JAGADDHITA II | 10
Kabut lembap menggantung rendah di antara pepohonan mati sejauh mata memandang.
JAGADDHITA II | 10

Kabut lembap menggantung rendah di antara pepohonan mati sejauh mata memandang.
Tanah di bawah kaki mereka licin oleh lendir keabu-abuan yang berbau busuk. Baunya mirip daging yang membusuk terlalu lama di tempat gelap. Sangat menjijikkan. Tapi tak satupun dari mereka bahakan memiliki waktu untuk memusingkan itu.
Monster di depan mereka bergerak lagi.
Tubuhnya besar dengan delapan kaki panjang mencengkeram tanah dengan suara basah yang menjijikkan. Setiap kali ia bergerak, lapisan daging yang membentuk tubuhnya bergoyang seperti lelehan lilin yang belum mengeras. Dari sela-sela daging itu, lendir kental menetes tanpa henti, membuat tanah di sekitar jadi licin.
Monster itu menjerit. Suara yang keluar seperti campuran erangan dan desisan, cukup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
“Jangan berhenti!” teriak Yeji, dengan napas yang mulai tersengal.
Changbin menggeram sambil mengangkat senjatanya lagi. “Daritadi aku juga menyerang terus, tapi monster ini kenapa tak bisa dipotong!?! Astaga! Setiap kali aku potong, kakinya selalu tumbuh lagi.”
Salah satu kaki panjang monster itu menyapu ke arah mereka.
Jisung nyaris tidak sempat menghindar sebelum Lia menarik lengannya dan menyeretnya mundur.
“Jisung, fokus!” Lia menegur cepat.
“Maaf!” Jisung terengah. “Tapi… aku baik-baik saja kok!”
Monster itu kembali bergerak, lebih cepat dari yang mereka kira. Salah satu kakinya menghujam tanah tepat di depan Seungmin, membuat tanah dan lendir terciprat ke mana-mana.
Seungmin melompat mundur. Petir kecil sudah berkedip-kedip di telapak tangannya. Tapi setiap kali ia mencoba mengarahkannya ke tubuh monster itu, kilatan itu hanya menyambar bagian luar daging yang tebal.
Tidak ada efeknya.
“Tidak mempan!” seru Seungmin frustrasi. Ia tahu cara mengalahkan monster semacam ini adalah dengan menyerang ke titik terlemahnya — bagian lunak yang ada di bagian dalam tubuhnya. Tapi sudah berulang kali ia mencobanya, terus saja gagal.
“Coba lagi!” balas Changbin tanpa menoleh. Ia berlari memutar, berusaha menarik perhatian monster itu agar tidak hanya fokus ke satu orang.
Changbin menyerang dari sisi lain, menghantam salah satu kaki monster itu sekuat tenaga. Daging lembek itu robek sedikit, tapi tidak cukup dalam.
Jisung bertarung dengan dua dari delapan kakinya menggunakan pedang milik Yeji yang tadi ia gandakan.
Sementara, Lia membantu dari atas dengan semburan anginnya.
Monster itu mengayunkan kaki lainnya. Changbin terpental beberapa meter, mendarat keras di tanah.
“Changbin!” teriak Jisung.
“Aku masih hidup!” Changbin mendengus sambil memaksakan diri bangkit.
Monster itu menggerakkan kepalanya. Mulutnya terbuka perlahan, memperlihatkan rongga gelap yang dipenuhi lapisan daging bergerak.
Bau busuk menyengat keluar dari sana.
“Eww — ” Lia menutup hidungnya sebentar. “Menjijikkan sekali.”
Seungmin memperhatikan gerakan itu dengan mata menyipit.
Mulut si monster adalah satu-satunya bagian yang tidak dilindungi lapisan daging tebal.
“Yeji!” teriak Seungmin. “Bikin dia buka mulutnya lagi!”
Yeji menoleh sekilas, langsung mengerti maksudnya. “Oke. Akan ku coba.” Ia melompat ke depan, berlari lurus ke arah monster itu. “HEY, MONSTER JELEK! SINI!”
Monster itu langsung bereaksi. Kepala besarnya berputar cepat ke arah gadis itu.
Gadis itu berhenti mendadak, lalu melempar serangan tepat ke wajah makhluk itu.
Monster itu menggeram keras. Mulutnya terbuka lebar.
