Berdiri di Ujung Tebing
Aku sudah berdiri di ujung tebing curam itu Dalam gelap. Berselimut dingin Berkaki telanjang meski melewati kerikil bebatuan

Berdiri di Ujung Tebing
Aku sudah berdiri di ujung tebing curam itu Dalam gelap. Berselimut dingin Berkaki telanjang meski melewati kerikil bebatuan
Air mataku tidak berhenti mengalir Memikirkan rasa sakit Pengkhianatan darah yang lebih kental dari air. Pengkerdilan apresiasi dan prestasi. Pembuhunan mimpi. Dunia ini terlalu kejam
Nyaris Putus asa. Tiga kata yang menggambarkan kondisiku saat ini. Aku membayangkan di bawah sana Papa melambaikan tangan Menyambutku hangat Emak membawakan bubur sumsum terenak sepanjang hayat Sedang pak tofek dan bok fat yang di akhir hidup mereka, senantiasa memberiku petuah dan kekuatan.
Kehadiran mereka yang rutin Memberiku makna hidup Bahwa kelahiranku juga penting Keberadaanku di dunia ini juga dibutuhkan.
Aku juga sangat ingin bertemu idolaku Rasul terakhir. Kekasih Allah. Yang disaat semua orang sibuk mementingkan dirinya, beliau hanya fokus pada kami, umatnya. Hingga akhir hidupnya, hanya kami, umatnya yang dipikirkan.
Aku ingin bertemu mereka Mengatakan bahwa hatiku begitu pilu Aku rindu rasa cinta yang tulus. Aku rindu bertemu seseorang yang bisa mencintaiku sepenuh hati.
Memprioritaskan diriku dan senantiasa mendukungku untuk terus tumbuh Tak segan menegurku langsung melalui petuah cerita agar aku tidak melakukan kesalahan yang sama.
Bukannya malah dipojokkan, dibentak, apalagi sampai menyebarkan cerita yang membuatku dibenci orang lain. Sedang mereka tak paham perkara sebenarnya.
Aku... sudah berdiri di ujung tebing.
메타데이터
- post_id
- dad494983bb9
- slug
- berdiri-di-ujung-tebing-dad494983bb9
- url
- https://medium.com/@febrinarachmawati51/berdiri-di-ujung-tebing-dad494983bb9
- canonical_url
- https://medium.com/@febrinarachmawati51/berdiri-di-ujung-tebing-dad494983bb9
- author_url
- https://medium.com/@febrinarachmawati51
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-09 02:25:54