5 — Perayaan
Minchan kerajaan Jawa 4,3K words narrations. Chan as Candra, Lee Know as Lingga. mengandung konten; kissing, rimming, biting, hand job…

5 — Perayaan
Minchan kerajaan Jawa 4,3K words narrations. Chan as Candra, Lee Know as Lingga. mengandung konten; kissing, rimming, fingering, biting, nipple playing/sucking, hand job, blow job, orgasm denial, cum in mouth, cum inside, cum eating, hickeys, anal sex, unprotected sex, vanilla sex.
Merupakan cerita fiktif karangan penulis, semua yang terdapat di dalam cerita tidak berhubungan dengan sejarah atau cerita legenda mana pun di Indonesia. Harap bijak sebagai pembaca.
Rembulan bersinar terang di langit malam, seakan mengiringi dua peristiwa penting yang esok hari terjadi di kerajaan. Kerajaan seberang mengibarkan bendera perang, sedangkan raja Brawijaya — aliansi raja Kusumawardhana akan menjadi besan.
Ratusan pasukan diutus lusa ke medan perang, sedang putra mahkota — Lingga Kusumawardhana besok harus bersiap mempersunting seorang putri kerajaan. Pasukan dikerahkan menjadi dua bagian tentunya, namun tidak dengan Candra — yang seharusnya menjadi pengawal utama putra mahkota.
Beredarnya kabar tidak sedap antara pangeran dan pengawal pribadinya, jadi alasan utama justru Candra dikirim ke medan perang dibanding harus menemani pangeran Lingga menuju hari bahagia. Kedekatan keduanya nampak tak wajar, sehingga penasihat raja mengutus mereka berpisah tanpa hak untuk membantah.
Apa boleh buat, sejak awal kehadiran Candra di istana hanya sebagai alat dari ayahnya yang berutang denda kepada sang raja. Ia sama saja rakyat jelata biasa — tanpa jabatannya sebagai pengawal pribadi sang putra raja, sehingga tak sekalipun ia dapat mengelak saat dijadikan pasukan yang harus bertaruh nyawa.
Lingga masih mengingatnya, awal pertemuan dua pasang netra mereka. Sang pengawal yang tegas dan dingin pikirnya, tapi semua berangsur sirna karena Candra sejatinya sosok yang bersahabat dan hangat kepadanya. Empat minggu termasuk waktu yang singkat, namun Lingga merasakan sesuatu yang lekat.
Tatapan kelam sebelumnya tak pernah lagi ia dapat, sebab Candra mengubah semua dengan perhatian yang begitu hangat. Tak hanya menemani kegiatan Lingga sehari-hari, Candra ikut andil melatih sang pangeran ilmu bela diri. Ia lebih cekatan dari lima pengawal raja jika dibandingkan, tetapi ini hal berbahaya jika diperhatikan bagi segelintir dewan. Para dewan pengkhianat kerajaan.
Lingga tidak mengetahui posisinya terancam oleh pihak lain di dalam istana, sehingga ia hanya mampu mematuhi mandat dari sang raja. Perjodohan yang bahkan tak ia ketahui seperti apa wujud calon mempelainya, seharga dengan kehilangan nyawa jika menolaknya. Meski tak seratus persen menginginkan takhta, Lingga juga tak mau apabila Jaya yang serta merta menggantikan ayahnya.
Jika tak memandang seperti apa tingkah ibunya, Lingga mungkin merelakan istana dipimpin adik tirinya, namun ia tak ingin semua yang dibangun sang ayah hingga leluhur pendahulunya hancur karena campur tangan seorang rakyat jelata.
Di sisi lain perasaan sebenarnya yang Lingga miliki, sudah pasti tak akan sampai sebab dianggap perilaku tak terpuji. Seorang putra raja menyukai sesama jenisnya? Adalah aib terbesar dalam sejarah istana.
Tetapi ini bukan akhir dari segalanya, sebelum semua menjadi pupus tak bisa mengudara. Lingga keluar dari pemandian pribadi istana, menerima pakaian yang biasa digunakan menjelang waktu tidurnya. Simbok Darmi mungkin bisa membantu dalam memperlancar misi terakhirnya, setidaknya — sebelum ia melepas masa lajangnya.
“Mbok Darmi, Lingga mau sesuatu.”
“Nggih, Ndoro. Menapa ingkang badhe Ndoro kersani?”
Baik, Tuan. Apa yang Tuan inginkan?
“Undangke abdi paaran Surya, kongkon dheweke teka menyang kamarku.”
Panggilkan abdi bernama Surya, suruh dia datang ke kamarku.
“Nggih, Ndoro.”
Baik, Tuan.
Menyelesaikan aktivitasnya memakai wewangian, Lingga lantas kembali menuju kamar. Aula istana masih terdengar alunan gending Jawa, dan suara orang-orang bercanda — tawa ria bersama. Lingga yakini sang ayah juga masih berada di sana untuk menikmati pertunjukan istana sebagai perayaan, atas dua kerajaan yang akan mejadi besan. Juga ajang bersenang-senang — terakhir kali bagi pasukan, yang mungkin gugur dalam medan perang.