“SEUNGMIN!” teriak Yeji. “SEKARANG!”
Petir kembali berkumpul di tangan Seungmin. Kali ini lebih besar dari sebelumnya. Setelah mengunci targetnya. Ia mengangkat tangan, melemparkan petir seukuran pedang itu ke dalam mulut si monster.
Kilatan petir melesat dan tepat mengenai sasaran.
Untuk sesaat, semuanya terasa hening.
Lalu,
BOOM!!
Petir meledak dari dalam tubuh monster itu. Cahaya putih menyala dari sela-sela dagingnya yang tercabik-cabik. Tubuh besar itu kejang hebat, kaki-kakinya menghantam tanah secara acak.
Retakan-retakan cahaya menyebar dari dalam tubuhnya, seperti kilat yang terperangkap di bawah lapisan daging. Lalu, tubuh itu runtuh dan meledak. Lendir dan potongan dagingnya menyebar ke mana-mana.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Hanya suara napas mereka yang terengah-engah memenuhi udara.
Akhirnya Jisung menjatuhkan dirinya ke tanah lebih dulu. “Akhirnya mati juga,” katanya dengan pandangan kosong. “…Aku… benci… monster laba-laba…”
Changbin menyusul, duduk berat dengan punggung membungkuk. “Monster itu benar-benar merepotkan.”
Yeji berdiri beberapa detik lebih lama, memastikan makhluk itu benar-benar tidak bergerak lagi. Setelah yakin, dia akhirnya juga menjatuhkan diri duduk di tanah. Di samping Lia yang sudah duduk bersandar di pohon mati sejak tadi.
Seungmin bergerak turun. Sayap putih — yang kini kotor karena ledakan lendir dan daging busuk itu menutup. Ia menghembuskan napas panjang sebelum ikut duduk dengan lelah.
Tak lama kemudian, angin tiba-tiba berubah.
Seolah daratan tartarus tak ingin memberi mereka waktu rehat.
Hembusan dingin menyapu pepohonan mati di sekitar mereka. Daun-daun kering yang tersisa bergetar halus.
Yeji yang pertama menyadarinya. Ia mendongakkan kepala, menatap langit yang tadi kelabu kini perlahan berubah menjadi jauh lebih gelap.
Awan hitam tebal menggulung di atas mereka, bergerak cepat dan bersiap menjatuhkan muatan.
“…Kalian lihat itu?” gumam Yeji.
Changbin menoleh ke atas. Wajahnya langsung berubah. “Ah, tidak. Jangan bilang…”
Garis cahaya putih menyambar di antara awan. Suara petir menggelegar keras beberapa detik kemudian.
Seungmin langsung berdiri. “Kita harus lari. Sekarang.”
Jisung membuka matanya, masih setengah lemas. “Astaga! Baru juga kita tenang.”
Tetesan hujan pertama jatuh di tanah tidak jauh dari kaki Lia. Tanah itu langsung mendesis. Asap tipis naik dari permukaannya.
Lia refleks menarik kakinya, lalu beranjak dari duduk. “Oh tidak… tidak tidak tidak. Teman-teman, hujannya sudah turun.”
“LARI!” teriak Changbin.
Hujan mulai turun lebih deras.
Itu bukan hujan biasa. Itu hujan asam. Setiap tetesnya mengeluarkan bunyi mendesis begitu menyentuh permukaan apapun. Sakit sekali jika terkena kulit. Rasanya seperti terbakar.
“Cepat! Cepat!”
Mereka semua langsung berlari tanpa berpikir dua kali, berusaha secepat mungkin menghindari hujan itu.
Satu tetes mengenai lengan Changbin.
“ARGH!” Changbin langsung menepisnya, wajahnya meringis kesakitan. Bekasnya langsung memerah. Tidak sampai berdarah, tapi rasa perihnya langsung menjalar seperti terbakar.
Jisung menarik kerah bajunya lebih rapat sambil berlari.
Awan hujan asam itu turun semakin deras, berhembus cepat mengejar mereka.
“Cepat! Ke arah sana!” teriak Yeji sambil menunjuk ke depan.
Mereka semua langsung mengikuti tanpa bertanya.
Tak ada yang mau jatuh ke lubang yang sama sua kali. Dua hari lalu, ketika mereka belum menyadari hujan jenis apa yang ada di tartarus ini, mereka masih santai duduk bahkan ingin menikmati tetesan air segar. Tapi begitu tetes air itu menyentuh kulit mereka, rasanya seperti mimpi buruk!
