Orang-orang yang Sibuk Melabeli Fomo
“Kamu dengerin lagu ini? Ih.. seleramu nggak main”
Orang-orang yang Sibuk Melabeli Fomo
“Kamu dengerin lagu ini? Ih.. seleramu nggak main”
“Itu terus kamu dengar lagunya. Fomo luh!”

Sumber: Piramida.id
Belakangan ini, media sosial dipenuhi komentar yang tidak asing, “Jangan diviralkan, nanti rusak” Ada juga yang komentar, “Kalian baru tahu sekarang?” atau “Kalau playlistmu isinya lagu viral semua, berarti seleramu FOMO.” Di sisi lain, muncul kecenderungan lain yang tidak kalah menarik. Sebagian orang justru bangga membagi lagu-lagu yang nyaris tidak dikenal siapa pun. Semakin asing nama penyanyinya, semakin sedikit jumlah pendengarnya, semakin besar kebanggaan yang diperlihatkan. Lagu-lagu yang kemudian disebut sebagai hidden gem, underrated, atau yang paling sering, “lebih catchy daripada lagu-lagu yang sedang viral”
Tentu nggak cuman yang ada di sosial media, dunia nyata dalam pertemanan langsung juga tidak tertinggal. Ada perasaan aneh melihat temannya mendengarkan lagu-lagu yang mereka anggap lagu fomo(hanya karena sering terputar). Fenomena ini tampak seperti perdebatan sederhana tentang musik. Namun, jika jika dilihat-lihat lagi, persoalannya bukan lagi mengenai kualitas lagu, melainkan mengenai “identitas”. Identitas yang seperti apa? Identitas tentang musik yang berubah menjadi bahasa sosial untuk mengatakan siapa diri kita. Playlist tidak lagi sekadar kumpulan lagu yang disukai, tetapi juga menjadi cara memperlihatkan selera, membangun citra diri, dan memperoleh pengakuan dari orang lain.
Di titik inilah pemikiran Pierre Bourdieu, khususnya konsep distinction dan cultural capital (modal budaya) bisa relevan. Bourdieu berpendapat bahwa selera bukanlah sesuatu yang murni lahir dari preferensi pribadi. Selera dibentuk oleh pengalaman sosial, pendidikan, lingkungan, serta posisi seseorang dalam masyarakat. Lebih jauh lagi, selera digunakan sebagai alat untuk membedakan diri dari kelompok lain. Dengan kata lain, apa yang kita sukai sering kali bukan hanya tentang kesenangan, tetapi juga tentang bagaimana kita ingin dilihat. Ada kecenderungan ingin terlihat berbeda agar dilabeli anti mainstream atau apa sebutannya.
Dalam konteks media sosial, lagu menjadi salah satu bentuk modal budaya. Pengetahuan mengenai musisi independen, band yang belum terkenal, atau lagu yang belum masuk algoritma Tiktok memberikan nilai simbolik tertentu. Orang yang mengetahui lagu tersebut lebih dulu dapat menampilkan dirinya sebagai sosok yang dianggap memiliki selera lebih tinggi, lebih autentik, atau lebih “berkelas” dibanding mereka yang baru mengenalnya setelah viral.
Tidak mengherankan jika label “FOMO” kini sering digunakan bukan untuk menggambarkan perilaku psikologis seseorang, melainkan sebagai alat untuk mengelompokkan orang lain. Siapa pun yang menikmati lagu “populer” dengan mudah dicap hanya ikut tren. Kita tidak pernah benar-benar tahu apakah seseorang mendengarkan sebuah lagu karena tekanan sosial atau karena memang menyukainya. Namun, label tersebut tetap dipakai karena memiliki fungsi sosial yang membangun batas antara “kami yang punya selera” dan “mereka yang hanya ikut-ikutan”
Menariknya, siklus ini terus berulang. Ketika sebuah lagu masih sepi pendengar, ia dipuji sebagai bukti selera yang unik. Namun begitu lagu tersebut fyp, dipakai ribuan kreator, lalu menduduki tangga lagu digital, statusnya berubah. Lagu yang sama tiba-tiba dianggap kehilangan nilai. Bukan karena melodinya berubah, bukan karena liriknya menjadi lebih buruk, tetapi karena terlalu banyak orang mulai menikmatinya. Nilai eksklusifnya menghilang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa yang dipertahankan bukan hanya musik, melainkan posisi sosial yang melekat pada musik tersebut. Nilai sebuah objek budaya tidak hanya berasal dari objek itu sendiri, tetapi juga dari kemampuan objek tersebut menghasilkan pembedaan (distinction). Ketika semua orang memiliki akses terhadap lagu yang sama, lagu itu tidak lagi efektif sebagai penanda identitas. Akibatnya, sebagian orang mulai mencari lagu lain yang lebih tersembunyi agar dapat kembali tampil berbeda.