Lingga tidak menyukai ingar bingar, apalagi hatinya dalam suasana kelam. Memilih mengundurkan diri, beralibi menyiapkan tenaga untuk perjalanan yang panjang esok hari. Beruntung sang ayah tak ambil pusing dan pikir panjang, sehingga anaknya itu bisa menyingkir dari keramaian. Lantas entah mengapa, Lingga sangat ingin membersihkan diri dan berhias.
Mengenakan wewangian semerbak untuk terakhir kalinya, jika memang ia dapat bertemu Candra.
“Nyuwun pangapunten, Pangeran. Ini saya Surya, datang menghadap Pangeran.”
Permisi
Ketukan pintu dari luar kamar mengalihkan lamunan Lingga yang semula berdiri di depan jendela. Surya betul datang sesuai amanat pada mbok Darmi yang ia berikan. Tanpa mengizinkannya masuk ke kamar, Lingga mendekat untuk memberi abdi itu bisikan.
“S-setahu saya, semua pasukan berangkat lusa ke medan perang, Pangeran. Begitu pula Cand — ….,”
“Jangan sebut namanya,” Lingga mencubit lengan Surya sebelum pemuda itu usai dengan kalimatnya. Setelah mengaduh dan meminta maaf, ia melepas cubitannya. “Undangke Candra saiki, tapi jangan sampai ada yang dengar pembicaraan kalian!”
Panggilkan Candra sekarang
“T-tapi Pangeran, itu sudah menjadi larang — ….,”
“Saiki!” Lingga menekankan nada bicaranya, tak lupa dengan ancamannya melototkan mata. “Kongkon dhewekke teka jendela. Aja teka lawang utama.”
Sekarang!
Suruh dia lewat jendela. Jangan lewat pintu utama.
“N-nggih, Pangeran. Siap, Pangeran!”
Lingga terkenal akan pribadinya yang membaur — selayaknya anak muda, mulai senang menuturkan bahasa Indonesia. Namun jika ia mulai berbicara dengan bahasa Jawa, itu tandanya adalah perintah yang tidak dapat dibantah — meski peraturan yang akan dilanggarnya. Sehingga Surya mengiyakan, pergi dari hadapannya dengan tunggang langgang.
Pintu kembali ditutupnya, Lingga sejenak menarik napas dan memijit keningnya. Semoga saja, Surya dapat diandalkannya. Sehingga kini tak ada hal lain yang Lingga lakukan selain menunggu kedatangan yang didamba.
Persetan dengan hidup dan mati, di malam berhias purnama sempurna ini, Lingga yakini akan mencurahkan segala isi hati. Urusan pengawal setianya itu menolak atau menerima, akan ditanggung di akhir cerita. Lagipula, ia hanya berniat berterus terang. Tanpa mengharapkan dibalas perasaan.
Kantuk melanda tak menghentikan waktu menanti yang ia cinta. Hingga kenyataan bahwa rembulan kian berpihak padanya, terbukti dengan bayangan bergerak di luar jendela. Tak lama ketukan di sana terdengar, membawa Lingga berlari mendekat tuk memastikan siapa gerangan yang datang. Lantas, sesuai harapan. Sosoknya yang selalu berhati-hati, tengah mengendap tatapi keadaan ke sana kemari.
“Candra.” Lingga mengulurkan satu tangannya, menangkup di salah satu rahang tegas hingga menuju pipi Candra.
Sang pemilik nama yang terpanggil, lantas melonjak sebelum mengalihkan pandang dan terdiam. Netra bulat yang sayu itu, entah mengapa terasa begitu pilu. Lingga nampak menginginkannya, tetapi kegelisahan lebih besar menggurui dalam benaknya. Sang pangeran tak berubah. Sosok pelanggar peraturan — namun kini seperti kehilangan arah.
“Masuk.”
Sebelum seseorang mungkin akan melihat mereka, Lingga terlebih dulu menarik satu tangan Candra. Lelaki tampan itu menyadarkan diri dari lamunan, memastikan bahwa keadaan di sekitar aman. Kemudian dengan tubuhnya yang bak seringan kapas, Candra melompat memasuki jendela kamar sang pangeran. Menutupnya rapat — memastikan sekali lagi semua keadaan di sekitar aman.
“Wonten menapa Ndoro, menapa ingkang Ndoro Lingga kersani?”
Ada apa Tuan, apa yang Tuan Lingga inginkan?
“Candra,” Lingga menggantungkan kalimatnya, sebelum tanpa meragu lantas menarik lelaki itu dalam dekapnya. “Jika bagimu aku tak pantas menjadi raja, aku akan turun takhta. Aku siap jika menjadi rakyat biasa. Aku ingin menjalani hidup tetap bersamamu, kau tetap di sampingku, menemaniku, Candra.”
“Menika mustahil, Ndoro. Ndoro rela krajan menika lebet kendali ibunda ndoro Jaya?”
Itu mustahil, Tuan. Tuan rela kerajaan ini dikendalikan ibunda Tuan Jaya?