Rasanya seperti disiram air mendidih.
Jisung masih ingat jelas bagaimana Lia hampir menangis menahan perih di tangannya.
Dan Changbin mengumpat hampir sepanjang malam karena luka bakar di bahunya yang bekasnya tak mau hilang itu.
Hujan itu turun lebih deras, awannya semakin cepat mengejar mereka.
“KITA BUTUH TEMPAT BERLINDUNG!” teriak Seungmin di tengah suara hujan yang semakin keras.
“YA AKU JUGA TAHU!” balas Jisung sambil berlari. “TAPI, DIMANA?”
Changbin yang berada paling depan tiba-tiba menunjuk ke arah kiri. “TUNGGU! ITU APA?!”
“ADA APA?” Lia balas berteriak.
“AKU MELIHAT GUBUK DISANA!” Changbin menunjuk bangunan kecil di balik pepohonan mati dan semak hitam yang jarang.
Mereka tidak berhenti untuk memikirkan apakah itu aman atau tidak. Begitu semua melihatnya, mereka langsung berbelok ke arah sana.
Satu per satu dari mereka menerobos masuk ke dalam tanpa berpikir dua kali.
Begitu semuanya berada di dalam, Changbin langsung menarik pintu itu kembali dan menutupnya keras.
“Sepertinya… kita aman disini?” ucap Lia sedikit ragu.
“Semoga saja.” Jisung bersandar ke dinding kayu yang rapuh, rambutnya menempel di dahi karena keringat dan lembap.
Semua orang terlalu lelah untuk berdebat.
Changbin menjatuhkan dirinya ke lantai kayu yang dingin, sementara Seungmin memeriksa lengan Changbin yang tadi sempat terkena hujan asam.
“Masih sakit?” tanya pemuda itu pelan.
“Ya jelas sakit,” jawab Changbin, meringis. “Tapi tak apa. Nanti juga sembuh sendiri.”
Yeji berdiri tidak jauh dari pintu depan, matanya menyapu ruangan kecil itu. Gubuk ini sempit. Hampir kosong. Hanya ada beberapa papan kayu tua, meja kecil yang sudah hampir runtuh, dan jendela yang setengah pecah.
“Apa menurut kalian, gubuk ini ada yang menempati?” tanya gadis itu. “Dari bentuk dan perabotan di sini, sepertinya yang menghuni tempat ini adalah manusia.”
“Mungkin saja. Tapi, siapa yang — ” Jisung urung meneruskan kalimat ketika terdengar derit dari belakang gubuk.
Tak lama, terdengar langkah kaki mendekat.
Jisung langsung menegakkan tubuhnya. “Kalian dengar itu?” bisiknya.
Changbin langsung berdiri lagi. “Ya.”
Lia menoleh ke arah pintu belakang yang nyaris tersembunyi di sudut ruangan.
Yeji sudah lebih dulu memegang senjatanya.
Langkah itu semakin dekat.
Jantung mereka langsung berdegup lebih cepat.
“Monster?” bisik Jisung.
“Kalau monster semoga dia lebih punya sopan santun, karena ya… dia cukup pintar membangun gubuk disini,” gumam Changbin.
Seungmin tidak berkata apa-apa. Tapi kilatan listrik di tangannya mulai muncul lagi.
Mereka semua perlahan bergerak mendekat satu sama lain, berdiri rapat di tengah ruangan dengan mata kompak tertuju ke pintu belakang.
Langkah itu berhenti tepat di luar.
Tak ada suara lagi setelahnya.
Lalu,
Pintu belakang itu terbuka.
Menampakkan seseorang yang tak asing bagi Seungmin, Jisung, dan Changbin.
“…Tidak mungkin.”
Ayahnya Seungmin… ada disini.
메타데이터
- post_id
- dadc3ca2b68f
- slug
- jagaddhita-ii-10-dadc3ca2b68f
- url
- https://medium.com/@nuurhinsky/jagaddhita-ii-10-dadc3ca2b68f
- canonical_url
- https://medium.com/@nuurhinsky/jagaddhita-ii-10-dadc3ca2b68f
- author_url
- https://medium.com/@nuurhinsky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 18:57:25