Seporsi Kekalahan
Seporsi Kekalahan
Langit hari ini murung, penuh riak dan gemuruh yang tak selesai. Rintik hujan membasahi trotoar di pinggiran kota, seolah ikut menuliskan sesuatu yang tak sempat terucap. Malam justru terasa hidupseorang bapak parkir berbagi hangat dengan kucing gendutnya, penjual nasi goreng mengaduk wajan dengan semangat hingga asap mengepul memenuhi tenda. Hujan tak meluruhkan tekad mereka. Jalanan lengang, hanya beberapa pengendara melintas dengan jas hujan berwarna-warni, seperti titik-titik kecil yang tetap bergerak di tengah dingin
Langkah ini berakhir di sebuah tenda kuning. Seorang ibu paruh baya menyapa sederhana, seolah sudah hafal cerita yang tak pernah benar-benar diceritakan, “seperti biasa ya.” Warung itu sepi, hanya ada satu kursi yang terisi. Dalam diam, mata ini mengikuti geraknya meracik mie ayam kuahnya hangat, aromanya pelan-pelan menenangkan
Semangkuk mie ayam dan segelas es tiba, sederhana, namun cukup untuk menemani. Di meja panjang itu, ternyata tak benar-benar sendiri. Ada kecewa yang duduk diam, ada bingung yang tak tahu arah pulang, ada tanya tentang hari esok, tentang layak atau tidak, bahkan tentang rencana-rencana kecil untuk bahagia yang masih terdengar seperti harapan setengah jadi.
Malam ini, mungkin Tuhan sedang tersenyum pelan. Menatap hamba-hamba-Nya yang tetap bergerak di tengah dingin, tetap bekerja meski lelah, tetap bertahan meski sepi. Dan entah mengapa, di antara hangat kuah dan rintik yang belum reda, kekalahan terasa seperti seporsi yang harus dihabiskan pelan-pelan, hingga akhirnya mengerti bahwa esok masih mungkin untuk diperjuangkan
메타데이터
- post_id
- db67e6dae2ee
- slug
- seporsi-kekalahan-db67e6dae2ee
- url
- https://medium.com/@mahdiya2505/seporsi-kekalahan-db67e6dae2ee
- canonical_url
- https://medium.com/@mahdiya2505/seporsi-kekalahan-db67e6dae2ee
- author_url
- https://medium.com/@mahdiya2505
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 13:21:46