“T-tapi, aku tidak mau kehidupan seperti ini. Bahkan aku harus menikahi orang yang tak kucintai, tak kukenali,” Lingga semakin gusar, keningnya berkerut menampakkan kesedihan. “Aku harus apa, Candra?”
Sepersekian detik Candra terdiam, bahkan tak membalas dekap yang tiba-tiba Lingga berikan. Sosok itu mengecil dalam dadanya, ciptakan degupan kencang pula di sana. Yang lebih tua tersadar, segera melepas dekap serta mundur beberapa langkah pelan. Candra masih dengan akal sehatnya.
Mereka tak dapat berbuat semena-mena. Dari sentuhan di pipi dari Lingga, hingga dekapan yang terasa tak biasa, bukankah mereka makin melanggar peraturan yang ada? Tetapi dalam benak Candra juga menginginkan takdir yang berbeda. Jujur saja ia ingin bersama pangerannya. Bukan justru turun ke medan perang, yang mungkin mudah membuat nyawanya melayang.
Candra seorang pengawal bangsawan, jika harus merelakan nyawa, ia lebih memilih mengabdi untuk melindungi sang pangeran seutuhnya. Tetapi ada perasaan berbeda, ia juga tidak ingin Lingga menjadi milik seseorang yang bahkan tak lelaki itu cinta. Lantas Candra mulai kehilangan akal sehatnya.
Apakah perasaannya dapat bertumbuh?
Apakah bersama sang pangeran kisahnya dapat berlabuh?
“Candra, aku mencintaimu.”
Sang pemilik nama mengalihkan pandangnya, pada sosok yang terdengar mustahil mengatakan itu semua. Netra itu semakin pilu, mengatakan kata selanjutnya terasa kelu. Bukankah ini kekeliruan? Tetapi entah mengapa Candra senang. Perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Namun semua masih tabu. Kisah mereka pun mungkin hanya menjadi harapan kelabu.
“Aku tidak meminta kau membalasnya. Tetapi aku hanya meminta satu hal untuk terakhir kalinya. Sebelum kita tak dapat lagi bertemu. Sebelum kita hanya akan menjadi balada kelabu,” Lingga kembali menahan kalimatnya, lantas menunduk untuk menyembunyikan tangisnya. “Tolong temani aku.”
Lingga menantinya. Bersiap akan penolakan Candra jika kenyataannya pun memang begitu. Namun sepersekian detik tubuh yang lebih besar darinya itu mendekat, berganti membawanya dalam dekap. Sebab tanpa bersuara, Lingga tahu pengawalnya itu memendam sesuatu — menyembunyikannya.
“Batiri awakku wengi iki wae, banjur sadurunge fajar lungaa. Lunga kang adoh saka karajan Kusumawardhana. Awakku ora pengin nyawamu nglayang ing medan perang sia-sia, Candra.”
Temani aku malam ini saja, lalu sebelum fajar pergilah.
Pergi yang jauh dari kerajaan Kusumawardhana.
Aku tidak mau nyawamu melayang di medan perang sia-sia, Candra.
“N-Ndoro Ling — ….,”
T-Tuan Ling-....,
Isak yang semakin terdengar pilu, menghentikan kalimat Candra — membuatnya membeku. Tubuh lebih kecil darinya itu lantas diusap punggungnya, berusaha untuk dihiburnya.
“Sampun muwun, Ndoro. Kula rencangipun Ndoro Lingga dalu menika, dumugi fajar…” kemudian Candra mengusap surai sang pangeran, terus mencoba menenangkan. “Kula mboten nilaraken Ndoro Lingga dumugi wekdal menika rawuh, lan sasampunipun menika…” lalu ia sejenak mengumpulkan pikirannya, “kula mertimbangaken kagem nilaraken krajan, demi Ndoro Lingga, bilih menika ingkang saestu Ndoro kersani.”
Jangan menangis, Tuan. Aku temani Tuan Lingga dari malam, hingga fajar.
Aku tak akan meninggalkan Tuan Lingga sampai waktunya tiba, lalu setelah itu...
Aku akan pertimbangkan untuk meninggalkan kerajaan, demi Tuan Lingga,
jika itu yang benar-benar Tuan inginkan.
“Aku akan menikahi seseorang yang tidak kucintai. Itu akan seharga dengan nyawaku jika aku menolaknya. Haruskah aku melarikan diri bersamamu? Tapi aku tidak mau kerajaan ini hancur karena kepergianku.”
“Lingga, Pangeranku,” Candra mempererat dekapannya, mengembuskan napas kasar — penuh haru suaranya. “Jika melarikan diri bersamaku itu berarti menyelamatkan hidupmu, dan membuatmu bebas mencintai siapa pun yang benar-benar kau inginkan, maka mari kita lakukan. Mari kita melarikan diri bersama, malam ini.”
“Aku tidak bisa, aku khawatir tentang ayahku. Dia semakin tua, hanya aku yang harus menjadi raja menggantikannya. Jaya hanya akan dikendalikan oleh ibunya yang haus kekuasaan…” Lingga menggelengkan kepala, masih dalam dekap sang pengawalnya. Lantas dirasakannya anggukan, dari dagu yang bersentuhan dengan kepalanya.
