← Back to list

Sebelum Resmi Rilis: Catatanku dari Malam Mendengar “Forever Rookie”

Minggu, 21 Juni 2026, pukul 17.00 sore itu aku datang ke The Vinyl Chick, sebuah ruangan yang sudah penuh ketika Pertunjukan akan melakukan…

Ribi Audia · 2026-06-22 10:27 · 3 claps · 3.1 min read
#music #musik-lokal #surabaya #pertunjukan
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🎵 · Music & Audio

Sebelum Resmi Rilis: Catatanku dari Malam Mendengar “Forever Rookie”

Minggu, 21 Juni 2026, pukul 17.00 sore itu aku datang ke The Vinyl Chick, sebuah ruangan yang sudah penuh ketika Pertunjukan akan melakukan sesi perbincangan. Tiga hari sebelum 13 lagu di album Forever Rookie resmi mendarat di platform streaming pada 24 Juni, aku jadi salah satu telinga pertama yang mendengarnya hidup, langsung di ruangan itu, sebelum dunia luar tahu.

Ini bukan konser dalam arti yang biasa didatangi. Formatnya disebut album hearing session, istilah yang belakangan mulai dipakai musisi indie untuk acara di mana penonton mendengarkan seluruh album secara berurutan sebelum rilis, lengkap dengan sesi obrolan dan satu segmen akustik live. Aku datang bukan hanya untuk nonton konser. Aku datang untuk jadi (beberapa) orang yang tahu duluan.

Yang aku dengarkan malam itu adalah karya penuh pertama dari musisi yang dikenal dengan nama panggung Pertunjukan, moniker dari Adib Fauzan, musisi asal Surabaya yang beberapa bulan terakhir ini sedang menegaskan jati dirinya lewat serangkaian lagu, termasuk “Firasat, firasat” yang sudah dirilis lebih dulu sebagai semacam latihan sebelum album penuh ini benar-benar jadi.

Aku duduk di sana dan mendengarkan, dari buku kecil yang diberikan berisikan lagu lagu serta liriknya, dari situ aku bisa menangkap polanya. Album ini dibuka dengan deklarasi status “Rookie” dan ditutup dengan sesuatu yang terasa seperti penyerahan diri di “Selalu Dipanjatkan”. Di antaranya, judul-judulnya berpindah-pindah bahasa dengan natural: ada yang berbahasa Inggris (“White Blouse”), ada yang berbahasa Jawa (“Witing Tresno”, merujuk ke pepatah lama witing tresno jalaran soko kulino yang artinya cinta tumbuh dari kebiasaan), dan ada yang menyebut nama tempat yang sangat lokal (“Dharmahusada”, salah satu kawasan di Surabaya). Aku merasa album ini personal sekaligus berakar, judul-judulnya saja sudah membawaku bolak-balik antara kamar tidur, jalanan Surabaya, dan satu-dua peribahasa yang mungkin pernah aku dengar dari orang tua sendiri.

Dari 13 lagu itu, dua yang paling lekat setelah aku pulang dan justru lagu-lagu yang sudah rilis lebih dulu. Yang pertama, “Firasat, firasat”, bicara soal versi cinta yang jarang dirayakan di lagu-lagu cinta kebanyakan. Cinta yang ingin merawat, bukan sekadar memiliki. Liriknya membangun rasa sayang lewat detail-detail kecil, hal-hal yang biasanya hanya disadari orang yang diam-diam memperhatikan, bukan orang yang sekedar menyukai dari jauh. Yang membuatnya terasa lebih jujur lagi adalah kesadaran si penutur lagu, bahwa sebagian dari perasaan itu mungkin cuma ada di kepalanya. Sebuah keyakinan yang dipilih untuk dipercaya.

Lagu kedua yakni “Interpretasi Paling Bijak” yang membekas bicara dengan cara yang sama sekali berbeda. Temanya soal mencari pegangan hidup di tengah dunia yang kebanjiran nasihat, bukan kekurangan wejangan. Aku merasa lagu ini menangkap fase ketika seseorang mencari makna hidup dari suara di sekitarnya dibuktikan saat menggunakan istilah cermin sebagai media penangkapnya, lalu mulai menyaring dan melakukan mana yang benar-benar masuk akal untuk dirinya sendiri dengan cara yang paling bijak. Ini relate untuk siapa pun yang sedang di fase pencarian jati diri.

Di depan ruangan tepatnya saat hendak masuk, aku sempat melihat-lihat merchandise eksklusif yang dijual seperti kaos dan kaset fisik, format yang terasa sengaja dipilih untuk audiens yang justru tumbuh besar di era digital. Ada sesuatu yang menarik dari pemandangan itu: kaset fisik punya nilai kenangan yang lahir dari proses membelinya sendiri. Di tengah kemudahan streaming, memiliki sesuatu secara fisik menurutku membuat hubungan diri sendiri dengan musik ini terasa lebih personal.

Yang paling aku bawa pulang malam itu justru bukan satu lagu, tapi judul albumnya sendiri. Forever Rookie terasa seperti pengakuan, bukan rendah diri. Kata rookie biasanya identik dengan fase awal belum sempurna, masih bereksperimen, masih banyak bertanya. Tapi ketika dipasangkan dengan kata forever, maknanya bergeser: bukan berarti selamanya tidak berkembang, melainkan memilih untuk mempertahankan rasa penasaran, rasa lapar, dan kerendahan hati untuk terus menemukan hal baru.

Sepulangnya aku dari The Vinyl Chick sore itu dengan satu kalimat yang terus terbesit: “kita memang masih belajar, dan mungkin akan terus begitu.”


메타데이터
post_id
db1749ec1a7a
slug
sebelum-resmi-rilis-catatanku-dari-malam-mendengar-forever-rookie-db1749ec1a7a
url
https://medium.com/@Ribiaudi/sebelum-resmi-rilis-catatanku-dari-malam-mendengar-forever-rookie-db1749ec1a7a
canonical_url
https://medium.com/@Ribiaudi/sebelum-resmi-rilis-catatanku-dari-malam-mendengar-forever-rookie-db1749ec1a7a
author_url
https://medium.com/@Ribiaudi
status
ok
fetched_at
2026-07-09 20:42:47