Bandung Street Photography Festival: Apa yang Masih Bisa Diperbaiki?
Beberapa hari lalu, saya berkesempatan menghadiri Bandung Street Photography Festival, yang bertempat di salah satu kafe di pusat kota…
Bandung Street Photography Festival: Apa yang Masih Bisa Diperbaiki?

Bandung Street Photography Festival 2024
Beberapa hari lalu, saya berkesempatan menghadiri Bandung Street Photography Festival, yang bertempat di salah satu kafe di pusat kota Bandung. Pameran ini cukup merepresentasikan berbagai gaya dalam street photography, seperti juxtapose, street humor, bermain dengan garis cahaya, street portrait, without human, serta gaya decisive moment lainnya. Festival ini cukup ‘ramai’ karena banyaknya partisipan yang memajang karya mereka di sana.
Festival ini layak diapresiasi, karena berhasil menggelorakan kembali street photography di Indonesia yang sempat surut. Ini juga menjadi platform yang penting bagi para street photographers untuk memamerkan karya mereka yang sebelumnya mungkin hanya beredar di media sosial seperti Instagram. Namun, meskipun tujuan mulia ini patut diapresiasi, menurut hemat Saya banyak karya yang dipamerkan di Festival ini gagal mengeluarkan potensi terbaiknya.
— —
Suatu karya hanya dapat mengeluarkan potensi terbaiknya ketika di eksekusi dengan cermat. Segala sesuatunya harus difikirkan, mulai dari yang sifatnya fundamental seperti narasi atau konteks karya itu dibuat, sampai ke hal yang sifatnya teknis seperti ukuran karya, penempatan karya, media yang digunakan, ruangannya dan lain sebagainya. Karya yang dicetak dengan ukuran besar, dapat dipahami sebagai usaha mendominasi atau memperlihatkan hal-hal kecil, ruang pameran berukuran kecil dapat menciptakan suasana lebih personal dan intim, jarak antar karya menekankan narasi bersama atau berdiri sendiri-sendiri.
Mengenai hal ini John Berger dalam bukunya Understanding a Photograph menegaskan bahwa hubungan antara foto dan pemirsa bersifat interaktif. Foto tidak pernah “berbicara sendiri”, melainkan maknanya terbentuk dari dialog antara foto, konteksnya, dan pemirsa. Sehingga elemen-elemen teknis dan kontekstual dalam presentasi akhir seuatu pameran memiliki pengaruh besar pada cara pemirsa memahami dan mengalami sebuah karya fotografi.
Kesan pertama setelah saya menghadiri Bandung Street Photography Festival adalah : Sempit.
Tidak kurang dari 150 foto (mungkin lebih) harus terpajang berdempetan sepanjang ruangan yang terbatas. Hal ini menyebabkan point of view audiens yang menghadiri festival tersebut menjadi tidak maksimal. Tidak ada jeda visual membuat mata dibuat Lelah olehnya, Foto yang seharusnya memiliki “kekuatan” direduksi oleh penempatan karya yang padat. Tanpa bermaksud meremehkan usaha teman-teman yang telah berusaha membuat festival ini, izinkan saya berkata bahwa saya seperti hanya melihat katalog foto, yang terkesan flat dan tidak meninggalkan experience apapun.
Saya kira hal ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya dikarenakan tidak ada sistem kurasi terhadap karya-karya yang masuk di festival tersebut. Saya percaya bahwa pameran yang baik membutuhkan sistem kurasi yang matang, di mana karya-karya yang dipilih tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas. Sistem kurasi yang baik akan memastikan bahwa karya yang dipamerkan tidak hanya mengakomodasi banyak partisipan, tetapi juga memberikan ruang bagi setiap karya untuk berbicara dan memperlihatkan potensi terbaiknya.
Ada beberapa festival street photography dunia yang sudah menerapkan sistem kurasi sehingga Festivalnya mendapatkan karakteristik tersendiri. berikut beberapa contohnya:
Miami Street Photography Festival (MSPF)