“Aku mengerti, Tuan. Rasa tanggung jawab dan kewajibanmu kepada raja dan kerajaan sungguh mengagumkan.” Candra menunduk, berusaha tuk tatap sosok yang kembali mengecil dalam rengkuhannya. “Tapi bagaimana dengan kebahagiaanmu? Apakah memerintah kerajaan sepadan dengan keinginan dan kebebasanmu? Aku ingin kau bahagia, Tuan.”
“Jika aku tak bisa bahagia selamanya bersamamu, maukah kau memberiku satu kenangan?” Sejenak melepas dekapan, Lingga mendongak tatapi sang pengawal. “Sebelum aku melepas masa lajangku, dengan cerita yang tidak kuharapkan, aku ingin bisa merasakan kebahagiaan itu bersamamu.“
Sisa tangisan Lingga, meninggalkan netra berkaca-kaca. Membuat Candra menarik kembali napasnya dalam-dalam, dadanya juga sesak menahan kepedihan.
“Tuanku, satu kenangan?” Candra berhenti sejenak, matanya terpaku pada netra yang lebih muda. “Akan kuberi kenangan seumur hidup, tetapi jika hanya satu…” kemudian wajahnya mendekat, suaranya nyaris berbisik. “Biarkan aku memelukmu, menciummu, dan bercinta denganmu… Sekali saja, mari kita bebas menjadi diri sendiri. Berbahagia… Tanpa takut akan konsekuensi atau penghakiman untuk kisah kita sebenarnya.”
“Kau ingin melakukannya? Berikan aku semua yang kuinginkan seperti hari-hari biasa?”
“Ya, Pangeranku. Aku akan memberimu semua yang kau inginkan, dan lebih. Malam ini aku akan menjadi milikmu, sepenuhnya.” Candra lantas membungkuk, mendekat pada ranum yang biasa terbuka separuh. “Biarkan aku menunjukkan kepadamu apa artinya dicintai — benar-benar dicintai, oleh seseorang yang akan memberikan seluruh nyawanya, juga hidupnya untukmu.”
Lingga menelan ludah yang terasa pahit baginya. Beranikan diri tatapi yang lebih tua dengan netra sayunya. “Kau tahu, sejak awal pertemuan kita, hari-hari yang kita lalui dengan pengajaran dan pengalaman yang kau berikan, ada satu hal yang membuatku terpikat karena penasaran,” terulur tangannya, menangkup rahang tegas menuju pipi sang pengawalnya.
“Apa itu, Pangeranku?”
“Bibirmu yang penuh itu.”
Netra Lingga menjuling tertuju pada objek yang didambanya, namun jarak tak kunjung ia sekat — mungkin karena masih meragu dalam dirinya. Di sepersekian detik setelahnya, ia justru dikejutkan oleh kecupan singkat yang lebih dulu melayang pada ranumnya oleh sang pengawal. Terbelalak sang pangeran, hasilkan semburat kemerahan.
Candra terkekeh pelan melihat reaksinya, matanya kian menyipit bagian sudutnya. “Tuan, aku pernah melawanmu dalam pertempuran, tak kenal takut dan berani. Jadi jangan bersembunyi dariku lagi.” Suaranya berbisik lembut di telinga yang muda — saat beralih pandang darinya. “Tataplah mataku, Pangeranku. Biarkan aku melihat mata indahmu.”
Lingga kembali mendongak, lantas berjinjit untuk kecupan pada bibir Candra mulai ia lesak. Netra yang lebih tua tertutup saat merasakan bibir tipis pangeran yang berganti menyapanya, tubuhnya bergetar merasa darahnya mendidih tak tertahan.
Lengan Candra lantas melingkarinya, menariknya lebih dekat saat ia memperdalam ciuman Lingga. Suara keduanya teredam, mengejar pagut makin panas seakan saling melampiaskan. Hingga salah satunya melepas pagutnya sejenak, sebab napas mulai terasa sesak.
Kembali merona pipi bulat yang lebih muda, menghasilkan telapak lebar mengusap dan menangkupnya. Lingga merasakannya, mata dingin Candra justru mulai terbakar oleh hasratnya. “Cium aku lagi, Pangeranku…”
Bisikan itu bak layangkan sengatan kecil di dada Lingga, kian membakar pipi yang masih ditangkup pengawalnya. Tak ada keinginan lain, selain bibir berisi itu kembali dipagutnya. Pada tengkuk Candra ia kalungkan kedua lengannya, memperdalam tautan yang telah menjadi candu bagi keduanya.
“Rasa ingin tahumu sudah terpuaskan? Atau kau menginginkan sesuatu yang lebih, Tuan?” Candra kembali menangkup pipi sang pangeran, setelah terlepas lagi pagut yang membuatnya melayang.
“Aku mau sesuatu yang lebih…” lirih Lingga, mulai pejamkan mata — tenggelamkan rasa malunya. “Kau selalu menuruti keinginanku bukan, Pengawalku?”
