak sesak memang bagi Err, tapi dia hanya membalas pelukan Mawin dengan elusan memutar di punggung yang lebih tinggi.
“You did great, Err. I’m so proud of us.”
“You did great too, Mawin.”
Ya, biarlah. Biarkan seperti ini dulu sebentar lagi saja. Err juga membutuhkannya.
Err memejamkan matanya dalam pelukan Mawin. Dalam hatinya, dia berterima kasih kepada Tuhan, Buddha, Dewa-Dewi, leluhur , atau siapa pun yang mungkin telah mendengar doa dan usahanya.
Ia berhasil. Dan lebih dari itu, ia mendapatkan semuanya sekaligus. Mimpi, pencapaian, dan seseorang yang ingin berjalan bersamanya ke depan.
Err tersenyum dalam pelukan itu. Akhir masa sekolahnya ditutup dengan segala hal yang membuat hatinya bahagia. Setidaknya, pada kehidupan Err yang ini.
Err berharap masa depan yang panjang dan cerah akan menyambutnya dengan baik, bersama Mawin.
end.
메타데이터
- post_id
- dad00a2d0737
- slug
- another-ending-mawinerr-seakeen-au-dad00a2d0737
- url
- https://medium.com/@yourhoppingbunny/another-ending-mawinerr-seakeen-au-dad00a2d0737
- canonical_url
- https://medium.com/@yourhoppingbunny/another-ending-mawinerr-seakeen-au-dad00a2d0737
- author_url
- https://medium.com/@yourhoppingbunny
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 15:12:33