Ironis saat orang-orang berlomba menemukan lagu yang lebih asing, artis yang hampir tak terdengar, bahkan genre yang semakin sulit dijangkau. Seolah-olah semakin sedikit yang mengenalnya, semakin tinggi kualitas musik seseorang.
Di sinilah muncul paradoks yang menarik. Banyak orang mengaku tidak peduli terhadap pengakuan orang lain, tetapi pada saat yang sama mereka berharap selera musiknya diakui sebagai sesuatu yang istimewa. Aduduh, mereka ingin dikenal sebagai orang yang memiliki playlist paling unik, paling berbeda, atau paling “berkelas” Ketika seseorang memuji playlist mereka dengan komentar seperti, “Wah, lagunya nggak ada yang aku tahu, keren banget lu gila gokil mantap beda banget. Deeeyyyuuuuuuuumm” pujian itu menjadi bentuk pengakuan yang bernilai. Musik, yang seharusnya menjadi pengalaman personal, perlahan berubah menjadi simbol status.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial mempercepat kompetisi simbolik. Dahulu, selera musik mungkin hanya diketahui oleh lingkaran pertemanan yang terbatas. Kini, playlist Spotify dibagikan di Instagram, tangkapan layar lagu diunggah ke X, dan rekomendasi musik memenuhi Tiktok setiap hari. Selera menjadi sesuatu yang dipamerkan sekaligus dinilai. Akibatnya, orang tidak hanya mendengarkan musik, tetapi juga memikirkan bagaimana pilihan musik mereka akan dipersepsikan oleh orang lain.
Namun tentu tidak bisa diambil rata bahwa opini yang kukeluarkan bersifat benar dan mutlak. Ada banyak orang yang memang menikmati eksplorasi musik karena rasa ingin tahu, pengalaman emosional, atau kecocokan artistik. Menyukai lagu yang belum populer tentu bukan masalah. Persoalannya muncul ketika selera dijadikan alat untuk mengukur nilai seseorang. Ketika orang mulai percaya bahwa mereka lebih cerdas, lebih autentik, atau lebih layak dihargai hanya karena mendengarkan lagu yang tidak dikenal banyak orang, musik kehilangan fungsinya sebagai ruang apresiasi dan berubah menjadi arena kompetisi simbolik. Silakan mendengarkan lagu yang bahkan penontonnya hanya 1.510, silakan juga mendengarkan lagu yang penontonnya menyentuh ratusan juta penayangan. Tidak ada yang salah dengan itu, yang salah adalah… (isi sendiri, hehe)
Kita mengira sedang mencari musik yang paling sesuai dengan diri sendiri, tetapi tidak jarang yang sebenarnya kita cari adalah identitas yang tampak berbeda di mata orang lain. Dalam masyarakat yang semakin terdorong untuk terus menunjukkan keunikan, menjadi berbeda pun berubah menjadi komoditas.
메타데이터
- post_id
- db09fa6fd411
- slug
- orang-orang-yang-sibuk-melabeli-fomo-db09fa6fd411
- url
- https://medium.com/@fannkirya/orang-orang-yang-sibuk-melabeli-fomo-db09fa6fd411
- canonical_url
- https://medium.com/@fannkirya/orang-orang-yang-sibuk-melabeli-fomo-db09fa6fd411
- author_url
- https://medium.com/@fannkirya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-28 19:43:57