Candra melukiskan senyum lembutnya, matanya mengunci kembali tatapan yang lebih muda. “Selalu, Pangeranku. Keinginanmu adalah perintah untukku. Terutama malam ini, apapun perintahmu, kuturuti.”
“Aku ingin kau kagumi, kau perlakukan seperti aku sesuatu yang membuatmu terobsesi. Lukis aku di seluruh kulitku, sebagai bentuk kekagumanmu.”
“Kau ingin aku menandaimu, sebagai milikku?” Candra merendahkan suara. “Aku akan melukismu dengan ciuman-ciumanku, sentuhan-sentuhanku, juga cintaku… Setiap inci kulitmu akan memiliki tanda obsesiku.” Tangannya mulai turun meremat leher Lingga. “Dari bagian mana kau ingin memulainya, Pangeranku?”
Lingga melepaskan diri dari rengkuhan Candra, namun tangan masih tergenggam olehnya. “Dari mana pun tempat yang kau mau.” Lalu langkah membawanya mundur, hingga terduduk di kasur.
Netra teduh Candra nampak makin terbakar saat terus bertemu pandang. “Kau berikan dirimu kepadaku, sepenuhnya?” Suaranya kembali tak lebih dari sekadar bisikan. “Aku akan ambil setiap bagian dirimu, menandaimu sebagai milikku. Dan tidak meninggalkan keraguan di dalam pikiran siapa pun bahwa malam ini kau milikku.” Tangannya merambat menuju lengan yang kemudian ia remat. “Ayo, biar kumulai melukis di tubuh indahmu.”
Candra bersimpuh di hadapan sang pangeran, lalu mendekat pada bagian leher jenjang. Sembari satu tangan lainnya menarik kancing baju tidurnya, jilat mulai merambat di permukaan yang menjadi landas pacunya. Lingga mendongakkan kepala, terpejam pula matanya menikmati tiap perlakuan dari sang pengawalnya. Kancing bajunya yang terbuka seutuhnya memberi Candra celah bebas untuk turuni ke dada. Jemarinya memainkan bagian puncak, seirama dengan gigitan-gigitan lembut peninggal jejak.
“Aku mengagumimu lebih dari yang dapat diungkapkan kata-kata, Lingga…” Sejenak melepas gigitan di puncak dada, Candra meninggikan posisinya — berbisik di telinga. “Kau adalah matahari bagi fajarku, bintang bagi langit malamku. Tanpamu, aku akan tersesat, terombang-ambing di dunia tanpa makna.” Ciumannya kembali mendesak, lidahnya menelusuri leher yang muda. “Waktu bersamamu adalah anugerah, harta yang sangat kuhargai.”
Lingga menggigit bibir untuk menekan erangan, “ahh, Candra…” meremas pula rambut panjang penjaga setianya. Semua usahanya sia-sia, tiap gerak jilat dan gigitan Candra memabukkannya. Kepala yang lebih tua dibawanya makin dalam ke lehernya.
“Lingga…” Bibir Candra kian bergerak menelusuri lekukan bahu pangeran, meninggalkan gigitan lembut di sepanjang jalan. “Aromamu, rasamu… Itu memabukkan…” Sejenak bertemu tatap keduanya, lelaki itu tahu sorotan mata si manis begitu menginginkannya. “Pangeranku, aku membutuhkan lebih dari ini.”
“Kau selalu mengikatnya,” Lingga menarik ikat rambut Candra hingga lepas, “aku ingin melihatmu kali ini dengan rambut berantakan.” Surai pengawal tampannya kembali diremat, sehingga mereka terus lanjut bersitatap. “Aku ingin membuat rambutmu berantakan, dengan menarik dan mendorong kepalamu, sedangkan kau menikmati setiap lekuk tubuhku…” bisiknya.
“Lingga… Ya, tolong… Buat aku berantakan,” Candra mendongak — seiring dengan surainya terus diremat. Sedang tangannya menjelajahi lagi lekuk tubuh Lingga.
“Candra, pengawalku…” Pangeran menarik salah satu tangan pengawalnya, berharap lelaki tampan itu menurunkan celananya. “Tandai tubuhku lagi sebanyak yang kau mau…”
Napas Candra tercekat mendengar yang muda kembali menggodanya. Ia mengikuti arahan, menarik celana sang pangeran perlahan. Hingga dapat dilihatnya tubuh mulus bagian bawahnya yang selembut sutra. Tanpa perlu diminta Lingga kedua kalinya, Candra menarik kedua kaki itu dibukanya.
Menandai sepanjang permukaan lembut dari betis hingga ke dalam paha. Anugerah yang tak pernah Candra lihat dengan bebas, kini dapat sesuka hatinya dinikmati hingga tandas. Guratan merah mulai memenuhi paha berisi Lingga, membuatnya sesekali menggeliat mendapatkan sensasinya.
Terlebih lagi saat Candra memperdalam gigitannya hingga pangkal paha, napas terengah Lingga menjadi alasan untuk tak lagi menundanya. Mulai diremat bagian selatan yang sejak tadi menjulang tinggi, layangkan kecup hingga jilatan di bagian kepala batang penghasil suara lebih berisik lagi.