©Miami Street Photography Festival
Diadakan setiap tahun di Miami, Florida, bersamaan dengan Art Basel, salah satu perayaan seni terbesar di dunia. MSPF mengkurasi karya-karya yang masuk dalam beberapa kategori seperti single photo, photo series, Emerging Talent Award, dan Youth Category. Selain pameran, festival ini juga mengadakan workshop dengan narasumber ternama seperti Stella Johnson, Nikos Economopoulos, dan Bruce Gilden.
LensCulture Street Photography Awards

©LensCulture Street Photography Awards
Kompetisi tahunan yang digawangi oleh LensCulture ini memberikan platform bagi fotografer untuk memamerkan keahlian mereka dalam menangkap momen spontan, kehidupan urban, dan cerita dari jalanan. Karya-karya yang terpilih akan dipamerkan di Paris Photo, London, dan Jerman setelah melalui proses kurasi oleh para ahli fotografi dunia seperti Martin Parr, Carol Körting, dan Hideko Kataoka.
Jambore Street Photography Indonesia

Jambore Street Photography Indonesia ke-2, di bandung. foto diambil melalui akun facebook JSPI2016.
Jambore Street Photography Indonesia adalah lomba foto & pameran yang bertemakan Street Photography. Dalam memilih foto yang akan dipamerkan, Jambore Street Photography Indonesia memperkenankan para Streetphotographer mengirimkan karyanya, yang mana terhadap karya-karya tersebut akan dipilih 3 (tiga) karya terbaik untuk selanjutnya dilakukan Voting secara terbuka melalui akun Instagram @jspi2016 dan bagi voting terbanyak akan dipamerkan pada hari H. Proses penjurian foto lomba JSPI 2016 dilakukan oleh Erik Prasetya, Edy Purnomo dan Aji Susanto Anom.
Jambore Street Photography Indonesia tercatat telah melaksanakan acaranya yakni 2 (dua) kali, yang pertama diadakan pada tanggal 7 juni 2014–25 juni 2014 di DKI Jakarta, dan yang kedua diadakan pada tanggal 3 Desember 2016–11 Desember 2016 di kota Bandung. Dan selain lomba foto dan pameran streetphotography, Jambore Street Photography Indonesia juga mengadakan Workshop personal project yang dimentori oleh Henrycus Napitsunargo, nyetrit bareng, diskusi buku foto dan project kolaborasi antara photographer dengan tarot reader.
— —
Setiap festival tentu memiliki karakteristiknya masing-masing, yang mencerminkan visi dan tujuan penyelenggaranya. Oleh karena itu, membandingkan satu festival dengan yang lain secara langsung tidaklah adil. Namun, satu hal yang menjadi kesamaan mencolok di berbagai festival-festival ini adalah keberadaan sistem kurasi yang kuat. Sistem ini memungkinkan karya-karya yang dipamerkan tetap terorganisir, terstruktur, dan selaras dengan tema atau konsep utama acara.
Kurasi yang matang tidak hanya bertujuan untuk memilih karya terbaik, tetapi juga memastikan bahwa setiap karya mendapatkan ruang dan perhatian yang layak untuk menyampaikan pesan dan maknanya. Di sinilah peran kurator menjadi sangat krusial. Kurator tidak hanya bertindak sebagai penyaring karya, tetapi juga sebagai pengarah yang memastikan narasi keseluruhan pameran dapat diterima dengan baik oleh audiens.
Dengan memperbaiki sistem kurasi yang lebih terencana dan penataan ruang pameran yang lebih optimal, penyelenggaraan Bandung Street Photography Festival dikemudian hari memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh. Dengan langkah-langkah ini, setiap karya yang ditampilkan tidak hanya menjadi sekadar pajangan, tetapi juga medium yang efektif dalam menyampaikan pesan, membangun koneksi dengan audiens, dan menonjolkan kekuatan visual serta maknanya secara maksimal.
메타데이터
- post_id
- db28fcb9e6e7
- slug
- bandung-street-photography-festival-apa-yang-masih-bisa-diperbaiki-db28fcb9e6e7
- url
- https://medium.com/@arifansdr/bandung-street-photography-festival-apa-yang-masih-bisa-diperbaiki-db28fcb9e6e7
- canonical_url
- https://medium.com/@arifansdr/bandung-street-photography-festival-apa-yang-masih-bisa-diperbaiki-db28fcb9e6e7
- author_url
- https://medium.com/@arifansdr
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 04:20:42