The First-Place Winner Who Lost Their Way
Every year had a target. Every achievement became a stepping stone to the next one. I was driven by ambition, fueled by the desire to…
The First-Place Winner Who Lost Their Way
Every year had a target. Every achievement became a stepping stone to the next one. I was driven by ambition, fueled by the desire to become better, faster, stronger. The applause, the recognition, the feeling of being chosen — it all became part of my identity.
Aku hidup dalam cinta, kompetisi, ambisi, dan perencanaan yang matang. I was always chasing the next milestone. Dan selama bertahun-tahun aku pikir itulah cara hidup yang benar. Dan entah bagaimana pula, aku menikmatinya.
I lived under bright lights.
Ada kepuasan saat semua usaha dan kerja keras berbuah hasil. Saat namamu dikenali, saat usahamu diakui. Saat dunia berkata bahwa kamu berada di lintasan yang benar.
Now, for the first time in years, i find myself standing in an unfamiliar place. Not defeated, not broken, just uncertain.
Aku mencurahkan segala usaha, pengorbanan dan cinta untuk setiap hal dalam hidupku. Tapi aku lupa mengumpulkan setiap pengorbanan dan cinta tulus dari sekitarku. Aku mengosongkan tangki cintaku hingga tak tersisa. Aku merespons bentuk-bentuk nilai dengan nilai yang lebih besar. Jika sekitarku memberikan 100 aku melipatgandakan menjadi 1000. Lagi-lagi syndrom juara satu. Padahal tidak semua hal bersinggungan dengan kompetisi yang mengharuskanku unggul.
Somewhere along the way, i lost my spark.
Bukan karena dunia menjadi lebih gelap, hanya saja aku terlalu lama membagi terang pada hal-hal yang amat kusayangi.
Aku pun menuangkan cinta pada orang, mimpi, dan hal-hal berharga lainnya dengan kapasitas ekstra. Sedikit demi sedikit aku memberikan terlalu banyak bagian dari diriku. Hingga saat menoleh ke dalam dan mendapati ruang itu kosong tak bersisa.
I run out of love to give, because i had given it all away.
Oh GOD, i’m tired.
Not of living, not of trying, just tired of carrying so much for so long.
Kini aku menyaksikan diriku kelelahan mempertahankan diri dari badai. Rasa hampa yang muncul ketika seseorang mencintai segala rupa terlalu dalam hingga lupa menjaga diri sendiri.
For the first time in years, when someone asks me, “What’s next?”, I don’t have an answer.
Bertahun menjalani arah yang jelas dimana target digambar rapi, setiap langkah menjadi penanda bahwa diri ini berada di jalur yang benar pada akhirnya justru menuju jalan buntu. I lost my map. Peta ini tak lagi bekerja. Target yang dulu membuatku semangat tidak lagi menghidupkan api yang sama.
Kini aku berdiri di persimpangan yang tidak pernah dalam rencana. Juara satu yang tidak lagi memenangkan apapun.
No more love, no more ambition
“Just me”
메타데이터
- post_id
- db1408d2f189
- slug
- the-first-place-winner-who-lost-their-way-db1408d2f189
- url
- https://medium.com/@fadhilah523/the-first-place-winner-who-lost-their-way-db1408d2f189
- canonical_url
- https://medium.com/@fadhilah523/the-first-place-winner-who-lost-their-way-db1408d2f189
- author_url
- https://medium.com/@fadhilah523
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 08:54:07