“Lingga… Setiap inci dari tubuhmu terasa seperti surga.”
“Ah, Candra…” Tubuh Lingga bersandar ke belakang dengan satu tangan, sembari menatapi sang pengawal yang bebas menggoda kejantanan. “J-jangan menggodaku, pengawal sialan!” Ia kian terengah dalam erangan.
Netra yang tua berkilat untuk kembali bertemu, terbakar pada keinginan memberi pelayanan. “Tidak ada godaan, Pangeranku…” Kekehan menjadi awal lidahnya lantas melilit bagian batangnya. Saat mulai membawanya ke mulut, menghasilkan yang lebih muda menggelinjang serta berkedut.
Lingga semakin gelisah, geliat tubuhnya penggambaran nyata kenikmatan yang Candra hasilkan membuatnya kehilangan arah. Pergerakan lambat — keluar dan masuki mulut sang tampan, bertambah temponya hingga pada kecepatan tak beraturan. Sang pangeran melemah pendiriannya, berkali-kali hampir terjatuh pada satu lengan yang menjadi tempat bersandarnya.
“Aku dekat…” Lingga merasakan setiap bagian dari layanan mulut Candra di kejantanannya, adalah kesenangan yang tak tertandingi apa pun di dunia.
Mendengarnya, sang penggerayang bergerak lebih cepat, mengisap lebih lamat, mendapati yang muda mendekati klimaks “Mm… Datang untukku, Lingga. Lepaskan…” Lidahnya berputar-putar di sekitar ujung kepalanya, menggoda setiap kesenangan terakhir dengan memompa pada batangnya. Ia telah bersiap jika memang sang pangeran akan melepas di mulutnya.
“Ahh… C-Candra…”
Erangan panjang yang memenuhi ruangan, seiring dengan pelepasan yang akhirnya mulut Candra dapatkan. Ia menelannya dalam-dalam, menikmati rasa dan teksturnya saat melewati kerongkongan. “Ah, Lingga…” Bibirnya melengkung menjadi senyum puas saat sejenak mundur, matanya bersinar pada pemujaan yang tak terbendung. “Rasanya luar biasa, Pangeranku…”
Menjilat di sekitar mulutnya, Candra membersihkan tetesan yang tersisa. Sebelum akhirnya bangkit untuk menangkap mulut yang lebih muda pada ciuman yang lembut dan penuh kasih untuk menyambutnya. Sepersekian detik terpagut, sang manis yang terlebih dulu melepaskan taut. Dada sang tampan ditahannya, kian merona sempurna pada pipi bulatnya.
“Kau membuatku merasakan air maniku. Aku tidak pernah tahu betapa manisnya jika itu berasal dari yang tersisa di bibirmu.”
Candra tersenyum lembut, matanya berkerut di bagian sudut. “Itu sudah menjadi tugasku, Lingga…” Kemudian diraih tangan Lingga, membawanya dalam genggaman mesra. Keringat berkilau dalam remang cahaya. “Dan kau bisa merasakan milikku, ketika aku bekerja keras memproduksinya untukmu.” Suaranya turun menjadi bisikan, nafas membelai telinga sang pangeran. “Itu semua bagian dari merawatmu Pangeranku…”
“Lalu apakah kau juga akan merawatnya di sini?” Lingga membawa salah satu tangan pengawalnya menyentuh liangnya. “Dia juga membutuhkan sentuhanmu, permainan jarimu, dan jilatan-jilatmu,” bisiknya.
Netra Candra menajam seperti elang, “Lingga…” Lalu menyelipkan jemari, menggoda saat memasuki. Kemudian menekan dengan lembut ke dalam — bergelut dengan liang begitu ketat sang pangeran. “Pangeranku,” suaranya kembali berbisik. “Aku akan merawatnya, tiap inci, tiap titik sensitifmu…” Jemarinya menjelajah, mencari ritme sempurna tuk memberi kenikmatan.
“Ahh… K-kau membuatku gila.” Sang korban meremas lengan pelakunya, melampiaskan rasa nikmat juga pedih saat tubuhnya terbelah dua. “Lebih dalam Candra, ke titik manisku.”
Jemari Candra bergerak dengan ritme lambat dan sensual, memancing tiap tetes terakhir kenikmatan. “Bukan membuatmu gila, Pangeranku… Hanya menunjukkan bagaimana keinginanmu merasakan kenikmatan ini.” Bibir berisinya menukik, kian sunggingkan senyuman licik. “Aku terkesan, saat melihatmu meronta di bawah sentuhanku. Lepaskan saja dirimu untukku, pangeranku. Lepaskan semua kendali…” Kemudian membungkuk, bisikan di telinga seiring dengan sentuhan kecupnya. “Aku tahu kau menahannya.”
“Nhh…” Lingga mengerang tak nyaman, nikmatnya telah di ujung jurang. “H-hei! Apa kau yang gila sekarang?” Teriaknya tak senang, merasakan jari jemari Candra justru keluar saat ia hendak sampai di pelepasan. “T-tidak, Candra… tolong bantu aku, lakukan yang lain untukku…”
Sang pangeran benar kehilangan akal. Kenikmatan yang dicarinya tidak sampai, sehingga tidak ada cara lain untuk mengeluh atas permohonan. Seringai di bibir Candra mengawali perbuatan tidak terduga selanjutnya.
Lelaki itu pun kembali bersimpuh di lantai, berhadapan langsung di depan selangkangan Lingga yang masih terbuka lebar pada ujung ranjang. Kecup melesat di paha bagian dalamnya lagi, lantas bergerak mendekat menuju inti. Candra berhasil meraih pada daging sensitif yang semula berusaha ia buka jalan masuknya. “Tenanglah, Pangeranku…” napasnya berbisik di kulit yang lebih muda, berupaya menenangkan seiring menggoda dengan jilatannya. “Biarkan aku merawatmu…” Lidahnya mulai menari mengitari lubang terbuka, mengirim gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhnya. “Datang padaku, Lingga…”
Sepanjang perlakuan Candra, Lingga berkali-kali menggeliat tak tenang mengangkat pinggulnya. Ia mencari ke sana kemari sesuatu yang dapat diremat untuk melampiaskan rasa nikmat. “Hnnhh…” Bibir bawah lantas digigitnya sendiri, sudah tak sabar menanti. “S-sekarang… A-aku butuh… S-sesuatu yang lebih besar…” lenguhannya kian terdengar terbata-bata.
Candra yang semula betah melesakkan hidungnya di antara bongkah berisi itu, menjajahi nikmatnya dalam lubang surgawi dengan lidah lihainya itu, netranya kembali membara dipenuhi hasrat sepanjang waktu. Ia kemudian berdiri, di atas tubuh yang muda mulai menjulang tinggi. Posisinya bersiap tuk memasuki, sejenak melepas kejantanannya serta mengurut sendiri.
“Sesuatu yang lebih besar, segera datang, Pangeran.” Candra perlahan menekannya, membagi tubuh Lingga menjadi dua. Sementara mendekat pada wajah yang dihancurkannya, mengklaim kembali bibir yang muda dengan ciuman menggairahkannya.
Sedangkan sang penyedia lubang tersentak, rasa menghujam ke dalam dirinya di luar dugaannya. Pada lengan kekar sang pengawal, Lingga remat kencang sebagai ajang pelampiasan. Pikirannya mengudara, terbagi atas pedih yang dirasa — juga ciuman berantakan penggugur rasa sakitnya.
Candra mendorong lebih dalam, tubuh keduanya menyatu sempurna tanpa perlawanan. “Lingga… Kau milikku,” pinggulnya pun bergerak sepersekian detik setelah merasa yang lebih muda mulai terbiasa.
“C-Candra…”
Saat terlepas pagut keduanya, Lingga meremat surai panjang berantakan lelakinya. Gilasan Candra semakin liar, bahkan sang pangeran bergerak kebalikan untuk saling mengejar. Mereka berada dalam hiruk pikuk hasrat, dinginnya malam yang semakin larut bahkan tak berpengaruh pada deras kucuran keringat.
Suara alunan gending yang masih terdengar, menenggelamkan laungan kedua insan yang bersahutan. Candra menghancurkan Lingga, memompa setiap tetes gairah ke dalam dirinya. Netra bulat membola nan sayu sang pangeran, kini dipenuhi nafsu ingin terus mendapat kenikmatan.
Surai memanjang pengawalnya, menjadi sarana tuk menghubungkan pula gairahnya. Lingga tidak sabar melayangkan pagutan, mendekap punggung kekar Candra yang juga telah penuh akan cakaran. “Kau berhasil, hnnh… A-ambillah semua milikkuhh… Sebelum aku menikahi orang lain yang tak kucintai.” Ranum keduanya kembai beradu penuh gairah dan putus asa.
Tubuh Candra menegang — siap melepas nikmat pada pangeran, mungkin tuk pertama dan terakhir kalinya. “Malam ini, kau milikku. Selamanya, kau milikku,” bisikan tajam seiring dengan hujaman di rektum yang lebih muda dilepasnya.
Mendekati telinga, Candra yakini bahwa Lingga mendengar geraman tak sabarnya. Hingga tubuh yang lebih kecil menggelinjang untuk kesekian kalinya, merasa hangat dan begitu nikmat memenuhi perutnya. Air mata kian menggenang di sudut mata Lingga, saat tenggelam menikmati sisa pelepasan dan perasaan bahagia yang mengudara.
“Jangan menangis, Pangeranku…” Ranum Candra melesat pada kening pangerannya. Dengan lembut kian mencium air mata yang terlepas dari pelupuk pertahanannya. “Kau akan selalu menjadi milikku, di malam ini, di masa ini, selamanya.”
“Candra, menurutmu, apa iku tresna?”
Candra, menurutmu, apa itu cinta?
“Tresna menika, warni-warni jenisipun, Ndoro Lingga.”
Cinta itu beragam jenisnya, Tuan Lingga.
“Jlentrehake siji wae kang saiki kowe pikirake.”
Jelaksan satu saja yang sekarang kau pikirkan
Candra mengulum senyumnya, terpana pada pesona yang tak seharusnya dapat ia damba. Senyum penuh harap dari pangeran yang dijaganya, lantas meretakkan pendiriannya. Perihal peraturan, tata krama kerajaan, hingga jabatan, tak pernah sebanding dengan anugerah yang mendebarkan.
Lingga didambanya, sejak pertemuan pertama yang membuatnya selalu ingin melindungi dari segala macam marabahaya. Lingga didambanya, tidak peduli lagi akan keberlangsungan hidup dan matinya. Lingga didambanya, persetan pada kenyataan dari balada terlarang sang pangeran dan pengawal setianya.
“Lingga Kusumawardhana.”
Kecupan melayang tanpa keraguan. Jarak yang begitu dekat dari telinga, membuat meremang seluruh bulu roma. Candra baru melepasnya di detik kelima, disertai usapan pada pipi pangeran di sisi satunya. Bisikan serta perlakuannya, menghasilkan senyum semakin melebar di bibir Lingga.
Yang kemudian menjadi tujuan dari kecupan Candra selanjutnya. Sosoknya bukan lagi seperti pengawal yang patuh pada tuannya, melainkan berganti menjadi lelaki yang tengah dimabuk cinta. Atas gemerlap malam perayaan, ditemani terangnya cahaya rembulan, menjadi awal kembali dari tautan yang tak berharap keduanya lepaskan.
Berharap balada tertulis sesuai keinginan. Namun nyatanya, pemeran utama tak selalu memiliki akhir yang bahagia. Meski terbesit pertanyaan di kepala, bisakah takdir berubah jika Lingga juga rakyat biasa? Nyatanya, ia tak mampu untuk serta merta meninggalkan takhta.
“Cinta bagiku itu gandrung.” Lingga menyisir surai memanjang sosok di atas tubuhnya. “Di mana pun keberadaanmu, aku selalu ingin mencarimu, bersama denganmu pun aku menginginkanmu,” lantas menyeka pula kening berpeluh penggagahnya. “Dan jikalau harus kujalani hari tanpa dirimu, aku akan tetap menunggu,” tambahnya dengan lidah yang mulai terasa kelu.
“Bagaimana jika aku tak kunjung kembali?”
“Kau tetap kucinta sampai kumati.”
Senyum Candra kembali terlukis, jarak keduanya terkikis. Mata berkaca-kaca penuh emosi, sesuatu perasaan mengganjal mengiris hati. “Lingga, kaulah segalanya bagiku, alasanku untuk hidup. Aku janji Pangeranku, aku takkan pernah meninggalkanmu.”
Tangan kecil Lingga terulur menangkup satu rahang tegas pengawalnya. “Saat aku harus meninggalkan istana besok, berjanjilah padaku untuk bertemu lagi suatu hari nanti. Bahkan jika harus menikah dengan lain, cintaku tetap milikmu. Jiwaku pun bersamamu,” kemudian ia mendekap erat penggagahnya, hingga terjatuh di atas tubuhnya.
Candra tenggelam dalam ceruk jenjang pangeran, aromanya, sisa keringat lelahnya, disesap dalam menggunakan hidung bangirnya. “Aku berjanji akan menemukanmu, apa pun yang terjadi,” lantas melayang kecupnya pada pipi pangeran yang telah basah akan air matanya. “Cintaku, jiwaku, semua akan selalu menjadi milikmu, dan hanya milikmu.”
“Terima kasih telah menemaniku hingga detik ini,” berganti Lingga yang mengecup pipi pengawalnya. “Temani tidurku sejenak, hingga fajar datang seperti yang kukatakan. Pergilah yang jauh, kaburlah dari istana. Jangan biarkan siapa pun menemukanmu, atau mereka akan membawamu ke medan perang.”
“Aku akan tetap bersamamu hingga sebelum fajar, menjagamu agar tetap aman dan hangat di dekapanku. Jangan khawatir, aku akan menghilang dalam bayang-bayang sebelum siapa pun menemukanku. Keselamatanmu adalah satu-satunya perhatianku. Tidurlah sekarang, Pangeran. Ketahuilah bahwa aku akan selalu menjagamu,” celoteh yang tua.
“Aku akan mengingatnya. Malam ini, menjadi satu-satunya malam di mana aku merasa penuh cinta.” Kecupan kembali Lingga layangkan sebelum ia menutup mata.
Candra tersenyum lembut, kian merasakan perih berdesir dalam dadanya. “Aku juga, Lingga… Aku juga,” bisiknya. Lalu memeluk lebih erat saat sang manis saat mulai terlelap. “Aku akan mengenang malam ini selamanya.”
메타데이터
- post_id
- db3fda08b617
- slug
- 5-perayaan-db3fda08b617
- url
- https://medium.com/@didy_/5-perayaan-db3fda08b617
- canonical_url
- https://medium.com/@didy_/5-perayaan-db3fda08b617
- author_url
- https://medium.com/@didy_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 23:31:39